NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.

Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.

Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Ke Pesta

Kamar utama mansion itu sudah seperti ruang ganti artis papan atas. Ada penata rias profesional yang sibuk dengan kuas-kuasnya, seorang penata rambut yang sedang sibuk menyisir rambut Jeslyn, dan tumpukan gaun mewah yang terhampar di atas tempat tidur. Di tengah kekacauan yang estetik itu, Jeslyn hanya bisa mendesah panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

​"Bisa nggak sih, acara ulang tahun rekan bisnis itu diwakilin sama sekretaris aja?" gumam Jeslyn dengan nada yang dibuat-buat lelah.

"Perutku sudah kayak bola raksasa begini, masih disuruh pakai gaun pesta. Ini namanya penyiksaan bayi, bukan pesta ulang tahun!"

​"Nyonya, Anda terlihat sangat mempesona dengan gaun biru ini," puji sang penata rias dengan sopan.

​Jeslyn hanya memutar bola matanya. Namun, perhatiannya teralih pada sosok yang duduk di sofa panjang dekat jendela. Lucian. Pemuda itu sudah sejak tadi duduk di sana dengan wajah yang ditekuk, tangan terlipat di depan dada, dan tatapan mata yang seolah ingin membakar siapa saja yang berani mengganggunya.

​Jeslyn tersenyum geli melihat pantulan wajah Lucian dari kaca rias.

"Kenapa, hm? Wajahmu itu lho, sudah kayak cucian yang nggak disetrika seminggu."

​Lucian mendengus. "Daddy jahat."

​"Duh, sudah gede kok masih ngadu soal Daddy," goda Jeslyn sambil tertawa kecil.

"Memangnya kenapa lagi?"

​"Tadinya aku mau ikut ke pesta itu," ujar Lucian ketus.

"Aku sudah telepon Daddy, tapi dia bilang tidak. Katanya, acara itu terlalu membosankan buat anak seumuran aku, dan dia melarang ku ikut. Padahal kan aku cuma mau jaga Mami!"

​Penata rias yang sedang memulas blush-on di pipi Jeslyn tampak menahan tawa. Ia sesekali melirik ke arah Lucian melalui cermin, tampak tidak percaya melihat pemuda dingin yang biasanya irit bicara itu kini bertingkah persis seperti anak kecil yang merajuk karena tidak diajak main.

​"Lucian sayang," Jeslyn berusaha berbicara dengan nada lembut.

"Daddy itu cuma takut kamu capek. Pestanya pasti malam banget, dan kamu kan besok harus sekolah."

​"Alasan," balas Lucian singkat.

"Dia cuma mau memonopoli Mami. Dia takut kalau aku ikut, Mami bakal lebih sibuk memperhatikan aku daripada memperhatikan dia."

​Jeslyn terbahak sampai-sampai tangannya nyaris menyentuh kuas eyeliner yang sedang dipasang di matanya.

"Ya ampun, Lucian! Kamu cemburu sama Daddy-mu sendiri?"

​"Aku nggak cemburu," bantah Lucian dengan wajah yang semakin memerah.

"Aku cuma... aku cuma merasa tidak adil. Kenapa dia boleh bawa Mami, tapi aku tidak? Padahal di sana pasti banyak orang yang sok asik. Aku harus memastikan tidak ada yang berani macam-macam pada Mami."

​"Lucian, kamu ini terlalu protektif," Jeslyn tersenyum hangat, hatinya merasa tersentuh meski ia sendiri geli.

"Mami kan pergi sama suamiku... maksudku, sama Daddy-mu. Tentu saja dia ingin berduaan."

​"Suamiku..." Lucian mengulang kata itu dengan nada yang terdengar enggan.

"Tetap saja. Daddy itu tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan lembut. Kalau nanti dia membiarkan Mami berdiri terlalu lama atau dia lupa membelikan Mami makanan, bagaimana?"

​"Nyonya," penata rias itu akhirnya angkat bicara, berusaha menahan tawa.

"Tuan Muda benar-benar sangat peduli pada Anda. Jarang sekali saya melihat pemuda seusianya yang sesabar dan sepeduli ini."

​"Dia memang aneh, Mbak," sahut Jeslyn sambil menatap Lucian di cermin.

"Dulu dia diam kayak es batu, sekarang dia cerewetnya sudah mengalahkan aku kalau lagi merasa tidak adil."

