NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ku panggil kau shiro

Pagi itu, Keiko terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengusir sisa kantuk, sebelum menyadari ada sesuatu yang hangat menekan kedua kakinya dari balik selimut.

"Hm...?"

Pelan-pelan, ia mengangkat selimut. Seekor kucing abu-abu masih meringkuk pulas di sana. Kedua telinganya sesekali bergerak kecil, sementara napasnya terdengar teratur. Rupanya, sejak semalam ia tidak beranjak sedikit pun.

Keiko tersenyum tanpa sadar. "Jadi... kamu benar-benar menemaniku semalaman?"

Entah karena obat, teh hangat, atau kehangatan tubuh kecil yang mendekap selimutnya, demam Keiko nyaris hilang sepenuhnya. Ia mengulurkan tangan dengan sangat perlahan memberanikan diri mengusap lembut bagian belakang telinga si kucing.

Lembut. Hangat.

Belum sempat ia menarik tangannya, si kucing membuka sebelah mata. Tatapan keemasan yang tajam itu langsung terkunci pada wajah Keiko.

"Selamat pagi," sapa Keiko lembut. "arigatou sudah menemaniku tadi malam."

Si kucing tidak bergerak. Ia menatap Keiko selama beberapa detik, lalu tiba-tiba memiringkan kepala dan menggigit pelan ujung jari Keiko.

"Aww!" Keiko spontan menarik tangannya. "Ternyata masih galak, ya?"

Si kucing melepaskan gigitannya lalu menendang dengan kaki belakangnya begitu saja, lalu kembali memejamkan mata seolah tidak pernah melakukan apa pun. Keiko terkekeh pelan. "Kalau itu caramu bilang 'sama-sama', ya sudah, aku terima."

Ia bangkit dari kasur dan meregangkan tubuh. Begitu kakinya menyentuh lantai, terdengar suara lompatan ringan di belakangnya—bruk. Keiko menoleh dan mendapati si kucing ternyata ikut turun dari kasur.

"Lho, mau ke mana?"

Tidak ada jawaban. Si kucing hanya berjalan santai mengikuti langkah Keiko hingga ke dapur. Keiko harus menoleh ke belakang beberapa kali untuk memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.

"Aku diikuti seekor kucing?" gumamnya sambil terkekeh sendiri. "Harusnya aku yang mengikuti kamu, bukan sebaliknya."

Si kucing berhenti tepat di ambang dapur, duduk tenang mengamati Keiko yang sedang mengambil segelas air. "Hei, kucing galak," panggil Keiko sambil bersandar di meja dapur. "Karena semalam kamu tidur di kasurku—aku anggap kita sudah berteman, ya?"

Si kucing tetap diam dengan tatapan datar yang tak terbaca.

Keiko mendadak mendapat ide iseng. Ia mengangkat telunjuk ke arah kucing itu. "Begini saja. Kalau kamu setuju berteman denganku... cukup diam saja. Tapi kalau tidak setuju... silakan mengeong."

Setelah mengucapkan itu, ia berbalik membuka kulkas, mengambil sisa ikan panggang semalam, dan menyajikannya di piring kecil. Suasana dapur mendadak hening. Tak ada suara sama sekali. Keiko melirik dari sudut matanya; si kucing masih duduk di tempat yang sama. Diam. Benar-benar diam.

Tawa kecil lolos dari bibir Keiko. "Hahaha, baiklah. Aku anggap itu berarti 'iya'."

Ia meletakkan piring kecil itu di lantai bersama mangkuk air bersih. "Nih, sarapan."

Si kucing menghampiri piringnya tanpa ragu. Keiko tidak lagi menunggu seperti kemarin; ia tersenyum kecil lalu melangkah menuju kamar mandi. "Silakan dimakan"

***

Beberapa belas menit kemudian, Keiko keluar dengan handuk melilit tubuh. Rambutnya masih basah, meninggalkan jejak tetesan air di lantai kayu. Hal pertama yang ia lakukan adalah melirik tempat makan si kucing. Piringnya sudah kosong, bahkan mangkuk airnya tinggal setengah.

"Wah, perutmu ternyata besar juga," gumamnya geli sebelum kembali ke kamar.

Sesampainya di sana, ia mendapati si kucing sudah lebih dulu berada di atas kasur, sedang santai menjilati bulu di dada dan kaki depannya.

"Sudah merasa punya rumah sendiri, ya?" Keiko tertawa kecil. Tentu saja, si kucing tidak menggubris.

Keiko mengambil pakaian dari lemari, berganti baju, lalu duduk bersila di lantai di depan cermin kecil untuk menyisir rambutnya. Sesekali, pandangannya beralih ke arah kasur. Si kucing masih di sana, tampak tenang seolah memang sudah menjadi penghuni rumah itu sejak lama.

