Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
"Felix!!"
Panggilan dari ibu Felix langsung merubah mimik wajahnya.
Dia lantas menoleh.
"Mamah-kan sudah bilang berkali-kali padamu! Jauhi Violet, kenapa kamu masih berusaha untuk mendekatinya?"
Wajah Sandra merah padam saat menatap putranya, bahkan kekecewaan juga terlihat jelas.
Sementara Yohan nampak tersenyum senang, dialah yang mengirimkan pesan pada ibunya Felix agar membuat putranya itu sadar.
Felix pun mendapatkan beberapa siraman kalbu dipagi hari oleh ibunya, sementara Yohan diam-diam kembali masuk ke dalam UKS.
Sementara Felix menatap punggung Yohan dengan kedua tangan terkepal.
"Kamu bisa diam gak! Aku sudah gak butuh anak itu lagi, aku hanya ingin Vio kembali ke sisiku," kata Felix, wajahnya terlihat marah.
Dia sudah berusaha bersabar, tapi lama- kelamaan, Felix merasa jika ibu tirinya itu jauh lebih menyebalkan dari ayahnya.
Hal itu sedikit membuat Sandra merasa takut, karena selama ini anaknya memang tidak pernah dekat dengannya.
Beberapa waktu lalu, dia bisa mengancam Felix. Tapi sekarang, sepertinya sangat sulit.
"Felix, mamah melakukan ini karena peduli padamu dan juga anakmu! Percayalah pada mamah, nanti Violet pasti akan kembali padamu kalau kamu menggunakan anak itu untuk mengancamnya," kata Sandra, dia berbicara dengan nada yang lebih lembut.
"Tapi untuk sementara waktu, mamah mohon! Bantu ayahmu dengan menikahi Marina, agar fondasi keluarga kita lebih kuat. Dan kita bisa menggeser Romeo dari pewaris utama keluarga Handoyo."
Saat tangannya memegang bahu Felix.
Dengan gerakan yang terlihat kasar, Felix langsung menepisnya.
"Kembali?" Kata Felix sarkas. Lalu dia menambahkan, "Violet itu bukan orang bodoh. Jika dia sudah tidak mencintaiku, dia pasti juga akan meninggalkan anak itu."
"Menjadikan bayi itu ancaman?" ucap Felix lagi sebelum pergi.
Dia sangat emosi apalagi malah melihat orang yang selalu mengaku menjadi ibunya.
Kedua tangan Sandra terkepal.
"Kalau bukan karena ingin mendekati Romeo, aku gak mungkin mau jadi ibumu setelah kakakku meninggal!" gumam Sandra dalam hatinya dengan wajah merah padam.
Sandra berasal dari desa, dia pergi ke kota karena melihat kehidupan kakaknya yang berubah mapan.
Bahkan saat ikut ke kota, dia melihat Romeo dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria itu.
Tapi sayang, kakaknya malah meninggal dunia dan dia dipaksa oleh keluarganya untuk menikah dengan ayah Felix.
Istilahnya ayah Felix turun ranjang, bahkan setiap malam harus memuaskan hasrat ayah Felix yang sudah lumayan berumur itu.
Kalau teringat hal itu Sandra rasanya ingin muntah.
Apalagi harus mengurus keponakannya yang playboy dan susah diatur.
Sandra merasa tertekan.
Dia mengambil ponselnya, lalu memilih untuk menghubungi suaminya.
Tapi sayang, lagi dan lagi yang mengangkat seorang wanita dari ujung telepon.
"Aku ingin bicara dengan suamiku," ucap Sandra dari balik telepon.
"Sayang, ada istrimu yang ingin bicara denganmu," ucap wanita itu.
"Apa? Istri ...?" Celetuk Samuel.
"Apakah aku bisa minta waktumu sebentar?" tanya Sandra, suara terlihat datar plus malas.
"Maaf Sandra ... Aku janji ini yang terakhir, para gadis muda itu terus menggangguku!" kilah Samuel, ucapannya sungguh membuat Sandra ingin muntah.
Sandra yang malah diam dari balik telepon, membuat Samuel merasa tidak sabar.
"Aku punya banyak waktu, tumben kamu meneleponku?" kata Samuel antusias.
Dia memang sangat mencintai Sandra, dia berselingkuh niat awal ingin melampiaskan tatapan kebencian yang diberikan Sandra terhadapnya.
Dan alasan lain ingin membuat Sandra cemburu, tapi Sandra terlihat tidak peduli pada dirinya.
