"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Orang Yang mengikuti
Keheningan adalah suara yang paling memekakkan telinga di rumah mewah itu. Sejak pintu kamar dikunci malam itu, atmosfer antara Arga dan Nadira berubah menjadi medan perang yang dingin. Mereka tidak lagi bertengkar dengan teriakan atau lemparan kata-kata tajam; mereka hanya saling mengabaikan dalam kesopanan yang menyiksa.
Pagi itu, Arga berdiri di depan meja makan, menatap dua piring nasi goreng yang masih mengepul. Ia telah bangun lebih awal, mencoba mengulang rutinitas sarapan bersama yang sempat menjadi momen favorit mereka. Namun, ketika Nadira turun dari tangga, perempuan itu tidak menatapnya. Nadira hanya mengambil segelas air putih, meminumnya dalam satu tarikan napas, lalu berpamitan dengan suara yang datar.
"Aku berangkat sekarang. Jangan lupa makan," ucap Nadira singkat.
"Nad, aku masak nasi goreng kesukaanmu," ujar Arga, mencoba mencari celah untuk masuk kembali ke dalam hidup istrinya.
Nadira berhenti sejenak, punggungnya menegang. "Aku sudah tidak lapar, Mas. Aku ada banyak urusan di toko."
Tanpa menunggu jawaban, Nadira melangkah pergi. Bunyi pintu depan yang tertutup perlahan meninggalkan Arga dalam kehampaan. Laki-laki itu menatap piring nasi goreng di hadapannya dengan perasaan getir. Ia menyadari bahwa memenangkan kembali kepercayaan seseorang jauh lebih sulit daripada memenangkan tender bisnis bernilai miliaran rupiah. Kepercayaan adalah kristal yang sekali retak, tidak akan pernah bisa kembali utuh sepenuhnya, meski direkatkan dengan cinta sedalam apa pun.
Di dalam mobil, Nadira menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Pikirannya kacau. Ia mencintai Arga, ia tahu itu, namun rasa sakit karena merasa tidak dipercaya dan dibohongi jauh lebih mendominasi. Setiap kali ia memikirkan jaket hitam yang ditinggalkan di rumah Bianca, dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya.
Sesampainya di Toko Buku Senja, Nadira mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Aroma kertas tua dan kopi yang biasanya menenangkan kini terasa hambar. Ia menyusun beberapa novel misteri di rak depan, namun fokusnya terus teralih.
Ada sesuatu yang salah.
Perasaan itu muncul kembali. Perasaan yang sama seperti saat toko bukunya dibobol beberapa waktu lalu. Nadira merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Ia mencoba mengabaikannya, meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sisa-sisa trauma dari kejadian kemarin. Namun, setiap kali ia melirik ke arah jendela kaca besar di bagian depan toko, ia merasa melihat bayangan seseorang yang berdiri di seberang jalan, tersembunyi di balik pohon peneduh.
"Mbak Nad, ada pelanggan di pojok sana," bisik Maya, memecah lamunan Nadira.
Nadira tersenyum tipan dan menghampiri pelanggan tersebut. Namun, saat ia memberikan buku yang dicari pelanggan itu, matanya kembali melirik ke luar. Bayangan itu hilang. Hanya ada jalanan yang sibuk dengan kendaraan yang melintas.
"Mbak Nad? Anda oke?" tanya pelanggan itu, merasa heran melihat tatapan kosong Nadira.
"Ah, iya. Maaf, saya hanya sedikit kurang sehat," jawab Nadira dengan tawa kecil yang dipaksakan.
Sepanjang sisa hari itu, perasaan diawasi itu tidak kunjung hilang. Bahkan saat ia masuk ke ruang belakang untuk mengecek stok, ia merasa ada langkah kaki yang mengikuti di luar. Nadira mulai merasa gelisah. Ia tidak ingin memberitahu Arga; ia tidak ingin terlihat lemah atau memberi alasan bagi Arga untuk semakin mengontrol hidupnya dengan alasan 'perlindungan'.
Namun, ketakutannya memuncak saat jam menunjukkan pukul lima sore. Maya sudah pulang lebih dulu, meninggalkan Nadira sendirian untuk menutup toko. Saat ia memutar gembok rolling door, sebuah mobil sedan hitam perlahan melambat di depannya. Kaca mobil itu gelap, tidak memperlihatkan siapa yang ada di dalamnya.