"Hei, kucing," panggil Keiko. Telinga si kucing bergerak pelan, menoleh sekilas. "Karena sekarang kita sudah berteman, rasanya tidak enak kalau terus memanggilmu 'kucing galak'."

Tak ada reaksi.

"Bagaimana kalau aku memberimu nama?"

Si kucing kembali sibuk dengan bulunya. Keiko menopang dagu sambil berpikir. "Warna bulumu abu-abu,,, penuh misteri, datang sendiri, pulang tanpa pamit... tapi ternyata kamu baik."

Perlahan, Keiko mengulurkan tangan dan mengusap telinga si kucing. Kali ini tidak ada gigitan atau cakaran; si kucing membiarkannya saja.

"Aku sempat kepikiran memanggilmu Abu, tapi kurang cocok. Silver juga terdengar aneh." Ia menatap ke luar jendela. Angin pagi berembus, membuat tirai putih di samping tempat tidur menari pelan. "Bagaimana kalau... Shiro?"

Di atas kasur, si kucing tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia perlahan mengangkat kepala, mata keemasannya menatap lurus ke arah Keiko. Keiko ikut terdiam.

"Lho? Kamu suka?" Ia kembali mengusap telinganya. "Walaupun bulumu tidak seputih arti nama itu, entah kenapa rasanya nama itu sangat cocok sekali untukmu."

Tatapan si kucing tak berpindah. Beberapa detik kemudian, ia memejamkan mata perlahan, menerima usapan itu dengan tenang. Keiko tersenyum puas.

"Mulai hari ini..." bisik Keiko, "...namamu Shiro."

Keiko tersenyum puas melihat si kucing tidak menolak nama barunya.

Ia bangkit dari lantai, merapikan sisir ke meja, lalu melirik jam dinding. "Masih pagi." Belum lama ia melangkah keluar kamar, terdengar ketukan pelan dari pintu depan.

Tok... tok... tok...

"Keiko-san?" Suara Kyo terdengar dari luar. "Ohayou (selamat pagi)."

"Iya, tunggu sebentar!" Keiko bergegas membuka pintu dengan senyum lebar. "Ohayou, Kyo-san."

"Pendeta tadi meminta bantuan untuk merapikan gudang kuil. Katanya barang-barangnya lumayan banyak. Kamu mau ikut?"

"Wah, tentu saja mau!" Keiko mengangguk antusias. "Tunggu sebentar, aku ambil topi dulu."

Ia kembali masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah berjalan menuju kamar, terdengar suara lompatan kecil dari arah belakang. Bruk.

Seekor kucing abu-abu berjalan santai melewati kaki Keiko, melenggang tenang menuju pintu depan yang masih terbuka lebar. Kyo, yang sedari tadi berdiri di beranda, membeku di tempatnya.

"Lho..." gumam Kyo, matanya tak lepas dari kucing yang keluar dari dalam rumah Keiko itu.

Keiko yang menyusul di belakang ikut menoleh. "Oh, itu Shiro."

Kyo berkedip bingung. "Shiro?"

"Iya, baru kuberi nama tadi pagi."

Shiro sama sekali tidak menggubris percakapan mereka. Ia turun ke halaman, duduk manis di dekat pagar, lalu mulai menjilati bulu kaki depannya dengan tenang seperti biasa. Kyo masih terus memperhatikan kucing itu selama beberapa detik.

"Aneh," gumam pria itu"Biasanya dia tidak pernah mau masuk ke rumah orang," jawab Kyo takjub.

Keiko menoleh ke arah Shiro, lalu kembali menatap Kyo sambil terkekeh "Biasa nya juga gitu, Tapi kami sepakat untuk berteman tadi malam?"

Kyo terkekeh. "Kau punya kesepakatan rahasia ya."

Keiko tertawa lepas dia tidak menjelaskan kalau semalam shiro ikut menemaninya tidur.

Setelah memastikan pintu depan terkunci, ia melangkah keluar menghampiri Kyo yang sudah menunggu di samping troli kayu berisi beberapa kardus dan karung kecil.

"Ini pesanan buat kuil?"

"Iya, Paman Pendeta menitipkannya ke toko kemarin."

"Oh..."

Keiko mengangguk dan mulai berjalan di sampingnya. Troli kayu itu berderit pelan, menyusuri jalan berbatu yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Mereka baru berjalan beberapa puluh meter ketika Kyo tiba-tiba melirik ke belakang.

"Keiko-san."

"Hm?"

"Dia masih ikut."

Keiko menoleh. Beberapa meter di belakang mereka, Shiro berjalan santai dengan langkah ringan. Sesekali kucing itu berhenti untuk mengendus rerumputan, lalu kembali menyusul tanpa tergesa-gesa.

Keiko terkekeh kecil. "Biarkan saja. Kalau bosan, nanti dia pulang sendiri."

Kyo kembali menoleh ke belakang. Shiro masih mengikuti dengan jarak yang sama. "Aku baru pertama kali lihat dia mengikuti orang sejauh ini," gumam Kyo.

