NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LOVE LANGUAGE - Part 2

Apa itu akhir pekan? Bagi mahasiswa Arsitektur di akhir semester empat, istilah itu seolah mitos. Sejak pagi, Gea sudah berkutat dengan tugas-tugasnya di depan layar laptop. Mencicil satu persatu tugas besarnya sebelum UAS datang menyambut. Beruntung, Jay pun menepati janjinya semalam. Pria itu datang ke rumah Gea untuk membantu, menjadi teman bertukar pikiran, sekaligus membantu untuk menyusunkan konsep desain Gea yang sempat berantakan.

“Istirahat dulu, Ge,” kata Kian yang datang sambil menenteng kantong plastik berisikan kotak martabak manis.

“Waaaah!” Mata Gea langsung berbinar begitu mencium aroma martabak keju dan martabak green tea kesukaannya. “Abaaaaaang…,” rengek Gea, menatap abangnya yang duduk di single sofa.

“Udah, makan dulu itu martabaknya. Kepala kamu udah keliatan ngebul banget dari sini,” guyon Kian.

“Ish. Apa gak puyeng kalo tugas-tugas aku pada di corat-coret sama dosen. Mana belom beli bahan buat bikin maket lagi,” keluh Gea sembari meraih sepotong martabak.

“Besok pagi aja yuk kita beli. Aku juga belom beli,” tawar Jay menenangkan.

“Nah itu, sama Jay, Ge. Lo makan juga itu, Jay.”

“Iya, Bang, makasih,” sahut Jay sopan sebelum ikut mengambil sepotong martabak keju.

Kian masih duduk di bangkunya dengan kaki dilipat santai di atas sofa. Sambil memainkan ponselnya, pria itu menemani adiknya dalam diam, sesekali ikut mencomot potongan martabak di atas meja. Suasana di ruang tamu siang itu terasa begitu hangat, dan tenang. Sampai sebuah jeritan frustrasi tiba-tiba memecah keheningan.

“Ah!!” teriak Gea tertahan, sukses membuat Kian dan Jay terlonjak kaget.

“Kenapa, Ya?” tanya Jay sigap, langsung memajukan posisi duduknya.

“Bugsplat,” rengek Gea dengan nada suara yang terdengar lelah dan frustasi. “aaaaa.”

Gea langsung menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa dengan lemas. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Rasanya tidak ada hal yang lebih horor bagi anak Arsitektur selain melihat aplikasi SketchUp mendadak menutup paksa secara sepihak karena error bugsplat di saat progres gambar sedang banyak-banyaknya.

“Tenang-tenang. Mana sini aku cek. Tadi udah di save belum?” tanya Jay.

Suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan Gea yang sudah panik.

“Lupaaaaa…,” Gea menjawab dengan suara yang lemas. Seluruh bayangan tentang kerja kerasnya dari pagi seolah lenyap bersama menutupnya aplikasi itu secara tiba-tiba.

Jay menggeser duduknya lebih dekat, lalu membuka kembali file autosave di laptop Gea.

“Ini. Tadi kamu udah sampe di sini apa udah banyak tadi?” tanya Jay lembut.

“Udah… udah ada tambahan detail fasad sama di site-nya tadi,” cicit Gea lesu.

“Gea, hei, tenang dulu ya. Sini, aku bantu ya,” ucap Jay mengambil alih laptop Gea. Membantu kekasihnya mengerjakan bagian olahan site yang tadi sudah dikerjakan kekasihnya.

Gea hanya bisa memejamkan mata, menyandarkan kepalanya pada sofa. Kian yang sejak tadi memperhatikan wajah pusing adiknya langsung menurunkan kaki dari sofa dan berpindah duduk di sebelah Gea. Dia mengusap kepala Gea dan memberikan pijatan ringan, berusaha membantu menenangkan adiknya itu. Kehadiran Jay hari itu benar-benar menjadi penyelamat bagi Gea. Pria itu tidak hanya memberikan dukungan emosional lewat kata-kata, melainkan benar-benar hadir menenangkan badai di kepalanya melalui tindakan nyata. Semua bantuan cekatan dan pembawaan tenang Jay siang ini berhasil menyapu bersih seluruh stres dan rasa mengganjal di hati Gea tempo hari.

...****************...

Di tengah riuhnya ruang himpunan Arsitektur sore itu, anggota Biro Non-Akademik duduk melantai dan membentuk setengah lingkaran. Sebuah papan tulis diletakkan di tengah-tengah mereka menyandar pada tembok, menampilkan coretan spidol hitam berisi tiga opsi lokasi untuk kegiatan Studi Ekskursi mendatang:

STUDI EKSKURSI – OBSERVASI KAWASAN :

- BSD

- GBK

- SCBD

Mereka membahas opsi tersebut dengan santai sambil menikmati kopi dan camilan. Gea, dengan rambut yang diikat asal-asalan menggunakan jedai, fokus mencatat jalannya rapat sebagai notulen. Di sekelilingnya, beberapa anggota lain tampak duduk bersandar di dinding himpunan, membolak-balik lembaran print-out peta makro dari ketiga kawasan yang telah disebarkan.

