NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 13, Selingkuh?

"Ngomong-ngomong, gimana rasanya menikah?"

Pertanyaan itu membuat Jeevan berhenti menggerakkan garpu selama sesaat.

Ia tidak menjawab langsung pertanyaan yang di lontarkan oleh Abimanyu, pandangannya beralih ke laut di balik kaca. Seolah sedang memilih kalimat yang paling sederhana.

"Hidup berdua..." ia kembali menatap sahabatnya. "...lebih baik daripada sendiri."

Abimanyu mengangguk pelan. "Oke. Itu jawaban yang normal. Tapi..." ia menyandarkan punggung ke kursi. "Menurutmu, sebenarnya pernikahan itu apa?"

Jeevan menyesap air putih. Wajahnya tetap setenang permukaan danau tanpa riak.

"Pernikahan adalah kontrak jangga panjang."

Abimanyu mengeryit. "Kontra?"

"Ya." Jawab Jeevan enteng.

Suasana mendadak hening. Bahkan seorang pelayan yang kebetulan lewat bahkan sempat melirik mereka karena mendengar jawaban itu.

Abimanyu menatap Jeevan cukup lama. Lalu, ia menggeleng pelan sambil terkekeh.

"Kadang aku mikir..."

"Hm?"

"...kamu ini lahir dari rahim manusia tau dicetak langsung sama divisi legal?" celetuknya heran.

Jeevan mengangkat alis kirinya. "Bedanya?"

"Orang lain ngomong kalau pernikahan itu cinta, kasih sayang, rumah, tempat pulang. Tapi kamu..., gak habis pikir aku sama kamu, Van. Kamu malah bilang kontrak berjangka panjang?" Abi sampai terheran-heran.

"Itu bentuk kerja sama yang memiliki komitmen." Ujar Jeevan seraya mengendikkan bahunya kecil.

Abimanyu memejamkan mata sesaat. "Ya Tuhan...kalau begini kasihan Anna."

Jeevan mengernyit. "Kenapa?"

"Istrimu itu..." Abimanyu terhenti sejenak lalu tetap melanjutkan. "Kamu emang gak ada romantis-romantisnya apa, Van? Kayanya besok-besok aku harus ngasih uang intensif berupa film romantis."

Jeevan memutar bola matanya. "Yah...serah kamu ajalah, Bi. Yang penting gajiku naik jadi sepuluh juta perbulan."

Abimanyu mendelik. "Yee... daftar aja jadi presiden Indonesia. Biar dapet tunjangan tiga puluh dua juta."

💞

Di sisi lain restoran, Irene tengah menikmati makan siang bersama direktur perusahaannya tempat ia bekerja. Mereka baru saja selesai membahas agenda setelah acara investasi berakhir.

Tanpa sengaja, pandangannya beralih ke meja dekat jendela. Ia mengenali sosok laki-laki yang duduk membelakanginya.

Pria itu mengenakan jas abu-abu, dengan postur tinggi dan potongan rambut rapi.

Jeevan Aditya, suami dari sahabatnya Anna Savitri. Awalnya Irene hanya tersenyum kecil, namun senyum itu memudar. Sebab, tepat beberapa langkah dari meja Jeevan, seorang perempuan muda berbusana kantor datang menghampiri sambil membawa beberapa berkas.

Perempuan itu berhenti di samping Jeevan. Lalu menyerahkan sebuah map, Jeevan menerima dokumen tersebut sambil mengatakan sesuatu yang tidak dapat terdengar Irene.

Yang lebih membuat Irene penasaran adalah ketika Jeevan berdiri cepat lalu menggerakkan tangannya dan dari sudut pandang Irene Jeevan tengah mengelus kepala wanita cantik itu.

Dari tempat duduknya, Irene tanpa sadar menggenggam erat gelas di tangannya.

"Siapa perempuan itu? Apa mungkin..."

kalimat itu menggantung di dalam hatinya, dari cara Jeevan melakukan perempuan itu cukup mencurigakan dirinya.

Padahal, Irene sama sekali belum mengenal Arumi. Namun sudut pandangnya sudah menentukan jika suami dari sahabatnya itu telah melakukan pengkhianatan.

💞

Di sisi lain gedung, Anna tengah meraih tas selempangnya. Hari ini adalah jadwal bertemu kembali dengan dokter Raina di rumah sakit.

Anna merasa setelah konsultasi dengan dokter itu ia merasa gangguan kecemasannya mulai berkurang.

Begitu membuka pintu kamar, suara televisi langsung menyambut pendengarannya. Tangis dramatis para pemain sinetron India memenuhi ruang tengah.

Bu Ratih duduk santai di sofa panjang sambil menikmati camilan. Sesekali beliau menggeleng pelan melihat tokoh utama perempuan yang menangis tersedu-sedu.

