NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:118.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hantu Pedang vs Hakim Langit

Yuang Dao melesat lebih dulu, lalu mendarat ringan di sebuah dataran luas yang berada di puncak bukit. Hamparan rerumputan membentang sejauh mata memandang, sementara angin pegunungan berembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan.

Tak lama kemudian...

Swussh!

Sha Nuo juga mendarat beberapa langkah di belakangnya.

Debu tipis beterbangan sesaat sebelum kembali mengendap. Kedua pria itu berdiri saling berhadapan dengan jarak belasan meter. Tidak ada seorang pun yang bergerak lebih dulu.

Angin kembali berembus. Jubah keduanya berkibar perlahan. Yuang Dao menatap Sha Nuo tanpa berkedip sedikit pun. Tatapannya setajam mata elang yang sedang mengincar mangsa.

"Aku akan bertanya sekali lagi."

Nada suaranya datar.

"Untuk apa kau mendekati Tuan Muda Gao Rui?"

Sha Nuo hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan jubahnya. Wajahnya masih dihiasi senyum tipis.

Yuang Dao melanjutkan,

"Kelompok mana yang mengirimmu?"

Suasana kembali hening.

Beberapa helai daun kering melayang melewati mereka. Sha Nuo akhirnya terkekeh pelan.

"Hehehe..."

Ia menggeleng kecil.

"Kalian terlalu banyak berpikir."

Tatapannya beralih ke langit sejenak sebelum kembali menatap Yuang Dao.

"Aku tidak mempunyai maksud apa-apa terhadap Rui'er."

"Dia bocah yang baik, tulus, dan polos. Orang seperti itu sudah jarang kutemui."

Senyum di wajahnya sedikit melebar.

"Kalau aku tertarik berteman dengannya... bukankah itu hal yang wajar?"

Yuang Dao tetap diam.

Sha Nuo kembali melanjutkan,

"Dan mengenai pertanyaanmu... aku bukan berasal dari kelompok mana pun."

"Aku juga tidak menerima perintah siapa pun. Aku hanya seorang pengelana."

Mendengar jawaban itu, sorot mata Yuang Dao justru semakin dingin.

"Kau berbohong."

Satu kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

"Pria sepertimu tidak mungkin muncul begitu saja."

Tatapannya menusuk lurus ke mata Sha Nuo.

"Orang sekuat dirimu... pasti memiliki latar belakang."

Sha Nuo hanya mengangkat bahu.

"Kalau kau tidak percaya, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa."

Yuang Dao perlahan mengembuskan napas.

"Kalau begitu..."

Srak!

Suara logam bergesekan terdengar nyaring. Pedang di pinggangnya perlahan tercabut.

Cahaya dingin memantul di sepanjang bilah pedang yang berwarna keperakan. Dalam sekejap, aura Yuang Dao berubah drastis.

Tidak lagi seperti pria paruh baya yang tenang. Melainkan seperti sebilah pedang yang baru saja keluar dari sarungnya. Tajam, dingin, dan siap menebas apa pun yang berada di hadapannya.

"Aku akan memberimu pelajaran."

Sha Nuo memandang pedang itu beberapa saat. Lalu...

"Hahaha..."

Tawanya kembali terdengar.

"Bicara baik-baik memang tidak cocok denganmu, ya?"

Tangannya perlahan bergerak menuju pinggang. Ia menarik satu dari dua pedang yang ada di pinggangnya.

Srak!

Pedang hitam pekat perlahan keluar dari sarungnya. Tidak memancarkan cahaya menyilaukan. Tidak pula mengeluarkan aura yang menggelegar. Namun sesaat setelah pedang itu sepenuhnya terhunus, angin di atas bukit seakan berhenti berembus.

Sha Nuo menggenggam pedangnya dengan satu tangan. Senyum santai masih menghiasi wajahnya. Kemudian, ia mengangkat tangan kirinya.

Dengan sangat tenang, ia melambaikan jari-jarinya ke arah Yuang Dao. Sebuah isyarat sederhana. Namun penuh penghinaan.

"Majulah."

Suara Sha Nuo terdengar ringan.

"Tunjukkan padaku... seberapa tajam pedang yang begitu kau banggakan itu."

Tatapan Yuang Dao langsung berubah dingin.

Krek...

Tanah di bawah kakinya perlahan retak akibat tekanan qi-nya yang mulai mengalir.

Sementara di sisi lain, Sha Nuo tetap berdiri santai dengan pedang hitam tergenggam di tangan kanannya. Tidak mengambil kuda-kuda apapun. Namun justru sikap tenangnya itulah yang membuat tekanan di antara mereka menjadi semakin mencekam.

Tatapan Yuang Dao berubah semakin tajam.

Pada detik berikutnya...

Swussh!

Tubuhnya menghilang dari tempat semula. Kecepatannya begitu tinggi hingga hanya menyisakan bayangan abu-abu di udara.

Sha Nuo tetap tersenyum.

"Hahaha... kau akhirnya datang."

Clanggg!

Suara benturan logam yang memekakkan telinga menggema di seluruh bukit.