​Lucian bangkit dari sofa, berjalan mendekat ke arah Jeslyn dengan langkah kaki yang diseret-seret. Ia berdiri di belakang Jeslyn, menatap pantulan ibunya di cermin dengan sorot mata yang teduh namun penuh kekecewaan.

"Mami, kalau nanti Daddy bersikap tidak sopan atau membuat Mami tidak nyaman, telepon aku. Aku akan langsung datang ke sana dan membawa Mami pulang."

​Jeslyn memutar kursi riasnya menghadap Lucian. Ia meraih tangan pemuda itu.

"Iya, Mami janji. Tapi sekarang, tunjukkan senyummu. Mami mau pergi pesta, masa anakku wajahnya kayak lagi jaga kuburan begini?"

​Lucian mencoba tersenyum, tapi hasilnya lebih mirip seringai tipis yang canggung.

"Pokoknya, kalau Daddy berani aneh-aneh, katakan saja Mami tidak mencintainya. Dia pasti langsung sedih."

​Jeslyn tertawa terbahak-bahak. "Oh, jadi itu taktiknya? Oke, oke, akan Mami ingat!"

​Tak lama kemudian, langkah kaki tegas terdengar dari arah koridor. Pintu kamar terbuka, dan Keith melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang membuatnya tampak sangat elegan dan berwibawa. Matanya langsung tertuju pada Jeslyn. Ia terdiam sejenak, terpaku melihat kecantikan istrinya yang semakin terpancar dalam balutan gaun biru malam itu.

​"Kamu... terlihat sangat cantik," puji Keith dengan suara rendah.

​Lucian mendengus keras di samping Jeslyn. "Hanya cantik?"

​Keith menoleh, menyadari keberadaan putranya yang masih cemberut.

"Kenapa kamu masih di sini? Bukankah sudah aku bilang, tidak ada tempat untukmu di pesta nanti."

​"Aku memang sudah mau pergi," jawab Lucian ketus.

"Tapi Daddy harus janji, jaga Mami baik-baik. Jangan sampai Mami kelelahan."

​Keith menatap Lucian dengan tatapan tajam, lalu perlahan tatapannya melembut. Ia berjalan mendekat dan menepuk bahu putranya dengan tegas.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Lucian. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang, pergilah ke kamarmu. Belajarlah yang benar, atau Daniel akan datang mencari mu untuk main game lagi."

​"Dia sudah di bawah," sahut Lucian.

"Kami sudah janji mau latihan soal persiapan ujian."

​"Bagus," jawab Keith singkat.

​Lucian menatap Jeslyn sekali lagi, lalu menatap Keith dengan sorot mata yang penuh tantangan.

"Jangan lupa, Daddy. Mami punya janji untuk meneleponku kalau dia merasa tidak nyaman."

​Keith hanya tersenyum tipis. "Ya, ya. Sekarang pergilah."

​Setelah Lucian keluar dari kamar dengan langkah yang masih enggan, Keith berjalan mendekati Jeslyn yang sudah berdiri. Ia memeluk pinggang istrinya dengan posesif.

"Dia benar-benar anak yang menyebalkan, bukan?"

​"Dia tidak menyebalkan, dia cuma sayang sama Mami-nya," balas Jeslyn sambil mencubit lengan suaminya.

"Dan kamu, kenapa sih harus melarang dia ikut? Apa salahnya mengajak anak sendiri ke pesta?"

​Keith menunduk, mencium kening Jeslyn dengan lembut. "Aku ingin menikmati malam ini hanya berdua denganmu. Tanpa gangguan, tanpa Lucian yang terus mengawasi setiap gerak-gerikku, dan tanpa harus khawatir kamu sibuk mengurus orang lain. Hanya ada kita malam ini, Jeslyn."

​Jeslyn terdiam. Wajahnya memerah. Pria ini... bisa-bisanya dia bicara semanis itu di depan penata rias!.

​"Kamu... kamu benar-benar pria yang licik," desis Jeslyn, meski ia tidak bisa menahan senyumnya.

​"Hanya untukmu," jawab Keith sambil menarik lengan Jeslyn.

"Ayo, supir sudah menunggu di bawah. Kita tidak ingin terlambat, bukan?"

