NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:974
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden memaksa Alex untuk membuka matanya.

Seketika, rasa pening yang teramat sangat menghantam kepalanya—efek dari alkohol yang ia tenggak semalaman.

Ia memegangi dahinya yang berdenyut-denyut sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Alex mengernyit. Ini bukan kamar kontrakannya yang sempit bersama Mira, melainkan kamar lamanya di rumah orang tuanya.

Sambil meringis menahan pusing, ia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan dengan langkah gontai menuju ke ruang makan untuk mencari air minum. Namun sesampainya di sana, langkahnya terhenti saat melihat ada Sisil dan Dimas yang sedang duduk di meja makan.

"Kamu kenapa, Lex? Muka kamu kusut banget begitu," tanya Sisil yang sedang menikmati teh hangatnya, menatap sang kakak dengan dahi berkerut.

Alex hanya menggelengkan kepalanya lemah, tidak punya energi untuk menjawab.

Ia langsung meraih teko dan menuangkan air putih ke gelasnya.

"Mabuk dia, Mbak," sahut Dimas dengan nada menyindir yang ketus.

"Semalam aku yang menjemputnya di diskotik gara-gara ditelepon sama orang sana. Bikin malu saja."

Alex menghela napas panjang, lalu mendudukkan dirinya di kursi kosong.

Mengabaikan omelan Dimas, ia menatap Sisil dengan tatapan kosong.

"Kemarin... Afrain dan Lani datang ke perusahaannya Pak Firman."

Mendengar nama mantan suaminya disebut, Sisil seketika membelalakkan matanya bulat-bulat.

Ia meletakkan cangkirnya dengan kasar. "Jadi benar kan apa yang aku katakan? Lelaki tampan itu sekarang sudah kaya raya?" tanya Sisil memastikan, dadanya bergemuruh mendengar kesuksesan Afrain.

Alex hanya menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan bahwa pria yang dulu disia-siakan oleh Sisil kini telah bertransformasi menjadi bos besar yang sangat berkuasa dan disegani.

Sisil langsung bangkit dari duduknya dengan mata yang berbinar penuh ambisi.

Rasa sesal sekaligus keserakahan seketika memenuhi benaknya.

Ia tidak peduli lagi dengan sarapannya. Pikirannya langsung menyusun rencana untuk menuju ke perusahaan Afrain hari ini juga.

Sisil tersenyum percaya diri. Ia sangat yakin bahwa di dalam hati Afrain yang terdalam, pria itu pasti masih mencintainya dan mau rujuk dengannya jika ia datang memohon kembali.

Sementara itu di rumah, suasana pagi terasa begitu tenang.

Lani sudah tampil rapi dengan pakaian kerja yang anggun dan profesional, siap untuk menjalani hari keduanya di kantor.

Setelah memastikan penampilannya sempurna di cermin, ia melangkah menuju kamar Afrain.

Tok tok tok...

"Mas, ayo kita berangkat," panggil Lani dengan nada suara yang ceria.

Tok tok tok...

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar Afrain, calon suaminya. Lani mengernyitkan dahi.

Biasanya, Afrain adalah tipe pria yang sangat disiplin dan selalu bangun lebih awal darinya. Perasaan cemas mendadak menyergap hati Lani.

"Mas, aku masuk ya?" izin Lani dengan ragu.

Ceklek!

Lani memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan.

Begitu melangkah masuk, ia terenyak melihat Afrain masih terbaring di balik selimut tebalnya.

Wajah pria berwibawa itu tampak sangat merah seperti kepiting rebus, dan napasnya terdengar berat serta memburu.

Lani segera mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Afrain.

"Astaghfirullah, Mas! Kamu demam tinggi banget!" seru Lani panik begitu merasakan suhu tubuh Afrain yang sangat panas.

Afrain membuka matanya yang sayu dengan susah payah, lalu menganggukkan kepalanya lemah. Tubuhnya terasa remuk dan menggigil.

"Pasti gara-gara semalam kita di angkringan, Mas, jadi kamu masuk angin begini. Kamu kan tidak bisa kena angin malam lama-lama," omel Lani dengan raut wajah yang dipenuhi rasa khawatir sekaligus bersalah.

Jika bukan karena dirinya yang kelaparan semalam, Afrain pasti tidak akan jatuh sakit seperti ini.

