NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam

Menembus Lorong Bawah Tanah

Pintu jati berukir naga hitam di aula utama roboh menghantam lantai batu dengan dentuman keras. Asap hitam dan debu tebal membumbung tinggi, menyelimuti pandangan pasukan gabungan. Cassian melangkah paling depan dengan pedang esnya yang melayang memancarkan pendar biru dingin, menyibak kegelapan yang pekat di dalam lorong bawah tanah Benteng Obsidian.

Di belakang Cassian, Aurelia berjalan berdampingan dengan Panglima Kaelen. Cahaya keemasan dari tongkat sihir Mawar Emas milik Aurelia menjadi satu-satunya penerang di tengah labirin batu yang sempit dan berliku. Dinding-dinding lorong terbuat dari batu basalt hitam yang terukir simbol-simbol sihir terlarang, memancarkan bau tengik darah kering dan belerang yang menusuk hidung.

"Hati-hati," bisik Kaelen seraya meraba dinding batu yang dingin. "Struktur lorong ini seperti sengaja dirancang untuk membingungkan dan memecah belah pasukan. Ini adalah Labirin Bayangan."

"Sihir hitam di tempat ini sangat pekat," kata Aurelia, dahi indahnya berkerut menahan dorongan aura jahat yang mencoba menembus pertahanan mentalnya. "Sesuatu yang besar sedang dipersiapkan di kedalaman benteng ini. Lord Malakor tidak sekadar bertahan—ia sedang mengumpulkan pasokan energi sihir jiwa dari seluruh korban Kultus Darah Hitam."

Cassian mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Maka kita tidak boleh membuang waktu. Jika ritual itu selesai, seluruh benua akan runtuh dalam kegelapan."

*•*

*•*

Sergapan Makhluk Bayangan

Saat mereka berbelok di persimpangan lorong ketiga, udara secara mendadak menjadi sangat dingin hingga mengembunkan napas mereka. Bayangan-bayangan di dinding batu mendadak bergerak hidup, terlepas dari permukaan batu dan berubah menjadi sosok-sosok tanpa wajah bermata merah menyala. Puluhan makhluk bayangan melompat menyerang barisan depan pasukan gabungan.

"Bentuk barisan bertahan!" perintah Cassian nyaring.

Dengan kecepatan kilat, Cassian memutar pedang besarnya, menciptakan lingkaran badai es yang membekukan dan menghancurkan lima makhluk bayangan sekaligus. Kaelen melompat melintasi Cassian, tombak kembar emasnya berkilat-kilat menebas leher musuh dengan presisi mematikan. Namun, setiap kali satu makhluk bayangan hancur, dua makhluk baru bermunculan dari kegelapan dinding lorong.

"Mereka tidak bisa mati dengan serangan fisik biasa!" seru Kaelen terengah-engah seraya menahan cakar bayangan yang hampir merobok armor dadanya.

"Biar aku yang memutus sumber sihir mereka!" teriak Aurelia. Ia mengangkat tinggi tongkat sihirnya, memusatkan fokus inti energinya. Mawar Emas Pemurni: Suci dan Abadi! Cahaya keemasan merekah bagaikan Bunga Mawar raksasa di tengah lorong. Gelombang cahaya itu menyapu seluruh lorong, membakar habis makhluk-makhluk bayangan hingga hancur menjadi debu putih.

*•*

*•*

Kamar Rahasia Kultus

Setelah melintasi pertempuran yang melelahkan, mereka tiba di sebuah pintu besi raksasa yang terkunci rapat dengan tiga gembok sihir berbentuk tengkorak. Aurelia melangkah maju, menyentuhkan telapak tangannya pada gembok tersebut dan mengalirkan sihir Mawar Emas untuk melelelkan mantra penguncinya.

Pintu besi terbuka perlahan dengan derit yang memecah kesunyian. Di dalam ruangan raksasa tersebut, terdapat ruang arsip rahasia Kultus Darah Hitam. Ribuan gulungan papirus kuno dan buku-buku bersampul kulit hitam tertata di rak-rak batu yang tinggi.

Cassian mendekati sebuah meja batu di tengah ruangan. Di atasnya terbentang sebuah peta kuno yang menggambarkan seluruh benua, lengkap dengan titik-titik meridian energi bumi yang telah ditandai dengan warna merah darah. Di samping peta tersebut, terdapat sebuah catatan rahasia karangan Komandan Nyx.

"Lihat ini," kata Cassian seraya mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan cermat. Matanya membelalak kaget. "Lord Malakor bukan hanya ingin menguasai Kerajaan Oakhaven dan Varencia... Ia berniat mengorbankan seluruh jiwa penghuni benteng ini untuk membangkitkan Raja Iblis Kuno yang tersegel di dalam inti bumi!"

Aurelia menutup mulutnya dengan tangan, terkejut luar biasa. "Raja Iblis Kuno... Jadi semua serangan dan pertempuran ini hanyalah bagian dari rencana awal untuk mengumpulkan aliran darah dan jiwa di Lembah Obsidian?"

"Benar," sahut Kaelen dengan wajah pucat. "Setiap prajurit yang tewas di medan perang hari ini—baik pihak kita maupun pihak musuh—jiwa mereka terserap ke dalam altar utama Lord Malakor."

*•*

*•*

Tekad Menuju Ruang Altar Utama

Kenyataan kelam itu menghantam dada mereka dengan sangat berat. Namun, alih-alih meruntuhkan semangat, penemuan ini justru membakar tekad Cassian dan Aurelia untuk menghentikan kegilaan Lord Malakor secepat mungkin.

"Kita telah melangkah terlalu jauh untuk menyerah sekarang," tegas Cassian, matanya memancarkan keberanian yang tak tertandingi. Ia menggenggam erat tangan Aurelia, menyalurkan kehangatan dan kekuatan di tengah ruang bawah tanah yang dingin.

"Kita akan menghancurkan altar utama itu dan menyelamatkan semua orang," ujar Aurelia mantap, membalas genggaman tangan suaminya. "Apapun rintangan yang menunggu di depan, kita akan menghadapinya bersama."

Dengan petunjuk jalan dari peta rahasia yang baru mereka temukan, Cassian, Aurelia, dan Panglima Kaelen memimpin sisa prajurit terbaik mereka menerobos lorong terakhir menuju Ruang Altar Utama. Waktu semakin memburu mereka, mempercepat langkah takdir yang kian dekat.

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!