Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kalimat itu benar-benar menusuk hati Aisyah sampai ia kehilangan kata-kata. Dadanya terasa sesak, Ia tidak pernah membayangkan orang yang mengatakan semua itu adalah kakaknya sendiri. Orang yang selama ini selalu melindunginya, Orang yang selalu memeluknya ketika ia sedih. Namun kini, Tatapan kakaknya itu penuh dengan kecurigaan. Salsa menarik napas panjang, suaranya mulai terdengar lebih pelan. Namun justru itu semakin terdengar menyakitkan.
"Aisyah... Kakak cuma mau ingetin satu hal. Jangan pernah merebut cinta suamiku." Mata Aisyah membulat. "Walaupun sekarang kamu juga istrinya, jangan pernah berharap Mas Ammar akan mencintaimu."
Kalimat itu membuat napas Aisyah tercekat seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya begitu keras hingga membuat air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Astaghfirullah," Bisiknya lirih. "Kakak." Suara Aisyah bergetar. "Apa sekarang Kakak benar-benar menyalahkan Aisyah?" Salsa tidak menjawab sementara Aisyah mengusap air matanya. "Kalau sekarang Kakak menyalahkan Aisyah, lalu salah Aisyah di mana? Aisyah nggak pernah sekalipun berniat merebut Mas Ammar. Tidak pernah. Bahkan sampai sekarang pun tidak." Aisyah menggeleng berkali-kali. "Kenapa Kakak bicara seperti itu?" Suaranya mulai pecah. "Padahal Kakak sendiri tahu kalau Aisyah nggak pernah setuju dengan pernikahan ini. Aisyah yang menangis dan memohon sama Kakak supaya pernikahan ini dibatalkan. Tapi Kakak..." Ia menatap Salsa dengan matanya yang sudah dipenuhi air mata. "Kakak sendiri yang datang meminta Aisyah untuk menikah dengan Mas Ammar." Salsa terdiam. "Aisyah melakukan semua ini karena Kakak, bukan karena Aisyah menginginkan Mas Ammar. Tapi sekarang..." Suara Aisyah terdengar semakin lirih. "Kenapa Kakak malah menyalahkan Aisyah?"
Tidak ada jawaban. Aisyah kembali menggeleng pelan sementara air matanya terus mengalir.
"Aisyah kehilangan banyak hal karena pernikahan ini, kak. Aisyah kehilangan kehidupan yang Aisyah impikan, Bahkan setiap saat Aisyah harus menerima kebencian dari suami sendiri." Aisyah tersenyum pahit. "Tapi semua itu Aisyah terima karena Aisyah berpikir, mungkin ini memang jalan terbaik buat Kakak dan Aisyah."
Suasana kembali sunyi, yang terdengar hanya embusan angin pagi lalu dengan suaranya yang hampir putus, Aisyah berkata,
"Kakak, Apakah hanya karena Mas Ammar, hubungan kita sebagai saudara akan hancur begitu saja?"
Pertanyaan itu membuat Salsa membeku. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tidak mampu menjawab. Bibirnya terbuka perlahan, namun tak ada satu kata pun yang keluar. Pertanyaan sederhana itu justru menghantam hatinya lebih keras daripada bantahan apa pun karena jauh di lubuk hatinya, Salsa tahu, Aisyah tidak pernah meminta semua ini dan untuk sesaat, keheningan yang tercipta di antara dua saudara itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua pertengkaran yang baru saja terjadi.
"Aisyah takut kehilangan Kakak. Kakak adalah satu-satunya saudara perempuan yang Aisyah punya." Air mata Aisyah kembali jatuh. "Aisyah nggak sanggup kalau sekarang Kakak membenci Aisyah."
Salsa memejamkan matanya sesaat. Dadanya terasa sesak, namun rasa takut yang menguasai dirinya membuat pikirannya kembali dipenuhi kecemasan. Aisyah mengusap air matanya.
"Kak... Sebenarnya Kakak nggak perlu takut kehilangan mas Ammar."
Salsa menatapnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Salsa yang membuat Aisyah menarik napas panjang.
"Karena laki-laki yang Kakak cintai sangat mencintai Kakak." Salsa terdiam. "Mas Ammar sama sekali nggak pernah melihat Aisyah sebagai istrinya."
Kalimat itu membuat Salsa mengernyit.
"Apa?"
Aisyah tersenyum pahit.
"Semalam... Mas Ammar sama sekali nggak menyentuh Aisyah."
Salsa membeku.
"Apa maksudmu?"
