NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Kenzo duduk di tepi ranjang dengan nampan di atas pangkuannya.

Ia mengaduk bubur kacang hijau itu dengan sendok, lalu meniupnya pelan agar suhunya pas sebelum ia sodorkan ke depan bibir Liana.

"Ayo makan dulu agar kamu tidak mual," perintahnya dengan nada suara yang menuntut namun diselubungi perhatian palsu.

Liana memalingkan wajahnya dengan kasar, menolak mentah-mentah.

"Nggak mau! Aku mau nya pulang!"

Seketika, raut wajah Kenzo berubah drastis. Senyumnya lenyap, digantikan oleh tatapan mengancam yang membuat suhu ruangan terasa turun drastis.

Ia meletakkan nampan itu dengan dentuman pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Liana.

"Tidak ada komentar, Sayang," bisik Kenzo dingin.

"Buka mulutmu, atau aku melepaskan celanaku dan aku akan melakukannya lagi, lagi, dan lagi, persis seperti yang kamu rasakan di mimpimu tadi."

Wajah Liana seketika memucat, disusul semburat merah padam yang menjalar hingga ke telinganya. Ia terperangah. Kenzo tahu apa yang terjadi dalam mimpinya?

"Aku tidak bermimpi apa-apa!" bantah Liana gugup, suaranya bergetar.

"Aku cuma mimpi lari dari monster seperti kamu!"

Kenzo terkekeh, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat meremehkan.

Jemarinya dengan lembut namun pasti menyentuh pipi Liana yang panas.

"Tapi kenapa pipimu merah, Sayang? Apa tubuhmu mengingat sesuatu yang tidak diakui oleh otakmu?"

Liana merasa terpojok. Ia tahu pria ini tidak akan berhenti mengintimidasinya sampai ia menyerah.

Kenzo menatapnya tajam, menunggu dengan kesabaran seorang predator yang sedang mempermainkan mangsanya.

"Jangan membantah dan buka mulutmu!" perintah Kenzo sekali lagi, kali ini dengan penekanan yang tak bisa ditawar.

Liana menatap mata Kenzo yang tajam, mencari celah untuk melawan, namun ia sadar ia tidak punya daya.

Dengan tangan yang meremas sprei ranjang hingga kusut, Liana akhirnya membuka mulutnya dengan enggan.

Kenzo segera menyuapinya sesendok bubur, matanya tak lepas dari wajah Liana, menikmati setiap detik kepatuhan paksa yang ia ciptakan.

Liana menelan suapan terakhir bubur kacang hijau itu dengan susah payah.

Rasa mual di perutnya sedikit mereda, namun rasa sesak di dadanya akibat terpenjara justru semakin menggebu.

Begitu Kenzo meletakkan mangkuk kosong ke atas nampan, Liana langsung menyibak selimut sutra yang membungkus tubuhnya.

Dengan gerakan cepat meski kakinya masih sedikit lemas, Liana turun dari tempat tidur.

Kenzo yang melihat itu langsung menghentikan gerakannya.

Matanya menyipit tajam, mengawasi setiap pergerakan Liana bagai seekor elang yang mendeteksi mangsa yang mencoba kabur dari sarang.

"Kamu mau ke mana?" tanya Kenzo dingin, suaranya terdengar datar namun sarat akan peringatan.

"Kerja," jawab Liana singkat tanpa menoleh.

Ia berjalan mendekati tas kanvasnya, mencoba mengabaikan eksistensi pria kekar di belakangnya.

Hari ini adalah hari kerja, dan ia menolak untuk terus berada di kamar terkutuk ini.

"Duduk, Liana! Kamu harus istirahat," perintah Kenzo.

Suara baritonnya meninggi satu oktav, menggema tegas di dalam kamar yang sunyi.

Liana berbalik dengan emosi yang akhirnya meledak.

Air matanya kembali menggenang, namun kali ini bercampur dengan amarah yang meluap.