Diskusi mulai berjalan hangat saat perwakilan tim menyuarakan argument mereka. Tim pertama lebih condong memilih SCBD sebagai area studi ekskursi. Selain karena lokasinya yang berada di pusat kota, kawasan itu menawarkan objek pengamatan high-rise building dan konsep mixed-use development yang matang, lengkap dengan integrasi transportasi publik dan pola pergerakan manusianya.

Sementara itu, tim kedua lebih memilih BSD. Alasan mereka cukup kuat, yaitu kota satelit tersebut dinilai sangat rapi dan tertata dalam hal zoning kawasan, memiliki hirarki jalan yang jelas, serta menawarkan kenyamanan mobilitas bagi pedestrian.

Sedangkan anggota yang lain berpendapat untuk memilih GBK. Alasannya jauh lebih praktis. Selain mempelajari manajemen ruang publik dan struktur bangunan bentang lebar -yang juga akan mereka pelajari di semester lima nanti- aksesibilitas ke GBK dirasa paling mudah untuk mengakomodasi massa dalam jumlah banyak.

Di tengah-tengah diskusi santai itu, gurauan dan candaan kecil kerap terlontar, menghadirkan gelak tawa, termasuk dari Gea. Namun, ada satu hal yang perlahan disadari oleh Gea. Setiap kali salah satu teman pria melemparkan candaan langsung ke arahnya, atau secara kasual menyentuh lengannya untuk meminta perhatian saat berbicara, insting bawah sadar Gea secara refleks akan langsung melirik ke samping, menatap Jay yang duduk tepat di sebelahnya.

Gea secara tidak sadar selalu mengawasi perubahan garis wajah kekasihnya itu. Dan benar saja, kecemasan Gea terbukti. Tatapan mata Jay beberapa kali menyipit tipis dengan rahang yang sedikit mengeras setiap kali ada lawan jenis yang dirasa terlalu akrab dengan Gea. Meskipun tahu semua interaksi itu hanyalah kebiasaan biasa di antara pengurus himpunan, Jay tetap tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman yang mulai mengganggu pikirannya.

“Ya, dia nyolek kamu terus ih dari tadi,” protes Jay, berbisik sangat pelan di dekat telinga Gea saat perhatian forum sedang teralih ke papan tulis.

Gea menoleh, mengulas senyum manis yang sengaja ia pasang untuk menenangkan kekasihnya yang mulai merajuk sore itu.

“Gak usdah deket-deket duduknya, Ya,” tambah Jay lagi, nadanya terdengar dingin.

“Diskusi biasa aja kita loh, Ay,” bisik Gea balik. Jemarinya bergerak ke bawah, mengelus lembut lutut mereka yang bersentuhan, berusaha menyalurkan rasa aman pada sang kekasih. “Aku cuma ngobrol materi studek ini aja, Ay.” Studek adalah singkatan untuk Studi Ekskursi.

“Tapi ketawanya banyak banget.”

“Kamu sampe ngitungin?”

“Iya.”

Gea mengendus pelan, mati-matian untuk tidak responsif terhadap tingkah Jay. Dengan senyum yang masih dia pasang untuk menenangkan sang kekasih, Gea berkata, “lucu banget sih kamu kalo lagi gini. Pengen aku gigit rasanya.”

Namun, kecemburuan Jay ternyata tidak selesai di sana. Hingga rapat biro akhirnya dibubarkan, Jay sama sekali tidak bisa kembali fokus. Pikirannya terlalu sibuk memutar ulang interaksi Gea dengan teman-temannya.

Sepanjang jalan pulang di atas motor, atmosfer di antara mereka berubah drastis. Jay hanya diam membisu, mengabaikan angin malam yang menerpa. Gea sudah berusaha beberapa kali memecah keheningan dengan membujuknya, menjelaskan kembali bahwa interaksi tadi murni obrolan biasa antar-teman kerja, namun Jay tetap bergeming dengan aksi tutup mulutnya.

Pada akhirnya, Gea memilih ikut terdiam di boncengan belakang. Ia kehabisan kata-kata dan bingung harus dengan cara apa lagi membujuk kekasihnya yang sedang terbakar cemburu itu. Ini memang bukan pertama kalinya Jay mengutarakan ketidaksukaannya jika Gea dekat dengan lawan jenis. Namun hingga detik ini, Gea masih belum bisa paham, sebenarnya batasan kata “dekat” versi Jay itu seperti apa?

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!