"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.33
Alyssa melangkah masuk ke ruang tengah, tempat keluarga besar kini berkumpul. Seperti biasa, Maya menyambut menantunya itu dengan hangat, disusul oleh Silvia yang tersenyum ramah.
"Gimana hasil liburan dari Bali kemarin? Udah ada 'isi' belum?" tanya Indah tanpa basa-basi begitu semua orang duduk. Para lelaki sendiri masih berada di halaman belakang bersama Bagas.
"Apaan sih, Ndah. Kamu ini baru juga seminggu, ya gak mungkin langsung kelihatan hamil," sahut Silvia, merasa gemas dengan tabiat adiknya yang suka memancing keributan.
Feli yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa mendengarkan. Dalam hati ia kasihan melihat Kak Alyssa yang seolah selalu menjadi sasaran tembak ibunya sendiri. Feli menggeleng pelan, lalu kembali sibuk dengan mainannya.
"Ya aku kan cuma tanya, Mbak. Apa salahnya, sih?" celetuk Indah santai. "Lagian harus hati-hati, lho. Nanti kalau gak hamil-hamil, suamimu bisa nikah lagi."
Uhuk!
Maya yang sedang menyesap tehnya mendadak tersedak. Ia menatap tajam ke arah Indah dengan raut wajah murka.
"Indah!" tegur Maya keras. "Kalau kamu mau tinggal lebih lama di rumah ini, tolong jaga sikapmu. Jangan sampai menantuku merasa berkecil hati cuma karena belum hamil. Rahim itu kekuasaan Tuhan, bukan kuasa kita!"
Maya melirik Alyssa yang mendadak terdiam dengan raut murung. Silvia yang mengerti perasaan Alyssa segera mengusap lembut punggung tangan keponakan menantunya itu, mencoba memberikan kekuatan.
Merasa dadanya makin sesak oleh atmosfer rumah tersebut, Alyssa akhirnya pamit undur diri untuk naik ke kamar.
Namun, rasa sesak itu justru makin memuncak saat Alyssa mendorong pintu kamar. Dari dalam, terdengar suara Adrian yang begitu lembut dan mesra sedang berbicara di telepon.
"Iya, Sayang... Nanti malam pakai baju yang aku suka, ya? Yang warna hitam, kamu kelihatan seksi banget pakai itu."
Adrian yang membelakangi pintu sama sekali tak sadar kalau Alyssa sudah berdiri di dalam kamar.
"Iya, Sayang... Aku juga rindu su—"
"Alyssa?!" seru Adrian panik setengah mati saat tak sengaja berbalik. Dengan gerakan cepat dan canggung, ia mematikan sambungan teleponnya.
"Kita cerai secepatnya aja, Mas," potong Alyssa dingin, tak mau lagi ambil pusing atau mendengarkan alasan basi.
"Alyssa, aku—"
"Tante Indah gak suka sama aku, jadi buat apa aku bertahan di pernikahan yang gak sehat ini?" tatap Alyssa lurus-lurus ke mata Adrian. "Dan kamu... kamu bisa lebih bebas sama Hanum. Kalau perlu, langsung nikahi saja dia setelah kita berpisah."
Adrian bungkam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu. Seketika itu juga, ia merasa menjadi lelaki paling bodoh, tak berpendirian, dan sangat lemah di hadapan istrinya sendiri.
Sementara itu di luar kamar, pintu yang sedikit terbuka membuat Arden tanpa sengaja menyaksikan seluruh pertengkaran dingin tersebut.
Mengetahui Alyssa secara tegas menuntut perceraian dari Adrian, dada Arden bergemuruh hebat. Dilema besar menghantam benaknya seketika.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Arden lirih pada dirinya sendiri. Haruskah ia nekat melawan dan menerima risiko diusir oleh ibunya demi memperjuangkan Alyssa yang kini bebas, atau tetap membiarkan dirinya terjebak dalam pernikahan palsu bersama Nabella?
Tanpa menunggu balasan dari Adrian, Alyssa melangkah menuju lemari besar di sudut kamar. Ia menarik keluar sebuah koper berukuran sedang dan membeberkannya di atas tempat tidur. Dengan gerakan tenang namun pasti, jari-jemarinya mulai memindahkan pakaian dari gantungan ke dalam koper.
"Alyssa! Kamu mau ngapain?!" panik Adrian seketika memuncak. Ia buru-buru mendekat dan menahan tangan Alyssa yang tengah melipat salah satu bajunya.
"Nggak usah pegang-pegang, Mas," desis Alyssa tajam, menghentakkan tangannya hingga genggaman Adrian terlepas. "Aku mau keluar dari rumah ini. Hari ini juga."
"Gila kamu, ya? Di bawah lagi ada keluargaku nanti mereka semua curiga! Kamu mau bikin malu aku di depan mereka kalau kamu keluar bawa koper sekarang?!" tegur Adrian dengan suara setengah berbisik. Ia panik luar biasa jika citra pernikahan idealnya hancur berantakan di depan keluarga besar.
