NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Helikopter pribadi Dirgantara Group mendarat di atas *helipad* Penthouse Lavender tepat saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Sisa-sisa ketegangan dari kediaman utama perlahan luruh, terbawa angin malam yang berembus kencang di ketinggian ibu kota.

Devan sama sekali tidak mengizinkan kaki Alya menyentuh lantai sejak mereka turun dari helikopter. Pria itu menggendongnya erat, melintasi koridor privat, dan baru menurunkan Alya setelah mereka berada di dalam kehangatan kamar tidur utama.

*Cklek.*

Pintu kayu kokoh itu tertutup rapat, mengunci seluruh dunia luar yang penuh intrik dan bahaya.

Alya berdiri di tepi ranjang *king size*, merapikan gaun hamil putih gadingnya yang sedikit kusut. Meskipun malam ini penuh dengan kepanikan akibat insiden racun Tante Melinda, anehnya Alya tidak merasa lelah secara fisik. Kandungannya yang kini genap memasuki usia tiga bulan terasa sangat stabil dan hangat.

Devan melepaskan tuksedo hitamnya, menyisakan kemeja putih yang kini kancing atasnya sudah terbuka bebas. Pria itu tidak langsung membersihkan diri. Ia berdiri mematung di dekat meja rias, menatap Alya dengan sepasang mata abu-abu yang memancarkan emosi yang sangat pekat—sebuah campuran antara rasa bersalah, kelegaan yang luar biasa, dan sesuatu yang jauh lebih panas yang selama ini ia tekan di balik dinding esnya.

"Devan?" panggil Alya lembut, menyadari tatapan intens suaminya. "Kenapa melamun? Kamu tidak ingin mandi dulu?"

Devan tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan ritme yang lambat namun pasti, memotong jarak di antara mereka hingga aroma maskulin alaminya yang pekat langsung menyergap indra penciuman Alya. Ketika ia berhenti tepat di depan Alya, ia mengulurkan tangannya yang besar, menangkup wajah mungil Alya dengan kelembutan yang membuat jantung Alya berdegup kencang seketika.

"Alya... maafkan aku," bisik Devan, suaranya terdengar sangat serak dan rendah. "Setiap kali aku tidak ada di sampingmu, bahaya selalu mengintaimu. Aku... hampir saja kehilangan kalian berdua malam ini."

Alya tersenyum manis, menempatkan kedua tangan mungilnya di atas tangan Devan yang berada di pipinya. "Kamu tidak perlu meminta maaf terus menerus, Devan. Aku dan bayi kita ada di sini, utuh, dan sehat. Dokter Kurniawan bahkan bilang kemarin kalau kandunganku sudah sangat kuat karena sudah melewati trimester pertama."

Mendengar kata-kata "trimester pertama" dan "sangat kuat", kilat di mata abu-abu Devan mendadak berubah menjadi lebih gelap dan dalam. Ibu jarinya perlahan mengusap bibir ranum Alya dengan gerakan yang membuat bulu kuduk Alya meremang halus.

"Sangat kuat, maksudmu... kita sudah diizinkan untuk melakukannya?" tanya Devan, suaranya kini bergetar dengan nada sensual yang begitu pekat, langsung membakar wajah Alya hingga merona merah padam.

Alya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung ke dalam mata Devan yang penuh dengan gairah yang tertahan selama tiga bulan ini. "I-itu... dokter bilang, asal dilakukan dengan perlahan dan hati-hati... tidak akan ada masalah bagi janin..." mencicit Alya sangat pelan, meremas kemeja putih Devan dengan gugup.

Tepat pada saat suasana intim itu mulai terbangun, sebuah denyutan hangat yang sangat familiar terasa di dalam rahim Alya, diikuti oleh suara kuapan besar dan tawa geli yang sangat nakal di dalam benaknya.

> *[Wah, wah... atmosfernya mendadak berubah menjadi sangat panas di sini. Ayah Siaga... rupanya kau sudah tidak tahan lagi ya setelah tiga bulan berpuasa?]*

> *[Tenang saja, Ayah, Ibu! Aku adalah janin paling pengertian di dunia. Energi spiritualku sudah pulih setelah pesta tadi, dan struktur plasentaku saat ini sudah sekeras dinding benteng. Aku akan mengaktifkan mode 'hibernasi sensorik total' sekarang juga, jadi... nikmatilah malam panjang kalian tanpa gangguan dari kaisar kecil ini! Sampai jumpa besok pagi, Ayah, Ibu!]*

*BZZZZT!*

Seketika itu juga, kehadiran batiniah Baby El benar-benar menghilang sepenuhnya dari kesadaran Alya, menyisakan keheningan batin yang mutlak dan membiarkan tubuh serta jiwa Alya dikuasai sepenuhnya oleh naluri wanitanya.

