Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Pagi harinya, rumah Hamida kembali dipenuhi pelayat. Kali ini yang datang adalah rombongan guru dan murid SD tempat Harapan belajar. Anak-anak berseragam merah putih itu berjalan beriringan sambil membawa karangan bunga sederhana yang dibuat sendiri di kelas. Begitu melihat foto Harapan yang diletakkan di atas meja, beberapa anak langsung menangis. Mereka masih belum mengerti mengapa kemarin teman yang duduk bersama mereka di kelas, kini hanya bisa dipandang dari dalam bingkai.
Bu Rini, wali kelas Harapan, memeluk Hamida erat. "Kami semua kehilangan, Bu. Harapan anak yang baik."
Hamida mengangguk pelan. Ucapan itu membuat air matanya kembali jatuh.
Beberapa anak kemudian duduk bersila di lantai. Mereka membaca Surah Yasin bersama-sama. Setelah doa selesai, suasana berubah hening. Tak ada lagi yang berbicara. Sampai akhirnya seorang anak laki-laki bersuara lirih. "Bu..."
Hamida menoleh.
"Kemarin... Harapan berkelahi."
Ruangan mendadak sunyi. Bu Rini langsung menatap muridnya. "Roni, jangan asal bicara."
"Aku nggak bohong, Bu." Anak itu menundukkan kepala. "Aku dengar Dapit sama Harapan ribut."
Seorang anak lain ikut mengangguk. "Iya, Bu. Mereka saling dorong."
"Terus..." Hamida mendekat, "...setelah itu?"
Kedua anak itu saling berpandangan. "Nggak tahu."
"Habis itu kami lanjut berangkat ke sekolah."
Hamida terdiam. Dadanya berdebar. Lalu tiba-tiba sesuatu menghantam pikirannya. Ia mencoba mengingat jam kematian Harapan. Itu jam pelajaran. Kalau Harapan berangkat sekolah, Kenapa ia berada di sungai? Jalan menuju sekolah tidak melewati bendungan. Bahkan letaknya berlawanan arah.
Tangannya perlahan mengepal. Semalam ia hanya menangisi kematian putranya. Hari ini Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan kematian itu. Harapan bukan sedang bermain di sungai. Harapan seharusnya sedang belajar di dalam kelas. Lalu, Siapa yang membawanya ke bendungan? Mengingat anaknya tidak suka keluyuran, bermain sembarang tanpa tahu waktu, apalagi bolos sekokah. Pertanyaan itu terus berputar di kepala Hamida. Dan sejak detik itu, kesedihannya perlahan berubah menjadi kecurigaan.
***
Malam ketiga setelah kepergian Harapan, rumah kembali sunyi. Para pelayat telah pulang. Tikar-tikar digulung. Gelas-gelas bekas minum teh sudah dicuci dan disusun rapi di dapur. Yang tersisa hanyalah Hamida, foto Harapan, dan kesunyian yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada keramaian beberapa hari terakhir.
Hamida duduk bersandar di dinding bambu. Matanya menatap tas sekolah Harapan yang masih tergantung di belakang pintu. Di dalamnya masih ada buku tulis, pensil, dan kotak bekal yang belum sempat dicuci.
Dadanya kembali sesak. Ia tak sanggup lagi menangis. Air matanya seolah telah habis. Namun pikirannya tak pernah berhenti bertanya. Benarkah Harapan tenggelam? Kalau benar tenggelam, Mengapa tubuhnya penuh luka? Mengapa darah masih mengalir? Mengapa ia berada di sungai saat jam pelajaran? Mengapa teman-temannya berkata Harapan sempat berkelahi?
Semakin dipikirkan, semakin sulit ia memejamkan mata.
Hamida bangkit perlahan. Ia berjalan menuju sumur di samping rumah. Air yang dingin membasuh wajah, tangan, kepala, dan kedua kakinya. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Harapan meninggal, ia merasa hanya Allah tempatnya bertanya.
Usai salat, Hamida tetap bersimpuh di atas sajadah. Kedua tangannya terangkat. Lama. Sangat lama. Hingga akhirnya bibirnya bergetar.
