Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Di Set Utama
Tepat pukul 07.00 pagi, mobil MPV hitam yang membawa Max, Yeza, dan Bram membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh para pekerja. Di dalam kabin mobil, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan satu jam yang lalu. Sisa-sisa badai emosi akibat konfrontasi dengan Laura sengaja dikubur dalam-dalam oleh mereka bertiga demi menjaga profesionalitas kerja.
Max duduk di kursi tengah, bersandar sembari membaca kembali lembaran naskah syuting hari pertamanya. Wajahnya kembali dingin dan fokus, tipe ekspresi yang selalu ia tunjukkan saat berada dalam mode kerja penuh.
Sementara itu, Yeza duduk di baris belakang, memeriksa ulang koper kosmetiknya untuk memastikan tidak ada satu pun kuas atau palet warna yang tertinggal. Di sela-seli kesibukannya, sesekali matanya melirik ke arah Max lewat celah kursi. Ada rasa kagum yang tumbuh; bagaimana pria itu bisa bertransformasi dari sosok pelindung yang penuh amarah menjadi seorang aktor profesional yang sangat tenang dalam hitungan menit.
"Kita akan sampai dalam sepuluh menit," ujar Bram dari balik kemudi, memecah keheningan sembari melirik kaca spion tengah. "Sutradara hari ini terkenal sangat disiplin waktu. Begitu sampai, Max langsung masuk ke ruang wardrobe, dan Yeza bisa langsung mengambil alih ruang rias utama."
"Dimengerti, Kak Bram," jawab Yeza sigap.
Begitu mobil memasuki area studio produksi yang megah, kesibukan khas lokasi syuting langsung menyambut mereka. Puluhan kru tampak berlarian mengatur kabel, memasang lampu sorot raksasa, dan menata set latar belakang. Kehadiran mobil Max segera menarik perhatian beberapa staf lapangan yang langsung menyambut mereka dengan ramah.
Max turun dari mobil terlebih dahulu dengan langkah tegap, mengenakan kacamata hitam yang menyembunyikan sisa lelahnya. Yeza berjalan tepat di belakangnya, menjinjing koper peralatannya dengan kepala tegak.
Saat mereka melangkah beriringan memasuki koridor ruang tunggu VIP, Yeza menarik napas dalam-dalam. Drama dengan Laura mungkin telah usai di lorong apartemen, namun di tempat ini, di bawah lampu sorot dan perhatian ratusan pasang mata kru syuting, babak baru perjuangan profesionalitasnya bersama Max baru saja dimulai.
Ruang rias VIP bernomor satu itu terasa sejuk dan tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk kru di luar studio. Ruangan tersebut dilengkapi dengan cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu bohlam putih yang terang, sebuah sofa kulit yang nyaman, dan gantungan baju yang sudah dipenuhi oleh kostum syuting Max untuk hari ini.
Max langsung duduk di kursi tinggi di depan cermin, melepas kacamata hitamnya, lalu menyandarkan punggungnya yang tegap. Sementara itu, Bram pamit keluar sebentar untuk berkoordinasi dengan asisten sutradara mengenai urutan adegan pertama.
Kini, hanya ada Max dan Yeza di dalam ruangan.
Yeza dengan cekatan membuka koper makeup-nya, menata produk-produk premium di atas meja rias dengan gerakan yang terlatih. Suasana sempat hening selama beberapa saat, hanya terdengar suara gemerisik botol-botol kosmetik yang bersentuhan.
"Yeza," panggil Max tiba-tiba, memecah keheningan sembari menatap pantulan wajah gadis itu di cermin. "Kamu benar-benar tidak apa-apa tentang kejadian tadi pagi?"
Yeza menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap balik mata elang Max lewat cermin, lalu tersenyum tipis dan tulus. "Saya tidak apa-apa, Max. Justru... saya yang harus berterima kasih karena Anda sudah membela saya seperti itu. Maaf kalau kehadiran saya malah membuat urusan Anda dengan Nona Laura jadi semakin rumit."
Max memutar kursinya sedikit, menghadap langsung ke arah Yeza. "Jangan pernah meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kamu perbuat. Aku yang membawamu ke dalam lingkaran ini sebagai MUA-ku, jadi sudah kewajibanku untuk melindungimu dari orang-orang seperti dia."
Kata-kata Max yang penuh komitmen itu membuat debaran di dada Yeza kembali hadir. Untuk menyembunyikan rasa gugupnya, Yeza segera mengambil selembar kain penutup dada dan memasangkannya di leher Max.
"Terima kasih, Max. Sekarang, tolong tutup matanya. Kita harus fokus pada karakter Anda hari ini," ucap Yeza dengan nada profesional yang manis, mencoba mencairkan suasana.
