SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Kaisar dan Segel Pertama
BAB 30: Darah Kaisar dan Segel Pertama
Langit di atas Kota Laut Kabut berubah menjadi merah gelap.
Retakan-retakan ruang yang sebelumnya hanya sebesar benang kini melebar seperti luka yang disayat dari dalam. Awan berputar membentuk pusaran raksasa, sementara tekanan spiritual turun begitu berat hingga para kultivator Alam Pengumpulan Qi mulai berlutut tanpa mampu melawan.
Raungan naga yang baru terbangun masih mengguncang seluruh kota.
Namun Ethan Mahendra tidak mengalihkan pandangannya kepada naga itu.
Tatapannya justru tertuju pada altar batu di tengah reruntuhan.
"Aku mengerti sekarang..."
Suara Ethan sangat pelan.
"Naga itu bukan inti makam."
"Dia hanyalah penjaga."
Kalimat itu membuat Jenderal Arga yang berdiri beberapa meter di belakangnya mengernyit.
"Kalau begitu... apa yang sebenarnya dijaga?"
Ethan tidak menjawab.
Pengalaman lima ratus tahun membuatnya mengenali pola formasi kuno yang bahkan mungkin belum pernah dilihat siapa pun di dunia modern.
Altar itu...
Bukan untuk menyegel naga.
Melainkan menyegel sesuatu yang berada jauh lebih dalam.
Tanah mulai bergetar.
Retakan menjalar dari kaki altar menuju seluruh kota.
Bangunan-bangunan batu perlahan runtuh.
Patung naga yang berusia ribuan tahun pecah menjadi serpihan.
Di tengah suara gemuruh itu, naga hitam raksasa mengepakkan sayapnya.
Matanya yang sebesar rumah memandang Ethan.
Tatapan mereka bertemu.
Selama beberapa detik...
Tidak ada yang bergerak.
Lalu terdengar suara yang tidak berasal dari mulut naga, melainkan langsung bergema di dalam jiwa semua orang.
"...kau..."
"...membawa..."
"...darahnya..."
Para kultivator saling berpandangan kebingungan.
"Darah siapa?"
"Apa maksudnya?"
Namun wajah Ethan sedikit berubah.
Bukan karena takut.
Melainkan terkejut.
Ia mengenali bahasa itu.
Bahasa Roh Kuno.
Bahasa yang telah punah puluhan ribu tahun sebelum ia menjadi Kaisar Abadi.
Makhluk ini...
Lebih tua daripada yang ia bayangkan.
Naga itu menundukkan kepalanya.
Bukan menyerang.
Melainkan mengamati.
Aura hitam pekat menyelimuti tubuhnya.
Retakan-retakan cahaya emas masih membelit sebagian sisiknya.
Segel kuno belum benar-benar hancur.
Ethan menarik napas perlahan.
"Kalau kau masih bisa berbicara..."
"Berarti kesadaranmu belum sepenuhnya dikuasai energi kegelapan."
Mata naga menyipit.
"Kau..."
"...siapa..."
"Aku Ethan."
"Bukan orang yang membangunkanmu."
"Tapi mungkin satu-satunya yang bisa menghentikan kehancuran ini."
Suasana mendadak sunyi.
Jenderal Arga hampir tidak percaya.
Anak muda itu...
Sedang berbicara dengan naga kuno.
Di tempat lain.
Di balik salah satu menara kota yang mulai runtuh.
Seorang pria berjubah putih memperhatikan semuanya melalui cermin kristal.
Wajahnya tampan.
Rambutnya panjang.
Matanya berwarna keperakan.
Di belakangnya berdiri enam kultivator dengan aura jauh melampaui para anggota Gerbang Hitam.
"Ketua."
"Saatnya kita bergerak?"
Pria berjubah putih menggeleng.
"Belum."
"Biar mereka membuka Segel Pertama."
"Baru setelah itu kita mengambil hasilnya."
"Bagaimana jika naga itu membunuh Ethan?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Kalau dia mati semudah itu..."
"...berarti dia bukan orang yang kami cari selama dua puluh tahun."
Kembali ke altar.
Naga tiba-tiba mengangkat salah satu cakarnya.
Angin ribuan bilah pedang langsung berputar.
Ledakan!
Tanah sepanjang puluhan meter terbelah.
Namun Ethan sudah menghilang dari tempat semula.
Tubuhnya muncul di sisi kiri naga.
Tidak menyerang.
Hanya menghindar.
Serangan kedua datang.
Lebih cepat.
Lebih berat.
Ethan kembali bergerak.
Kakinya seolah melangkah mengikuti celah terkecil dalam aliran energi naga.
Jenderal Arga membelalakkan mata.
"Itu bukan kecepatan..."
"Itu membaca lintasan serangan sebelum terjadi."
Ethan tidak sedang menghindar karena cepat.
Ia menghindar karena sudah mengetahui ke mana serangan akan datang.
Naga mulai memahami sesuatu.
"Kau..."
"...muridnya?"
Ethan menggeleng.
"Tidak."
"Kalau aku muridnya..."
"Aku tidak akan berada di dunia ini."
Tatapan naga berubah.
Lalu...
Tanpa diduga.
Makhluk itu menghantamkan kepalanya sendiri ke altar.
Dentuman luar biasa mengguncang kota.
Segel emas yang tersisa pecah.
Namun bersamaan dengan itu...
Kabut hitam keluar dari dalam tubuh naga.
Jeritan penuh penderitaan menggema.
Ethan langsung berteriak.
"Semua mundur!"
"Tubuhnya bukan masalah!"
"Yang berbahaya adalah roh parasit itu!"
