NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Pertempuran di Ketinggian

Kematian tampaknya memiliki selera humor yang sangat buruk saat merancang takdir bagi seorang mahasiswa abadi bernama Reno pada malam ini.

Ancaman dari mesin pembunuh terbang di hadapannya itu sama sekali bukan lagi sekadar gertakan kosong dari seorang musuh.

Bentuk utamanya menyerupai helikopter militer modifikasi yang ukurannya jauh lebih besar dari sekadar mainan remot kontrol biasa.

Sebuah moncong senapan mesin otomatis berukuran raksasa perlahan keluar menampakkan diri dari bagian bawah perut drone tersebut.

Laras senapan itu bergerak memutar secara mekanis, membidik tepat ke arah dada Reno yang saat ini sedang berdiri menutupi tubuh Luna.

Reno bisa merasakan ujung kuku jemari Luna menancap semakin dalam ke punggung jas mahal yang ia kenakan.

Gadis berprestasi itu menggigil ketakutan di belakangnya, menyadari bahwa nyawa mereka berdua kini benar-benar berada di ujung tanduk.

{Kalau aku tidak melakukan keajaiban sekarang juga, kita berdua pasti akan berakhir menjadi berita utama surat kabar besok pagi dengan judul yang sangat tragis.}

Ia menggeser posisi berdirinya sedikit demi sedikit, berusaha mempertahankan Luna agar tetap terlindungi di area titik buta sasaran tembak mesin gila tersebut.

Ponsel hitam X-Phreak 9000 di dalam saku celananya terasa berdenyut lambat menyerupai detak jantung makhluk hidup yang sedang meregang nyawa.

Daya baterai perangkat canggih itu pasti sudah berada dalam kondisi paling kritis setelah melakukan pemadaman listrik skala besar di seluruh area hotel beberapa menit yang lalu.

Reno memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku dengan gerakan pelan, mencengkeram erat bodi logam ponsel tersebut menggunakan jari-jari yang kaku dan berkeringat dingin.

"Siri-usly, tolong beritahu aku bahwa kau masih menyimpan sedikit keajaiban terakhir untuk meretas mainan terbang raksasa milik bos mafia arogan ini."

Ia membisikkan kalimat itu dengan nada yang memelas, menaruh seluruh sisa harapannya pada benda mati yang selalu hobi mengejeknya tersebut.

Teks peringatan berwarna kemerahan itu bergulir melintasi layar sentuh di balik telapak tangannya, menyajikan sebuah fakta matematis yang langsung membekukan sisa nyalinya.

"Lakukan saja tanpa perlu memikirkan masa depan kita, aku tidak akan pernah memiliki hari esok jika senjata mematikan itu melepaskan rentetan pelurunya sekarang juga!"

||||

Suara tawa berat Mr. X kembali menggema dari pelantang suara drone, menyuarakan sebuah arogansi mutlak dari seorang pemenang yang sudah menguasai medan pertempuran.

Pria paruh baya itu mendiktekan syarat menyerah dengan nada suara bariton yang dirancang khusus untuk meruntuhkan mental lawan bicaranya.

Reno menelan ludah kasarnya, lalu menarik keluar ponselnya secara terang-terangan dan mengangkat benda hitam pekat itu tinggi-tinggi hingga sejajar dengan wajahnya sendiri.

Ibu jari kanannya langsung menekan ikon modul peretasan darurat yang masih berkedip redup di tengah antarmuka layar utama.

Sebuah bilah proses peretasan muncul memanjang di layar, bergerak memuat data dengan ritme yang luar biasa lambat dan sangat menyiksa kesabaran.

Reno memiringkan layar ponselnya ke arah moncong drone, membiarkan susunan kamera belakangnya mengunci bentuk fisik mesin terbang pembunuh itu secara presisi.

"Ayo, bekerja sedikit lebih cepat, mesin cerewet, nyawa kita benar-benar hanya berjarak beberapa milidetik dari ujung laras senapan mematikan itu!"

Laras senapan di perut drone tersebut mendadak mengeluarkan bunyi klik mekanis yang sangat tajam, menandakan bahwa sabuk peluru tajam telah masuk menyusup ke dalam ruang tembak utama.

"Reno, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan dengan telepon genggam biasa di tengah situasi mengerikan yang mengancam nyawa seperti ini?"

Luna berteriak tertahan dari balik bahu lebarnya, tidak mampu lagi menyembunyikan kepanikan hebat yang sedang mengoyak kewarasan mentalnya.

"Aku sedang mengirimkan virus penonaktifan jarak jauh ke dalam sistem kendalinya, jadi jangan pernah melepaskan peganganmu dari tubuhku barang sedetik pun!"

Reno membalas teriakan itu dengan kebohongan heroik yang sama sekali tidak sesuai dengan fakta bahwa ia sedang mempertaruhkan nyawa mereka pada sebuah kecerdasan buatan sarkastis yang kehabisan daya.

Bilah proses digital di layarnya perlahan merangkak naik menyentuh angka sembilan puluh persen, memicu sepercik harapan di dasar hatinya yang sudah telanjur kalut dan hancur.

Reno menghela napas lega yang luar biasa panjang, merasakan seluruh beban penderitaan di pundaknya seolah terangkat secara instan dan digantikan oleh kemenangan yang manis.

