Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerinduan Seorang Ibu
Thea baru saja melangkah keluar dari area dapur utama dengan gerakan yang teratur dan tenang. Dengan mengulurkan jemarinya, wanita itu menepuk-nepuk pelan apron putih yang terpasang di gaun pelayannya untuk membersihkan noda tipis yang menempel.
Langkah kakinya membawanya menuju selasar berpagar ukir di lantai dua. Ia menyandarkan kedua tangannya di tepi pembatas, memandang tajam ke arah lantai dasar di mana puluhan mafioso klan D'Alterio tengah berbaris sangat rapi dengan senapan serbu terkokang di tangan mereka. Kening Thea mengerut dalam menyaksikan pergerakan masif tersebut.
"Para mafioso akan dikerahkan untuk menyerang perbatasan wilayah Klan Mafia D'Angelo ...," bisik seorang pelayan senior yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"D'Angelo? Bukankah itu klan utama milik Tuan Salvatore?" sahut pelayan lainnya dengan nada panik.
"Ya, nampaknya memang seperti itu. Perang besar akan pecah malam ini."
Thea membisu di tempatnya. Telinganya dengan cermat menyerap setiap bisik-bisik ketakutan dari para pelayan di sekitarnya. Tanpa menarik perhatian, tangan kanannya merogoh saku apron, menyentuh ponsel mikro tersembunyi, lalu menekan sebuah tombol untuk mengirimkan kode rahasia darurat kepada Thomas.
Namun, sebelum pesan itu benar-benar terkirim, sebuah tangan halus mendadak merangkul pelan pundaknya dari samping!
Grep!
Thea tersentak kaget. Sepasang matanya membelalak sempurna seraya menahan napas secara refleks. Seluruh naluri bertahannya langsung bersiaga penuh, tetapi ia berusaha keras untuk tidak melakukan gerakan spontan yang bisa membongkar penyamarannya.
"Kamu ... pelayan baru di sini?" suara lembut seorang wanita paruh baya terdengar begitu dekat di samping telinganya.
Thea menoleh perlahan. Di hadapannya, berdiri seorang wanita paruh baya berparas sangat anggun dan cantik yang menatapnya dengan binar mata yang ramah dan penuh kehangatan.
"I-Iya, Nyonya ...," cicit Thea seraya membalikkan tubuhnya perlahan, membungkuk hormat di hadapan Amoera D'Alterio, istri dari sang Don tertinggi, Leon D'Alterio.
Amoera tersenyum tipis. "Bisa tolong bantu saya sebentar? Untuk membereskan isi lemari pakaian saya di kamar utama. Tadi saya mencari suatu barang dan mengacak-acak isinya sampai berantakan, sementara saya ada keperluan lain sebentar lagi."
Thea mengangguk pelan dengan raut patuh. "Tentu bisa, Nyonya."
"Mari, ikut saya," ajak Amoera ramah seraya memutar tubuhnya.
Thea membiarkan Amoera berjalan lebih dulu di hadapannya. Sembari mengekor di belakang wanita anggun itu, pikiran Thea berputar cepat. Misi ini ternyata bisa berjalan jauh lebih mudah dari yang aku perkirakan, batinnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama yang sangat luas dan mewah, mata Thea menangkap tumpukan pakaian mahal yang sedikit berantakan di dekat lemari gantung. Namun, dari sekian banyak gaun berharga fantastis yang berserakan, hanya ada satu barang yang didekap erat oleh Amoera, sebuah kaus tangan bayi berwarna soft pink berukuran sangat mungil yang tampak berdesain model lama.
"Saya tadi mencari ini ... tapi pasangannya hilang entah ke mana," ucap Amoera lirik seraya menunjukkan sarung tangan mungil itu pada Thea.
Thea terdiam membisu. Ia yakin penuh bahwa kaus tangan itu adalah milik Alaura sewaktu masih bayi. Binar kerinduan dan duka yang amat mendalam terpancar jelas dari sorot mata Amoera saat mengelus kain lembut tersebut.
"Kamu tahu?" lirih Amoera dengan suara yang mendadak serak, menatap kosong ke arah kaus tangan mungil di genggamannya. "Hal yang paling menyakitkan bagi seorang ibu adalah kehilangan putrinya tanpa ada kepastian. Berharap dia masih hidup ... rasanya seperti kemustahilan yang meremukkan dada. Namun jika meyakini dia sudah mati ... naluri dan perasaan ibu ini sama sekali tidak bisa menerimanya."
Thea terpaku mendengar penuturan itu. Sebagai seorang anak yatim piatu yang tumbuh keras di dunia bawah, ia tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ibu. Thea menarik napasnya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu memaksakan sebuah senyuman profesional di bibirnya.
"Saya mulai bersihkan lemarinya ya, Nyonya," pinta Thea mengalihkan suasana.
