Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Plasma Putih
WUSH!
Ethan menghilang secara mutlak. Bukan lagi sekadar Langkah Bayangan, melainkan kecepatan elektromagnetik murni yang merobek ruang udara.
"Di mana dia?!" Lei Zhan berteriak panik, memutar kapak besinya membentuk lingkaran perlindungan petir.
SRETTT!
Sebuah garis cahaya putih memotong lingkaran petir tersebut dari belakang. Sebelum Lei Zhan sempat berbalik, pedang plasma putih Ethan telah menebas lengan kanan sang Pemimpin Sekte Harimau Guntur hingga putus. Kapak raksasanya jatuh menghantam ke tanah bersama dengan potongan lengannya yang langsung hangus terpanggang tanpa mengeluarkan darah karena panasnya plasma.
"AAARRGGHH! Lenganku!" Lei Zhan menjerit histeris, memegang pangkal lengannya yang terbakar.
Feng Wuhen yang melihat hal itu langsung menusukkan pedangnya ke arah bayangan Ethan yang baru saja muncul di samping Lei Zhan. "Mati kau, Bajingan!"
Namun Ethan, dengan kecerdasan taktisnya yang dingin, tidak menghindar ke belakang. Ia justru melangkah maju, membiarkan pedang Feng Wuhen menembus sisi perut kanannya yang tidak memiliki organ vital, demi memperpendek jarak di antara mereka berdua hingga titik nol.
Sleb!
Pedang Feng Wuhen menembus tubuh Ethan.
"Apa?!" Feng Wuhen terbelalak, tidak mengira ada orang yang begitu gila hingga sengaja menerima tusukan fatal demi menyerang balik.
"Kalkulasimu salah, Master Sekte," bisik Ethan tepat di depan wajah Feng Wuhen. Di bawah jarak sedekat itu, Feng Wuhen bisa melihat dengan jelas ketampanan wajah Ethan yang dipenuhi rasa dingin yang mutlak.
Tangan kiri Ethan yang bebas langsung mencengkeram leher Feng Wuhen dengan kekuatan hidrolik penuh, sementara tangan kanannya yang memegang pedang plasma putih diarahkan tepat ke arah dada Lei Zhan yang sedang melolong kesakitan di samping mereka.
CRASH!
Pedang plasma putih itu melesat memanjang, menembus jantung Lei Zhan dari belakang dan langsung meledakkan organ dalamnya menjadi abu. Pemimpin Sekte Harimau Guntur itu tumbang, mati dalam keadaan mata melotot penuh horor.
Kini, hanya tersisa Ethan dan Feng Wuhen yang saling mengunci di tengah medan laga. Darah Ethan mengalir membasahi jubah putih Feng Wuhen, namun cengkeraman tangan Ethan di leher sang Master Sekte semakin mengencang seiring dengan hitungan mundur Sistemnya yang menyisakan waktu tiga puluh detik terakhir. Badai terbesar di Langit Pertama berada di ambang penyelesaiannya yang paling dramatis.
"K-kau... monster macam apa kau ini?!"
Feng Wuhen terbata-bata. Napasnya tercekik hebat oleh cengkeraman tangan kiri Ethan yang dibalut sarung tangan titanium. Sebagai penguasa tertinggi Sekte Pedang Awan, ia tidak pernah membayangkan bahwa takdirnya akan berakhir tragis di tangan seorang pemuda asing yang memperlakukan tubuhnya sendiri seperti mesin tanpa rasa sakit.
Pedang Feng Wuhen masih tertancap di perut kanan Ethan, namun pemuda itu bahkan tidak berkedip. Wajah Ethan yang sedingin es hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, memancarkan kepastian mutlak dari seorang predator.
[ Peringatan Protokol Overclock: 00:15 detik tersisa. ]
[ Kerusakan internal terdeteksi pada meridian perut. Sistem medis darurat menyuntikkan zat koagulan Cyber. ]
"Dunia kalian mengajarkan bahwa kultivasi adalah tentang keabadian," bisik Ethan, suaranya alami, berat, dan bergetar karena menahan beban kerusakan tubuhnya sendiri. "Namun di duniaku, hidup hanyalah tentang siapa yang mengeksekusi targetnya lebih cepat. Dan hari ini, kau adalah targetku."
"T-tunggu! Jangan bunuh aku! Sekte Pedang Awan memiliki ribuan batu spiritual! Aku bisa memberikan semuanya—"
Bzzzt—
Ethan tidak mendengarkan. Ia memutar pedang plasma putih di tangan kanannya, lalu dengan satu gerakan diagonal yang super cepat dan bersih, ia menebaskan bilah super panas itu melewati dada hingga ke leher Feng Wuhen.
Sreeet.
Api plasma putih menguapkan seluruh jaringan epitel dan Qi pelindung terakhir milik sang Master Sekte. Mata Feng Wuhen melebar, kehilangan cahayanya, sebelum akhirnya tubuh pemimpin sekte terbesar di wilayah itu lunglai dan jatuh ke tanah dalam keadaan hangus sepenuhnya.
[ Target Utama Dieliminasi: Master Sekte Feng Wuhen. ]
[ Protokol Overclock Dinonaktifkan. Mengembalikan Basis Kultivasi ke Ranah Pemurnian Qi Tingkat 2. ]
[ Mendapatkan: 3.000 Poin Sistem, Akses Toko Sistem Tingkat 3 (Terkunci hingga Langit Kedua), dan Cincin Penyimpanan Spasial Feng Wuhen. ]
Bruk.
