NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di sudut kantin yang remang dan terpisah beberapa meja dari keramaian, amarah Clara sudah mencapai puncaknya. Matanya berkilat tajam memandangi Alya yang sedang duduk dikelilingi oleh Devan, Bimo, Raka, Reno, serta kedua sahabatnya. Melihat perlakuan manis dan protektif yang ditunjukkan Devan kepada Alya di depan ratusan siswa membuat dada Clara serasa dihantam batu besar.

"Gue gak bisa biarin cewek miskin itu makin besar kepala, Sis," desis Clara tajam, suaranya bergetar menahan dendam. Tangannya mengepal erat di atas meja.

Siska melirik cemas ke arah meja VIP Devan, lalu berbisik pelan pada Clara. "Tapi Cla... Devan kan udah ngancem bakal nyabut kerja sama bisnis keluarga lo kalau lo macem-macem lagi sama Alya. Nanti kalau ketahuan gimana?"

"Bego! Siapa juga yang mau nyerang dia secara terang-terangan?!" potong Clara dingin, menyunggingkan senyum licik yang penuh rencana jahat. "Gue gak akan nyentuh dia pake tangan gue sendiri. Kita bikin permainan halus yang gak akan bisa dibuktiin kalau itu ulah gue."

Mata Clara melirik ke arah counter bakso Pak Kumis di sudut kantin utama, tempat di mana Raka dan Bimo sedang berdiri mengantre untuk memesan makanan bagi rombongan mereka. Binar kejam seketika memancar dari mata Clara. Ia merogoh tas sekolahnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah dari dalam dompet kulit mewahnya.

"Ayo ikut gue," bisik Clara pada Siska sambil berdiri anggun, melangkah memutar melewati bagian belakang kedai kantin agar tidak menarik perhatian rombongan Devan.

Saat Bimo dan Arya selesai menyebutkan pesanan sepuluh mangkok bakso dan kembali ke meja VIP membawa nampan minuman, Clara melangkah mendekati Pak Kumis yang sedang sibuk memotong tahu dan menyiram kuah bakso panas.

Clara menyelipkan lima lembar uang ratusan ribu rupiah ke bawah nampan kayu milik Pak Kumis. Pedagang tua itu terperanjat kaget, mendongak menatap Clara dengan wajah bingung.

"M-mbak Clara? Ada apa ya?" tanya Pak Kumis ragu.

Clara menyunggingkan senyum manis yang penuh kepura-puraan. "Pak Kumis, saya cuma mau bantu teman saya, Alya. Tolong, buat mangkok bakso khusus untuk Alya... kasih sambal yang bener-bener banyak. Gerus lima belas sampai dua puluh sendok sambal cabai setan ke dalam kuahnya."

Pak Kumis membelalak kaget, menggeleng pelan. "Lho, Mbak... itu pedasnya minta ampun. Nanti perutnya bisa mules atau sakit—"

"Tenang aja, Pak. Alya itu sahabat saya, dia emang ngidam bakso super pedas hari ini tapi dia malu buat minta sendiri," potong Clara cepat dengan nada memaksa yang dibuat-buat, sambil menggeser uang lima ratus ribu rupiah itu lebih dekat ke tangan Pak Kumis. "Uang ini buat Pak Kumis, anggap aja tips. Tapi ingat, jangan bilang kalau saya yang minta, ya. Murni dibilang kalau ini pesanan khusus."

Melihat nominal uang yang setara dengan omzet jualannya seharian, pertahanan Pak Kumis akhirnya runtuh. Dengan tangan agak gemetar, Pak Kumis menuangkan bertumpuk-tumpuk sendok sambal merah menyala yang sangat kental ke dalam salah satu mangkok bakso khusus, menyamarkannya dengan kuah panas dan taburan bawang goreng agar tidak terlalu mencolok dari luar.

Tak lama kemudian, Pak Kumis mengantarkan nampan berisi mangkok-mangkok bakso ke meja VIP.

"Ini mas, baksonya. Yang ini khusus buat Mbak Alya ya, kuahnya udah diracik spesial," ujar Pak Kumis lirih sambil meletakkan mangkok bakso berkuah agak kemerahan tepat di hadapan Alya, lalu terburu-buru pergi karena rasa bersalah.

"Wah, mantap! Pak Kumis perhatian banget sama lo, Al!" celoteh Adel girang sambil menyantap baksonya sendiri.

Alya tersenyum polos, sama sekali tidak menaruh curiga. Tanpa tahu bahwa bahaya sedang mengintainya, Alya menyendok kuah bakso tersebut beserta sepotong bakso kecil, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

*Deg!*

Seketika itu juga, rasa terbakar yang luar biasa dahsyat menyengat lidah, tenggorokan, dan seluruh rongga mulut Alya! Rasa pedas yang amat ekstrem dari belasan sendok cabai rawit murni membakar tenggorokannya bagaikan disiram minyak panas.