"Kenzo, dengar! Aku bukan siapa-siapa mu! Kamu tidak punya hak untuk mengurungku di sini! Aku punya kehidupan, aku punya pekerjaan!"

Liana menunjuk dada bidang Kenzo dengan jari telunjuknya yang gemetar.

"Dan kamu, juga harus bekerja, Kenzo! Kamu seorang dokter, bukan cuma gangster gila yang bisa diam di rumah seharian!"

Wajah Kenzo mengeras. Rahangnya mengatup rapat, menampilkan guratan kemarahan yang tertahan.

Ia berdiri dari tepi ranjang, membuat postur tubuhnya yang tinggi menjulang tampak begitu mengintimidasi di depan Liana.

"Liana, duduk!" bentak Kenzo, kali ini dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

"Aku nggak mau!!" teriak Liana tepat di depan wajah pria itu, menantang maut dengan keberaniannya yang tersisa.

Kenzo mengembuskan napas kasar. Alih-alih membalas teriakan Liana dengan kekerasan fisik, ia justru menampilkan senyum miring yang teramat licik.

Senyuman yang membuat bulu kuduk Liana meremang seketika.

"Oh, kamu mau bekerja?" tanya Kenzo dengan nada meremehkan.

Ia melangkah maju, memaksa Liana mundur hingga betis wanita itu membentur pinggiran ranjang.

"Kalau begitu, hari ini juga aku sendiri yang akan pergi ke kantormu. Aku akan menemui atasanmu dan mengurus surat pengunduran dirimu secara langsung."

Liana membelalakkan matanya tidak percaya. "Kamu, gila! Jangan berani-berani melakukan itu!"

"Kenapa tidak?" desis Kenzo, mendekatkan wajahnya hingga Liana bisa merasakan embusan napas hangatnya yang beraroma mint.

"Kamu adalah calon ibu dari anakku, Liana. Rahimmu sedang membawa pewaris tunggal dari seluruh hidup dan kekuasaanku."

Jari telunjuk Kenzo bergerak mengelus perut rata Liana dengan sangat posesif dari balik pakaian wanita itu, mengirimkan gelombang sengatan ngeri ke seluruh tubuh Liana.

"Mau atau tidak mau, mulai hari ini kamu harus berhenti bekerja. Tugasmu hanya diam di sini, menyusui anakku nanti, dan tunduk padaku," bisik Kenzo dengan suara rendah yang terdengar seperti vonis penjara seumur hidup bagi Liana.

Liana membelalakkan matanya. Mengizinkan monster ini datang ke kantornya? Itu sama saja dengan menghancurkan reputasinya secara total.

Rekan-rekan kerjanya, termasuk Rista, pasti akan syok melihat pria berbahaya ini mengklaim dirinya.

"Jangan berani-berani datang ke kantorku!" ancam Liana panik. Namun melihat kilat kesungguhan di mata Kenzo, Liana akhirnya mengalah.

"Oke! Tapi aku ikut! Dan kamu, jangan berdandan seperti gangster atau aku akan lari jauh dari sini!"

Kenzo bertolak pinggang, sebuah senyuman miring yang teramat menyebalkan terukir di wajah tampannya.

Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Liana terdesak ke lemari pakaian.

"Kalau kamu lari jauh, aku pasti akan menemukanmu lagi, Sayang. Tidak ada tempat tersembunyi di dunia ini jika aku sudah melacakmu," bisik Kenzo dengan nada posesif yang absolut.

Sebelum Liana sempat melontarkan makian, Kenzo menangkup tengkuknya dan kembali mencium bibir Liana dengan cepat namun intens, sebuah kecupan penuh klaim kepemilikan yang egois.

Cup!

Kenzo melepaskannya sambil terkekeh melihat wajah Liana yang memerah padam menahan amarah.

"Dasar orang gila!!" umpat Liana dengan napas memburu, mengusap bibirnya kasar sementara Kenzo hanya berjalan santai menuju walk-in closet untuk bersiap-siap.