Devan yang tampaknya juga menyadari 'izin' dari anaknya, tidak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Ia terkekeh rendah, sebuah suara tawa seksi yang langsung membuat pertahanan Alya runtuh.

"Anak kita... benar-benar tahu kapan harus pergi," bisik Devan.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Alya untuk menjawab, Devan menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam. Ciuman itu awalnya terasa sangat hati-hati, seolah-olah Devan sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia, namun perlahan berubah menjadi tuntutan yang penuh dengan kerinduan dan kepemilikan mutlak.

Alya mengembuskan napas pasrah, melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Devan, membalas ciuman pria itu dengan seluruh kehangatan yang ia miliki. Rasa aman, cinta, dan gairah yang selama tiga bulan ini tertimbun di bawah bayang-bayang pernikahan kontrak dan ancaman musuh, kini meledak tanpa bendungan.

Devan melepaskan tautan bibir mereka sejenak, napasnya memburu di atas wajah merona Alya. Dengan gerakan yang sangat telaten dan lembut, jemari besarnya menurunkan ritsleting belakang gaun putih gading Alya, membiarkan kain sutra mahal itu jatuh meluncur ke atas lantai marmer, menyisakan Alya dalam balutan pakaian dalam renda yang sangat pas menonjolkan lekuk tubuh indahnya dan perutnya yang mulai sedikit membuncit halus.

Devan menatap perut Alya dengan binar mata yang dipenuhi oleh rasa takjub dan kasih sayang yang teramat sangat. Ia berlutut di depan Alya, mengecup perut yang mengandung pewarisnya itu dengan kelembutan yang luar biasa lama, membuat air mata haru tanpa sadar menetes di pipi Alya.

"Terima kasih karena telah menjaga anak kita dengan sangat baik, Alya. Terima kasih karena telah hadir di hidupku," bisik Devan dengan tulus, mendongak untuk menatap mata istrinya.

"Aku yang berterima kasih, Devan... karena kamu selalu melindungiku," jawab Alya dengan suara bergetar bahagia.

Devan berdiri kembali, mengangkat tubuh mungil Alya dengan sangat hati-hati dan membaringkannya di atas kasur yang empuk. Pria itu dengan cepat menanggalkan sisa pakaiannya sendiri, menampilkan tubuh atletisnya yang kokoh dengan otot-otot dada bidang yang sempurna di bawah temaram lampu tidur kamar.

Ketika Devan memposisikan tubuhnya di atas Alya, ia menopang berat badannya dengan kedua lengannya yang kekar di sisi kepala Alya, memastikan tidak ada sedikit pun tekanan yang mengenai perut istrinya.

"Katakan padaku jika terasa sakit atau tidak nyaman, Wifey. Aku akan langsung berhenti," ucap Devan, suaranya dipenuhi oleh rasa protektif yang sangat tinggi.

Alya menggeleng pelan, menyentuh rahang tegas Devan seraya tersenyum manis. "Aku mempercayaimu, Devan... lakukanlah."

Malam itu, di atas awan ibu kota yang diguyur hujan rintik-rintik, dua jiwa yang awalnya dipersatukan oleh takdir yang tidak terduga dan selembar kertas kontrak, akhirnya menyatu dalam ikatan yang paling hakiki. Devan memimpin dengan kelembutan yang luar biasa, setiap sentuhan, kecupan, dan gerakannya dilakukan dengan penuh kehati-hatian yang sangat memanjakan seluruh indra tubuh Alya.

Setiap desahan lembut yang lolos dari bibir Alya berpadu indah dengan suara napas berat Devan yang memburu di tengah keheningan kamar. Kehangatan yang luar biasa pekat menjalar di antara tubuh mereka, mengusir seluruh sisa trauma dan ketakutan dari dunia luar. Ini bukan lagi sekadar pelampiasan gairah biologis, melainkan penyatuan dua hati yang kini telah saling mencintai dan berkomitmen penuh untuk menjaga keluarga kecil mereka dari badai apa pun yang akan menghadang di masa depan.

Ketika puncaknya tercapai di bawah selimut tebal yang hangat, Devan mendekap tubuh Alya yang berkeringat halus dengan sangat erat ke dalam pelukannya, mengecup kening istrinya berkali-kali dengan penuh rasa syukur yang tak terhingga, sementara Alya perlahan memejamkan matanya dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!