Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Maksud lo?" Kening Daren mengerut, kepalanya pusing, Rega ini berbicara tak mau langsung ke intinya! Sedangkan Daren sudah tak mampu lagi untuk berpikir sekarang.
"Singkatnya, kak Zakia selalu digosipi setiap dia ke luar rumah, itu masih di rumah belum di klinik atau puskesmas dan segala macamnya, makanya kak Zakia ga mau berobat, dia nahan semua rasa sakit kakinya dari pada sakit hati karena ucapan orang," jelas Rega.
"Tapi kan, karena mikirin orang lain jadinya kondisi Zakia separah itu!" seru Daren. Tak habis pikir dengan isi kepala Zakia yang lebih mementingkan ucapan orang lain dari pada kesembuhan dirinya sendiri.
"Iya memang, tapi kalau kak Zakia ke luar, rasa sakit kakinya dan sakit hatinya bakalan nyatu, dia kalau salit hati bisa merusak mental, makanya dia lebih milih nahan rasa sakit kakinya supaya mentalnya yang udah acak adul bisa tetap. waras," jelas Rega.
Daren mengusap wajahnya gusar, jikalau sudah seperti ini maka akan lebih susah lagi akibatnya. Tidak, Daren tidak masalah dengan kondisi Zakia, dia tidak keberatan dan tidak masalah dengan hal itu.
Hanya saja Daren memikirkan bagaimana reaksi Zakia jika tahu bahwa ia akan melewati tahapan penyembuhan dan bahkan harus menggunakan kursi roda untuk sementara. waktu.
"Kenapa? Repot ya ngurus kakak gue?" tudung Daren.
"Apaansih! Lo kayaknya ga rela banget kalau gue nikah sama dia," uajr Daren kesal. Adik iparnya ini, lama-kelamaan kurang ajar dan terlihat menyebalkan.
"Ya kan gue mau mastiin aja kalau repot ya udah sih pulangin aja ke rumah, ya setidaknya kakak gue punya rumah lah," ujar Rega.
Daren tertawa sinis, tak percaya bahwa Rega akan mengatakan hal itu, apakah Daren sejahat itu untuk membuang Zakia? Jika dia mau, maka sudah dikerjakan dari kemaren. Kalau tidak, kenapa juga Daren harus tanggung jawab dan harus membawa Zakia sampai sejauh ini?
"Belajar yang bener dah lo biar ngomongnya ga acak adul kayak gitu! Ngeri bener masih muda!" cibir Daren.
Rega mengedikkan bahu tidak peduli, matanya menyusuri taman yang dihuni oleh beberapa orang, ada anak-anak yang sedang bermain, orang tua yang duduk di kursi sembari tertawa bersama dengan cucunya ataupun seorang pemuda yang hanya duduk tanpa mengatakan qpa-apa. Terbesit di hatinya, bahwa bagaimanapun rasa sakit yang kita alami bisa berkurang jika kita dikelilingi oleh orang yang disayang.
"Gue ga masalah tentang sakit Zakia, gue cuman khawatir gimana respon dia pas dia tau kalau kondisinya separah itu," ungkapnya.
Kepala Rega bergerak, ia melihat abang iparnya yang seperti putus asa dan menanggung banyak rasa khawatir. Rega sedikit mengucapkan rasa syukur karena kakaknya mendapat pasangan seperti ini.
"Ya ga gimana-gimana, paling dia stress, kak Zakia kan orangnya gampang panikan, gampang stress juga," jawabnya enteng.
"Ha?"
Daren mengerjap, jari-jarinya bermain di cangkir kopi yang sedang ia pegang.
"Iya, kak Zakia itu orangnya gampang stress dan tertekan, makanya dia kalau ada masalah itu mukanya keliatan banget, tapi dia jarang cerita, karena dia selalu terasa kalau dia bisa menuntaskan semua masalahnya sendirian."
Rega menutup matanya sebentar, menikmati semilir angin yang menyapu wajahnya pada sore ini, wajahnya sedikit merasa tenang tapi tidak dengan kepalanya yang penuh akan beban.
"Kak Zakia itu ga mau keliatan lemah di depan orang lain, apalagi kondisi dia kayak gitu, gue jamin tu anak bakalan tiba-tiba minder dan pasti berlagak sok kuat," jelasnya.
Daren terdiam, ia baru sadar akan sikap Zakia beberapa hari ini, wanita itu memang tidak ingin terlihat unggul tapi juga tidak mau terlihat lemah.
"Bukan gue benci sama kakak gue sendiri, tapi emang dia sikapnya kayak gitu, makanya gue kasih tau sama lo ya bang, kak Zakia itu susah nerima bantuan orang lain karena egonya bakal kesentil kalau ada nolongin dia, itu semua terjadi karena sikap keras kepala dia sendiri, tapi lama-kelamaan kalau dia bisa menyesuaikan diri, dia pasti bakalan mau kok nerima bantuan orang lain, biarpun agak susah sih," lanjut Rega.
