Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Tuan Danuel
Byan menatap Kakaknya dengan lekat, pria yang bergaris wajah hampir sama dengannya, namun sikapnya lebih dominan pada Ayahnya. Dingin, tegas dan sedikit arogan. Namun meski begitu dia tetap saja tidak pernah bisa membantah Ayahnya.
"Papa tetap tidak akan bisa memberikan restu, sebaiknya kau turuti saja kemauannya. Setelah menikah nanti kau bisa..."
"Aku tidak mau mengikuti jejakmu, hanya menikah untuk bercerai dan akhirnya hidupmu berantakan seperti sekarang. Aku ingin memperjuangkan cintaku"
"Tapi itu mustahil, Alby"
Byan terdiam, ucapan Kakaknya memang ada benarnya. Semua orang yang tahu dan mengenal Ayahnya, mungkin akan mengatakan hal yang sama. Mustahil untuknya bisa melawan seorang Tuan Danuel yang keras.
"Kau bisa saja terus berjuang selama Papa tidak menyentuh gadis itu. Yang aku takutkan, dia akan melakukan hal mengerikan pada wanitamu"
Sebuah kalimat yang penuh dengan nada khawatir, namun hal itu memang bukan sebuah ancaman. Tapi bisa saja terjadi jika Byan tidak cukup berhati-hati.
"Jika itu terjadi, aku akan pergi menemuimu"
"Ya"
Entah ada hal apa yang membuat Kakaknya tiba-tiba pulang tanpa di minta. Padahal biasanya jika di minta saja, dia akan sulit untuk kembali ke rumah ini. Namun kali ini membuat Byan mempunyai kesempatan untuk berbicara dengannya. Sebagai seorang adik yang menceritakan permasalahannya.
"Sebenarnya ada apa kau datang kesini?"
Raifan menyandarkan tubuhnya di sofa, dia menghembuskan napas perlahan. "Ada sesuatu yang harus aku urus"
Byan menatapnya lekat, sepertinya dia tahu apa yang sedang di pikirkan Kakaknya. "Apa masih tentang gadis itu? Apa dia benar-benar membuatmu jatuh cinta? Kenapa tidak membawanya kesini, bertemu kita"
"Haha... Kau pikir mudah menghadapi Papa dengan membawa gadis sebagai calon pendamping kita selamanya. Itu tidak akan mudah, Alby!"
Byan tersenyum miris, dia ikut menyandarkan tubuhnya ke sofa. Menatap langit-langit dengan perasaan tak menentu. Banyak hal yang dia pikirkan sejak semalam, bahkan terlalu banyak pekerjaan juga yang harus dia selesaikan.
"Benar, Papa bukan seorang Ayah yang mudah luluh hanya karena melihat ketulusan anaknya yang saling mencintai dengan pasangannya. Semuanya tidak semudah itu"
"Ya, begitulah kita yang hidup dalam keluarga yang keras seperti ini. Semuanya serba di atur"
*
Eva duduk diam di teras rumah malam ini, menatap ponselnya yang masih tidak mendapatkan balasan dari Byan. Bahkan pesan yang dia kirim masih centang satu sejak tadi sore. Eva memeluk lututnya, dagunya berada di antara dua lutut kaki, cemberut dengan pikiran yang ikut semerawut.
"Sebenarnya dia kemana? Apa mungkin sesuatu terjadi padanya ya"
Saat pikirannya masih sibuk dengan beberapa pertanyaan tentang Byan yang tidak ada kabar sampai sekarang. Suara klakson mobil membuat Eva cukup terkejut, saat dia mendongak melihat mobil berhenti di depan rumahnya. Eva segera berdiri, menatap seseorang yang keluar dari mobil itu.
"Mas Bi"
Byan tersenyum, dia merentangkan tangannya seolah sudah siap menerima pelukan dari Eva. Namun gadis itu malah diam saja, menatapnya dengan lekat. Matanya seperti mulai berkaca-kaca.
"Loh, apa tidak ada yang ingin memelukku? Apa kau tidak rindu?"
Eva masih diam, menatap Byan yang datang dengan senyuman, tanpa rasa bersalah telah membuat Eva khawatir seharian ini.
"Kamu kemana saja? Seharian tidak ada kabar, bahkan ponsel saja tidak aktif. Sengaja ya, Mas?"