Keiko melirik Shiro sekali lagi ada garis bibir melengkung manis pagi ini. Perjalanan berlanjut. Tanpa terasa, mereka tiba di kaki bukit tempat kuil dewa kucing berdiri. Tangga batu membentang ke atas, diapit oleh pepohonan cedar yang menjulang tinggi.

"Ini tidak apa-apa ditinggal begitu saja?" tanya Keiko sambil menatap troli mereka.

"Aman kok, ayo," sahut Kyo.

Ia meninggalkan troli di ujung tangga lalu mengangkat barang belanjaan dan mulai menaiki tanjakan. Keiko segera menyusul di belakangnya. Sementara itu, Shiro masih berjalan santai mengikuti, seolah perjalanan pagi itu memang sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

...----------------...

Sesampainya di halaman kuil, Keiko sedikit terkejut melihat Tempat itu jauh lebih ramai, Ada yang mengangkut ranting kering dan ada yang menyapu sampai mengepel lantai aula utama.

"Ohayo (Selamat pagi,)" sapa Keiko sopan kepada setiap warga yang berpapasan.

" Ohayo" balas mereka ramah.

Kyo meletakkan barang pesanannya tepat di depan aula. Tak lama kemudian, Pendeta keluar dengan sapu bambu di pundaknya. Wajahnya langsung sumringah melihat mereka.

"Wah, Kyo-san, Keiko-san. Arigatou, kalian sudah sampai"

"Pagi, Paman. Kami sekalian mengantar pesanan"

"Wah syukurlah" Paman melirik isi kantong sejenak. "Kebutulan biar teh ini bisa langsung di sajikan untuk. kita minum"

Saat hendak berbalik, pandangan Pendeta tak sengaja jatuh ke arah bawah pohon sakura. Shiro baru saja melompat turun dari anak tangga terakhir. Kucing abu-abu itu berjalan beberapa langkah, lalu duduk tenang di bawah pohon, menikmati sinar matahari pagi yang menembus sela-sela dedaunan.

Paman terdiam sesaat. Sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Hampir tak terlihat, beliau membungkukkan kepala pelan. Shiro hanya mengangkat pandangannya sekilas, lalu kembali memejamkan mata seolah sapaan singkat itu sudah cukup baginya. Di depan sana, Keiko dan Kyo sudah sibuk membawa kardus menuju gudang, sehingga tak ada yang memperhatikan kejadian kecil itu.

Di dalam gudang

tersusun berbagai macam barang dari tahun-tahun sebelumnya. "Kalian cukup pilah saja. Kalau masih bagus, taruh di sebelah kanan. Tapi kalau sudah rusak atau kalian ragu, panggil saya dulu. Biar saya yang putuskan."

"Baik," sahut mereka kompak.

Keiko mulai membuka kotak demi kotak dengan penuh rasa ingin tahu. Setiap benda di sana seolah memiliki kisahnya sendiri.

sebuah gulungan kain kusam berwarna kekuningan menarik perhatiannya. Keiko meniup debu yang menempel

"Paman, kalau gulungan ini?"

Paman menghampiri. Begitu melihat gulungan itu, langkahnya melambat. "Hm... ternyata masih disimpan."

Beliau membuka gulungan itu perlahan. Tulisan kaligrafi di atasnya sudah banyak memudar, nyaris tak bisa dikenali. Keiko mencoba membaca, "Aku tidak mengerti tulisan itu"

Paman tersenyum kecil. "Tulisan lama memang agak sulit." Beliau memicingkan mata, membaca bagian yang tintanya masih tersisa samar. "'Selama bulan masih menyinari gunung... penjaga akan tetap kembali.'"

Keiko mengernyit. "Penjaga?"

Paman menggulung kembali kain itu dengan hati-hati. "Itu bagian dari legenda lama desa ini tentang Bakeneko."

"Konon, tidak semua Bakeneko membawa malapetaka. Di beberapa tempat mereka ditakuti, namun ada juga desa yang percaya mereka menjaga tempat-tempat tertentu. Kalau di Tsukimori..." Paman melirik ke arah hutan di belakang kuil, "...orang-orang tua menyebut mereka penjaga gunung."

"Jadi... mereka baik?"

Paman tersenyum bijak. "Legenda tidak pernah sesederhana itu, Keiko-san. Semuanya bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan mereka."

Keiko masih memandangi gulungan kaligrafi itu beberapa saat. Kalimat yang baru saja dibacakan Paman terus terngiang di kepalanya.

Paman menggulung kembali kain tua itu dengan hati-hati. "Karena legenda adalah bagian dari sejarah. Kamu boleh percaya, boleh tidak. Tapi selama masih ada yang mengingatnya, cerita itu tidak akan pernah hilang."

Keiko mengangguk pelan. Masuk akal, pikirnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!