Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghadangan di jalur jati
Farhan mengemudikan mobilnya dengan tenang memasuki kawasan hutan jati yang gelap. Jalan pintas ini memang sepi dan minim penerangan, namun merupakan jalur tercepat menuju rumah mereka. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana untuk bicara baik-baik jika Pak Broto muncul, atau setidaknya merekam pembicaraan mereka sebagai bukti tambahan ke polisi. Ia sengaja tidak memberitahu Alika agar istrinya tidak cemas setelah hari yang melelahkan bersama Ayah.
Namun, sekitar dua kilometer di tengah hutan, sebuah mobil SUV hitam besar tiba-tiba melaju kencang dari arah berlawanan dan berhenti melintang di tengah jalan. Farhan menginjak rem dalam-dalam. Ban mobilnya mencit cit keras di atas aspal. Belum sempat ia memundurkan mobil, sebuah sedan perak muncul dari belakang dan mengunci posisinya.
Farhan terjepit.
Empat orang pria berbadan besar turun dari mobil SUV. Salah satunya membawa balok kayu, dan yang lainnya memegang rantai besi. Pak Broto turun dari kursi penumpang depan SUV tersebut. Wajahnya yang merah padam terlihat mengerikan di bawah sorot lampu mobil.
"Turun, Farhan!" teriak Pak Broto sambil memukul kap mesin mobil Farhan dengan tongkat jalannya. "Kamu pikir uang lima ratus juta bisa mengembalikan harga diri saya di depan Wijaya? Kamu sudah bikin saya jadi bahan tertawaan satu kota!"
Farhan mengunci pintu mobilnya. Ia mengambil ponsel untuk menelpon polisi, namun sinyal di tengah hutan jati itu sangat buruk. Hanya ada tanda silang di pojok layar.
BRAK!
Salah satu anak buah Pak Broto menghantam kaca samping pengemudi dengan balok kayu. Retakan seribu langsung muncul di kaca tersebut. Farhan tahu, satu hantaman lagi dan kaca itu akan hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba, suara raungan mesin motor empat silinder yang sangat kencang terdengar dari kejauhan. Suaranya melengking tinggi, menandakan motor itu dipacu dalam kecepatan maksimal. Sebuah lampu high beam yang sangat terang menyambar dari arah belakang sedan perak yang mengunci Farhan.
CIIIITT!
Sebuah motor sport hitam melakukan aksi stoppie—pengereman depan hingga roda belakang terangkat—tepat di samping sedan tersebut. Pengendara dengan helm full-face hitam dan jaket kulit itu tidak turun. Ia justru menarik gas dalam-dalam hingga knalpotnya mengeluarkan suara ledakan kecil yang memekakkan telinga.
"Siapa itu?!" teriak Pak Broto panik, silau oleh lampu motor tersebut.
Pengendara itu menendang kaca spion sedan perak hingga patah, lalu memutar motornya dengan teknik burnout yang menciptakan kepulan asap karet ban hitam, menutupi pandangan para preman tersebut. Dalam hitungan detik, pengendara itu melompat turun dari motornya sambil tetap mengenakan helm.
"Alika?" gumam Farhan dari dalam mobil saat melihat postur tubuh pengendara itu.
Alika tidak membuang waktu. Ia mengambil kunci inggris besar yang sengaja ia selipkan di pinggang jaket kulitnya. Dengan gerakan cepat yang ia pelajari selama bertahun-tahun di jalanan, ia memukul tangan pria yang memegang balok kayu hingga pria itu berteriak kesakitan dan melepaskan senjatanya.
"Berhenti atau aku hancurkan tangki bensin mobil kalian!" teriak Alika. Suaranya teredam helm, tapi nadanya sangat tajam.
"Hajar perempuan itu!" perintah Pak Broto yang mulai ketakutan.
Dua preman merangsek maju. Alika berkelit dengan lincah. Ia memanfaatkan berat helmnya untuk menanduk dahi salah satu preman, lalu menendang lutut pria lainnya. Keahlian berkelahi Alika bukan hasil latihan karate, melainkan hasil bertahan hidup di kerasnya jalanan selama bertahun-tahun.
Melihat Alika terdesak karena jumlah lawan yang lebih banyak, Farhan tidak tinggal diam. Ia menendang pintu mobilnya dengan keras hingga mengenai salah satu preman yang berdiri di samping, lalu ia keluar untuk membantu istrinya.
"Alika, ke belakang saya!" seru Farhan.
"Mas, awas!" Alika menarik baju Farhan tepat saat sebuah rantai besi diayunkan ke arah kepala suaminya.
Pertarungan tidak seimbang itu berlangsung beberapa menit. Farhan mencoba menahan serangan dengan tangan kosong, sementara Alika menggunakan kelincahannya untuk menyerang titik-titik lemah lawan. Namun, Pak Broto yang sudah gelap mata tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya. Ia berlari kecil ke arah Farhan yang sedang sibuk menahan satu preman.
"Mati kamu, anak sombong!"
Alika melihat gerakan itu. Tanpa pikir panjang, ia mendorong Farhan menjauh. Pisau itu menyayat lengan atas jaket kulit Alika, merobek kulitnya hingga darah merembes keluar. Alika meringis kesakitan, tapi ia berhasil menendang perut Pak Broto hingga pria tua itu tersungkur ke aspal.
Di saat kritis itu, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Ternyata, Alika sudah menelpon polisi sejak ia mulai mengikuti Farhan dari bengkel tadi, saat ia masih mendapatkan sinyal kuat di pinggiran kota. Ia membiarkan panggilan tetap tersambung di kantongnya agar polisi bisa melacak lokasi lewat GPS ponselnya.
Mendengar sirine itu, para preman segera melompat kembali ke mobil mereka. Pak Broto yang tertatih-tatih dipaksa ikut masuk ke SUV. Mereka memutar balik dengan liar dan memacu kendaraan masuk ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan kepulan asap dan serpihan kaca.
Farhan segera mendekati Alika. Ia membuka helm istrinya dengan tangan gemetar. Wajah Alika berkeringat dan pucat, menahan perih di lengannya.
"Kenapa kamu nekat, Alika? Kenapa tidak bilang kalau kamu ikut?" suara Farhan bergetar antara marah dan sangat cemas.
"Kalau aku bilang, kamu pasti melarang," jawab Alika sambil memegangi lengannya yang berdarah. "Tanganmu untuk memegang Al-Qur'an dan kunci pas, Farhan. Bukan untuk dipukul rantai besi. Biar urusan kasar begini bagianku saja."
Farhan memeluk istrinya erat-erat di tengah jalanan sepi itu. Ia merasa sangat kecil di depan keberanian wanita ini. Polisi tiba tak lama kemudian, mengamankan lokasi dan segera memanggil bantuan medis.
Malam itu, Pak Broto resmi menjadi buronan polisi atas tuduhan percobaan pembunuhan dan pemerasan. Di rumah sakit, saat dokter menjahit luka di lengan Alika, Farhan duduk di sampingnya tanpa melepaskan pegangan tangan.
"Setelah ini, tidak ada lagi rahasia, Alika," bisik Farhan. "Dan tidak ada lagi jalanan. Kita bangun bengkel kita, kita jaga keluarga kita. Kamu bukan lagi Ratu Jalanan, kamu adalah pelindung hidup saya."
Alika tersenyum tipis, kepalanya bersandar di bahu Farhan. Ujian fisik terberat mereka sudah lewat. Sekarang, yang tersisa hanyalah masa depan yang harus mereka bangun dengan tangan yang mungkin penuh noda oli, tapi hati yang bersih.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...