NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 15

​Suasana di dalam sanggar perlahan-lahan kembali tenang.

​Rina kini menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu seraya menggenggam cangkir teh hangat yang diseduhkan Anindiya. Wajahnya memang masih menyisakan sisa-sisa pucat, namun deru napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa saat lalu.

​Anindiya duduk di sampingnya, mengamati kondisi asistennya itu dengan raut khawatir.

​"Masih pusing, Rin?"

​Rina mengangguk pelan. "Sedikit, Mbak..."

​"Kalau masih lemas, istirahat saja dulu di atas. Biar Mbak yang urus klien pagi."

​"Nggak apa-apa, Mbak. Ini sudah mendingan kok."

​Untuk beberapa saat, hening merayapi mereka berdua.

​Suara deru kendaraan di luar jalan raya mulai terdengar makin ramai. Sinar matahari pagi makin meninggi, memoles kaca jendela sanggar dengan kilauan hangat. Aktivitas Kota A kembali berdenyut normal.

​Anindiya menatap Rina cukup lama sebelum akhirnya angkat bicara dengan nada amat lembut. "Rin... Mbak paham. Mungkin kamu masih sangat syok dan kepikiran tragedi kecelakaan kemarin."

​Rina tak langsung merespons. Ia hanya menunduk melamun, menatap uap teh yang membumbung tipis dari cangkirnya.

​Musibah tragis yang merenggut nyawa Siska memang masih mengendap tebal di benaknya. Dan teror tak kasat mata yang baru saja disaksikannya di ruang koleksi benar-benar meremukkan keberaniannya.

​"Tapi aku bener-bener lihat sosok itu, Mbak..." suara Rina terdengar lirih, hampir berupa bisikan.

​Anindiya mengangguk pelan, meremas lembut jemari asistennya. "Mbak percaya kalau kamu merasa melihat sesuatu."

​Kalimat itu membuat Rina sedikit mendongak, menatap Anindiya dengan mata berbinar penuh harapan untuk dipercaya.

​"Tapi... menurut Mbak, belum tentu bayangan itu benar-benar ada secara fisik," lanjut Anindiya pperlahan.Harapan di mata Rina seketika padam. Ia kembali terbungkam.

​Anindiya sama sekali tidak berniat meremehkan ketakutan Rina. Ia hanya memiliki cara pandang yang berbeda dalam memproses situasi. Sejak kecil, Anindiya dibesarkan dalam keluarga yang memegang teguh pola pikir logis—selalu mencari penjelasan ilmiah dan masuk akal sebelum mempercayai hal-hal mistis.

​Bagi Anindiya, kombinasi antara kelelahan fisik, kurang tidur, dan tekanan trauma hebat sangat sanggup menciptakan ilusi visual maupun pendengaran pada otak manusia. Apalagi baru kemarin mereka menyaksikan tragedi berdarah yang mengerikan. Siapa pun pasti akan terguncang pikirannya.

​Anindiya menepuk pelan bahu Rina. "Jangan terlalu dipikirkan ya, Rin. Makin dipikirkan, otak kita makin memproduksi rasa takut yang nggak perlu."

​Rina menghembuskan napas panjang. "Mungkin..."

​Walau bibirnya mengiyakan, di lubuk hatinya yang paling dalam, Rina tahu persis apa yang ia alami. Paras pucat pasi perempuan bergaun kusam itu masih teringat amat jelas di memori matanya. Tatapan matanya yang tajam dan kelam, kulit kelabunya, dan bisikan dingin yang melarang gaun itu diambil... semuanya terlalu nyata untuk sekadar dianggap "bunga mimpi" atau halusinasi.

​Namun Rina memilih menyimpannya sendiri. Ia paham betul Anindiya bukanlah tipe orang yang mudah digoyahkan oleh cerita-cerita gaib.

​Melihat Rina sudah mulai tenang, Anindiya pun bangkit berdiri. "Kamu duduk-duduk dulu di sini ya. Nanti kalau sudah beneran enakan, baru bantu Mbak."

​"Iya, Mbak. Makasih ya."

​Anindiya melangkah masuk ke ruang kerjanya. Begitu daun pintu ditutup rapat, ia menghempaskan tubuhnya di kursi putar.

