Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 ~ Lelaki Sejati
Damian hanya menatap Eliza sekilas, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang tetap datar.
"Eliza," sapanya singkat, tanpa nada hangat sedikitpun.
Namun, Eliza seolah tak peduli dengan sikap dingin itu. Ia justru melangkah lebih dekat, nyaris tak menjaga jarak.
"Kau tahu, sejak mendengar kau akan hadir malam ini, aku sengaja menyiapkan waktu khusus agar bisa berbincang denganmu," ucapnya lembut, matanya tak lepas menatap wajah Damian. Ia sengaja memiringkan tubuhnya, berusaha menarik perhatian pria itu sepenuhnya.
Evan yang berdiri di samping hanya diam seribu bahasa, menunduk sedikit seolah menghormati privasi mereka, namun matanya tetap waspada mengamati setiap gerak-gerik.
"Maaf, aku sedang sibuk," jawab Damian tegas, tanpa ragu sedikitpun. Ia bahkan tak berusaha bertele-tele.
Eliza tersenyum canggung, berusaha menutupi rasa malunya. "Hanya sebentar saja, Damian. Atau mungkin setelah ini kita bisa duduk berdua di tempat yang lebih tenang?"
"Tak perlu," potong Damian dingin. "Aku hadir di sini untuk urusan bisnis, bukan untuk bersantai. Dan saat ini, waktuku sedang penuh."
Damian tak menunggu balasan lagi. Ia langsung berbalik arah, menatap Evan yang ada di sampingnya.
"Ayo kita berkeliling," titahnya tegas.
"Baik, Tuan," jawab Evan sigap.
Mereka pun berjalan meninggalkan Eliza yang terpaku di tempat dengan wajah memerah padam karena malu. Tatapan wanita itu sempat melirik tajam ke arah Evan, seolah menyalahkan keberadaan sekretaris itu yang dianggap menghalangi jalannya.
Sepanjang perjalanan, Evan tetap berjalan selangkah di belakang Damian. Hatinya sedikit lega melihat sang atasan mampu menolak dengan tegas tanpa memberi celah sedikitpun. Namun, di sisi lain, ia juga merasa beruntung karena tak menjadi sasaran kemarahan wanita itu.
Malam semakin larut, suasana kapal pesiar perlahan mulai terasa lebih pengap bagi Evan. Menyamarkan identitas di tengah keramaian yang mengenalnya sebagai pria terasa menguras tenaga batin.
"Tuan, izinkan saya mengambilkan minum sejenak," ucap Evan pelan saat mereka berada di area yang agak sepi.
Damian mengangguk singkat, matanya menatap samudra di luar pagar pembatas. "Lakukan. Aku akan menunggu di sini."
Evan melangkah cepat menuju meja minuman di ujung lorong. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa berdebar tak beraturan. Di tengah keheningan sejenak itu, ia kembali teringat pesan Arlos, harus mencari celah. Namun bagaimana caranya, jika Damian selalu tertutup rapat dan tak pernah lengah sedetikpun?
Belum sempat Evan berpikir lebih jauh, sebuah suara berat terdengar dari arah belakang.
"Kau lama sekali, Evan."
Evan tersentak, segera memutar tubuhnya dan kembali menata ekspresi dinginnya.
"Maaf, Tuan Damian. Sedikit antre," jawabnya tenang.
"Kalau begitu jangan lama-lama. Bergabunglah di mejaku." ujar Damian.
Evan mengangguk sopan, lalu berjalan mengikuti Damian menuju meja panjang yang agak terpisah namun penuh sesak. Di sana, puluhan tamu penting duduk berjejer, sibuk berbincang hangat seputar perkembangan pasar dan kerja sama bisnis. Evan mengambil posisi di sisi dekat Damian, mendengarkan sambil sesekali tersenyum sopan.
Tak lama berselang, seorang pria paruh baya bernama Tuan Fernando, salah satu pemegang saham besar, menyodorkan gelas tinggi berisi cairan jernih.
"Mari, Tuan Muda, dan kau juga Evan. Cicipi ini, brasil murni, beralkohol tinggi, pilihan terbaik malam ini," tawarnya ramah sambil menyodorkan gelas tepat ke hadapan Evan.