Terlambat.
Kabut hitam sudah menyebar.
Puluhan monster bayangan bermunculan.
Tubuh mereka menyerupai manusia.
Namun seluruh wajahnya kosong.
Tanpa mata.
Tanpa hidung.
Hanya mulut penuh gigi hitam.
Pertempuran langsung pecah.
Pasukan Divisi Bayangan membentuk formasi.
Pemburu iblis ikut bertempur.
Para kultivator keluarga kuno juga tidak tinggal diam.
Namun setiap monster yang dihancurkan...
Selalu bangkit kembali.
"Energi mereka tidak habis!"
teriak seseorang.
Ethan memperhatikan dengan tenang.
Lalu matanya berhenti pada kabut hitam yang keluar dari dada naga.
"Itu intinya."
"Bukan monster."
"Selama sumbernya masih ada..."
"...mereka akan terus hidup."
Ia segera berlari menuju naga.
Namun tiga monster terbesar menghadangnya.
Aura mereka jauh melampaui Alam Pengumpulan Qi.
Ethan tidak gegabah.
Ia menarik tiga jimat dari lengan bajunya.
Jimat yang selama beberapa hari terakhir ia buat diam-diam.
"Formasi."
"Segel Langit Tiga Titik."
Ketiga jimat melayang.
Membentuk segitiga cahaya.
Monster pertama menerjang.
Begitu menyentuh formasi...
Tubuhnya membeku.
Monster kedua mencoba menghancurkan jimat.
Namun energi spiritualnya justru dipantulkan kembali.
Monster ketiga melompat dari atas.
Ethan sudah menunggu.
Satu telapak tangan menghantam dada monster itu.
"Bukan kekuatan."
"Titik lemahnya..."
"...di sini."
Retak!
Inti hitam di dada monster pecah.
Untuk pertama kalinya...
Salah satu monster benar-benar lenyap.
Di kejauhan.
Pria berjubah putih kembali tersenyum.
"Hebat."
"Dia bahkan mengenali inti Roh Kehampaan."
"Sekarang aku semakin yakin."
"Dia benar-benar membawa ingatan kehidupan sebelumnya."
Orang-orang di belakangnya saling berpandangan.
Ketua mereka...
Sudah lama menunggu seseorang seperti Ethan.
Sementara itu.
Kabut hitam semakin liar.
Naga mulai kehilangan kesadaran.
Matanya perlahan berubah merah.
"Ethan!"
teriak Arga.
"Dia akan mengamuk!"
"Aku tahu."
Ethan melompat ke atas kepala naga.
Tangannya menempel pada tanduk raksasa itu.
Kesadarannya memasuki lautan jiwa naga.
Dalam sekejap...
Dunia di sekelilingnya berubah.
Ia berdiri di sebuah dataran hitam tanpa ujung.
Di depannya.
Seekor naga raksasa sedang dirantai oleh ribuan rantai emas.
Namun yang mengikat naga bukanlah rantai.
Melainkan bayangan hitam berbentuk manusia.
Makhluk itu memiliki empat lengan.
Enam mata.
Dan senyum yang membuat udara terasa membeku.
"Akhirnya..."
"...ada manusia yang masuk ke sini."
Suara makhluk itu bergema.
Ethan langsung menyadari.
"Inilah parasit sebenarnya."
Makhluk itu tertawa.
"Aku menunggu ribuan tahun."
"Dan kau datang sendiri."
"Siapa kau?"
Ethan bertanya tenang.
Makhluk itu membungkuk sedikit.
"Salah satu Jenderal Kehampaan."
"Namaku..."
"...Varkesh."
Nama itu membuat ingatan Ethan bergetar.
Ia pernah mendengar nama itu.
Namun bukan di kehidupan sekarang.
Melainkan...
Ketika ia masih menjadi Kaisar Abadi.
Itu adalah salah satu makhluk yang memimpin perang besar melawan dunia kultivasi puluhan ribu tahun lalu.
"Tidak mungkin..."
gumam Ethan.
"Kalian seharusnya sudah musnah."
Varkesh tertawa keras.
"Kami?"
"Musnah?"
"Tidak."
"Kami hanya menunggu."
"Menunggu segel-segel dunia ini melemah."
"Dan kau..."
"...adalah kunci terakhir."
Tatapan Ethan berubah dingin.
"Aku bukan pihakmu."
"Tentu."
"Kau tidak tahu."
"Karena ingatanmu..."
"...belum lengkap."
Ucapan itu membuat Ethan terdiam sesaat.
Belum lengkap?
Apa maksudnya?
Varkesh mengangkat satu tangan.
Tiba-tiba muncul bayangan masa lalu.
Ethan melihat sosok dirinya...
Namun bukan sebagai Kaisar Abadi yang ia kenal.
Sosok itu mengenakan jubah hitam yang berbeda.
Lebih tua.
Lebih agung.
Dan di belakangnya...
Berdiri jutaan naga.
Varkesh tersenyum.
"Kau pikir kehidupan sebagai Kaisar Abadi adalah kehidupan pertamamu?"
"Tidak, Ethan."
"Itu hanyalah..."
"...kehidupan keduamu."
Seluruh ruang jiwa bergetar hebat.
Sementara di dunia nyata...
Tubuh Ethan yang berdiri di atas kepala naga tiba-tiba memancarkan cahaya hitam dan emas secara bersamaan.
Semua orang menatap dengan napas tertahan.
Dan jauh di langit Kota Laut Kabut...
Sebuah mata raksasa perlahan terbuka dari balik celah ruang, memandang lurus ke arah Ethan.