Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Laboratorium Rahasia dan Bayangan Organisasi Hitam
Tangga menuju lantai dua terasa jauh lebih sempit daripada yang diingat Arga. Setiap anak tangga yang diinjak memantulkan gema pelan ke seluruh bangunan, seolah laboratorium tua itu sedang menarik napas sebelum kembali menumpahkan mimpi buruk berikutnya. Ia memang belum melihat musuhnya secara langsung, tetapi tiga geraman yang saling bersahutan dari lantai atas sudah cukup membuktikan satu hal yang paling tidak ingin ia percayai.
"Krrrgh..."
"Graaa..."
"Rraaagh..."
Arga menghentikan langkah tepat sebelum kepalanya melewati bibir lantai dua. Pengalaman bertahan hidup selama sepuluh tahun memaksanya menahan diri untuk tidak gegabah. Penyintas bodoh selalu mengandalkan mata lebih dahulu, sedangkan penyintas yang mampu hidup cukup lama belajar menggunakan telinga, hidung, dan kesabaran sebelum mengambil keputusan.
Aroma busuk di lantai atas terasa jauh lebih pekat dibandingkan lantai bawah. Di sela-sela bau darah yang mengering dan cairan kimia yang memenuhi udara, ia menangkap suara langkah terseret dari tiga arah berbeda. Ketiga sumber suara itu tidak bergerak bersama, melainkan berkeliaran tanpa pola di sepanjang koridor laboratorium, membuat suasana semakin mencekam.
Perlahan Arga mengintip dari balik dinding. Koridor sepanjang hampir dua puluh meter itu dipenuhi pintu laboratorium yang sebagian terbuka, sementara meja besi yang terguling, lemari arsip yang roboh, dan pecahan kaca yang memantulkan cahaya matahari menciptakan pemandangan bak medan perang. Tepat di tengah lorong berdiri tiga sosok yang masih mengenakan pakaian terakhir mereka sebelum berubah menjadi monster.
Seorang pria bertubuh tinggi masih memakai jas laboratorium yang kini dipenuhi noda darah. Di sampingnya berdiri seorang wanita berpakaian petugas kebersihan yang masih menggenggam gagang pel panjang berlumuran darah, sementara sosok terakhir adalah seorang petugas keamanan muda dengan separuh wajah yang telah terkoyak hingga tulang pipinya terlihat jelas. Ketiganya bergerak perlahan tanpa tujuan hingga, hampir bersamaan, kepala mereka berputar ke arah Arga.
"GRRAAAHHH!"
Tiga zombie itu langsung berlari bersamaan begitu menemukan mangsa. Namun Arga tidak menyambut mereka dengan maju menyerang. Ia justru mundur dua langkah sambil mengamati posisi di sekitarnya. Koridor sempit memang menjadi keuntungan bagi gerombolan zombie, tetapi bagi seseorang yang telah bertarung di lorong kereta, gang sempit, bahkan saluran pembuangan selama bertahun-tahun, tempat seperti ini justru merupakan medan ideal untuk memisahkan lawan satu per satu.
Zombie berseragam keamanan menjadi yang paling cepat mencapai dirinya. Saat jarak mereka tinggal sekitar dua meter, Arga segera mendorong lemari arsip yang sejak tadi berada di samping dinding.
Dorong!
Brak!
Lemari besar itu roboh melintang tepat di tengah koridor, memutus jalur dua zombie yang berada di belakang. Zombie wanita dan peneliti menghantam besi keras hingga tubuh mereka terhuyung, sedangkan zombie keamanan berhasil melompatinya seorang diri.
"Itu dia."
Arga menyeringai tipis.
"Satu lawan satu."
Parang di tangan kanannya berputar pendek.
Swish!
Zombie itu mengayunkan lengan kirinya dengan gerakan liar. Arga menundukkan tubuh tepat pada waktunya hingga ujung kuku monster itu hanya mengusap permukaan helm proyek yang dikenakannya.
Tak!
Palu di tangan kirinya menghantam lutut zombie.
Krak!
Tempurung lutut monster itu langsung remuk hingga tubuhnya jatuh berlutut. Sebelum makhluk tersebut sempat mengangkat kepala, parang Arga telah melintas secepat kilat.
Sret!
Kepala zombie terbelah dari pelipis hingga tengkuk.
Bruk!
Tubuhnya roboh tanpa sempat mengeluarkan geraman kedua.
Dari balik lemari yang roboh terdengar benturan bertubi-tubi.
Duk!
Duk!
Duk!
Dua zombie lainnya terus memanjat sambil menggaruk permukaan logam tanpa henti. Jari-jari mereka meninggalkan bekas panjang pada besi, tetapi justru kehilangan keseimbangan karena saling mendorong untuk menjadi yang pertama mencapai mangsa.
