Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Wajah Lin Zhen berubah menjadi sangat jelek mendengarnya, namun dia tidak berani membantah di depan utusan akademi.
Pria tua itu akhirnya duduk di kursi sebelah dengan gigi gemeretak menahan amarah.
Su Yuxin yang merasa diabaikan memutuskan untuk membuka mulutnya dan menyerang mental Lin Xiao.
"Lin Xiao, aku tidak menyangka kau punya keberanian untuk menampakkan wajahmu di sini." ucap gadis itu dengan nada merendahkan.
Lin Xiao menoleh perlahan dan menatap Su Yuxin dengan pandangan datar, seolah sedang melihat sebongkah batu di pinggir jalan.
"Balai ini adalah milik keluargaku." jawab Lin Xiao dengan suara yang sangat dingin.
"Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa orang luar sepertimu duduk di balkon ini?"
Wajah cantik Su Yuxin langsung memerah karena marah mendengar balasan yang sangat tajam itu.
"Kau masih memiliki lidah yang tajam seperti biasanya." cibir Su Yuxin.
"Tapi sayangnya, lidahmu tidak akan bisa menyelamatkanmu saat kau mati di atas arena nanti."
"Adik kelas Yuxin, inikah pemuda sampah yang kau ceritakan itu?" potong Chu Yang sambil menatap Lin Xiao dari atas ke bawah.
"Auranya sangat lemah, dia bahkan tidak pantas untuk membersihkan sepatumu."
Lin Xiao menatap utusan akademi itu dengan senyum tipis yang meremehkan.
"Dan kau pastilah anjing peliharaan baru yang dibawa oleh Nona Su untuk menggonggong di sini." balas Lin Xiao tanpa sedikit pun rasa takut.
Brak.
Chu Yang menggebrak sandaran kursinya hingga retak.
"Bocah kurang ajar! Beraninya kau menghina murid inti Akademi Bintang Jatuh!" teriak pemuda itu dengan aura Inti Emas yang meledak keluar.
"Tahan amarahmu, Utusan Chu." ucap Lin Tianhai dengan suara baritonnya yang menekan balik aura pemuda itu dalam sekejap.
"Anakku hanya merespons hinaanmu, jangan bertindak semena-mena di wilayah klanku."
Chu Yang menggertakkan giginya namun dia memilih untuk duduk kembali karena tidak ingin mengambil risiko bertarung dengan kultivator selevel dirinya di markas orang lain.
"Kita lihat saja berapa lama kau bisa melindungi mulut sombong putramu itu, Lin Tianhai." ancam Chu Yang dengan dengusan kasar.
Lin Xiao hanya tertawa pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah arena batu di bawah sana.
'Mereka semua sangat sombong hanya dengan kekuatan seujung kuku.' tawa Kaisar Pedang Haus Darah bergema di dalam pikiran Lin Xiao.
'Aku sudah tidak sabar melihat wajah mereka saat kau mematahkan leher para jagoan mereka.'
"Mereka akan segera melihatnya." jawab Lin Xiao di dalam hati.
"Aku akan menjadikan turnamen ini sebagai panggung mimpi buruk bagi mereka semua."
Teng. Teng.
Lonceng kembali berbunyi, dan Tetua Lin Mo melompat ke tengah arena batu dengan gerakan yang sangat ringan.
"Babak penyisihan Turnamen Klan Lin resmi dimulai!" teriak Tetua Lin Mo dengan suara yang dilapisi energi spiritual hingga terdengar ke seluruh penjuru alun-alun.
"Aturan turnamen sangat sederhana, keluar dari arena atau menyerah berarti kalah." lanjut sang tetua.
"Senjata tajam diperbolehkan, namun pembunuhan yang disengaja saat lawan sudah menyerah akan dihukum berat."
Sorak sorai penonton kembali meledak menyambut dimulainya pertarungan pertama.
Murid-murid klan mulai dipanggil secara bergantian untuk naik ke atas arena dan menunjukkan hasil latihan mereka.
Pertarungan demi pertarungan berlangsung dengan cukup sengit.
Cipratan darah dan suara benturan logam mulai mewarnai arena batu tersebut.
Lin Jian yang duduk di balkon VIP terus memperhatikan jalannya pertandingan dengan senyum licik.
Dia sudah mengatur undian pertandingan agar Lin Xiao bertemu dengan salah satu bawahannya yang paling brutal di babak pertama.
Satu jam kemudian, Tetua Lin Mo mengangkat perkamen daftar peserta dan membacakan nama berikutnya.
"Pertandingan kelima belas, Lin Xiao melawan Lin Mang!" teriak Tetua Lin Mo.
Suasana alun-alun yang tadinya bising mendadak menjadi hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya meledak oleh tawa cemoohan dari para penonton.
Mereka semua tahu sejarah Lin Xiao sebagai mantan jenius yang cacat dan tidak bisa menyerap energi spiritual.
"Astaga, dia benar-benar ikut bertarung?" teriak salah satu murid klan.
"Lawan pertamanya adalah Lin Mang yang berada di tingkat keempat, bocah cacat itu pasti akan mati dalam satu pukulan!"
Tap. Tap.
Seorang pemuda bertubuh sangat besar dan berotot melompat ke atas arena dengan suara dentuman keras.
Dia adalah Lin Mang, bawahan setia Lin Jian yang terkenal karena gaya bertarungnya yang sangat kasar dan brutal.
Lin Mang membawa sebuah gada besi berduri berukuran besar yang disandarkan di bahunya.
"Naiklah, sampah!" teriak Lin Mang sambil menunjuk ke arah balkon VIP tempat Lin Xiao berada.
"Atau kau mau aku menyeretmu turun dan mematahkan kakimu di depan ayahmu?"
Lin Tianhai menoleh ke arah putranya dengan tatapan tenang tanpa sedikit pun keraguan.
"Hancurkan dia, Xiao'er." ucap sang ayah memberikan restunya.
Lin Xiao mengangguk pelan.
Dia melangkah ke tepi balkon dan melompat turun menuju arena batu yang jaraknya belasan meter di bawah.
Wush.
Tubuhnya meluncur ke bawah selembut helai bulu yang tertiup angin, dan dia mendarat di atas arena tanpa menghasilkan suara sedikit pun.
Gerakan pendaratan yang sangat sempurna itu membuat beberapa tetua yang jeli sedikit mengernyitkan dahi mereka.
"Pendaratan yang bagus untuk seorang sampah." puji Lin Mang dengan nada mengejek yang sangat kental.
"Tapi sayang sekali, tubuh kurusmu itu tidak akan bisa menahan satu ayunan gadaku."
Lin Xiao berdiri di seberang Lin Mang dengan kedua tangan yang sengaja dibiarkan menggantung bebas di sisinya.
Dia tidak mencabut pedang besi yang terikat di pinggangnya, seolah-olah lawannya tidak pantas untuk mati oleh senjatanya.
"Kau terlalu banyak bicara." balas Lin Xiao dengan ekspresi wajah yang benar-benar datar.
"Mulailah menyerang agar aku bisa segera kembali ke tempat dudukku."