Alyssa terkekeh pelan—sebuah tawa hampa yang penuh penderitaan. "Harga dirimu cuma sebatas itu, Mas? Kamu lebih takut malu di depan keluargamu daripada takut dosa karena berselingkuh?"
Pertanyaan menyengat itu membungkam Adrian telak. Wajahnya memerah padam, antara malu dan cemas yang tak tertahankan. Adrian, belum sanggup mengungkapkan bahwa dia telah menikah dengan Hanum.
Di luar kamar, Arden mendengar semua perdebatan itu. Arden tersentak saat sebuah cengkeraman mendarat di bahunya. Ia berbalik dan menemukan Maya berdiri di sana dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Jangan campuri urusan rumah tangga kakakmu, Arden," bisik Maya penuh penekanan, menarik lengan putra bungsunya itu menjauh dari pintu kamar Adrian. "Fokus pada Nabella dan pernikahan kalian."
Arden melirik ke arah pintu kamar Alyssa yang perlahan tak terdengar apapun lagi. Hatinya mencelos. Alyssa berjuang melepaskan diri dari penderitaan bersama kakaknya, sementara ia sendiri makin tenggelam dalam sangkar yang dibuat oleh ibunya sendiri.
*
*
Tak terasa waktu makan malam pun tiba. Kali ini Alyssa tidak ikut membantu di dapur seperti biasanya. Ia memilih duduk dengan tenang di ruang makan, sesekali membalas percakapan hangat dari Tante Silvia.
"Kapan-kapan kamu harus main ke Jogja, ya! Nanti Tante ajak kamu jalan-jalan keliling sana," ujar Silvia ramah.
"Iya, Tante," balas Alyssa sambil mengukir senyum tipis.
"Ngapain ajak dia ke sana? Kalau aku sih mending ajak Hanum aja. Secara dia kan lebih..."
"Indah!" seru Maya memotong tajam kalimat adik iparnya, memberi tatapan peringatan yang keras.
"Apaan sih, Mbak? Memang kenyataannya Hanum lebih cocok jadi menantu di keluarga ini, kan?" balas Indah tanpa rasa bersalah.
"Alyssa juga sangat cocok. Keluarga Narendra tidak pernah membeda-bedakan menantu dari latar belakangnya," sahut Bagas tegas, lalu pandangannya beralih menatap suami Indah. "Anton, lain kali didik istrimu dengan baik."
Anton terusik, wajahnya memerah canggung. "Iya, Mas. Maafkan Indah, ya. Alyssa... tolong maafkan Tantemu ya!" ucap Anton menyesal.
Brak!
Indah mendadak berdiri dan menggebrak meja makan, membuat suasana seketika tegang. "Kenapa semuanya malah membela Alyssa?!"
"Cukup! Tante bisa diam gak?!"
Kini giliran Arden yang bersuara. Suaranya meledak, memecah keheningan meja makan. Sejak tadi ia sudah menahan emosi saat Indah terus-menerus menjelekkan Alyssa. Ia juga sangat tidak ingin skandal Adrian dan Hanum terbongkar begitu saja di meja makan ini sebelum waktunya.
"Kalau Tante cuma mau bikin keributan di sini, lebih baik Tante pulang aja!" tegas Arden tajam.
Semua orang terdiam membisu saat Arden langsung bangkit dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan meja makan. Alyssa hanya bisa menatap punggung Arden yang menjauh dengan tatapan rumit, sementara Adrian justru bungkam—sama sekali tak berkutik atau membela istrinya sendiri.
"Kenapa kamu masih perhatian sama aku, Arden...?" batin Alyssa lirih, menatap hampa ke arah kursi kosong Arden.
Makan malam keluarga itu akhirnya berantakan dan diselimuti keheningan yang canggung. Maya memijat pelipisnya yang mendadak pening, sementara Bagas menghela napas berat melihat ketegangan di antara anak dan adik-adiknya.
Alyssa meletakkan sendoknya perlahan. Rasa lapar yang tadinya menyiksa kini sirna sepenuhnya. Ia menatap Adrian yang masih menunduk berpura-pura sibuk dengan makanannya—seorang suami yang bahkan tak punya keberanian untuk bersuara membela istrinya di depan keluarga besar.
"Papa, Mama, Tante, Om... Maafkan aku, kalau begitu aku permisi ke kamar duluan," pamit Alyssa singkat dan sopan.
Ia berdiri tanpa menunggu sahutan dari siapa pun. Di dalam hatinya, tekad Alyssa sudah bulat seratus persen. Pembelaan Arden tidak mengubah fakta bahwa pria itu sudah bertunangan dengan wanita lain, dan bungkamnya Adrian makin mempertegas bahwa pernikahan ini memang tak bisa di selamatkan lagi. Sudah cukup dirinya bertahan selama ini.
Bersambung ...
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : kali ini klo Kamu bikin ulah., mengganggu siapapun termasuk Alis., Aku akan mengembalikan Kamu sm Kakak'mu
KAMU BOLEH BALIK KE SINI KLO SUDAH BAWA SURAT CERAI
s' Han ini bebener ya...
astagaaaaaaaa...
Han : ko' nyalahin Aku Jum., ini semua gegara Otor lo., bukan Aku
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