NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Ceklek.

Rahmat membuka pintu dan berjalan pergi begitu saja.

Brak.

Pintu ditutup kembali, meninggalkan Dimas sendirian dalam keputusasaan yang kelam.

"Sialan, sialan kalian semua."

Dimas menjerit histeris sambil membenturkan kepalanya sendiri ke atas meja besi.

Bugh bugh bugh.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota.

Suasana di dalam kamar Rina sangat berantakan.

Pakaian, tas bermerek, dan sepatu berserakan di atas kasur dan lantai.

Srek srek.

Rina memasukkan semua perhiasan emas dan berliannya ke dalam koper besar dengan panik.

Tangannya bergetar hebat dan air matanya terus mengalir membasahi pipinya.

"Aku harus pergi dari negara ini sekarang juga."

"Kalau tidak, polisi pasti akan menangkapku dan menyita semua barang-barang ini."

Rina bergumam panik sambil terus mengemasi barang berharganya.

Dia sudah melihat berita penangkapan Dimas di televisi pagi ini.

Dia tahu bahwa Dimas tidak akan pernah bisa keluar dari penjara lagi.

Kring kring.

Ponsel Rina yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba berdering keras.

Rina langsung melompat kaget dan melihat nama yang tertera di layar.

Itu adalah panggilan dari manajer bank tempat dia menyimpan uangnya.

Rina segera mengangkat panggilan itu dengan tangan gemetar.

"Halo, Pak Manajer."

"Tolong segera cairkan semua deposito saya dan transfer ke rekening luar negeri."

Rina langsung memberikan perintah tanpa basa-basi.

"Maafkan saya, Nona Rina."

Suara manajer bank itu terdengar sangat formal dan kaku dari seberang telepon.

"Semua rekening Anda sudah dibekukan oleh pihak kepolisian satu jam yang lalu."

"Kami tidak bisa melakukan transaksi apa pun atas nama Anda."

Mata Rina membelalak lebar mendengar jawaban itu.

"Apa maksudmu dibekukan?"

"Itu uang pribadiku hasil kerjaku sendiri."

"Kalian tidak berhak menahan uangku."

Rina berteriak marah ke arah ponselnya.

"Pihak kepolisian mencurigai uang itu berasal dari aliran dana gelap Tuan Dimas."

"Silakan Anda selesaikan masalah ini langsung dengan pihak berwajib."

Tut tut tut.

Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak oleh manajer bank tersebut.

"Sialan, dasar bank brengsek."

Rina melempar ponselnya ke dinding dengan keras.

Prang.

Ponsel mahal itu hancur berkeping-keping jatuh ke lantai.

Rina menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menangis tersedu-sedu.

Semua mimpi indahnya menjadi istri pengusaha kaya raya kini hancur lebur berkeping-keping.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu apartemennya terdengar sangat keras dari luar.

"Selamat pagi, kami dari kepolisian."

"Nona Rina, tolong buka pintu ini sekarang juga."

"Kami punya surat perintah penggeledahan dan penjemputan paksa."

Mendengar suara bariton dari luar pintu itu, nafas Rina seolah terhenti seketika.

Tubuhnya gemetar hebat dan dia hanya bisa menutupi mulutnya agar tidak berteriak.

Ternyata pelariannya sudah berakhir bahkan sebelum dia melangkah keluar dari pintunya.

Di waktu yang sama, di kamar Hotel Grand Surya.

Sony duduk dengan sangat santai di sofa beludru merah yang empuk.

Dia sedang menikmati secangkir teh hijau hangat.

Sruput.

Asap tipis mengepul dari cangkir teh hijau di tangannya.

Di depannya, televisi layar datar berukuran besar sedang menyiarkan berita terkini.

Gambar Dimas yang sedang digiring masuk ke ruang interogasi terpampang jelas di layar.

"Semuanya berjalan persis seperti yang kau rencanakan, Sony."