"Silahkan," ucap Amoera lembut. Wanita itu lalu berjongkok di dekat karpet, mencoba mencari pasangan sarung tangan yang hilang.
Thea dengan sigap mulai menata pakaian-pakaian mahal itu kembali ke dalam lemari. Sembari jemarinya bekerja cepat, matanya bergerak liar mengamati setiap sudut kamar utama tersebut. Tatapannya terhenti pada sebuah bingkai foto berukir perak yang terpajang rapi di dinding dekat meja rias. Foto masa kecil Alaura saat berusia tiga tahun. Balita dalam foto itu tertawa menggemaskan ke arah kamera saat berada di dalam gendongan Leon. Sangat manis dan sempurna.
Kehidupan Alaura sebenarnya sangat sempurna. Tapi sayang, ia harus terpisah dari orang tuanya akibat pertumpahan darah ini. "Bahkan sebuah klan mafia dengan ribuan mafioso terkuat pun tak sanggup melindungi putri kecil mereka sendiri," batin Thea miris.
Ia melanjutkan pembersihan hingga mendekati area meja rias. Sepasang mata Thea berbinar saat menangkap sebuah sisir rambut bertatahkan mutiara tergeletak di atas meja. Di selipan gigi sisir itu, terdapat beberapa helai rambut panjang milik Amoera yang tertinggal.
Perlahan, Thea berdiri tegak dan melangkah mendekati meja rias. Tangannya yang terbalut sarung tangan pelayan terulur pelan, berniat mencabut helai rambut tersebut sebagai sampel DNA yang dibutuhkan Salvatore.
"Mommy."
DEG!
Thea tersentak kaget. Ia membatalkan gerakannya seketika dan memutar tubuhnya. Di ambang pintu kamar, berdiri Eren D'Alterio. Pria muda itu menatap Thea dengan tatapan sangat waspada, tajam, dan penuh dengan aura curiga yang menekan.
Dengan tenang, Thea membalikkan tangannya dan pura-pura merapikan letak botol parfum di samping sisir.
"Dia bukan pelayan yang biasa membersihkan kamar utama Mommy. Kenapa Mommy memanggilnya masuk?" tanya Eren dengan suara tegas dan dingin, melangkah mendekat. "Dia pelayan baru, Mom. Mommy harus selalu berhati-hati."
Amoera berdiri seraya tersenyum lembut, lalu meraih jemari putranya itu. "Bibi Elis sedang keluar sebentar untuk mengambil bahan Dapur, Eren. Tak apa-apa, Mommy juga selalu waspada kok. Oh iya, lihat ini ... Mommy berhasil menemukan kaus tangan adikmu sewaktu bayi. Cantik sekali, bukan? Tapi ... aromanya sudah hilang," cicit Amoera dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia mendekatkan kain mungil itu ke hidungnya, mencoba menciumnya kembali seolah berharap aroma tubuh bayi Alaura masih tertinggal di sana.
Melihat situasi yang semakin berisiko dan aura Eren yang amat mengintimidasi, Thea memilih untuk mundur demi keselamatan misinya.
"Nyonya, lemarinya sudah selesai saya rapikan," ucap Thea membungkuk hormat.
Amoera menyapu air mata di sudut matanya lalu tersenyum tipis. "Sudah selesai? Terima kasih banyak ya atas bantuannya."
Thea mengangguk pelan, membalikkan badan, lalu melangkah cepat keluar dari kamar utama.
Melihat gerak-gerik pelayan baru yang terkesan buru-buru itu, kecurigaan Eren semakin menjadi-jadi. Pria itu segera berbalik dan mengejar langkah Thea. Ia memperhatikan Thea yang berjalan setengah berlari menuju lorong dapur belakang yang sepi.
Tanpa membuang waktu, Eren melangkah lebar dan menyergap pergelangan tangan wanita itu dari belakang! Eren menarik tubuh Thea dengan satu gerakan kuat hingga membuat wanita itu terpental dan menabrak dada bidangnya secara kasar.
BRUGH!
Nampan kosong di tangan Thea terlepas dan terjatuh ke lantai. Keduanya kini berdiri dalam jarak yang amat dekat, saling pandang dengan tatapan mata yang dalam, tajam, dan sangat sulit diartikan. Napas Thea memburu, menatap lurus ke dalam manik mata Eren yang berkilat membunuh.
"Apa kamu ... seorang mata-mata?" desis Eren tajam, cengkeraman tangannya di lengan Thea kian mengencang. "Pelayan biasa yang baru bekerja sehari tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melangkah masuk ke kamar utama orang tuaku, kecuali pelayan senior. Tapi kamu ... kenapa kamu begitu berani, hah?"
Desisan dingin Eren bagaikan vonis kematian yang membuat jantung Thea berdebar kencang di balik dadanya.
_________________
Thea :Aku bingung harus pilih yg manaaaa🤣🤣
gak sabar lihat salvatore di tinggal kabur sama kyora😂😂