Arga memanfaatkan jeda singkat itu untuk mengatur napas. Tubuh mudanya mulai terasa berat meskipun pertarungan barusan hanya berlangsung beberapa detik. Pengalaman tempurnya masih utuh, tetapi kondisi fisiknya jelas belum mampu mengikuti kemampuan yang ia miliki pada kehidupan sebelumnya.
"Lemah..."
Ia menggenggam parang lebih erat.
"Bukan teknikku yang menurun."
"Tubuhku saja yang belum mengejar."
Zombie wanita akhirnya berhasil melewati penghalang.
"Grrraaa!"
Monster itu menerjang dengan mulut terbuka lebar. Arga mengambil satu langkah ke samping sambil menendang kursi besi yang berada di dekat dinding.
Geser!
Kursi itu meluncur tepat ke jalur lari zombie.
Krek!
Kakinya tersangkut hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Kesempatan sekecil apa pun selalu menjadi pembeda antara hidup dan mati, dan Arga tidak pernah menyia-nyiakannya.
Parang kembali berkelebat.
Sret!
Bilah tajam itu menebas leher zombie hingga hampir putus. Kepalanya menggantung miring sesaat sebelum tubuhnya menghantam lantai.
Buk!
Darah hitam perlahan mengalir memenuhi sela-sela keramik yang retak.
Zombie terakhir akhirnya berhasil melewati lemari yang roboh. Berbeda dengan dua rekannya, peneliti itu justru berhenti sesaat sambil memiringkan kepala dan mengendus udara, seolah naluri primitifnya sedang berusaha memahami sosok manusia yang berdiri di hadapannya. Arga tidak memberi sedikit pun kesempatan.
Ia meraih tabung oksigen kecil yang tergeletak di dekat dinding, lalu melemparkannya sekuat tenaga.
Whoosh!
Secara refleks zombie itu menoleh mengikuti arah benda yang melayang.
Tang!
Tabung tersebut menghantam kepalanya. Benturan itu memang tidak cukup kuat untuk membunuh, tetapi sudah lebih dari cukup untuk memecah konsentrasinya.
Dalam satu tarikan napas, Arga telah berada tepat di depan monster itu.
Buk!
Palu menghantam dagunya hingga kepala zombie terdongak.
Parang langsung menyambar dari bawah.
Slash!
Bilah itu menembus rongga mulut lalu keluar melalui bagian atas tengkoraknya. Tubuh zombie membeku tanpa suara sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Keheningan kembali menguasai koridor laboratorium.
Arga berdiri sambil mengatur napas. Keringat mulai membasahi pelipisnya meskipun udara di dalam gedung terasa dingin. Ia memandangi tiga mayat yang kini berserakan di lantai, lalu perlahan menggeleng dengan tatapan serius.
"Dua di antara kalian..."
Tatapannya semakin tajam.
"...tidak pernah ada."
Ingatannya tidak mungkin keliru. Pada kehidupan sebelumnya hanya ada satu zombie di laboratorium ini, sedangkan kini jumlahnya bertambah menjadi tiga. Perubahan sekecil apa pun dapat memicu rangkaian peristiwa yang sama sekali berbeda di masa depan, dan pemikiran itu membuat tengkuk Arga meremang lebih daripada pertarungan yang baru saja ia lalui.
Ia mulai memeriksa setiap ruangan di lantai dua secara sistematis. Sebagian besar laboratorium telah kosong dan hanya menyisakan bekas perjuangan yang berlangsung tergesa-gesa. Namun ketika melewati sebuah pintu baja bertuliskan "Ruang Isolasi", ia menangkap suara napas berat yang hampir tenggelam oleh dengung pendingin ruangan yang sekarat.
"Hh... tolong..."
Suara itu begitu pelan sehingga nyaris tidak terdengar. Arga segera memutar gagang pintu, tetapi pintu tersebut masih terkunci dari dalam. Ia mengetuk dua kali dengan tenang.
Tok.
Tok.
"Siapa di dalam?"
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kemudian terdengar suara serak yang dipenuhi kelelahan.
"Kalau... kalau kau salah satu dari mereka... cepat saja bunuh aku..."
Arga mengernyit.
"Mereka siapa?"
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Sesaat kemudian terdengar bunyi pengunci yang dilepaskan dari dalam.
Klik.
Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun tampak terduduk bersandar di dinding dengan seragam teknisi laboratorium yang telah dipenuhi darah kering. Bahu kirinya robek akibat cakaran panjang, tetapi setelah memeriksa luka itu sekilas, Arga mengembuskan napas lega karena tidak menemukan bekas gigitan.
"Masih sadar?"
Pria itu mengangguk lemah.
"Kupikir... semua sudah mati."
Arga menyerahkan sebotol air mineral yang langsung diminum pria tersebut dengan rakus.