Nadhira yang duduk di sofa seberang membuka suara.

Dia meletakkan sebuah majalah bisnis ke atas meja kaca.

"Keluarga Pratama sudah benar-benar tamat hari ini."

"Bahkan saham-saham perusahaan kecil yang terafiliasi dengan mereka langsung anjlok parah."

Sony menaruh cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan.

"Ini baru permulaan dari hukuman mereka, Nadhira."

"Hidup miskin dan dihina di dalam penjara jauh lebih menyakitkan daripada kematian yang cepat."

"Setidaknya begitulah yang aku rasakan selama lima tahun kemarin."

Sony menatap layar televisi dengan pandangan yang sangat sulit ditebak.

Nadhira terdiam sejenak mendengar ucapan Sony yang terdengar sangat kelam itu.

Dia bisa merasakan betapa dalamnya luka dan dendam yang dibawa oleh pria ini.

Tap tap tap.

Leo berjalan masuk dari arah pintu depan kamar hotel.

Dia mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi seperti biasa.

"Tuan Sony, saya baru saja mendapat laporan dari orang kita di kepolisian."

Leo berhenti di samping sofa dan sedikit menundukkan kepalanya.

"Bagaimana hasilnya, Leo?"

"Apakah Dimas sudah menceritakan semuanya pada polisi?"

Sony bertanya tanpa menolehkan kepalanya.

"Dimas sudah hancur mentalnya secara total, Tuan."

"Pengacaranya baru saja membuangnya dan kekasihnya sedang ditangkap saat mencoba kabur."

"Dia sudah mengakui semua penipuan bisnisnya dan pemalsuan dokumen keluarganya."

Leo melaporkan semuanya dengan nada suara yang sangat datar dan tenang.

Sony tersenyum tipis mendengar laporan yang sangat memuaskan itu.

Ting.

[Sistem Pemberitahuan: Target Dimas Pratama telah kehilangan seluruh status sosial dan hartanya]

[Misi Pembalasan Dendam Tahap Pertama Dinyatakan Selesai Sempurna]

[Hadiah Sistem: Kemampuan Mata Dewa telah ditambahkan ke dalam profil Tuan Rumah]

Sebuah layar biru transparan muncul tepat di depan wajah Sony.

Sony hanya membaca tulisan itu dalam hati tanpa menunjukkan reaksi apa pun di wajahnya.

"Bagus sekali kemampuan yang diberikan sistem ini," batin Sony.

"Dengan Mata Dewa, aku bisa melihat aliran energi dan titik lemah musuh dengan mudah."

Sony segera menutup layar biru itu dari pandangannya.

"Lalu bagaimana dengan racun saraf yang digunakan oleh ayahnya dulu, Leo?"

"Apakah Dimas menyebutkan dari mana ayahnya membeli barang berbahaya itu?"

Sony kembali bertanya untuk memastikan dugaannya sendiri.

Leo membuka sebuah catatan kecil dari saku jasnya.

"Itulah bagian yang paling menarik dari interogasi pagi ini, Tuan."

"Dimas mengaku ayahnya membeli racun saraf itu dari sebuah jaringan pasar gelap."

"Tapi dia sama sekali tidak tahu nama jaringan itu atau siapa perantaranya."

Nadhira langsung mencondongkan tubuhnya ke depan karena merasa tertarik.

"Pasar gelap?"

"Maksudmu ada organisasi kriminal besar yang menjual racun langka seperti itu di kota ini?"

Nadhira bertanya dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.

Insting jurnalisnya langsung bekerja keras mencium adanya berita besar yang baru.

Sony menatap Nadhira dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Tentu saja ada, Nadhira."

"Keluarga Pratama itu bodoh dan hanya peduli pada uang dari proyek pemerintah."

"Mereka tidak mungkin punya otak untuk meracik racun saraf yang tidak bisa dilacak oleh tim medis."

