"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Deru mesin mobil sedan hitam yang menghilang perlahan di balik rinai hujan sore itu menyisakan keheningan yang cukup panjang di halaman depan rumah. Maya masih berdiri terpaku sejenak di ambang pintu utama, memandangi genangan air hujan di atas jalan berbatu alam yang membiaskan pantulan cahaya lampu taman. Ada perasaan kecewa yang samar namun menancap cukup dalam di dasar hatinya. Rasa penasaran yang membuncah sejak kemarin lagi-lagi harus tertahan, digantung oleh takdir dan kesibukan pria pemilik rumah ini.
Malam pun perlahan turun memeluk kota, membawa serta hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang. Di ruang makan berdesain modern elegan yang disoroti pendar lembut lampu gantung hangat, Bik Nana telah selesai menghidangkan berbagai masakan rumahan yang menggiurkan. Aroma sup ayam segar yang mengepulkan uap halus, tempe goreng garing yang gurih, sambal terasi dengan perasan jeruk limau, serta tumis kangkung terhidang rapi di atas meja kayu jati yang panjang.
"Mari, Mbak Maya, Dek Naya... kita makan malam dulu selagi supnya masih hangat," ajak Bik Nana ramah seraya menata piring, mangkuk, dan sendok di atas meja.
Maya melangkah mendekati meja makan sambil menuntun jemari mungil Naya. Ia mengenakan gamis rumahan berwarna krem yang sederhana dengan jilbab instan senada yang menutup dadanya dengan rapi. Meski garis wajahnya memancarkan kelembutan dan kesantunan seperti biasa, ada guratan samar di sekitar matanya yang tidak bisa disembunyikan dari pengamatan orang dewasa.
Maya membantu Naya duduk di kursi khusus anak di sebelah kirinya. Dengan telaten dan penuh kasih sayang, wanita muda itu mengambil piring porselen putih, menyendokkan nasi hangat, dan menuangkan kuah sup berisi potongan daging ayam serta wortel ke piring putri kecilnya.
"Terima kasih, Mimo!" seru Naya riang. Tangan kecilnya tanpa ragu langsung menyambar sendok dan mulai menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.
"Sama-sama, Sayang. Makan yang banyak dan dihabiskan ya, biar badannya makin sehat dan kuat," sahut Maya seraya menyunggingkan senyum manis dan mengelus lembut puncak kepala putrinya.
Bik Nana yang duduk di seberang meja memperhatikan setiap gerak-gerik Maya. Sebagai wanita paruh baya yang jauh lebih tua dan kaya akan pengalaman hidup, Bik Nana bisa dengan mudah menangkap ekspresi kecewa yang tersirat dari cara Maya menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri gerakannya sedikit lambat, dengan tatapan mata yang sesekali menerawang kosong ke arah pintu penghubung antara ruang makan dan lorong depan.
Namun, Maya adalah sosok wanita yang sangat menjaga etika, berpendidikan tinggi, santun, dan penuh rasa hormat. Ia sadar betul akan posisinya yang hanyalah seorang tamu menumpang di rumah mewah ini bersama anak semata kepangnya. Maka, dengan sangat lihai dan halus, Maya menetralkan raut wajahnya, membuang jauh-jauh sisa kekecewaan itu, lalu menyunggingkan senyum tulus seraya menatap Bik Nana.
"Bik Nana kok porsi nasinya cuma ambil sedikit? Ayo Bik, tambah lagi supnya, enak banget ini," ujar Maya dengan nada suara yang hangat dan lembut, menutupi kecamuk batin di dalam dadanya.
"Iya, Mbak Maya. Ini Bik Nana juga sedang menikmati supnya," jawab Bik Nana tak kalah ramah. Bik Nana tersenyum tipis, memahami betul apa yang sebenarnya sedang bergolak di dalam benak wanita di hadapannya itu. "Mbak Maya tak usah terlalu banyak memikirkan hal yang tadi sore, ya. Pak Ibra itu kalau sudah menyangkut urusan bisnis memang sangat disiplin dan padat sekali jadwalnya, tapi percaya sama Bibi, hati beliau itu sangat baik dan dermawan."
Maya mengangguk pelan seraya tersenyum santun. "Iya, Bik Nana. Saya paham sekali kok. Lagipula Pak Ibra pasti sangat sibuk mengurus perusahaan besarnya. Saya sendiri justru merasa sangat sungkan dan terutang budi karena sudah diizinkan tinggal di rumah yang sangat aman dan nyaman ini."
Suasana makan malam pun berlanjut dalam kehangatan yang relatif tenang. Suara celoteh riang Naya yang menceritakan tentang mainan susun balok Lego barunya sesekali memecah keheningan, memancing tawa halus dan gemas dari Maya maupun Bik Nana. Maya berusaha memfokuskan seluruh perhatian dan pikirannya pada sang putri, mencoba menepis bayangan tentang sosok Ibra yang terus mengusiknya sejak kemarin.
Hingga saat makan malam hampir selesai dan Bik Nana hendak beranjak berdiri untuk menyeduh teh hangat di pantry dapur, dentam halus langkah kaki seseorang yang menginjak marmer foyer luar mendadak terdengar dari arah lorong depan.
Langkah kaki itu terdengar sangat teratur, mantap, dan memancarkan aura ketegasan yang berwibawa, bergerak perlahan namun pasti mendekati area ruang makan.
Naya yang posisi duduknya menghadap langsung ke arah lorong masuk ruang makan tiba-tiba menghentikan suapan terakhirnya. Mata bulat bocah kecil itu membelalak gembira, dan wajah mungilnya seketika berbinar terang benderang.
"Om Ibra!" jerit Naya dengan suara yang sangat nyaring dan riang, seraya melambaikan tangan kecilnya tinggi-tinggi ke udara.
Deg!
Jantung Maya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sendok stainless yang sedang dipegangnya terlepas halus dari jemarinya dan berdenting pelan menabrak tepi piring porselen.
Sensasi dingin yang teramat sangat mendadak menjalar cepat dari tengkuk hingga ke seluruh permukaan kulitnya. Maya terpaku kaku di tempat duduknya. Panggilan polos yang keluar dari bibir mungil Naya seolah-olah menjadi sambaran petir yang membelah keheningan malam di ruang makan tersebut.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Maya langsung memalingkan wajahnya dan memutar seluruh tubuhnya ke arah tempat Naya melambaikan tangan ke arah lorong masuk ruang makan tempat sosok itu melangkah.
Mata jernih Maya membelalak lebar. Bibirnya sedikit terbuka karena rasa kaget yang luar biasa membuncah di dalam dadanya.
Di ambang pintu ruang makan yang berukir indah, berdiri seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dan gagah yang mengenakan kemeja putih berlengan panjang dengan bagian lengan tergulung rapi hingga batas siku. Cahaya gantung ruang makan menyoroti secara sempurna garis wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, serta sepasang mata tajam yang kini menatap lurus ke arahnya dengan pendar kehangatan yang terasa teramat tidak asing.
Maya terpana total, tubuhnya membeku bagaikan patung batu. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku, dan napasnya tertahan rapat di dalam dada. Sosok pria yang selama ini menjadi teka-teki besar, sosok yang diam-diam memberinya perlindungan dan tempat bernaung dari badai kehidupannya, kini berdiri tegak tepat hanya beberapa meter di hadapannya menatap lurus tepat ke dalam manik mata Maya dengan senyuman tipis yang sarat akan sejuta arti dari masa lalu.