Max terkekeh pelan, suara baritonnya terdengar seksi di ruangan yang sunyi itu. Ia mematuhi perintah Yeza, perlahan memejamkan kedua matanya, membiarkan Yeza mengambil kendali penuh atas wajahnya.
Yeza menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bekerja. Jemarinya yang lentik dan lembut mulai menyentuh kulit wajah Max, mengaplikasikan primer dan concealer dengan sangat halus untuk menyembunyikan gurat lelah di bawah mata sang aktor akibat kurang tidur semalam.
Jarak mereka begitu dekat hingga Yeza bisa merasakan embusan napas hangat Max di jemarinya. Di bawah pendar lampu rias yang terang, Yeza mencurahkan seluruh bakat dan fokusnya. Ia bertekad untuk membuat penampilan Max hari ini menjadi sangat sempurna, membuktikan kepada semua orang—termasuk kepada Laura di luar sana—bahwa Max tidak salah memilihnya sebagai seorang Key Makeup Artist utama.
Setiap sapuan kuas Yeza bergerak dengan presisi yang luar biasa. Ia mengaplikasikan teknik shading yang tipis pada tulang rahang tegas Max, lalu memberikan sedikit sentuhan pada alis tebal pria itu agar karakternya sebagai seorang detektif berdarah dingin di film ini terlihat semakin kuat dan mengintimidasi.
Selama hampir empat puluh lima menit, Max tetap memejamkan mata, membiarkan jemari lembut Yeza menari-nari di wajahnya. Kedekatan yang intens ini menciptakan keheningan yang nyaman, seolah semua kekacauan tentang Laura beberapa jam lalu telah menguap sepenuhnya dari kepala mereka.
"Sudah selesai, Max. Anda bisa membuka mata," bisik Yeza pelan, melangkah mundur satu tapak sambil meletakkan kuas terakhirnya.
Max perlahan membuka kelopak matanya. Ia menatap lurus ke arah cermin besar di depannya. Detik berikutnya, sang aktor tertegun. Wajahnya di dalam cermin tampak sangat berbeda; gurat lelah dan stres akibat kurang tidur sama sekali tidak berbekas. Kulitnya terlihat sehat di bawah lampu studio, dan karakter tegas yang diinginkan oleh sutradara terpancar sempurna dari hasil riasan Yeza yang sangat rapi.
"Luar biasa," gumam Max, suaranya terdengar sangat puas. Ia menoleh ke arah Yeza yang sedang menyeka keringat tipis di dahinya. "Kamu benar-benar jenius dengan kuas-kuas ini, Yeza."
Sebelum Yeza sempat membalas pujian itu, pintu ruang rias diketuk dengan keras dan terbuka. Bram masuk bersama sang sutradara utama, seorang pria paruh baya bertopi yang terkenal sangat perfeksionis di dunia perfilman.
"Max, bagaimana persiapan—" Ucapan sang sutradara terhenti begitu matanya tertuju pada wajah Max. Pria itu berjalan mendekat, mengitari kursi Max, dan menatap detail riasan wajah sang aktor dari berbagai sudut dengan mata menyipit.
Suasana di dalam ruangan mendadak tegang. Yeza menahan napasnya, menanti penilaian dari orang nomor satu di lokasi syuting tersebut.
"Sempurna!" seru sutradara tiba-tiba sambil bertepuk tangan sekali. Wajah tegangnya berubah menjadi senyuman lebar. "Ini persis seperti citra karakter yang ada di kepalaku! Dingin, misterius, tapi tetap terlihat sangat karismatik di depan kamera. Tidak ada kesan makeup yang tebal sama sekali."
Sutradara itu kemudian menoleh ke arah Yeza, menepuk bahu gadis itu dengan ramah. "Kerja bagus, anak muda. Bram tidak bohong saat mengatakan dia merekrut Key MUA yang luar biasa untuk proyek ini. Pertahankan kualitas ini sampai akhir syuting."
"Terima kasih banyak, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin," jawab Yeza dengan membungkuk sopan, perasaan lega dan bangga membuncah di dalam dadanya.
Max yang melihat hal itu mengulas senyum tipis di bibirnya. Ia berdiri dari kursi rias, melepaskan kain pelindung dada, lalu berjalan mendekati Yeza sebelum melangkah keluar menuju set utama.
Saat melewati posisi Yeza, Max merendahkan suaranya, hanya cukup didengar oleh gadis itu sendiri. "Kelebihan bakatmu adalah alasan kenapa tidak ada satu orang pun yang berhak merendahkanmu, Yeza. Bersiaplah di pinggir set, aku akan menunjukkan hasil kerjamu di bawah lampu kamera."