Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : MALAPETAKA KELUARGA XIAO
**Kediaman Keluarga Menteri Sayap Kiri **
Ye Ning duduk termenung di kamarnya. Keheningan pagi itu terasa mencekik. Otaknya berpikir keras, mencari cara untuk menyelamatkan seluruh keluarganya. Terutama mengeluarkan ayah dan kakak laki-lakinya dari penjara.
"Aku benar-benar bodoh" batin Ye Ning, merutuki dirinya sendiri.
Ia telah dibutakan oleh manisnya perkataan Bai Zhilan, hingga tanpa sadar membawa petaka yang membuat ayah dan kakaknya kini meringkuk di dalam penjara.
"Nona," panggil Chun Tang, pelayan setianya.
"Besok adalah sidang pengadilan Tuan Besar dan Tuan Muda di hadapan Kaisar. Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya dengan khawatir.
Ye Ning tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Mengapa dari sekian banyak pria di ibu kota, ia harus menyukai pria sepertinya.
Ye Ning bangkit dari duduknya. Matanya kini memancarkan kilat tekad yang bulat. Apa pun yang terjadi, ini adalah tanggung jawabnya. Maka ia juga harus memutuskan langkah yang akan diambil.
**Kediaman Keluarga Adipati Zhao**
Di ruangan kerjanya, Bai Zhilan sedang duduk tenang di depan meja. Lembar demi lembar surat rahasia diperiksanya dengan teliti. Ketukan di pintu menghentikan gerakannya.
"Masuk," perintah Zhilan dingin.
Seorang pria melangkah masuk, dan memberi salam.
"Lapor kepada Tuan Muda. Pengawal bayangan yang mengawasi Nona Xiao melaporkan bahwa baru saja Nona Xiao pergi menuju kediaman Junwang." Ucap Shao Zu.
Gerakan Zhilan seketika membeku. Sepasang mata kelamnya menatap Shao Zu dengan tatapan sedingin es. Shao Zu menunduk dalam-dalam, mendadak merasa ngeri. Ia tahu betul, jika sudah menyangkut urusan Nona Xiao, Tuan Mudanya yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan ini akan langsung kehilangan kendali.
Zhilan menutup surat di tangannya dan bertanya "Ada kabar dari Penjara Perlindungan Utara?"
"Menjawab Tuan Muda, Menteri Kiri Xiao Wentian dan Jenderal Muda Xiao He Ling saat ini masih diinterogasi ketat oleh petugas," Jawab Shao Zu cepat.
Zhilan kembali terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak,. Begitu membuka mata, ia langsung berdiri dan melangkah lebar keluar ruangan.
"Pergi. Tangkap Ning'er kembali."
Shao Zu segera mengikuti langkah kaki tuannya. Sepertinya, hari ini dan besok akan menjadi hari yang jauh dari kata damai.
**Kediaman Junwang**
Kereta kuda yang membawa Ye Ning akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Junwang (sang pangeran wilayah yang merupakan adik kandung Kaisar).
Di dalam kereta, Ye Ning meremas saputangannya. Ia tahu, melangkah masuk ke tempat ini berarti tidak ada jalan kembali. Saat ini stabilitas kekaisaran sedang goyah, Putra Mahkota terbaring koma, sementara Kaisar mulai sakit-sakitan. Di bawah bayang-bayang perebutan takhta, Junwang adalah salah satu ancaman terbesar bagi tahta kekaisaran.
Namun, Ye Ning tidak punya waktu lagi untuk memikirkan risiko. Semakin lama ia ragu, semakin dekat ayah dan kakaknya ke jurang kematian. Dengan tekad kuat, Ye Ning turun dari kereta. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Mungkin inilah garis hidupnya, menyelamatkan keluarganya namun juga memotong jalan takdir cintanya dengan Zhilan.
Di depan gerbang, Ye Ning berdiri tegak dengan dagu terangkat.
"Katakan kepada Yang Mulia Junwang, saya, Ye Ning, putri dari Xiao Wentian, ingin menghadap. Mohon izinkan saya masuk."
Setelah penjaga menyampaikan pesan, gerbang besar itu terbuka. Seorang pelayan junior menyambut dan menuntun Ye Ning menyusuri koridor megah kediaman Junwang.
Mereka berhenti di ruang pertemuan luar. Begitu melangkah masuk, Ye Ning langsung menangkap sosok Li Yu, sang Junwang yang berusia 45 tahun duduk angkuh di atas singgasananya.
"Ye Ning menghadap Yang Mulia," ucapnya sambil menunduk dalam, memberi hormat formal.
Li Yu menatapnya sejenak sebelum mempersilakan Ye Ning duduk. Tanpa basa-basi, ia langsung menanyakan maksud kedatangan putri menteri tersebut.
"Saya tidak akan berbohong kepada Yang Mulia. Dengan segala kerendahan hati, saya memohon bantuan Yang Mulia untuk menyelamatkan ayah dan kakak saya dari persidangan besok"
Alis Junwang sedikit mengernyit. Sebuah senyum s terukir di wajahnya.
"Oh? Memangnya, keuntungan apa yang bisa kau berikan jika Benwang bersedia membantumu?"
Ye Ning meremas erat kain roknya hingga buku jarinya memutih. Jantungnya berdegub kencang karena rasa gugup dan takut. Meminta bantuan pada orang seperti Junwang memiliki risiko yang teramat tinggi.
Ye Ning bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke tengah ruangan, lalu menunduk dalam dengan tangan terlipat di depan dada.
"Sebagai balas budi, Ye Ning akan menyerahkan kepemilikan restoran keluarga Xiao yang paling populer di ibu kota, beserta beberapa toko kain dan bordir yang memiliki laba terbesar sepanjang tahun kepada Yang Mulia."