Kenzo dan Liana masuk ke kamar mandi yang tidak memiliki pintu maupun sekat kaca tersebut.

Hawa sejuk dan aroma aromaterapi mint langsung menyapa indra penciuman mereka.

Begitu keran pancuran dihidupkan, Liana dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah dinding marmer abu-abu, mati-matian menjaga pandangannya agar tidak melihat tubuh polos Kenzo yang sedang diguyur air hangat.

Kenzo yang menyadari ketakutan dan kepanikan wanitanya justru sengaja memperlama kegiatannya.

Sambil mengusap air di wajahnya, ia melirik Liana dengan tatapan menggoda.

"Bagaimana rasanya mandi seperti ini, Sayang?" tanya Kenzo dengan suara bariton yang bergema di dalam kamar mandi terbuka itu.

"Sangat menjijikkan!" jawab Liana ketus tanpa sudi menoleh sedikit pun.

Tangannya meremas ujung bajunya sendiri, menahan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.

Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya, Kenzo mengizinkan Liana untuk berganti pakaian.

Liana segera melangkah cepat menuju kopernya yang ternyata sudah dipindahkan oleh anak buah Kenzo ke sudut ruangan.

Ia membukanya dan mengambil sepasang pakaian kerja miliknya.

Kenzo, yang saat itu sedang mengancingkan celana kain hitamnya, memperhatikan pakaian yang dipegang Liana.

Netranya menatap tajam pada kemeja dan rok kerja yang kainnya sudah tampak sedikit usang dan warnanya mulai pudar.

Dahinya mengernyit tipis, merasa tidak suka melihat calon ibu dari anaknya mengenakan pakaian seperti itu, namun ia memilih menyimpan isi kepalanya untuk nanti.

Kenzo kemudian meraih dan memakai hem putih bersih miliknya.

Sembari merapikan kerah bajunya di depan cermin besar, ia melirik Liana melalui pantulan kaca.

"Setelah dari kantormu, ikut aku ke rumah sakit," ucap Kenzo dengan nada perintah yang tidak menerima bantahan.

Liana yang sedang merapikan rambutnya langsung menoleh dengan dahi berkerut.

"Untuk apa?"

"Ya, menemani aku bekerja," jawab Kenzo santai, seolah hal itu adalah kewajiban baru Liana yang mutlak.

Pria itu memakai jam tangan mewahnya, lalu berbalik menatap Liana sepenuhnya.

"Ayo kita berangkat sekarang sebelum terlambat."

1
Bunga Andthea
triple hp dungs kak
Bunga Andthea
yok yok bisa up lagi
seru ni
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Alex
sweet bgts
Bunga Andthea
seru
up lgi kkak
Bunga Andthea
double up dungs kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
Muft Smoker
jgn terpengaruh dg omongan ulat bulu tu liana ,, org yg terpojok biasa ny akan melakukan berbagai macam cara tuk menang ,, meski dg cara licik sekali pun 😒😒😒😒
Muft Smoker
aaaaaa meleleh adek bang ,,
Alex
oh sweet bgtsss
Muft Smoker
nah kan di marahin ma mak ,, makany jgn punya fikiran mcm2
Muft Smoker
jgn mcm2 kania ,, liana mungkin org biasa ,, tp anggora black cobra semua melindungi serta menghargai dirinya ,,
Muft Smoker
lanjuuut kaak ,,
Muft Smoker
lanjuut kaak ,, makiin seruuuu
Muft Smoker
ngeri juga yx ,, jd incaran ketua gangster ,, 😲😲😲😲😲
Muft Smoker
lanjuuut kak
Bunga Andthea
ayok kak up lagi
Bunga Andthea
up lgi yuk kak
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
baru Kali ini dapet cerita ketua geng motor profesi ny dokter kandungan ,,
biasa ny kn CEO perusahaan ,,

tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!