NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manipulasi Ular

Karyawati senior itu mendadak gelagapan, wajahnya memerah karena taktik finansial Arumi langsung menusuk dompet mereka. "Nggak... nggak ada ketentuan dari Depnaker kalau gaji kami boleh diturunkan secara sepihak ya, Bu! Kalau perusahaan mau pecat kami, bayar pesangonlah sesuai undang-undang! Jangan main ancam!"

"Pesangon?" Arumi menaikkan sebelah alisnya, dentuman sepatunya mendekat dua langkah ke arah kerumunan. "Kalian tahu kenapa lima orang teman kalian itu diskorsing resmi oleh manajemen?"

Lobi mendadak sepi seperti kuburan.

"Teman-teman kalian yang kalian bela mati-matian itu... terbukti memberikan Pak Rangga obat adiktif berbahaya dalam dosis ganda yang bisa merusak jaringan otaknya di kelab malam. Di dalam hukum pidana komersial, tindakan itu sudah masuk kategori percobaan pembunuhan berencana, Ladies," ucap Arumi gamblang, suaranya rendah namun bergaung mengerikan di langit-langit lobi. "Kalian mau ikut diseret juga? Ya jelas mereka diskorsing, karena saat ini kelimanya sedang diperiksa oleh penyidik kepolisian. Jadi bagaimana? Kalian masih mau duduk di sofa ini untuk masuk ke dalam daftar terduga pelaku yang membantu mereka?"

JEDARR!

Semua wanita di lobi itu terbungkam kaku dengan wajah pias pucat pasi seperti mayat. Informasi tentang "percobaan pembunuhan" dan "polisi" sama sekali tidak ada di dalam skenario orasi yang dicekokkan oleh atasan mereka.

"K-kita... kita nggak tahu kalau soal obat itu, Bu..." gumam salah satu sekretaris junior dengan bibir bergetar ketakutan, tameng kesombongan mereka runtuh total dalam satu kali hantaman logika hukum dari Arumi.

Belum sempat para sekretaris junior itu menjawab, terdengar bunyi ting nyaring dari arah lift eksklusif manajemen. Pintu lift terbuka, dan sosok Bintang Dirgahayu melangkah keluar dengan setelan blazer merah menyalanya yang mencolok. Rupanya, petugas operator lobi diam-diam sudah melaporkan kedatangan seorang wanita bernama Arumi yang ingin menemui Pak Rangga.

Di dalam kepalanya, Bintang langsung menghubungkan titik-titik kejadian. “Arumi ke sini pasti mau menuntut ganti rugi atau meributkan kasus kecelakaan suaminya,” batin Bintang. Ia belum tahu sama sekali bahwa status hukum Arumi saat ini adalah calon istri sah dari bosnya.

Bintang melangkah setengah berlari mendekati Arumi. Alih-alih melabrak dengan makian, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat ramah, polos, dan penuh keprihatinan palsu. Ia langsung menyergap Arumi, melakukan cipika-cipiki secara sepihak dengan gestur yang sangat akrab.

"Ya ampun, Arumiiii! Lama banget ya kita nggak ketemu! Makin cantik aja kamu, sehat kamu, Say?" sapa Bintang dengan nada suara yang ceria, renyah, dan merayu—persis seperti gaya sales kartu kredit yang sedang mengejar target bulanan

Tanpa menunggu jawaban Arumi, Bintang langsung memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Aku turut berduka cita ya mengenai meninggalnya suamimu. Nggak nyangka banget, padahal kami baru aja ketemu di reuni kampus kemarin loh! Kamu kok kemarin nggak datang waktu reuni? Ih, padahal kita bagi-bagi doorprize liburan mewah looh!"

Arumi hanya berdiri mematung, tubuhnya kaku menerima pelukan sok akrab itu. Mata sendunya menatap lempeng ke arah Bintang. "Aku sehat, Bintang. Aku ke sini mau ketemu Rangga."

Mendengar nama Rangga disebut tanpa gelar 'Pak', senyum di wajah Bintang sempat berkedut sesaat. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah satu senti ke belakang, lalu berbicara dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar menggema di seluruh penjuru lobi yang luas itu. Ia ingin menguasai panggung sepenuhnya.

"Wah... kamu belum bikin janji dulu ya, Rum? Aduh, maaf banget ya, kalau mau ketemu Pak Rangga itu harus konfirmasi jadwal dulu ke aku loh. Aku kan Kepala Sekretarisnya di sini," ucap Bintang lantang, memamerkan otoritas jabatannya di depan para karyawan lain.

Arumi menaikkan sebelah alisnya. "Katanya dia, kalau aku mau datang, aku tinggal datang saja."