Gluk...
Gluk...
"Yang menyerang tempat ini bukan cuma zombie, ya?" tanya Arga pelan.
Tatapan teknisi itu langsung berubah.
"Kau... bukan polisi?"
"Bukan."
"Bukan juga dari mereka?"
"Mereka yang mana?"
Pria itu menarik napas panjang dengan susah payah sebelum akhirnya menjawab.
"Orang-orang berseragam hitam."
"Mereka datang... sebelum semuanya ditutup."
"Mereka mengambil hampir semua sampel."
Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.
"Lalu Dr. Adrian?"
Teknisi itu memejamkan mata selama beberapa detik.
"Dokter... menolak menyerahkan seluruh data."
"Dia sengaja tinggal."
"Katanya... kalau semua sampel jatuh ke tangan mereka... dunia selesai."
Suara pria itu semakin melemah hingga nyaris tak terdengar.
"Apa yang terjadi setelah itu?"
"Aku... tidak tahu..."
"Terdengar tembakan..."
"Lalu... jeritan..."
Tubuh teknisi itu mulai gemetar. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia merogoh saku seragam dan mengeluarkan sebuah kartu akses elektronik berwarna hitam.
"Ambil..."
"Kau... harus ke bawah..."
"Jangan... biarkan mereka..."
Kalimatnya terputus ketika kepalanya terkulai ke depan. Arga segera memeriksa denyut nadinya dan memastikan pria itu masih hidup, meskipun telah pingsan akibat kehilangan darah. Ia menyimpan kartu akses tersebut ke dalam saku sebelum meninggalkan ruang isolasi.
Di dekat ruang utama, sebuah panel akses yang sebelumnya tampak seperti bagian biasa dari dinding kini menarik perhatiannya. Arga menempelkan kartu hitam itu pada pemindai.
Bip.
Getaran halus segera terdengar dari balik tembok.
Grrr...
Sebagian dinding bergeser perlahan, memperlihatkan sebuah lorong sempit yang menurun ke bawah tanah. Tanpa ragu, Arga menyalakan senter lalu melangkah masuk ke dalam lorong rahasia tersebut.
Lorong itu berakhir di sebuah fasilitas penelitian yang jauh lebih modern daripada laboratorium di atas. Dinding baja mengelilingi ruangan, monitor-monitor canggih memenuhi pusat kendali, sementara rak penyimpanan besar tampak kosong seolah seluruh isinya baru saja dipindahkan beberapa saat sebelumnya.
"Jadi..."
Arga mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Laboratorium di atas hanya kedok."
Ia segera memeriksa ruang arsip dan menemukan beberapa map yang luput dari proses pemusnahan. Sebagian besar berisi jalur distribusi sampel Necrovirus menuju berbagai fasilitas penelitian rahasia, sementara satu dokumen menarik perhatiannya karena memuat tujuan yang sangat dikenalnya.
Fasilitas Sektor-9.
Tanggal pengiriman yang tertera adalah 17 Juni.
Arga menggulung dokumen tersebut sebelum memasukkannya ke dalam Ruang Dimensi. Kini keyakinannya semakin kuat bahwa wabah Necrovirus bukanlah kecelakaan biasa. Jauh sebelum dunia mengetahui keberadaan virus itu, telah ada organisasi besar yang bergerak di balik bayang-bayang dan menyiapkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar eksperimen laboratorium.
Satu jam kemudian, Arga akhirnya meninggalkan kompleks penelitian. Matahari sore mulai condong ke barat, memandikan gedung-gedung tua dengan cahaya keemasan yang tampak damai, seolah pembunuhan yang baru saja terjadi di dalamnya tidak pernah ada.
Sekitar ratusan meter dari gerbang utama, sebuah SUV hitam berhenti tanpa suara di balik deretan pepohonan. Di dalam kendaraan itu, seorang pria berjas mengangkat teropong dan mengikuti langkah Arga yang semakin menjauh.
"Dia keluar."
Pria lain yang duduk di kursi belakang mengalihkan pandangannya dari layar tablet yang dipenuhi laporan.
"Tim pembersih belum selesai."
"Berarti ada orang yang lebih dulu masuk."
Keheningan singkat memenuhi kabin kendaraan sebelum suara dingin itu kembali terdengar.
"Siapa pun dia..."
"Temukan dia."
Mesin SUV menyala perlahan.
Vruumm...
Kendaraan hitam itu mulai bergerak mengikuti Arga dari kejauhan tanpa menarik perhatian. Sementara itu, Arga terus melangkah menuju jalan raya sambil membawa kristal pertamanya dan petunjuk menuju Fasilitas Sektor-9. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak hari itu, bukan hanya dirinya yang sedang berusaha mengubah masa depan.