Sebuah antarmuka papan tik holografis seketika bermunculan di atas layar ponsel, menuntut input instruksi akhir untuk menghentikan ancaman mekanis tersebut sebelum mesin pembunuh itu bertindak sendiri.

||||

Reno memposisikan kedua ibu jarinya di atas tombol-tombol huruf virtual yang kini terlihat mulai berkedip-kedip kehilangan stabilitas daya proyeksi layarnya.

Ia bermaksud mengetikkan sebuah kalimat instruksi yang sangat sederhana dan aman untuk segera mematikan fungsi drone tersebut secara permanen.

{Aku harus memerintahkan mesin pembunuh ini untuk melakukan pendaratan aman dan mematikan seluruh sistem persenjataannya saat ini juga agar Luna bisa tenang.}

Namun, kedua tangannya bergetar dengan frekuensi yang sangat ekstrem akibat ledakan adrenalin serta rasa takut luar biasa yang belum juga mereda sejak awal pelarian mereka di aula hotel.

Ibu jari kanannya yang basah oleh keringat terpeleset sangat jauh menekan deretan huruf yang salah secara beruntun, merangkai sebuah susunan perintah yang sama sekali tidak ia inginkan.

Reno membelalakkan kedua bola matanya hingga nyaris melompat keluar dari tempatnya, membaca ulang teks konfirmasi luar biasa konyol yang baru saja ia kirimkan tanpa sengaja tersebut.

"Tunggu, batalkan perintah terakhir itu secepatnya, aku salah mengetik hurufnya karena tanganku terlalu licin oleh keringat kepanikan!"

Layar ponsel hitam di genggamannya berkedip satu kali memancarkan notifikasi peringatan terakhir, menolak keras permintaan pembatalan dari sang pemilik amatir yang selalu ceroboh.

Perangkat super canggih X-Phreak 9000 itu langsung mati total di tangannya, layarnya menghitam pekat meninggalkan Reno yang mematung kaku tanpa persiapan mental menghadapi malapetaka baru ini.

Drone tempur raksasa di hadapan mereka perlahan menurunkan senapannya dan tidak jadi melepaskan tembakan peluru tajam seperti ancaman mengerikan yang dilontarkan oleh bos mafia sebelumnya.

Mesin militer seharga miliaran itu justru mulai menunjukkan perilaku bermanuver di posisi melayang yang sangat ganjil dan melanggar seluruh hukum operasi penerbangan normal umat manusia.

Baling-baling utamanya berputar dengan ritme yang sengaja dinaik-turunkan secara beraturan, menciptakan sebuah efek ayunan yang membuat badan besar mesin itu bergoyang seirama di tengah ruang kosong.

Bagian ekor drone tersebut mengayun ke kiri dan ke kanan dengan gerakan luar biasa gemulai, meniru persis liukan pinggul seorang penari profesional dari timur tengah yang sedang menghibur penonton.

Teriakan frustrasi Mr. X yang penuh rasa tidak percaya menggema nyaring dari pelantang suara drone, menyuarakan kebingungan akut yang sangat menghibur untuk didengar oleh Reno.

Reno hanya bisa menatap pemandangan surealis di depannya dengan mulut terbuka lebar, sama sekali tidak berani mempercayai bahwa kesalahan ketiknya akan menghasilkan pertunjukan seabsurd ini.

Mesin seberat ratusan kilogram itu terus melakukan tarian perutnya secara agresif dan berpindah-pindah, membuat sistem penyeimbang mekanis di dalamnya mengalami tekanan gesekan yang sangat luar biasa hebat.

Motor penggerak baling-baling itu akhirnya menjerit nyaring mengeluarkan suara bantingan besi yang saling beradu, gagal mempertahankan keseimbangan akibat manuver konyol yang terlalu dipaksakan oleh instruksi virus.

Drone raksasa tersebut akhirnya kehilangan titik beratnya secara fatal, badannya oleng ke satu sisi dengan cepat sebelum menukik tajam melewati batas pagar pembatas atap gedung tanpa bisa ditahan lagi.

Mesin bernilai fantastis itu meluncur deras menuju area taman rekreasi lantai dasar hotel yang kebetulan memiliki sebuah kolam renang berukuran olimpiade dengan kedalaman penuh.

Bunyi dentuman hantaman benda padat dengan permukaan air yang luar biasa dahsyat terdengar membelah kesunyian, disusul oleh percikan gelombang yang menyebar ke berbagai arah.

Sebuah ledakan mekanis yang cukup keras terjadi beberapa saat kemudian, menandakan bahwa komponen elektronik sensitif milik drone itu telah mengalami korsleting parah dan hancur sepenuhnya di dasar kolam.

Luna langsung memekik kaget melihat akhir mengerikan dari ancaman tersebut, tubuh langsingnya seketika lemas kehilangan seluruh tenaga penopang akibat rangkaian syok beruntun yang menghantam mentalnya sepanjang malam ini.

Gadis bergaun merah marun itu memejamkan matanya rapat-rapat, lalu jatuh pingsan tak sadarkan diri tepat ke dalam pelukan Reno yang saat ini masih tertegun menatap kekosongan.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!