Evan sedikit mundur, menolak halus. "Maaf Tuan Fernando, saya tidak terbiasa meminum alkohol sekuat ini."
Tuan Fernando justru tertawa keras, menarik bahu Evan agar tetap duduk. "Aduh, jangan kaku begitu! Kau ini kan pria tangguh, asisten kepercayaan Direktur Damian. Tidak ada salahnya minum sedikit untuk melepas penat, apalagi malam ini hari perayaan besar."
Evan terdiam. Ia sempat melirik ke arah Damian. Pria itu sedang berbicara dengan orang lain, namun sesaat matanya melirik sekilas ke arah Evan seolah menunggu kesesuaian sikapnya. Demi menjaga rahasia besarnya, agar tak ada satu pun yang curiga, dan menyempurnakan citra dirinya sebagai pria biasa, Evan tak punya pilihan lain.
"Baiklah, Tuan," ucapnya pelan.
Evan pun meminumnya. Rasanya panas dan tajam, langsung terasa membakar kerongkongan. Namun mereka terus menyodorkan gelas demi gelas, bersulang berkali-kali memuji keberaniannya. Evan yang tak terbiasa dengan kadar setinggi itu akhirnya menuruti saja demi keamanan identitasnya.
Satu gelas, dua gelas, hingga tak terasa jumlahnya menumpuk banyak sekali. Tak lama kemudian, kepala Evan mulai terasa berat dan berputar. Pandangannya kabur, telinganya berdengung, dan tubuhnya terasa melayang tak berpijak. Alkohol itu telah merasuk cepat ke dalam pembuluh darahnya, membuatnya mabuk berat tanpa sanggup ia tahan lagi.
Di tengah keramaian itu, Damian juga menerima tawaran serupa dari Tuan Fernando. Ia meminumnya hanya satu gelas saja dengan tegukan tenang, namun baru beberapa menit berselang, tubuhnya bereaksi sangat aneh dan tak terduga. Rasa panas luar biasa seketika menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, seolah api kecil menyala di dalam dadanya. Wajahnya perlahan memerah, pandangannya mulai sedikit berkunang, dan keringat dingin mulai mengucur halus di pelipisnya. Damian benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, rasa itu begitu asing, menyengat, dan membuatnya sulit berkonsentrasi.
Ia merasakan tenggorokannya terasa kering dan napasnya mulai berat. Tanpa sadar, tangannya terulur untuk melonggarkan ikatan dasinya yang terasa makin mencekik, lalu membuka sedikit kancing atas kemejanya agar udara lebih bisa masuk. Melihat kondisinya yang tak lagi prima, Damian pun berpaling kepada rekan-rekan di mejanya.
"Maafkan saya, sepertinya saya kurang enak badan. Saya izin pamit sebentar," ucapnya dengan suara yang berusaha tetap tegas namun terdengar sedikit berat.
Para tamu mengangguk sopan mengerti. Damian pun berbalik hendak melangkah pergi mencari ketenangan, namun langkahnya terasa sedikit limbung dan tak seimbang.
Tak sanggup lagi bertahan di tempat, Damian lebih dulu berdiri hendak pergi menenangkan diri. Namun langkahnya terhuyung sedikit, hingga tak sengaja ia menabrak sosok yang baru lewat di depannya.
"Damian? Kamu tidak apa-apa?" seru Eliza terkejut, segera menahan bahu pria itu.
Damian menggeleng lemah, berusaha mengabaikan wanita itu, namun hawa panas yang melanda tubuhnya terlalu kuat untuk ia sembunyikan. Wajahnya memerah padam, napasnya mulai tersengal.
"Biarkan aku yang membantumu masuk ke kabinmu," ucap Eliza lembut, segera merangkul pinggang Damian dan bersandar padanya.
Namun di sudut lain, Evan yang sedang dalam keadaan mabuk berat melihat pemandangan itu. Meski kepalanya terasa berputar dan kakinya melayang, nalurinya sebagai pelindung dan rasa memiliki yang tak terjelaskan seketika bangkit. Ia berusaha keras menegakkan tubuhnya, lalu berjalan terhuyung namun cepat mendekat, langsung memisahkan mereka berdua.
"Maaf, Nona," ucap Evan dengan suara berat namun tegas, berdiri tegak menghalangi di depan Damian. "Biar saya saja."
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya