NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

***

​Keheningan di dalam kamar utama rumah joglo terasa begitu pekat dan menindas semenjak kepulangan Raden Mas Baskoro dari batas barat. Suara derap langkah kaki sang juragan yang berat di selasar luar, diikuti oleh suara gerendel besi yang kembali diputar dari luar, menjadi penanda mutlak bahwa kebebasan Larasati telah direnggut. Namun, alih-alih meratap atau menumpahkan air mata seperti bulan-bulan awal pernikahannya, Larasati duduk tegak di tepi ranjang jati. Sepasang matanya memancarkan ketegaran yang kian matang; ia mboten lagi gadis desa yang bisa ditakut-takuti oleh kabut cemburu suaminya.

​Pintu kamar berderit pelan ketika hari mulai beranjak sore. Mbok Sum melangkah masuk dengan kepala menunduk takzim, membawa nampan kuningan berisi mangkuk sup ayam kampung hangat dan wedang rempah. Wajah pelayan sepuh itu tampak diselimuti kecemasan yang teramat sangat.

​Begitu pintu ditutup kembali oleh pengawal di luar, Larasati langsung berdiri dan mendekati Mbok Sum. Ia mboten menyentuh makanan itu, melainkan memegang kedua tangan keriput sang pelayan sepuh.

​"Mbok... kulo mohon, katakan sejujurnya pada kulo," bisik Larasati, suaranya bergetar rendah namun penuh penekanan. "Apa yang terjadi di bulak barat tadi pagi? Kenapa Mas Baskoro pergi membawa cambuk pusakanya dan kembali dengan wajah semerah darah?"

​Mbok Sum gemetar, ia menatap ke arah pintu sebelum berbisik teramat lirih. "Aduh, Gusti Nyai... hamba mboten berani. Raden Mas Baskoro sudah memberi perintah mutlak agar tidak ada satu pun abdi dalem yang membuka mulut."

​"Mbok Sum, demi jabang bayi yang ada di dalam rahim kulo!" potong Larasati tegas, menatap lurus ke dalam mata Mbok Sum. "Kulo mboten bisa terus dikurung dalam ketidaktahuan sementara suami kulo tersiksa oleh pikirannya sendiri. Katakan pada kulo, siapa yang ditemui Mas Baskoro di perbatasan?"

​Air mata Mbok Sum nyaris menetes karena dilema, namun ketegaran sang Nyai muda akhirnya meruntuhkan ketakutannya. "B-Bagus, Gusti Nyai... Pemuda dari masa lalu Anda. Sentot melapor bahwa Bagus berkeliaran di tapal batas barat untuk mengirim gerabah. Raden Mas Baskoro yang mendengar hal itu langsung murka dan mendatangi bulak barat. Terjadi pertengkaran hebat di sana, bahkan Raden Mas nyaris mencambuk pemuda itu jika Sentot mboten segera mengingatkan tentang keselamatan Anda dan janin ini."

​Larasati terhenyak, perlahan melepaskan pegangan tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena ia merindukan Bagus, melainkan karena ia menyadari betapa dalamnya luka ketakutan dan rasa tidak aman yang bersarang di dada suaminya yang perkasa. Baskoro yang berusia empat puluh tahun, yang menguasai seluruh perbukitan Joglo, ternyata begitu rapuh dan ketakutan akan kehilangan dirinya.

​"Matur nuwun, Mbok. Sekarang, tolong bantu kulo mempersiapkan segalanya untuk malam ini," ucap Larasati tenang, sebuah siasat cerdas telah terbentuk di benaknya.

​Malam pun jatuh dengan hawa dingin yang luar biasa menusuk dari lereng gunung. Angin berderu kasar, memukul-mukul dinding jati kamar utama. Pintu kayu berderit berat ketika kunci besi diputar dari luar. Baskoro melangkah masuk dengan tubuh yang tampak teramat lelah, bahunya yang tegap tampak kaku dan menegang oleh sisa amarah dan keletihan batin yang teramat sangat.

​Ia mboten mengucapkan sepatah kata pun. Dengan gerakan kaku, ia menanggalkan beskap luriknya, menyisakan selembar kain jarik yang melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidangnya yang dipenuhi peluh dingin. Pria paruh baya itu duduk di tepi ranjang, membelakangi Larasati dengan kepala tertunduk, memijat pelipisnya sendiri yang berdenyut menyakitkan.

​Larasati mboten menunjukkan kemarahan atau ketakutan sedikit pun karena telah dikunci seharian. Dengan langkah yang anggun dan tanpa suara, ia mendekati punggung suaminya. Jemari kecilnya yang halus perlahan mendarat di atas otot-otot bahu Baskoro yang sekeras batu raksasa, mulai memberikan pijatan lembut yang penuh perhatian.

​Baskoro sempat menegang keras karena terkejut, namun kehangatan sentuhan Larasati perlahan membuat pertahanannya goyah.

​"Kenapa kamu mboten marah, Laras?" tanya Baskoro, suaranya bariton rendah, serak dan sarat akan kepedihan yang disembunyikan. "Aku telah menguncimu seharian. Aku telah merenggut kebebasanmu untuk berjalan di selasar rumahmu sendiri."

​Larasati mboten menghentikan pijatannya. Ia justru mendekatkan tubuhnya, menyandarkan dada dan perutnya yang membulat empat bulan dengan lembut ke punggung kokoh suaminya. "Kenapa kulo harus marah kepada suami yang sedang ketakutan, Mas?"

​Baskoro berbalik dengan cepat, mencengkeram kedua lengan Larasati dengan tatapan mata yang kembali berkilat jalang oleh kabut cemburu. "Ketakutan?! Siapa yang ketakutan?! Aku adalah penguasa Joglo, Larasati! Tidak ada satu pun hal di bawah langit ini yang kutakuti!"

​Larasati menatap lurus ke dalam sepasang manik mata Baskoro yang bergejolak liar, mboten berkedip sedikit pun. "Anda takut pada masa lalu kulo, Mas. Anda takut pada bayangan Bagus yang mboten pernah kulo pikirkan lagi semenjak kulo sah menjadi istri Anda."

​Baskoro terdiam, rahangnya menegang kaku, urat-urat di lehernya mencuat tegang. Tuduhan Larasati menghantam tepat di pusat egonya yang paling rapuh.

​Perlahan, Larasati mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia melepaskan gelang emas baru berukiran melati tebal yang terpasang di pergelangan tangannya. Gelang emas mewah yang diberikan Baskoro sebagai penanda kepemilikan mutlak. Larasati mengambil tangan besar Baskoro yang kasar dan berurat, lalu meletakkan gelang emas itu tepat di atas telapak tangan suaminya.

​"Mas Baskoro... jika Anda mengunci kulo dengan dinding jati dan mengikat kulo dengan rantai emas ini hanya untuk memastikan kesetiaan kulo, maka Anda mboten akan pernah mendapatkan kedamaian," ucap Larasati dengan nada suara yang teramat lembut namun sarat akan ketegasan seorang permaisuri yang sah. "Bagus mboten memiliki raga kulo, mboten pula memiliki cinta kulo. Pria yang tadi pagi Anda temui di bulak barat itu mboten lebih dari sekadar debu masa lalu yang sudah lama tertiup angin."

​Larasati meraih tangan besar Baskoro, menuntun jemari kasar suaminya untuk menempel dengan lembut di atas perutnya yang membulat kecil di balik kain mori halus.

​"Lihat kulo, Mas. Tatap mata kulo," tuntut Larasati lirih. "Seluruh raga kulo, setiap embusan napas kulo, dan jabang bayi yang sedang membawa benih bangsawan Anda di dalam rahim suci ini... semuanya adalah milik Anda yang sah secara mutlak. Kulo mboten butuh dikunci dari luar untuk tetap setia pada Mas Baskoro. Kulo menyerahkan seluruh hidup kulo karena kulo mencintai Anda, bukan karena kulo adalah tawanan Anda."

​Mendengar pengakuan yang teramat murni dan mendalam dari bibir permaisuri mudanya, pertahanan ego feodal Baskoro runtuh seutuhnya. Gelang emas di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas lantai jati. Sepasang mata paruh baya sang juragan yang biasanya sedingin es kini berkaca-kaca, dipenuhi oleh rasa bersalah dan kerinduan yang teramat liar yang telah lama ia kurung di balik topeng kekuasaan.

​"Laras... Nduk..." bisik Baskoro parau, suaranya bergetar hebat.