"Pasti ada ahli kimia dari organisasi gelap yang menjualnya pada mereka dengan harga mahal."

Sony menjelaskan logikanya dengan sangat tenang dan masuk akal.

Nadhira memegang dagunya dengan jari telunjuk sambil berpikir keras.

"Kalau begitu, musuhmu yang sebenarnya belum hancur sepenuhnya."

"Pembunuh aslinya adalah pembuat racun itu, bukan hanya ayah Dimas yang menyuapkannya."

"Kau benar sekali, Nadhira."

Sony berdiri dari sofa dan berjalan perlahan menuju jendela kaca besar di ruangan itu.

Dia menatap pemandangan hiruk pikuk kota Jakarta di bawah sana.

"Ayah Dimas hanyalah sebuah alat bodoh yang dipakai untuk menyalurkan racun itu."

"Aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan siapa yang memproduksi dan menjualnya."

Sony berbicara dengan nada suara yang sangat dingin dan mematikan.

Leo melangkah mendekati Sony dan berdiri tepat di belakangnya.

"Apakah Anda ingin saya mengerahkan orang-orang kita untuk melacak jaringan pasar gelap itu, Tuan?"

Leo bertanya untuk meminta perintah lebih lanjut.

"Tidak perlu terburu-buru, Leo."

"Organisasi yang bisa menjual senjata biologis seperti itu pasti sangat berhati-hati dan punya banyak mata-mata."

"Kalau kita bergerak terlalu mencolok, mereka akan langsung bersembunyi dan memotong semua jejak."

Sony membalikkan badannya dan menatap Leo dengan tajam.

"Kita akan memancing mereka keluar dengan cara yang lebih halus."

"Bagaimana caranya?" Nadhira ikut bertanya karena sangat penasaran dengan rencana Sony.

Sony tersenyum penuh teka-teki ke arah Nadhira.

"Menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh organisasi penjual senjata jika salah satu pembeli rahasia mereka tertangkap dan bernyanyi di kantor polisi?"

Nadhira terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan itu.

Matanya langsung melebar saat menyadari sesuatu yang sangat penting.

"Mereka pasti akan panik dan berusaha membungkam pembeli itu selamanya."

"Tepat sekali."

Sony menjentikkan jarinya ke udara.

Trak.

"Mereka tidak akan membiarkan Dimas hidup cukup lama untuk mengingat ciri-ciri penjual racun itu."

"Akan ada pembunuh bayaran profesional yang dikirim ke dalam penjara malam ini atau besok."

"Dan saat pembunuh itu datang, kita sudah siap menyambutnya untuk mencari tahu siapa majikannya."

Sony berjalan kembali ke arah sofa dan duduk dengan santai.

"Leo, perketat penjagaan di sekitar kantor polisi pusat mulai malam ini."

"Gunakan orang-orang bayaran yang paling ahli dalam penyamaran."

"Aku mau tahu siapa pun yang mencoba menyusup masuk ke sel tahanan Dimas."

"Baik, Tuan Sony."

Leo menundukkan kepalanya dengan hormat menerima perintah itu.

"Ini akan menjadi berita investigasi kriminal yang paling besar tahun ini."

Nadhira bergumam pelan dengan senyum yang sangat lebar.

"Aku akan menyiapkan semua peralatanku untuk merekam kejadian selanjutnya."

Sony hanya melirik Nadhira sekilas tanpa banyak berkomentar.

"Lakukan sesukamu, Nadhira."

"Tapi pastikan kau tidak menghalangi langkahku saat waktu pembantaian itu tiba."

Sony mengambil kembali cangkir tehnya dan meminumnya perlahan.

Di balik wajah tenangnya, Mata Dewa miliknya sudah tidak sabar untuk melihat darah dari musuh barunya.

Kisah balas dendam ini ternyata belum lah mencapai kata tamat.

Ini hanyalah babak pembuka untuk menghancurkan kegelapan yang lebih besar di kota ini.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!