Pedang hitam Sha Nuo dan pedang keperakan Yuang Dao bertemu tepat di tengah lintasan. Kedua bilah pedang saling bergesekan.

Crash!!!

Percikan api langsung meledak ke segala arah.

Dari pedang Yuang Dao, cahaya putih cemerlang menyembur keluar seperti ribuan serpihan bintang. Sementara dari pedang Sha Nuo, cahaya hitam pekat mengalir deras, menyerupai kabut kegelapan yang menelan cahaya.

Putih dan hitam, kedua energi itu saling bertabrakan di udara, menciptakan kilatan demi kilatan yang membuat langit di atas bukit seakan terbelah menjadi dua warna.

Angin di sekitar mereka berubah kacau. Debu dan batu-batu kecil beterbangan akibat tekanan dari benturan pertama itu.

Yuang Dao menatap lurus ke mata Sha Nuo dari balik pedang yang masih saling menekan.

"Kau... cukup kuat juga."

Nada suaranya tetap dingin, tetapi untuk pertama kalinya terdengar sedikit pengakuan.

Sha Nuo menyeringai lebar.

"Hahaha... Kau juga lumayan kuat."

Baru saja kalimat itu selesai...

Boom!

Keduanya serempak mendorong pedang masing-masing. Tubuh mereka terpental beberapa langkah.

Namun bahkan sebelum kaki mereka benar-benar menyentuh tanah...

Swussh!

Swussh!

Mereka kembali melesat.

Clang!

Clanggg!

Craang!

Benturan demi benturan kembali memenuhi dataran itu. Kedua pedang menari dengan kecepatan yang hampir mustahil diikuti mata manusia biasa.

Setiap ayunan Yuang Dao memancarkan cahaya putih yang tajam. Setiap tebasan Sha Nuo meninggalkan jejak warna hitam yang pekat.

Boom!

Ledakan kembali mengguncang bukit. Sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari mereka langsung hancur berkeping-keping akibat gelombang kejut.

Boom!

Tanah retak memanjang puluhan meter.

Boom!

Beberapa pohon tua tercabut dari akarnya sebelum akhirnya terlempar ke udara.

Pertarungan mereka baru saja dimulai. Namun dataran yang semula tenang kini telah berubah menjadi medan kehancuran.

Gelombang demi gelombang tenaga dalam terus menyapu segala arah tanpa ampun. Untungnya bukit itu berada sangat jauh dari pemukiman manusia. Tidak ada desa dan tidak ada rumah. Tidak ada seorang pun juga yang tinggal di sekitar tempat itu.

Andaikan pertarungan dua pendekar itu terjadi di tengah Kota Weiyang, maka hanya dalam beberapa kali benturan saja, bangunan-bangunan di sekitarnya kemungkinan telah runtuh, dan korban jiwa tidak akan terhindarkan.

Boom!

Boom!!

Ledakan demi ledakan terus menggema. Suaranya bergulung menyusuri perbukitan, memantul dari satu tebing ke tebing lainnya.

Akibat panas dari gesekan pertarungan mereka, rerumputan kering mulai terbakar. Api kecil muncul di beberapa titik. Lalu merambat semakin luas, menjilat semak-semak dan batang-batang pohon yang patah akibat pertarungan. Asap tipis mulai membumbung ke langit.

Di tengah kobaran api dan hujan serpihan batu, Sha Nuo justru tertawa semakin keras.

"Hahahaha!"

Tawanya menggema memenuhi bukit. Sorot matanya dipenuhi semangat bertarung yang selama ini seolah tertidur.

"Bagus!"

"Sudah cukup lama..."

Clang!

Ia kembali menahan tebasan Yuang Dao dengan pedang di tangannya. Gelombang kejut kembali meledak.

Boom!

"...aku tidak bertemu lawan yang bisa membuat darahku sepanas ini!"

Senyum di wajah Sha Nuo semakin lebar. Sementara di hadapannya, Yuang Dao tetap memasang wajah dingin.

Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai menyadari satu kenyataan. Pria yang berdiri di hadapannya memang benar-benar kuat.

1
tariii
👍👍👍👍
Gokil 332
jangan beri tahu biar gregetan nunggui momentumnya berhari hari 🤣🤣🤣
sabian andri
5 bab sekaligus pliiiiis.. 😍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😀😀😀💪💪💪
Ayyasying
bang folbek BG saya penulis baru
Aiby Kushina Uzumaki
jangan heran gitu lho paman nuo coba dong tanya siapa gurunya 😄😄😄
Raju
tanyakan aja lgsg lu muridnya siapa ??
HINATA SHOYO
kasih tau ssh identitas gaoru sma pmn nuo torrr
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz pokok'é 🔥🌽
Irfan tejo laksono
ahaiiii 👍👍👍
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍👍
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yayat
bantai jangn kash ampun tujukan pada paman nou rui murid dr boqin
Adek Darmansyah
udh mulai menyebalkan ni authorr...
Nanik S
Bantai semua dan ambil semua Cincin ruang musuh seperti biasanya
Nanik S
Rui... tunjukan pada Paman Nuo, bahwa mampu membantai mereka dan tidak selembut hatinya🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!