​Tanpa mampu menahan hasrat primitifnya lebih lama lagi, Baskoro menarik tubuh mungil Larasati ke dalam pelukannya yang teramat erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang harum wangi cendana. Badai cemburu yang membakar egonya seharian penuh kini meleleh, berubah menjadi luapan gairah posesif yang menuntut penyatuan raga yang teramat mendalam dan intens untuk membilas seluruh sisa ketakutannya.

​Baskoro mendorong tubuh mungil Larasati perlahan laksana mendorong sehelai sutra berharga hingga permaisurinya telentang di atas kasur kapuk, di bawah naungan kelambu sutra yang bergoyang gelisah. Baskoro memposisikan tubuh kekarnya yang besar di atas Larasati, menumpu seluruh berat badannya dengan kedua sikut yang luar biasa kokoh di sisi kepala istrinya, memastikan perut membulat Larasati mboten menerima tekanan sedikit pun.

​"Malam ini... biarkan aku memilikimu seutuhnya, Laras. Biarkan aku membakar habis sisa-sisa kegelapan di dalam dadaku di dalam ragamu," bisik Baskoro parau tepat di depan bibir Larasati sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam cumbuan yang berat, panas, dan teramat menuntut.

​Tangan besar Baskoro yang berurat dengan cepat namun penuh kelembutan menyibak kain mori dan kebaya gading Larasati, menyingkap keindahan raga istrinya yang kini kian ranum, padat, dan memancarkan aura keibuan yang sangat memikat di usia kehamilan empat bulan. Kulit belia Larasati yang bersinar alami di bawah temaram lampu teplok minyak membuat hasrat kelaki-lakian Baskoro bergejolak di batas yang paling liar.

​Penyatuan raga yang intens dan melelahkan itu pun pecah di keheningan kamar utama. Gerakan pinggul Baskoro yang kokoh bagai soko guru pendopo menuntut kepatuhan yang teramat dalam, memeras setiap sisa tenaga Larasati di atas ranjang jati kuno.

​"Ahhh... hhh... Mas... Mas Baskoro... nggghhh..." Larasati mendesah panjang, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri di atas bantal kapuk. Rambut panjangnya yang hitam legam terurai berantakan, basah oleh peluh yang bercampur dengan aroma keringat jantan suaminya. Kenikmatan yang memabukkan berbaur dengan rasa sesak yang nikmat saat stamina prima suaminya yang luar biasa kokoh menghunjamnya tanpa ampun.

​Baskoro membenamkan wajahnya di antara belahan dada Larasati yang kian montok, erangan rendah penuh kepuasan liar keluar dari sela-sela bibirnya. Jemari besarnya mencengkeram erat pinggang Larasati yang kian berisi, menahan pergerakan istrinya agar tetap terkunci sepenuhnya di bawah dominasinya yang mutlak.

​"Katakan lagi padaku, Laras..." desah Baskoro parau dengan napas yang memburu cepat di sela-sela pergulatan asmara mereka yang kian memanas, "Milik siapa raga yang ranum ini? Milik siapa cinta yang suci ini?"

​Larasati tersengal-sengal pendek, dadanya kembang-kempis menahan gelombang kenikmatan yang terus meledak-ledak di dalam dirinya. Ia melingkarkan kedua lengan kecilnya di leher kekar Baskoro, menarik suaminya agar menyatukan kembali bibir mereka. "Ahhh... milik Anda, Mas... hanya milik Mas Baskoro seutuhnya... hhh... kulo pasrah... seluruh jiwa raga kulo... hhh... sudah terkunci untuk Anda..."

​Mendengar pengakuan patuh yang teramat tulus dari permaisurinya, Baskoro mempercepat ritme gerakannya dengan kekuatan penuh yang melelahkan namun penuh dengan kehati-hatian tingkat tinggi demi menjaga janin di rahim Larasati. Di bawah derak halus ranjang jati kuno yang beritme cepat beradu dengan suara desah napas keduanya yang saling mengejar, badai cemburu dan ketakutan itu akhirnya melebur sepenuhnya menjadi luapan gairah posesif yang kian mengunci erat takdir luhur mereka di atas bukit Joglo.

​Ketika fajar pagi mulai menyembul tipis di ufuk timur, kehangatan yang sisa masih menyelimuti ranjang jati, menyisakan dua raga yang saling mendekap erat dalam kedamaian baru yang mboten lagi membutuhkan tembok tak kasat mata.

​Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!