"Oh ya? Kok aku sebagai sekretaris pribadinya malah nggak tahu?" Bintang tertawa kecil, menutup mulutnya dengan gaya yang sangat anggun tapi meremehkan. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sinis saat ia menatap tas desainer dan berlian di jemari Arumi. "Jangan-jangan... kamu ke sini sengaja mau minta... tunjangan darurat?"

Bintang memajukan tubuhnya, berbisik namun suaranya tetap terdengar oleh barisan karyawan di sofa. "Jangan gitu dong, Arumi sayang... yang namanya 'kecelakaan' itu bisa kejadian ke siapa saja di jalanan loh. Belum tentu juga Pak Rangga yang salah. Kamu jangan jadikan Pak Rangga sebagai ATM berjalan dong, gara-gara suamimu keserempet mobil beliau."

Bintang berbalik, menatap para sekretaris junior yang tadi sempat disudutkan oleh Arumi. "Yang namanya eksekutif muda kaya raya, ya biasa lah kalau malamnya main-main di kelab malam buat refreshing. Eh, malah dituduh kami-kami ini yang kasih obat terlarang. Padahal bisa jadi dia sendiri yang emang mau 'ngobat' malam itu, ya kan? Biasalah... kami karyawan bawah ini selalu ditindas dan dijadikan kambing hitam oleh Bos kalau beliau ada masalah."

BOOM!

Hasutan manis dari Bintang langsung menyulut kembali sumbu amarah para karyawati di lobi. Narasi "percobaan pembunuhan" yang tadi dibawa Arumi langsung mentah seketika akibat akting polos Bintang. Karyawati senior yang tadi sempat gelagapan kini kembali berdiri dengan emosi yang berkali-kali lipat lebih besar.

"Ohhh! Jadi gitu masalah aslinya?!" seru karyawati senior itu, menunjuk hidung Arumi dengan kasar. "Gara-gara Pak Rangga nabrak orang karena lalai menyetir sendiri pas teler, terus kami karyawan bawah yang dikorbankan dan dijadikan kambing hitam biar nama beliau bersih di bursa saham?! Wah... parah sih ini!"

Beberapa sekretaris junior ikut berdiri, menatap Arumi dengan pandangan menghina. "Gimana sih, Bu? Kan korbannya itu suamimu sendiri loh! Kok situ malah datang ke sini rapi banget dan belain Pak Rangga? Oh... jangan-jangan situ udah belain Pak Rangga gara-gara dikasih duit duka yang banyak ya? Heleh... heleh... ternyata ada maunyaaa! Pantas aja berliannya segede gaban gitu, hasil jual nyawa suami sendiri ternyata!"

Lobi Red-Desmont Investment mendadak riuh oleh sorakan ejekan. Bintang berdiri di tengah-tengah mereka, melipat tangan di dada sambil melemparkan senyum kemenangan yang sangat tipis ke arah Arumi. Bagi Bintang, Arumi tetaplah wanita polos yang mudah ditumbangkan lewat opini massa. Namun, ia tidak tahu... Arumi hanya sedang diam mengumpulkan seluruh energi untuk meledak.

Arumi menyeringai tipis, sepasang matanya menatap lempeng ke arah Bintang yang saat ini nampak begitu totalitas berakting bak aktris pemenang piala Grammy di tengah kerumunan lobi.

Tanpa membiarkan sorakan ejekan para karyawan meluas, Arumi langsung menimpali dengan suara jernih yang sengaja dibuat santai.

"Yah... setidaknya Rangga tidak pernah menggoda suamiku dengan pesan WhatsApp centil berbunyi 'Pak, saya kangen' seperti yang kamu lakukan, Bintang," ujar Arumi lempeng, memotong semua kebisingan. Ia menunjukkan layar ponsel pintarnya ke udara, memperlihatkan gambar tangkapan layar chat lama itu dengan sangat jelas. "Aku bahkan masih menyimpan rapi screenshot pesan murahanmu itu, hihihihi."

Senyum ramah di wajah Bintang mendadak membeku, matanya melotot menatap gambar di layar ponsel Arumi.

Ia pikir ia sudah hapus semuanya.

Ia pikir bukti keterlibatannya tak akan ada

Ia pikir, bisa terbebas tanpa beban dari semua kondisi ini.

Namun yang Bintang tidak bisa pikirkan, adalah Rencana Tuhan yang bisa membolak-balikan hati manusia.

"Bagaimana perasaan kamu, Bintang, saat mendengar kabar kalau keesokan harinya suamiku meninggal secara mengenaskan karena terlindas truk?" Arumi melangkah satu benci lebih dekat, mengunci manik mata Bintang dengan tatapan dinginnya. "Tiga bulan penuh aku menangis sampai air mataku rasanya kering. Dan untung saja... ada Rangga yang berhati besar, yang mau bertanggung jawab penuh terhadap isi perut kami dan menjamin seluruh biaya pendidikan anak-anakku ke depan."