Byan menghela napas pelan, dia ingin mengelus kepala Eva, namun langsung di tepis kasar gadis itu. "Sayang, aku bisa jelaskan. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan, dan ponselku rusak karena terjatuh. Belum sempat membeli yang baru"
Eva tidak menjawab, dia masih diam. Air mata tiba-tiba menetes di pipi tanpa intruksi, membuatnya langsung mengusap kasar dengan tangannya.
"Kalau misalkan sudah tidak ingin bersamaku, bisa bicara baik-baik 'kan? Tidak perlu tiba-tiba menghilang, lalu datang lagi seperti ini. Kamu tahu, kalau aku khawatir. Hiks.. Aku takut kamu kenapa-napa. Hiks..."
Tangisan yang akhirnya pecah, membuat Byan juga cukup terkejut. Dia langsung menarik Eva ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepalanya beberapa kali.
"Sayang, aku minta maaf. Tolong jangan menangis lagi ya"
"Mas, aku hanya khawatir sama kamu. Aku berpikir kalau kamu akan meninggalkan aku, atau aku sudah membuat kesalahan yang membuatmu marah. Hiks... Aku takut kamu pergi"
Byan memejamkan matanya mendengar ucapan Eva yang di iringi isakan keras. Ternyata seharian ini telah membuat gadisnya ketakutan dan berpikir terlalu jauh tentangnya.
"Tidak Sayang, mana mungkin aku meninggalkanmu. Aku paling mencintaimu, dan semuanya akan aku lakukan agar kau tetap baik-baik saja"
Byan menghembuskan napas berat setelah mengatakan itu. Dirinya sedang berada dalam dilema yang sulit, berada di antara dua jurang yang sama-sama akan membuatnya tenggelam dalam luka.
Aku hanya akan melindungimu apapun yang terjadi.
*
Malam hari setelah pulang dari acara itu, Byan mengatakan apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Papa dan Mama sedang berusaha melakukan perjodohan lagi dengan Laila Hartanto? Iya? Pa, Ma, bukannya kalian sendiri sudah tahu alasan perjodohan ini tidak berhasil. Dan aku sudah menemukan gadis yang aku cintai, dan akan bersama dengannya"
"Tidak bisa!" Suara tegas dan lantang itu memecah keheningan di ruangan yang sempat tercipta. Mama sudah merangkul lengan suaminya, takut emosinya akan meledak. "Gadis anak pelayan itu tidak bisa menjadi pendamping hidupmu! Kau hanya boleh menikah dengan perempuan pilihan Papa!"
Tangan Byan mengepal kuat, urat-urat di tangannya sampai terlihat jelas. Byan menatap orang tuanya dengan bergantian. "Kenapa? Kenapa semua hal harus sesuai dengan keinginan kalian? Ini hidupku, dan seharusnya aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri! Aku tidak mau seperti Kak Raifan, menikah dengan pilihan kalian dan akhirnya hanya bercerai tanpa mendapatkan kebahagiaan!"
"Kali ini Laila sudah yang terbaik untuk kamu, Bi. Tolong dengarkan saja Papa, pastinya Papa kamu juga ingin yang terbaik buat kamu" ucap Mama, mencoba menghentikan perdebatan diantara Ayah dan anak ini.
Byan tidak menjawab, dia mengambil ponselnya di atas meja, bermaksud ingin pergi menemui Eva atau pergi ke Apartemennya. Tapi ketika berbalik sudah ada lima orang pria bertubuh besar menghadangnya, mereka langsung meringkus Byan tanpa sempat Byan melawan atau menghindar.
"Pa, kenapa begini? Lepaskan aku! Pa!"
"Ambil ponselnya dan hancurkan!" tekan Tuan Danuel.
Salah satu dari orang yang meringkus Byan itu merebut ponselnya dan melemparnya ke lantai dengan keras hingga hancur berkeping. Byan masih berusaha lepas dari mereka, beberapa kali menendang dan memukul mereka. Namun, kalah jumlah dan seseorang dari mereka memukul bagian belakangnya, hingga Byan kehilangan kesadaran.
Dan ketika terbangun, sudah berada di dalam ruangan yang bukan kamarnya dan di kunci. Jendela yang di penuli tralis besi, membuatnya tidak bisa melarikan diri sampai seseorang membukakan pintu untuknya.
Bersambung
minta maaf gak segampang itu, istri saudaranya di jadikan pembantu dan menjadi alat untuk mengancam saudaranya sendiri hanya untuk menguasai harta warisan 😡
tetap semangat 🤗