"Termasuk sama sikap ga enakan?"
Rega menaikkan alisnya sebelah dan tertawa kecil, di depan mereka terlihat seorang anak-anak yang bermain gelembung dengan gembira, walaupun kepala anak itu dibaluti perban tak membuat senyumnya luntur.
"Yoi."
"Dia kan kerjanya lumayan kasar tuh di toko pak Jamrud, ikut ngangkat barang segala macam, ya istilahnya terbiasa ngangkat berat gitulah, jadi ya dia terbiasa ikut ngangkat kalau orang lain ngangkat, dia ga mau diem, timbul rasa ga enakan nanti sama diri dia sendiri, gue aja di rumah kalau di suruh mama ngangkat barang dia pasti mau ikut bantu, padahal udah gue larang, tapi dia tetap keras kepala," kata Rega.
Ia ingat bagaimana sang ibu menyuruh dirinya untuk mengangkat galon, berakhir Zakia yang mengangkat karena melihat Rega sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Padahal Rega sudah ingin bangkit tapi sudah duluan diambil oleh Zakia.
Daren termenung, betul apa kata Rega, Zakia selalu ingin ikut andil walaupun dia tidak dipaksa.
"Pantes waktu kemaren pindahan, gue ngambil koper dari bagasi terus dia ikutan ngambil dan bawa ke depan pintu, padahal kaki dia masih sakit, gue kasian liatnya akhirnya tu koper gue ambil walaupun muka dia agak lain sih," ungkap Daren.
Ia baru ingat bahwa kebiasaan Zakia selama ini wanita itu tidak mau melihat orang lain bekerja sendirian, dia ingin membantu walaupun dalam kondisi sedikit terbatas, ternyata semua itu karena kebiasaan keras yang sudah dia dalami sejak dulu.
"Iya emang anaknya kayak gitu, tapi gue bangga sama kakak gue itu, walaupun dia perempuan dia bisa bekerja sekeras itu, makanya dia jadi motivasi buat gue untuk kerja keras juga, karena menurut gue dia yang perempuan aja bisa kayak gitu apalagi gue yang laki-laki gini, ya kan?" kata Rega sombong.
Saat seperti inilah dia bisa mengungkapkan rasa bangga terhadap sang kakak, walaupun mereka sering berkelahi tapi Rega diam-diam meneliti jejak langkah kakaknya dan menjadikannya pelajaran untuk kehidupan ke depan harinya.
"Haha iya sih, tapi Ga gue mau nanya, kakak lo emang kuliah ya?"
Rega mengangguk mantap, "iya, dulunya kuliah online, cuman karena kemaren dia ngambil motor alhasil kuliah dia tertunda," ungkap Rega.
"Dia, ga ada niat mau lanjut lagi?"
Rega menaikkan alisnya sebelah, "emang lo bakal ngizinin?"
Dahi Daren berkerut, Rega ini benar-benar!
"Ya gue kasi lah, gue juga ga sekatrok itu kali ga ngasi dia kuliah, dia mau lanjut sampai pendidikan tinggi juga gue ga masalah, malahan gue bangga punya istri sarjana," kata Daren menggebu-gebu. Kalau tadi Rega bisa membanggakan kakaknya, maka saat ini dia aheus membanggakan dirinya yang tak pernah menghalang mimpi istrinya sendiri.
"Bagus deh kalau kayak gitu, lo tanya saja sama dia, karena kemaren gue liat dia sempat frustasi mau nikah sama lo, dia ngerasa semua mimpi dia bakal hancur karena udah nikah, termasuk pendidikan dia, kalau lo dukung dia, bagus sih, setidaknya pikiran dia tentang pernikahan ga seburuk itu," jawab Rega.
"Tapi bang ...." Rega berhenti sejenak, ia menghembuskan nafas pelan sebelum mengatakan hal ini.
"Kalau mau nanya sama dia tentang kuliah ini agak hati-hati ya, karena ada kejadian yang membuat kak Zakia berhenti kuliah dan ada sedikit kecaman di dalamnya juga."
Rega meminum kopi tersebut sampai tuntas dan membuang sampahnya ke tong sampah. Tangannya memegang sebelah sisi kanan kursi dan kakaknya digoyangkan pelan.
Kepala Daren menunduk lalu ia kembali menatap Rega, "Ada satu kejadian yang sulit diceritakan sama kak Zakia, tentang kuliah dia dan beberapa rahasianya," kata Rega dengan nada bicara tenang namun menekan.
Duh ga nyangka ga ternyata Zakia banyak rahasianya juga, kira-kira rahasianya apa y? Bisa pengaruh ke hubungan pernikahan mereka atau gimana ya?