Melihat kondisi sang calon suami yang tidak berdaya, Lani melupakan sejenak urusan pekerjaan.

Ia melepaskan sepatu kerjanya, meletakkan tasnya di kursi, dan segera berlari menuju ke dapur.

Lani bergerak dengan cekatan. Ia menghidupkan kompor untuk membuat segelas jahe hangat guna meredakan gigilan di tubuh Afrain.

Sembari menunggu air jahe mendidih, ia memotong sayuran dan daging ayam di atas telenan, berencana memasak sup makaroni ayam hangat yang segar agar bisa mengisi perut Afrain sebelum pria itu meminum obat.

Mbok Mar yang baru saja selesai menyapu halaman belakang berjalan menuju dapur.

Ia terkejut melihat Lani yang sudah berpakaian rapi namun sibuk memotong sayuran dengan cekatan di depan kompor.

"Lho, Mbak Lani, kok malah masak? Nggak berangkat kerja?" tanya Mbok Mar kebingungan.

Lani menoleh sekilas sambil mengaduk sup makaroni yang sudah mulai mendidih.

"Mas Afrain sedang sakit, Mbok. Badannya demam tinggi sekali, jadi saya buatkan sup hangat dan wedang jahe dulu sebelum minum obat," jawab Lani dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan.

"Oalah, pantesan tadi kok ndak kelihatan keluar kamar. Ya sudah, biar Mbok bantu beres-beres dapurnya ya, Mbak," ucap Mbok Mar yang langsung dibalas anggukan terima kasih oleh Lani.

Setelah semuanya matang, Lani menata mangkuk sup makaroni ayam yang mengepul segar dan segelas jahe hangat di atas baki kayu.

Tak lupa, ia juga membawa obat penurun panas yang ia temukan di kotak P3K.

Dengan langkah hati-hati, Lani membawa nampan tersebut dan menuju ke kamar Afrain.

Ceklek.

Lani mendorong pintu kamar dengan siku tangannya.

Ia meletakkan nampan itu di atas meja nakas di samping tempat tidur, lalu duduk di tepi kasur.

"Mas, ayo makan dulu, setelah itu minum obat," ucap Lani dengan suara yang sangat lembut, sambil mengelus lengan Afrain perlahan.

Mengarahkan pandangannya yang sayu ke arah Lani, Afrain membuka matanya dan duduk bersandar pada kepala ranjang dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

Aroma gurih sup buatan Lani seketika menyeruak, membuat perutnya yang terasa mual akibat demam menjadi sedikit lebih nyaman.

Lani mengambil mangkuk sup makaroni ayam yang masih mengepul, lalu meniupnya perlahan sebelum mengarahkannya ke bibir Afrain.

Dengan penuh kesabaran, Lani menyuapi Afrain sesendok demi sesendok.

Afrain mengunyahnya dengan lambat, namun sedetik kemudian ia merengutkan wajahnya dengan manja.

"Tidak ada rasanya, Lan," ucap Afrain lemas, lidahnya terasa pahit karena efek demam tinggi.

"Masa sih, Mas? Ini padahal bumbunya sudah pas kok, tadi sudah aku cicipi di dapur," sahut Lani heran, menatap mangkuk supnya dengan dahi berkerut.

Afrain tidak menjawab. Ia malah menatap Lani dengan binar mata yang mendadak berubah jahil meskipun wajahnya masih pucat.

"Kemarilah," bisik Afrain serak.

Lani yang polos pun memajukan tubuhnya sedikit, mengira Afrain ingin membisikkan sesuatu yang penting.

Cup.

Tanpa diduga, Afrain mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencium kening calon istrinya itu dengan lembut.

Sentuhan bibir Afrain yang panas karena demam terasa begitu nyata di kulit Lani, membuat jantung Lani mendadak berdegup kencang.

Afrain perlahan menjauhkan wajahnya, lalu mengulas senyum tipis yang sangat manis.

"Nah, sekarang baru ada rasanya. Manis," goda Afrain dengan suara parau.

Wajah Lani seketika merona merah hingga ke telinga. Ia langsung memukul pelan lengan Afrain dengan gemas.

"Mas Afrain! Lagi sakit begini masih saja sempat-sempatnya gombal!" omel Lani sambil menyembunyikan senyum malunya, membuat suasana kamar yang semula tegang karena cemas berubah menjadi sangat hangat.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!