"Ya ampun...kok, hidupnya sengsara amat."

Anna berusaha tersenyum sopan. "Bu."

Mendengar sapaan itu, Bu Ratih menoleh. Tatapannya langsung menyapu penampilan menantunya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Loh? Mau kemana, Na? Kok cantik amat."

Anna menggenggam tali tasnya. "Ada urusan sebentar di luar, Bu."

"Urusan?" ulangnya.

Anna tersenyum kikuk. "Iya."

"Mau ketemu sama teman-teman kamu, ya?" Bu Ratih kembali memandang camilan. "Palingan nongkrong-nongkrong di kafe-kafe kan?" beliau menatap Anna lagi.

"Nggak, Anna gak ada nongkrong sama teman-teman. Anna cuma ada urusan aja." Jawab Anna.

Bu Ratih mengangguk. "Sendirian?"

Anna mengangguk kikuk. "Iya."

"Suamimu sudah tahu kalau kamu mau keluar?" tanyanya dengan nada sedikit mengintimidasi.

"Sudah, Bu." Jawab Anna gugup.

Bu Ratih mengecilkan volume televisi.

"Kamu memang sering keluar kalau Jeevan lagi kerja?" tanyanya santai.

"Tidak sering, Bu. Kebetulan juga, Anna keluar karena ada urusan." Jawab Anna.

Tidak mungkin Anna mengatakan kalau dirinya keluar hendak menemui psikiater. Apa yang akan di katakan ibu mertuanya?

"Oh..." sahutnya sembari mengangguk pelan. "Ibu cuma heran."

Anna menunggu kalimat selanjutnya.

"Jeevan setiap hari berangkat pagi, pulang malam." Katanya seraya mengambil segelas teh. "Kasihan anak itu."

Anna terdiam.

"Kerja banting tulang supaya rumah tangga kalian berkecukupan." Seteguk teh membasahi tenggorokan Bu Ratih.

"Sementara istrinya..." beliau berhenti sejenak."...masih sempat jalan-jalan."

Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah kalimat itu seringan kapas. Namun saat jatuh, rasanya menyerupai batu yang menghantam permukaan danau tenang, riaknya menyebar kemana-mana.

Anna menggigit bibir bawahnya. "Bukan jalan-jalan, Bu."

Bu Ratih menoleh dan menatap menantunya seolah tengah mengintrogasi seorang pencuri yang baru saja ketahuan.

"Lalu?"

"Ada urusan." Jawab Anna.

"Urusan apa?" tanya Bu Ratih mendesak.

Anna terdiam. Ia tak mungkin mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami gangguan depresi dan gangguan kecemasan. Bisa-bisa Bu Ratih mengatakan kalau Anna terlalu mendramatisir keadaan.

Anna tidak memilih mengatakannya, bukan saat yang tepat ia mengatakan sakit yang ia derita. Terlebih kepada ibu mertuanya.

Bukan hanya itu, sebab tak semua orang mampu memahami luka yang tumbuh di kepalanya. Mungkin sebagian orang justru akan menganggapnya sebagai kelemahan.

Melihat Anna tidak menjawab, Bu Ratih mengembuskan napas pelan.

"Ibu cuma berharap kamu bisa lebih banyak di rumah. Jangan sampai orang luar mengira Jeevan capek bekerja sementara istrinya sibuk menikmati hidup." Katanya.

Anna menundukkan wajahnya, jemarinya perlahan mengepal. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokannya. Bukan karena amarah, melainkan karena lelah.

Lelah harus terus-menerus membela diri atas sesuatu yang bahkan tidak pernah ia lakukan.

Tepat ketika keheningan mulai menggantung di antara keduanya, ponselnya bergetar pelan. Nama Irene muncul di layar. Anna meminta izin sebentar, lalu membuka pesan itu.

Sebuah foto.

Di dalamnya tampak Jeevan yang sedang berdiri di hadapan seorang perempuan yang sedikit ia kenali, anehnya...Jeevan tampak tengah mengelus pucuk rambut perempuan yang bernama Arumi tersebut.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua menyusul.

{Na, kamu kenal sama perempuan itu? Aku tadi lihat dia ngobrol akrab sama Mas Jeevan setelah acara investor selesai}

Dunia Anna seakan berhenti berputar. Matanya terpaku pada layar, jantungnya berdegup semakin cepat.

"Tidak...tidak mungkin, Mas Jeevan selingkuh?"

...💞💞💞...

Sebenarnya, siapakah Arumi bagi Jeevan? Kenapa foto itu memperhatikan kedekatan Jeevan dengan Arumi bukan seperti kedekatan antara atasan dan seorang asisten?

Temukan jawabannya di bab selanjutnya 🫶

...BERSAMBUNG...

1
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!