​Jeslyn melangkah keluar dari kamar dengan anggun, diikuti oleh Keith yang terus memegangi pinggangnya seolah takut Jeslyn akan terbang. Di sepanjang koridor menuju tangga, Jeslyn tidak bisa berhenti memikirkan Lucian. Ia tahu, putranya itu mungkin sedang mengintip dari ujung tangga, memastikan bahwa ayahnya benar-benar memperlakukan Jeslyn dengan baik.

​Lucian, anak itu, pikir Jeslyn. Dia mungkin terlihat dingin di luar, tapi hatinya... hatinya adalah bagian paling hangat yang pernah aku temui di mansion ini.

​Saat mereka menuruni tangga, Jeslyn sempat melirik ke arah ruang tamu. Benar saja, Lucian berdiri di sana bersama Daniel. Lucian menatap mereka dengan tatapan yang sangat intens tatapan seorang anak yang sedang memastikan bahwa wanita yang paling berharga dalam hidupnya berada di tangan yang tepat.

​Jeslyn melambaikan tangannya sedikit kepada Lucian, memberikan senyum terbaiknya. Lucian pun membalas lambaian itu dengan gerakan tangan yang kaku, lalu segera berbalik menghadap Daniel, berpura-pura sibuk dengan tumpukan buku di meja.

​"Lihat," bisik Keith di telinga Jeslyn saat mereka sudah berada di dalam mobil.

"Dia sudah mulai dewasa. Dia tidak akan selalu mengikuti kita ke mana pun kita pergi."

​"Dia hanya sedang belajar untuk melepaskan," jawab Jeslyn pelan.

"Dan itu adalah bagian tersulit dari menjadi orang tua, kan?"

​Jeslyn menatap ke luar jendela mobil yang mulai bergerak meninggalkan mansion. Kota terlihat sangat indah dengan lampu-lampunya yang mulai berpijar. Ia merasa seolah-olah ia baru saja melangkah keluar dari bab terakhir novel yang ia baca, dan sekarang, ia sedang menulis cerita baru, cerita tentang keluarga yang tidak sempurna, namun memiliki cinta yang cukup kuat untuk mengubah takdir mereka sendiri.

​"Oke," bisik Jeslyn, menyandarkan kepalanya di bahu Keith.

"Tapi kalau aku bosan di pesta nanti, jangan salahkan aku kalau aku bakal minta pulang lebih cepat!"

​Keith tertawa. "Deal."

​Malam itu, di pesta yang gemerlap, Keith dan Jeslyn tampil sebagai pasangan yang mencuri perhatian. Namun, bagi Jeslyn, pesta paling menyenangkan bukanlah pesta yang penuh dengan kemewahan dan rekan bisnis, melainkan saat ia bisa kembali ke mansion, disambut oleh Lucian yang cemberut namun penuh perhatian, dan merasakan bahwa ia benar-benar telah menemukan tempat untuk pulang.

Bersambung...

Semoga kalian suka yaa... Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

1
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 33 sampai bab 37
Potatoes 🥔
Bagus Banget,/Kiss/
Fajar Fathur rizky
cepat bikin mcnya bongkar kebusukan hera
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 29 dan bab 33 thor
It's me Ri🥕: Udah ya tunggu beberapa menit lagi, selamat membaca
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
jangan bikin lu cian cinta thor bikin perasaan itu seperti anak yang tidak mau ibunya lebih perhatian kepada ayahnya
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 25 sampai bab 30
It's me Ri🥕: Sebentar ya kak, lagi di cek dan edit lagii🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 16 sampai bab 20
It's me Ri🥕: Sudah di up ya, tunggu sebentar lagi🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
It's me Ri🥕: Aawww🥺 Semoga suka ya kak😘
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin adegan Lucian menganggap mcnya seperti ibu kandungnya sendiri
Fajar Fathur rizky
nanti pas lahiran bikin mcnya jadi model yang terkenal dan cantik bikin banyak yang suka bikin suaminya cemburu
Fajar Fathur rizky
cepat update thor bab 7 sampai bab 11 thor ceritanya seru
It's me Ri🥕: Kak😭 Ini udah di up kok, semoga suka yaa/Kiss/
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
besok bikin 5 bab thor ceritanya seru bikin pas mcnya selesai lahiran bikin dia jadi model yang terkenal dan cantik
Fajar Fathur rizky: biar suaminya cemburu thor mcnya banyak yang naksir hahaha
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!