Bersamaan dengan runtuhnya tubuh Feng Wuhen, Ethan berlutut dengan satu kaki bertumpu pada tanah yang hancur. Ia menarik perlahan pedang kuno yang masih tertancap di perut kanannya, membuangnya ke samping dengan bunyi dentingan logam yang nyaring. Rasa sakit yang luar biasa hebat dari efek samping Overclock dan luka tusuk langsung menghantam sistem sarafnya secara bersamaan.
Baju besi Exo-Suit-nya mengeluarkan asap tipis, pendar sirkuitnya mati total demi melakukan perbaikan internal sistem makro. Untuk pertama kalinya, Ethan terlihat sangat rentan, terduduk di antara mayat tiga ahli Pondasi Spiritual yang baru saja ia bantai sendirian.
Suasana di luar gerbang Kota Angin Puyuh mendadak menjadi sesunyi kuburan. Ribuan pasang mata dari atas dinding kota membeku. Pasukan sisa dari Sekte Pedang Awan yang berada di garis belakang seketika menjatuhkan senjata mereka; keberanian mereka menguap habis bersama dengan kematian tragis para pemimpin mereka.
"Dia... dia benar-benar melakukannya," Shen Qingxuan bergumam lirih dari atas dinding gerbang, sepasang mata zamrudnya bergetar hebat. Investasi politik yang awalnya ia anggap sebagai perjudian kecil kini telah berubah menjadi tiket emas menuju kekuasaan yang tak terbatas. Pemuda ini bukan lagi sekadar aset; dia adalah badai yang siap merobek tatanan Sembilan Langit.
Namun, sebelum ada orang lain yang sempat bergerak, sesosok bayangan biru sutra telah melompat turun dari dinding gerbang setinggi belasan meter.
Mu Rong berlari sekuat tenaga, mengabaikan debu siber dan bau darah yang menyengat di medan laga. Wajah cantiknya dipenuhi oleh air mata kepanikan saat melihat Ethan yang terduduk lemas di tanah.
"Tuan Ethan!"
Mu Rong langsung menjatuhkan dirinya, merengkuh tubuh tegap Ethan ke dalam pelukannya. Tangannya yang gemetar buru-buru mengeluarkan beberapa butir pil penyembuh tingkat tinggi dari kantong spiritualnya. "Tolong, makan ini! Ini adalah Pil Pengembali Darah milik keluargaku! Anda tidak boleh mati... saya mohon..."
Ethan mendongak perlahan. Tanpa topeng siber-nya, wajahnya terlihat sedikit pucat, namun sepasang mata kelamnya tetap memancarkan ketenangan yang luar biasa. Ia menatap wajah Mu Rong yang menangis tersedu-sedu demi dirinya.
Ethan tidak memakan pil itu, melainkan menggunakan tangan kanannya yang masih terbalut armor untuk memegang lembut jemari Mu Rong, menghentikan gerakannya yang panik.
"Aku tidak akan mati secepat itu, Mu Rong," ucap Ethan, suaranya terdengar serak namun dipenuhi kelembutan yang sangat langka. "Lukaku... sudah mulai menutup. Ini hanya proses kalkulasi pemulihan biasa."
Mu Rong tidak peduli dengan istilah 'kalkulasi' yang diucapkan Ethan. Ia justru semakin erat memeluk leher pemuda itu, menyandarkan kepalanya di bahu kanan Ethan yang masih utuh. "Jangan pernah melakukan hal segila ini lagi... melihat Anda tertusuk pedang tadi... jantungku rasanya berhenti berdetak."
Merasakan dekapan hangat Mu Rong dan detak jantung gadis itu yang tidak teratur karena mencemaskannya, Ethan terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya, rasa hampa yang selama ini bersayap di dadanya terasa meleleh, digantikan oleh sejenis perasaan penuh dan hangat yang belum pernah ia ketahui keberadaannya di dunia lamanya. Pria yang dulunya melompat dari gedung karena bosan dengan kehidupan, kini menemukan sebuah alasan kuat untuk terus melangkah maju dan bertahan hidup di dimensi baru ini.
---
Tiga minggu berlalu sejak pertempuran berdarah di gerbang Kota Angin Puyuh. Kota itu kini telah pulih, namun strukturnya telah berubah secara total. Geng Serigala Hitam telah dibubarkan, dan sisa-sisa pengikut Sekte Pedang Awan secara sukarela menyatakan tunduk di bawah aliansi Keluarga Mu dan Paviliun Anggrek Langit.
Nama Ethan telah menjadi legenda hidup di seluruh pelosok Langit Pertama. Pria misterius berpakaian baju zirah masa depan yang tak pernah lepas dari tubuhnya, memiliki ketampanan dewa, kecerdasan taktis yang mengerikan, dan kekuatan yang mampu melompati ranah kultivasi.
Siang itu, di paviliun utama Keluarga Mu, Ethan berdiri di tepi balkon, menatap langit biru yang cerah. Luka-lukanya telah sembuh total berkat kombinasi teknologi medis internal Exo-Suit dan pil rohani dari Mu Rong. Basis kultivasinya kini telah stabil sepenuhnya di Ranah Pemurnian Qi Tingkat 2.
Sret.
Pintu paviliun terbuka, menampilkan Mu Rong yang mengenakan gaun sutra putih barunya, ditemani oleh Shen Qingxuan yang membawa sebuah gulungan peta kuno berlogo emas.