Arumi menjeda kalimatnya, sengaja mengedarkan pandangan ke arah semua manusia yang mulai nampak gelisah dan saling lirik di sofa lobi.

"Oh ya, ngomong-ngomong... kabar dari tim IT internal katanya rekaman CCTV di Oscar Club malam itu sudah berhasil dipulihkan total oleh kepolisian," lanjut Arumi dengan nada memancing. "Terus, katanya sistem mendeteksi ada orang dalam yang sengaja mengubah hak akses masuk tamu. Yang seharusnya nama Tony yang mendampingi Pak Rangga, mendadak dialihkan menjadi lima orang sekretaris junior ini. Kamu tahu siapa orangnya, Bintang? Kamu kan termasuk jajaran senior paling berkuasa di divisi Corsec ini, pasti tahu dong siapa oknum yang bertindak mengatur dan mengotak-atik jadwal privasi Bos Besar?"

Dipancing secara brutal di depan umum seperti itu, Bintang merasa jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia tahu nasib dan reputasinya saat ini sedang berada di ujung tanduk. Namun, insting manipulatifnya menolak untuk tumbang. Mengingat kelima sekretaris junior itu sudah ia bungkam dan sogok dengan sejumlah uang raksasa agar tetap tutup mulut, Bintang memaksakan bibirnya untuk tersenyum—sebuah senyuman sinis yang sarat akan kebencian yang mendidih.

"Itu kan murni urusan administrasi Tony, Rum," jawab Bintang dengan suara ketus, mencoba melempar kambing hitam baru. "Sejak posisi Direktur Utama dipegang oleh Pak Rangga, tim Corsec kami sudah tidak pernah lagi ikut campur di urusan pengaturan jadwal privat Bos. Jangan asal tuduh tanpa dasar."

Arumi justru tertawa kecil, suara tawa meremehkan yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Bintang. "Ooooh... ternyata kamu sekarang tidak sehebat iklanmu diawal ya, Bintang? Tony lagi, Tony lagi yang disalahkan. Wah, nggak sesuai dong sama reputasi kamu yang katanya sanggup mengendalikan seisi kantor ini? Hihi."

Topeng polos Bintang retak total. Rahangnya mengeras dengan dada naik turun menahan amarah yang hampir meledak, tanpa tahu kalau di atas sana, melalui CCTV, Rangga sedang menyaksikan setiap jengkal perubahan ekspresi wajahnya dengan senyuman predator yang sangat puas.

“Calon Istri saya itu bukan wanita biasa seperti tampilannya. Kalau dia diserang, dia akan membalas sepuluh kali lipat. Pantas saja almarhum Mas Ary dulu bisa terpikat,” gumam Rangga kepada Tony saat menyaksikan ketangguhan Arumi dari balik layar monitor CCTV ruang atas.

Tony melirik bosnya dengan tatapan tegang sekaligus heran. “Jadi... Bapak juga sekarang mulai terpikat? Dih...”

Rangga hanya berdecak kesal, buru-buru menepis dugaan asistennya. “Saya anggap dia kakak perempuan yang ketemu gede, Tony. Sudahlah.”

Pria muda itu berbalik, melangkah tegas menuju lift pribadi. Waktunya untuk memulai babak sandiwara selanjutnya.

“Pak, kelima sekretaris junior yang bermasalah itu sudah berada di dalam ruangan HRD. Mereka sedang menunggu keputusan final dari kita,” lapor Tony mengekor di belakang.

Rangga merogoh saku jasnya, mengeluarkan botol kecil lalu menegak obat anti-depresannya tanpa air, mencoba menekan trauma masa kecilnya sebelum turun ke lobi yang penuh wanita. “Kita temui mereka setelah kita selesai ngerjain Bintang. Bawa Mbak Arumi juga masuk ke ruangan HRD nanti.”

Dahi Tony mengernyit dalam. “Bu Arumi juga harus ikut masuk?”

Rangga mengangguk pasti. “Kamu lihat bagaimana caranya menghadapi sekumpulan ‘Hyena’ di lobby? Saya butuh dia buat tameng. Lagipula, harga berlian di cincinnya itu dua miliar lebih, dia harus kerja keras sedikit untuk imbalan semahal itu.”

Tony mencebikkan bibirnya, geleng-geleng kepala mendengar kalkulasi bosnya. “Cuan lagi, cuan lagi yang ada di otaknya. Pasrah deh gue.”

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!