Mobil itu tidak berhenti, hanya melambat, seolah sedang memastikan bahwa Nadira benar-benar sendirian.
Nadira mempercepat langkahnya menuju taksi yang sudah ia pesan. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak berani menoleh ke belakang, namun ia bisa merasakan kehadiran mobil itu masih mengikutinya dari jarak beberapa meter. Setiap kali taksinya berbelok, mobil itu mengikuti. Setiap kali taksinya berhenti di lampu merah, mobil itu berhenti tepat di belakang mereka.
Dalam kepanikannya, Nadira meraih ponselnya. Jarinya ragu, namun akhirnya ia menekan nama Arga.
"Halo, Nad?" suara Arga terdengar di seberang sana, ada nada khawatir yang terselip.
"Mas..." suara Nadira bergetar. "Aku... aku merasa ada yang mengikutiku. Mobil sedan hitam. Aku takut."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara Arga berubah menjadi sangat serius dan tegas. "Tetap di dalam taksi. Jangan keluar sampai aku sampai di posisimu. Kirimkan share location sekarang juga. Aku segera ke sana."
Nadira menutup telepon dengan tangan yang gemetar. Ia memandang sopir taksinya dengan tatapan memohon. "Pak, tolong lebih cepat sedikit."
Sopir itu mengangguk, mencoba mempercepat laju kendaraan. Namun, mobil sedan hitam di belakang mereka tiba-tiba menambah kecepatan, mencoba memepet taksi tersebut. Nadira memejamkan mata, menggenggam erat tasnya yang berisi dokumen peninggalan ayahnya. Ia merasa terpojok, seolah-olah seluruh dunia sedang mencoba mengambil paksa rahasia yang disimpan ayahnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam besar melesat dari arah berlawanan dan dengan sengaja memotong jalur mobil sedan hitam tersebut. Rem berdecit nyaring, menciptakan suara gesekan ban yang memekakkan telinga. Mobil SUV itu berhenti tepat di tengah jalan, menghalangi jalan mobil sedan hitam dengan posisi yang mengintimidasi.
Pintu SUV itu terbuka. Rizky turun dengan langkah sigap dan tatapan tajam yang mematikan. Tanpa kata-kata, ia berdiri di tengah jalan, memberi isyarat agar taksi Nadira terus melaju.
Taksi itu segera melesat meninggalkan lokasi, sementara mobil sedan hitam itu terpaksa mengerem mendadak agar tidak menabrak SUV Rizky. Dari kaca spion, Nadira melihat Rizky mendekati mobil sedan itu dengan ekspresi dingin, seolah siap menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan istrinya.
Beberapa menit kemudian, mobil Arga tiba dan menjemput Nadira. Begitu pintu mobil tertutup, Nadira langsung menghambur ke pelukan Arga. Ia menangis sesenggukan, melepaskan seluruh ketakutan yang ia pendam sepanjang sore.
Arga memeluknya sangat erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali. "Sudah aman, Nad. Kamu sudah aman. Aku di sini."
Nadira terisak di dada Arga. "Kenapa... kenapa mereka tidak berhenti mengikutiku, Mas? Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari ayahku?"
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mempererat pelukannya, namun matanya menatap tajam ke depan. Di dalam benaknya, Arga menyadari bahwa permainan ini telah naik ke level yang lebih berbahaya. Musuh mereka tidak lagi sekadar mengirim surat ancaman atau membobol toko; mereka mulai berani melakukan intimidasi fisik di jalanan.
Namun, di tengah pelukan itu, Arga teringat akan peringatan di ponselnya beberapa hari lalu. Musuh yang tersenyum paling ramah di meja makan.
Arga menyadari bahwa Rizky bisa melindungi Nadira dari serangan di jalanan, tetapi Rizky tidak bisa melindungi Nadira dari pengkhianatan yang terjadi di dalam rumah mereka sendiri.
Saat mobil mereka memasuki gerbang rumah, Arga melihat Bram berdiri di teras, menyambut mereka dengan senyum hangat dan tatapan penuh perhatian.
"Syukurlah kalian sudah pulang. Ada masalah di jalan, Arga?" tanya Bram dengan nada suara yang begitu lembut, hampir terasa seperti belaian.
Arga menatap Bram, lalu melirik Nadira yang masih gemetar di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa senyum ramah Bram adalah hal paling menakutkan yang pernah ia lihat.