"Mas Ammar menyuruh Aisyah tidur di sofa dan Aisyah tidur sendiri sedangkan dia tidur di ranjang. Aisyah dan Mas Ammar tidur terpisah karena mas Ammar bilang sendiri ke Aisyah kalau," Aisyah menundukkan kepalanya. "'Kalau dia hanya setia kepada istrinya yang tak lain adalah kakak.'" Air mata Aisyah kembali mengalir. "Dia bahkan nggak mau membagi ranjang dengan Aisyah. Jadi, kakak nggak perlu takut Aisyah merebut mas Ammar karena hati Mas Ammar benar-benar hanya untuk Kakak."
Tanpa disadari semua ucapan itu terdengar oleh seseorang.
"Apa semua itu benar?"
Suara Bu Ratih terdengar dari belakang. Seketika Salsa dan Aisyah sama-sama terkejut. Mereka menoleh bersamaan dan melihat bu Ratih berdiri tidak jauh dari pintu utama. Wajahnya berubah drastis sementara tatapannya tertuju lurus kepada Aisyah.
"Apa yang barusan Mama dengar itu benar?"
Suasana langsung berubah mencekam dan membuat Aisyah langsung menundukkan kepalanya.
"Ma..."
Bu Ratih melangkah mendekat.
"Tadi kamu bilang, Kalian tidur terpisah?Aisyah." Suara Bu Ratih kini terdengar jauh lebih tegas. "Lihat Mama." Perlahan Aisyah mengangkat wajahnya. "Jawab pertanyaan Mama. Apakah benar, malam pertama kalian, Ammar sama sekali tidak menyentuhmu?" Tanya Bu Ratih yang membuat Salsa langsung panik.
"Ma, mungkin ada salah paham."
"Diam dulu, Salsa." Bu Ratih memotong. "Mama ingin mendengar langsung dari Aisyah." Ia kembali menatap menantu mudanya. "Aisyah, jawab pertanyaan mama. Jangan sembunyikan apa pun."
Aisyah menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak namun akhirnya dengan kepala tertunduk, Ia mengangguk pelan.
"Iya, Ma." Jawaban itu nyaris tak terdengar. "Mas Ammar meminta Aisyah untuk tidur di sofa. Kami tidak tidur satu ranjang. Kami juga..." Aisyah menahan tangisnya. "Tidak melakukan hubungan suami istri."
Deg, Bu Ratih langsung memejamkan matanya sementara rasa kecewa langsung memenuhi wajahnya.
"Astaga..." Ia mengusap dahinya pelan. "Jadi semua usaha Mama dan Papa, Sia-sia?" Ia tertawa kecil namun tawanya penuh kekecewaan. "Kami menikahkan Ammar denganmu karena berharap keluarga ini segera memiliki keturunan. Tapi ternyata, Kalian bahkan tidak hidup sebagai suami istri."
Tatapannya kini beralih kepada Salsa.
"Dan kamu, Salsa." Salsa langsung menundukkan kepalanya. "Ini semua adalah keputusanmu. Kamu yang meminta adikmu menikah dengan Ammar."
"Iya, Ma."
"Lalu sekarang apa hasilnya?"
"Kamu malah cemburu, sedangkan Ammar bahkan tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami."
Salsa menggigit bibirnya dan membuat air matanya kembali mengalir.
"Maafin Salsa, ma."
"Maaf?" Bu Ratih menggeleng. "Permintaan maaf tidak akan membuat keluarga Adhitama punya penerus."
Aisyah yang melihat kakaknya dimarahi langsung melangkah maju.
"Ma... Tolong jangan salahkan Kak Salsa, Aisyah juga..."
"Diam kamu, Aisyah." Potong Bu Ratih dengan tegas. "Aisyah, Kali ini kamu jangan membela kakakmu." Aisyah langsung terdiam sementara Bu Ratih menarik napas panjang.
Tatapannya berubah serius. "Kalau memang pernikahan ini tidak bisa memberikan keluarga Adhitama seorang penerus, Mama tidak punya pilihan lain."
Salsa langsung mengangkat wajahnya.
"Ma?"
Bu Ratih berkata mantap,
"Mama akan meminta Papa mencarikan perempuan lain untuk dinikahkan dengan Ammar."
Seketika wajah Salsa memucat.
"Apa?"
"Ammar akan menikah lagi dengan perempuan lain."
Kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong bagi Salsa
"Ma... jangan..." Salsa langsung menggenggam tangan mertuanya. "Tolong jangan lakukan itu."
parah ini mah kata aku