"Anakmu disekolah mengabaikan Marina, dia malah berniat mengejar Violet lagi," ucap Sandra.
"Apa?" Samuel terkejut. "Kok bisa .... Bukankah Violet?"
Dengan nada kesal Sandra berkat, "yang penting aku sudah memberitahumu situasi yang sebenarnya terjadi. Menjauhkan Felix dari Violet bukanlah tugasku lagi!"
Tanpa menunggu Samuel, Sandra langsung mengakhiri panggilan telepon.
Tangan Sandra meremas ponsel yang ada ditangannya.
"Aku gak bisa hidup begini terus!" gumam Sandra, dia pun memiliki satu ide.
"Sandra, apakah kita perlu pergi ke ruang guru?" tanya teman Sandra.
"Gak perlu, sekarang yang perlu kita lakukan pergi ke kediaman Romeo!" Kilah Sandra.
Mengingat selama ini Romeo lumpuh dan hanya berdiam diri dirumah saja.
Dia bisa bebas keluar masuk rumah utama karena dia adalah istri dari Samuel yang juga cucu kandung dari nenek Amarta.
Jovan pun berkata dengan nada cemas, "terus Felix gimana? Kalau dia malah mengejar Violet dan gagal bertunangan dengan Marina, suamimu nanti tidak jadi pewaris utama."
"Sekarang aku sudah gak peduli lagi! Kerjaan Samuel saja setiap hari hanya tidur dengan para gadis, mau dia jadi pewaris utama atau gak itu bukan menjadi urusanku lagi," sahut Sandra.
Jovan melihat ke arah sahabatnya dengan tatapan penuh arti.
"Oke."
Keduanya pun meninggalkan SMA Taruna.
Padahal awalnya Sandra menelpon Samuel karena ingin meminta pria itu datang ke sekolah untuk memberikan ancaman pada putranya.
Karena Sandra tahu, tanpa suaminya Felix tidak akan pernah menuruti perkataannya.
Bahkan keponakannya itu menganggapnya musuh.
Tapi sekarang, Sandra sudah tidak peduli lagi.
Yang dia inginkan selama ini hanya Romeo. Dia akan membuat nenek Amarta menikahkan dirinya dengan Romeo.
.....
Di UKS.
Violet memegang dadanya, merasakan jantungnya sekarang ini berdetak tak karuan.
Bayang-bayang Felix saat ketakutan didepan Marina semakin menghancurkan hatinya.
"Kenapa setelah banyaknya luka yang kamu berikan padaku? Aku masih saja berharap padamu," gumam Violet dengan air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.
Dia merasa, jika sekarang ini masih merasa tersakiti dengan perbuatan Felix.
Itu berarti dia masih berharap pada pria itu.
Faktanya memang Felix orang yang menjadi cinta pertamanya.
Saat sedang menangis sesenggukan, tiba- tiba ada orang yang menyodorkan sapu tangan didepannya.
"Yohan," kata Violet masih terisak.
"Buat apa kamu menangis laki-laki itu?" tanya Yohan dengan nada datar.
Namun ucapan Yohan mampu menampar kedua pipi Violet.
"Aku ... " Violet menatap Yohan yang sekarang ini menatapnya dengan intens.
"Vio ... Lihatlah aku!" Yohan nampak memegang kedua bahu Violet, meminta gadis itu untuk menatap ke dalam bola matanya.
Keduanya pun saling tatap.
"Apakah kamu gak mengenaliku?" tanya Yohan.
Dibalik mata biru milik Yohan, Violet memang merasa jika Yohan bukanlah sosok yang asing.
"Aku adalah O ... " Ucapan Yohan terhenti saat Romeo masuk ke dalam UKS dengan didorong seseorang.
Kedua bola mata Yohan menyipit, saat melihat kedatangan Romeo ditempat ini.
Keduanya sempat saling tatap.
Tapi Romeo buru-buru memalingkan pandangannya ke arah Violet.
"Apa yang terjadi?" tanya Romeo pada Violet.
Sementara Violet sendiri malah langsung menundukkan wajahnya.
Sorot mata Violet memancar kecemasan ketika Romeo, dengan wajah tampannya yang tidak terhalang oleh kursi rodanya, mendekatinya di dalam ruang UKS.
Kedua bola mata Violet bisa melihat dengan sangat jelas, dari balik celah pintu yang belum tertutup sempura.
Jika para siswa-siswi lain yang berada di koridor terlihat begitu ramai, mata mereka tertuju pada sosok Romeo yang berada didalam UKS.