​Di atas meja, tumpukan berkas klien sudah menanti untuk diproses—jadwal fitting, nota pembayaran, hingga surat pengiriman kosmetik. Anindiya membuka laptopnya, berusaha memfokuskan otaknya pada pekerjaan.

​Namun di sela-sela ketikan jarinya, ingatan tentang pengakuan Rina sesekali berkelebat.

​Perempuan di samping manekin.

Bayangan tersenyum di cermin.

Bisikan dingin 'Jangan ambil gaunku.'

​Tiap kali ingatan ganjil itu timbul, Anindiya menggelengkan kepalanya pelan. "Ah, ada-ada saja... nggak mungkin lah," gumamnya pada diri sendiri.

​Logikanya kembali memegang kendali. Kejadian pingsannya Rina pasti memiliki penjelasan medis—bisa jadi karena kadar gula darah yang mendadak drop dipicu oleh rasa takut berlebihan dari ingatan tragedi kemarin.

​Soal gaun pengantin yang tetap utuh di tengah kecelakaan yang meremukkan mobil Siska, Anindiya tetap menganggapnya sebagai sebuah kebetulan luar biasa akibat kualitas kain yang super kuat. Ia menolak keras mengaitkan benda mati dengan musibah maut. Baginya, takdir dan musibah adalah urusan Tuhan, bukan karena barang sewaan.

​Ting tong!

​Suara bel pintu depan memecah lamunannya. Tanda klien pertama hari itu telah tiba.

​Anindiya bergegas merapikan bajunya dan keluar ruangan. Rina pun sudah tampak bangkit dari sofa, mencoba bersikap profesional untuk membantu menyambut tamu.

​Sanggar kembali ramai oleh kesibukan. Calon pengantin datang dan pergi silih berganti. Ada yang berdiskusi tentang tren riasan terkini, ada yang memilih paket pre-wedding, dan seperti biasa... mata setiap klien baru selalu tertuju saat memandangi gaun putih gading di dekat jendela.

​Anindiya tak sanggup menyembunyikan senyum puasnya tiap kali mendengar decak kagum calon pengantin. Gaun itu benar-benar magnet kesuksesan. Rasa percaya dirinya makin melambung—pembelian mahal gaun itu adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

​Di sela-sela melayani tamu, Anindiya sempat melirik Rina. Asistennya itu masih beberapa kali melemparkan tatapan tegang dan waswas ke arah ruang koleksi. Namun Anindiya sengaja memberinya banyak tugas ringan agar pikiran gadis itu terus teralihkan dari rasa takutnya.

​Menjelang sore hari, seluruh janji temu telah usai. Klien terakhir pamit dengan raut gembira.

​Anindiya berdiri di ambang pintu ruang koleksi, memandangi gaun pengantin putih gading di atas manekin. Cahaya senja yang keemasan membingkai siluet gaun itu dengan begitu megah. Bersih, anggun, dan tanpa cela.

​Anindiya tersenyum tipis. Dalam hati ia membatin, ia tak akan membiarkan takhayul atau ketakutan tak beralasan mengacaukan bisnis yang telah ia bangun mati-matian. Ia hanya percaya pada apa yang bisa ditangkap oleh mata dan dicerna oleh logika.

​Tanpa pernah disadari oleh Anindiya...

​Saat ia membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruang koleksi...

​Pantulan dirinya di dalam cermin besar di samping manekin tidak langsung bergerak menyusulnya.

​Selama beberapa detik yang mencekam...

​Bayangan Anindiya di dalam cermin masih tetap berdiri kaku, menghadap ke arah gaun.

​Lalu...

​Perlahan-lahan, sudut bibir dari bayangan Anindiya di dalam cermin itu terangkat naik... membentuk sebuah senyuman dingin yang teramat lebar. Sebuah senyuman keji yang sama sekali tak dibuat oleh Anindiya yang asli.

​Sesaat kemudian, bayangan di dalam cermin berkedip dan kembali normal seperti sedia kala.

​Ruangan kembali senyap.

​Dan Anindiya terus berjalan santai menuju ruang kerjanya, tanpa sedikit pun menyadari bahwa keyakinan logisnya yang kokoh... kini telah mulai dimainkan oleh sosok tak kasat mata dari balik kegelapan.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!