"Ya Allah..." Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. "Selama ini hamba tidak pernah mengeluh. Ayah dan ibu Engkau ambil ketika hamba masih kecil. Hamba ikhlas. Hamba dipaksa menikah muda. Hamba ikhlas. Rumah tangga hamba hancur. Hamba juga ikhlas. Hidup hamba susah. Hamba tetap bersyukur." Ia menundukkan kepala. Air matanya membasahi sajadah. "Tapi hari ini... hamba kehilangan satu-satunya alasan untuk bertahan hidup." Napasnya tersengal. "Kalau memang ini takdir-Mu, kuatkan hamba untuk menerimanya. Namun kalau ada kezaliman di balik kematian putra hamba..." Hamida mengepalkan kedua tangannya. "...maka tunjukkanlah kebenaran itu kepada hamba."
"Ya Allah... Sebagai balasan atas kesabaran yang selama ini hamba jaga... bukakanlah siapa yang telah mengambil Harapan dari pelukan hamba." Malam kembali sunyi. Tak ada suara selain isak tangis seorang ibu yang bersujud dalam gelap.
Hamida belum menyadari, doa yang dipanjatkannya malam itu akan menjadi awal dari terbukanya satu per satu rahasia yang selama ini berusaha dikubur bersama jasad Harapan.
***
Duka itu masih terasa, dan mungkin tak akan pernah benar-benar hilang. Namun, Mida sadar ia harus tetap melangkah jika ingin menemukan kebenaran. Ia hanyalah perempuan miskin, tanpa kuasa dan tanpa siapa pun yang bisa diandalkan. Tetapi di balik segala keterbatasan itu, naluri seorang ibu terus mendorongnya. Ada sesuatu yang terasa janggal. Hatinya meyakini bahwa kematian Harapan bukanlah sekadar musibah biasa.
Diam-diam Mida mulai mencari jawaban. Dengan ponsel tuanya, ia mendatangi satu per satu teman Harapan dan merekam setiap kesaksian yang mereka berikan.
Kesaksian pertama datang dari teman-teman yang setiap pagi berangkat sekolah bersama Harapan. Mereka mengatakan bahwa pagi itu semuanya berjalan seperti biasa. Mereka berjalan beriringan dari kampung menuju sekolah.
Namun, di tengah perjalanan, Harapan dipanggil oleh Dapit. Sejak saat itu, Harapan berpisah dari rombongan. Teman-temannya tidak lagi melihat ke mana ia pergi.
Mida menatap anak-anak itu bergantian. Meski hatinya dipenuhi kecemasan, ia berusaha menjaga suaranya tetap lembut. "Kalian benar-benar nggak tahu ke mana Harapan sama Dapit pergi?"
Anak-anak itu menggeleng hampir bersamaan. "Nggak tahu, Bi."
Mida menarik napas pelan, lalu bertanya lagi. "Waktu Dapit ngajak Harapan pergi, kenapa kalian nggak melarang atau ikut?"
Salah seorang anak memberanikan diri menjawab. "Dapit nyuruh kami jalan duluan, Bi. Katanya dia mau ngomong berdua sama Harapan. Kami pikir itu rahasia mereka, jadi kami nggak ikut campur."
Jawaban itu membuat dada Mida terasa sesak. Namun, ia menahan semua gejolak yang bergemuruh di dalam hatinya. Ia tidak ingin anak-anak itu merasa takut atau tertekan. Dengan wajah setenang mungkin, Mida terus mengajukan pertanyaan satu demi satu. Ia ingin mereka merasa aman untuk bercerita, sehingga tak ada satu pun detail yang terlewat dan tak seorang pun menaruh curiga pada apa yang sedang ia lakukan.
Nama Dapit membuat Mida terdiam. Ia mengenal betul anak itu. Rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari gubuk tempat Mida dan Harapan tinggal.
Sepengetahuan Mida, Dapit dikenal sebagai anak yang baik. Ia rajin mengaji dan hampir tak pernah meninggalkan salat berjemaah di surau. Selama ini, Mida juga tidak pernah melihat Dapit bertengkar dengan Harapan. Bahkan, keduanya tidak terlalu akrab karena usia Dapit dua tahun lebih tua. Mereka sesekali bertegur sapa, tetapi jarang bermain bersama.
Justru karena itulah Mida merasa heran. Mengapa pagi itu Dapit memanggil Harapan hingga keduanya berpisah dari rombongan?