Tawa kencang Junwang seketika menggelegar di dalam ruangan, seolah baru saja mendengar lelucon yang menggelikan. Hati Ye Ning mencelos. Jika harta tidak bisa menggerakkan pria ini, lalu apa yang dia inginkan? Mengingat Junwang mengizinkannya masuk, pria itu pasti menginginkan sesuatu darinya. Seluruh aset kediaman keluarga Xiao? Atau kekuatan militer yang tersisa?
" Kau pikir kediaman Benwang ini sangat miskin hingga membutuhkan toko kainmu?" sindir Li Yu tajam.
"Ampuni saya, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud demikian," sahut Ye Ning canggung, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
"Mohon maaf atas kebodohan dan kedangkalan pengetahuan saya. Jika boleh saya tahu, apa yang sebenarnya Yang Mulia inginkan?"
Li Yu berdeham kecil, tangannya bergerak meraba janggutnya yang tidak ada. Lalu bertanya
"Kudengar, kau sudah lama melewati usia kedewasaan. Apakah kau belum memiliki ikatan dengan pria lain?"
Deg. Jantung Ye Ning serasa berhenti. Dugaannya tepat. Li Yu tidak butuh uang, tetapi ia butuh aliansi penuh dari keluarga Xiao.
Ye Ning membeku. Menjadi selir kesekian dari Junwang yang sudah berumur ini? Ataukah dinikahkan dengan putra pewarisnya, Li Wen, seorang pria playboy yang terkenal suka membuat keonaran di ibu kota? Ye Ning menggertakkan giginya erat-erat. Namun, tepat saat Ye Ning baru saja hendak membuka mulut untuk berbicara,
Suara bariton yang familiar terdengar santai, namun sarat akan ancaman. "Tentu saja Ye Ning telah bertunangan dengan saya Yang Mulia"
Bai Zhilan melangkah masuk dengan anggun, memotong jarak dan langsung berdiri di samping Ye Ning.
Raut wajah Junwang seketika menggelap. Meskipun tindakan Bai Zhilan yang menerobos masuk tanpa izin sangat tidak sopan, Junwang tahu betul ia tidak bisa sembarangan mengamuk pada putra keluarga Adipati Zhao ini.
"Oh, benarkah? Jadi kediaman Menteri Kiri telah menjalin aliansi pernikahan dengan kediaman Adipati Zhao? Apa Benwang tidak salah dengar? Bukankah kedua keluarga kalian adalah musuh bebuyutan?" ejek Li Yu dengan nada meremehkan.
Zhilan tersenyum tipis, membalas dengan santai "Permusuhan keluarga sama sekali tidak ada kaitannya dengan perasaan kami, Yang Mulia."
Pria itu kemudian menoleh, menatap Ye Ning dengan pandangan mata yang lembut dan senyuman manis.
"Sayang sekali, padahal tadinya Benwang pikir Ye Ning akan menjadi menantu yang cocok untuk putraku, Li Wen." Li Yu mengibaskan jubahnya dengan gusar.
"Baiklah kalau begitu. Benwang tidak bisa membantumu, Ye Ning. Tunanganmu ini sepertinya jauh lebih berkuasa dariku. Ah, kepalaku mendadak pusing setelah gagal mendapatkan menantu. Sebaiknya kalian pulang, aku tidak bisa mengantar."
Tanpa menoleh lagi, Junwang melangkah pergi diikuti oleh kepala pelayannya. Ye Ning berdiri mematung. Begitu sosok Junwang menghilang dari balik tirai, ia langsung berbalik dan melangkah keluar tanpa melirik Zhilan sedikitpun.
Zhilan tidak protes, ia hanya berjalan mengekor di belakang wanita itu. Namun, begitu Ye Ning naik ke dalam keretanya, Zhilan tanpa tahu malu ikut menyelinap masuk dan duduk di hadapannya.
"Kau...!" Ye Ning kaget dan teriak. Pria brengsek di depannya ini hanya melempar senyum tipis, duduk dengan wajah tampan tanpa dosa. Belum sempat kereta itu berjalan, sebuah suara pria tiba-tiba memanggil dari luar. Ye Ning segera menyibak tirai jendela.
Di luar sana, Li Wen—putra Junwang yang hampir menjadi calon suaminya—sedang berdiri menatapnya.
"Ye Ning, jangan tertipu oleh Zhilan! Dia pria yang brengsek dan kejam!" seru Li Wen memperingatkan.
Tanpa sadar, Ye Ning mengangguk cepat, menyetujui perkataan itu di dalam hati. Tindakan Ye Ning langsung membuat ekspresi wajah Zhilan berubah menjadi jelek.
"Ye Ning, aku bisa meyakinkan ayahku untuk menolong ayah dan kakakmu! Ayo ikut aku, seba—" belum sempat Li Wen menyelesaikan kalimatnya, tirai jendela ditutup paksa dari dalam oleh Zhilan.
"Jalan!" perintah Zhilan dengan nada dingin kepada Shao Zu yang kini bertindak sebagai kusir. Saat Li Wen akan mengejar, beberapa pengawal rahasia Zhilan langsung muncul dan menghadang langkah pria itu. Ye Ning ingin keluar dari kereta dan Zhilan menahannya
"Zhilan, kau benar-benar—" Ucapan protes Ye Ning kembali terputus saat bibirnya tiba-tiba dibungkam paksa oleh Zhilan. Dasar pria pencemburu akut! Sialan! maki Ye Ning habis-habisan dalam hati, sementara tubuhnya kembali terkunci dalam dekapan posesif.