"Khh-hh!" Alya seketika tersedak hebat. Wajah cantiknya berubah merah padam dalam hitungan detik.

Mata Alya langsung berkaca-kaca menahan rasa panas yang begitu menyiksa. Air mata bening menetes deras membasahi pipinya. Tangannya gemetar hebat mencoba meraba-raba meja, mencari gelas minuman, namun rasa panas yang menjalar hingga ke dadanya membuat Alya kesulitan bernapas dan kehilangan fokus.

"Alya?! Lo kenapa, Al?!" jerit Jesica panik melihat sahabatnya mendadak kepedasan luar biasa hingga terbatuk-batuk keras.

Dari kejauhan, di sudut kantin yang gelap, Clara dan Siska menyaksikan pemandangan itu dengan tawa puas yang meluap-luap. Clara menutupi mulutnya, tertawa geli melihat Alya yang tampak begitu tersiksa, memegang tenggorokannya yang terbakar di depan semua orang.

"Lihat tuh, Sis! Hahaha! Muka cewek kampung itu merah banget kayak mau meledak! Rasain lo, makanya jangan sok-sokan duduk di samping Devan!" bisik Clara puas, merasa kemenangannya telah kembali.

Namun, rasa puas dan tawa kemenangan Clara tidak bertahan lama.

Melihat Alya yang tersiksa dan kesusahan bernapas, Devan yang duduk tepat di sebelah Alya langsung bergerak dengan kecepatan kilat. Wajah tampan Devan yang tadinya tenang seketika berubah sangat panik dan khawatir.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Devan merebut gelas es teh manis milik Bimo dan gelas jus alpukat milik Arya yang baru disajikan. Devan merangkul lembut tengkuk kepala Alya, menyodorkan sedotan tepat ke bibir Alya yang gemetar.

"Al! Minum ini dulu! Pelan-pelan, Al!" seru Devan dengan intonasi suara yang sangat cemas dan lembut, sama sekali tak menghiraukan bajunya sendiri yang terkena cipratan kuah.

Alya menyedot es teh dingin itu dengan panik, mencoba meredakan rasa terbakar di lidahnya. Devan dengan sigap mengusap lembut punggung Alya, menepuk-nepuknya pelan sembari mengelap air mata yang terus mengalir di pipi Alya menggunakan sapu tangan kain miliknya.

"Bimo! Ambilin air putih hangat dan susu murni di toko depan sekarang! Cepetan!" perintah Devan tegas dengan tatapan mata kilat yang membakar amarah.

Bimo yang melihat situasi darurat itu langsung melompat dari kursi dan berlari kencang menuruti perintah Devan. Sementara itu, Devan menarik jauh-jauh mangkok bakso beracun itu dari hadapan Alya. Begitu Devan mencium aroma kuah bakso tersebut dan melihat endapan minyak cabai kental di dasar mangkok, mata tajam Devan seketika menyipit berbahaya.

Devan sadar... ini bukanlah ketidaksengajaan. Ini adalah sabotase licik.

Devan menggeser mangkok bakso miliknya yang belum tersentuh sedikit pun—berkuah bening dan gurih—ke hadapan Alya.

"Makan punya aku aja, Al. Yang itu jangan disentuh lagi," ujar Devan halus, suaranya dipenuhi rasa bersalah dan perhatian yang mendalam. Ia mengambilkan sendok baru, lalu dengan penuh ketelitian menyuapkan sepotong bakso kecil yang sudah ditiupnya agar dingin ke mulut Alya yang masih memerah.

Alya yang masih terengah-engah dan mengusap matanya menatap Devan dengan pandangan tersentuh. Perlahan, rasa terbakar di tenggorokannya mereda digantikan oleh kehangatan luar biasa yang menjalar di dalam dadanya akibat perlakuan Devan yang begitu manis dan sigap membentenginya.

Seluruh murid di kantin yang menyaksikan adegan tersebut seketika berbisik takjub dan histeris melihat betapa romantis dan protektifnya Devan Narendra merawat Alya di depan umum.

Sementara itu, di sudut kantin, tawa di wajah Clara seketika sirna tanpa sisa. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi bercampur murka yang teramat sangat. Rencana jahat yang ia harapkan dapat mempermalukan dan menyiksa Alya justru berbalik menjadi panggung pertunjukan betapa Devan sangat mencintai dan memanjakan Alya.

Clara meremas rok seragamnya dengan jemari yang gemetar hebat. Rasa kalah yang telak, cemburu yang membakar, dan kekesalan yang membumbung tinggi membuat dadanya terasa hendak meledak, menyaksikan Alya yang kini tersenyum tipis dalam dekap perlindungan Devan.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!