Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Mencintai Karena Allah
Kata-kata Rayhan malam itu terus terngiang di dalam benak Fatimah, seperti embun pagi yang perlahan mengikis gumpalan es di hatinya.
Pintu kamar mandi baru saja tertutup, menandakan Rayhan sedang bersiap-siap untuk mengistirahatkan tubuhnya yang pasti teramat lelah setelah hari yang begitu panjang dan menguras emosi.
Fatimah duduk di tepi ranjang yang empuk, menatap jemarinya sendiri. Kamar ini hangat, harum, dan aman.
Tanpa cadar yang biasanya membatasi dunianya, ia merasakan sebuah kebebasan baru yang sah di bawah naungan rida seorang suami.
Ganjalan di hatinya tentang masa depan dan impian kuliah yang sempat runtuh kini perlahan menjelma menjadi rasa takzim yang mendalam kepada sosok pria yang baru beberapa jam menjadi imamnya.
"Belajar mencintai karena Allah," bisik Fatimah lirih pada kesunyian kamar.
Kalimat itu sering ia dengar saat mengaji di pesantren, namun baru malam ini ia benar-benar harus mempraktikkannya.
Mencintai Rayhan Khalif bukan dimulai dari pandangan pertama yang mendebarkan, melainkan dari rasa syukur atas kesalehan, kedewasaan, dan kelembutan budi pekerti pria itu yang telah memuliakan ayahnya di ujung usia.
Pintu kamar mandi terbuka, membubarkan lamunan Fatimah. Rayhan keluar dengan mengenakan pakaian tidur yang rapi.
Pria itu tersenyum tipis saat mendapati Fatimah masih setia menunggunya dengan posisi duduk yang tampak kaku.
"Belum tidur, Fatimah?"
"Ini sudah hampir tengah malam."
"Kamu harus istirahat, besok kita harus kembali ke rumah Ibu untuk pengajian hari pertama Ayah."
Kata Rayhan sembari berjalan mendekati sisi ranjang yang lain.
"Iya, Mas. Fatimah menunggu Mas Rayhan."
Jawab Fatimah lembut, suaranya terdengar lebih santai dibandingkan sebelumnya.
Rayhan naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya. Namun, seperti janjinya untuk tidak memaksakan apa pun, ia mengambil posisi di ujung kanan, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
Sebuah guling diletakkannya di tengah-tengah sebagai batas pembatas yang tidak kasat mata, sebuah bentuk penghormatan yang luar biasa bagi privasi dan kesiapan mental istri kecilnya.
"Tidurlah, Fatimah."
"Mas di sini, kamu tidak perlu takut."
Bisik Rayhan sembari memejamkan matanya, mengulas senyum teduh yang menenangkan.
Fatimah menatap punggung tegap Rayhan yang membelakanginya.
Di dalam hatinya, ego mudanya runtuh sepenuhnya. Pria ini begitu menjaga perasaannya, begitu menghargai batasan dirinya yang masih diliputi duka.
Rasa haru menyeruak di dada Fatimah. Ia perlahan merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong, menarik selimut hingga ke dada.
Sembari menatap langit-langit kamar yang temaram, Fatimah mulai merajut doa di dalam hatinya.
Ia memohon kepada Sang Pemilik Hati agar menumbuhkan benih-benih cinta di dalam dadanya untuk Rayhan.
Cinta yang bukan karena ketampanan atau kekayaan, melainkan cinta yang tumbuh karena kepatuhannya kepada perintah Allah dan rasul-Nya.
"Ya Allah, bolak-balikkan hatiku untuk mencintai lelaki yang telah Engkau pilihkan menjadi imamku."
"Jadikanlah bakti ini sebagai jalan mudaku menuju surga-Mu," doa Fatimah dalam sunyi.
Malam itu, di dalam rumah yang asing namun mulai terasa hangat, Fatimah memejamkan mata dengan hati yang jauh lebih lapang.
Ia tahu perjalanan mengabdi sebagai seorang istri baru saja dimulai, dan ia siap belajar mencintai Rayhan Khalif setulus hati, setapak demi setapak, lillahi ta'ala.
Dan di balik jarak beberapa jengkal di atas ranjang itu, sebaris ketenangan baru kini resmi bertahta di dalam hidup Fatimah Az-Zahra.