Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan menyukainya!
Dia baru saja menjadi seorang ayah, tetapi dia tidak bisa menyentuh atau sekedar menemani wanita yang bertaruh nyawa untuk darah dagingnya.
Adrian hanya mampu memperhatikan dibalik jendela, bagimana senyuman lebar Alya ditemani oleh seorang pria di sampingnya. Pria yang selalu menatap Alya berbeda, siapa pun yang melihatnya tahu betapa besar pria itu mencintai mantan istrinya hanya dengan sorot mata yang tertuju pada Alya.
"Kenapa rasanya sesakit ini mengetahui fakta ada yang lebih mencintaimu Al?" lirih Adrian memegangi dadanya.
Dia segera pergi dari sana ketika melihat Pradipta menuju pintu ruang perawatan. Pulang ke hotel dengan wajah ditekuk dan perasaan sedih.
Di kamar hotel, dia duduk di sofa sembari memandangi layar laptopnya. Terdapat desain setengah jadi di sana.
Selain karena proyek yang sebenarnya tidak terlalu penting, dia memilih menetap di Bandung beberapa bulan untuk menyaksikan kelahiran putranya di dunia, meski tidak bisa memeluknya. Bahkan tugas yang dilakukan seorang suami dan ayah diruang persalinan digantikan oleh pria lain.
"Mas kenapa sejak tadi diam saja? Ada masalah dikantor?" tanya Safira langsung duduk di samping Adrian dan menyandarkan kepalanya dipundak.
"Hm, ada beberapa masalah."
"Kapan kita pulang?"
"Besok," jawab Adrian sangat singkat.
"Syukur deh, aku nggak perlu melewatkan jadwal pemeriksaan." Safira tersenyum lebar. "Aku harap kali ini hasilnya positif."
"Kamu nggak lelah?" Adrian kini beralih pada istrinya dengan tatapan kosong. "Kamu nggak lelah terus berharap akan hamil? Nggak harus setiap bulan Safira!"
"Kenapa? Memangnya mas nggak mau punya anak dariku? Apa karena sudah ada dari Alya? Agar mas gampang menyingkirkanku?"
"Bukan begitu." Adrian memijit pelipisnya. "Aku muak mendengarnya."
"Mas!" Suara Safira meninggi. "Aku sedang berusaha memberimu anak tapi kamu mengatakan hal seperti ini?"
"Aku lelah." Adrian menutup laptopnya dan berdiri.
"Apa mas masih mencintai Alya dan berharap untuk kembali?"
"Iya, aku selalu berharap demikian." Adrian memejamkan matanya. Dia seolah tidak terima melihat Alya bahagia dengan pria lain.
"Tega kamu mas. Kamu mengatakan masih mencintai mantan istrimu di depanku? Kamu nggak pernah berusaha untuk menghargaiku!"
"Sudah Safira, aku lelah." Suara Adrian semakin pelan, dia sadar ucapannya tidaklah pantas. Bagaimana pun Safira adalah istrinya.
"Lalu bagaimana denganku? Aku juga lelah harus mengerti mas setiap hari, aku ...."
"Kalau kau lelah maka pergilah, aku nggak pernah menahanmu!"
***
Suasana bahagia masih menyelimuti Alya saat ini. Apalagi ketika mengendong putranya yang belum ia beri nama. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang.
Dan tahu siapa yang menjemputnya? Pradipta, pria itu datang lebih awal, mengurus segalanya hingga dia bisa pulang dengan tenang.
"Sena sangat sibuk sehingga nggak bisa menemanimu," ujar Pradipta. Di tangan kanan dan kirinya penuh oleh barang bawaan, dan dua langkah di depannya, ada wanita cantik sedang mengendong bayi yang begitu tampan.
"Aku nggak tau harus membalas apalagi kebaikanmu Mas. Sejak pindah ke Bandung, hampir seluruh kegiatanku melibatkan dirimu," ucap Alya setelah duduk di dalam mobil.
"Dan kamu nggak merasakan apapun? Mungkin debaran jantung yang mengebu?" Tatapan Dipta terhunus pada retina coklat gelap milik Alya yang juga menatapnya.
Sayangnya wanita itu lebih dulu memutus, menunduk menatap retina dengan warna sama pada bayi digendongannya.
"Nggak mas."
"Sayang sekali," guman Dipta memasang sabuk pengamannya dan mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sungguh mereka tampak seperti sepasang suami istri, apalagi ketika tiba di kontrakan dan Dipta mengekori Alya. Banyak yang memberi selamat pada Dipta karena mengira suami dari tetangga mereka.
"Jadi ini suami baru kamu? Kok nikah nggak ngasih tau ibu sih!"
Baru menginjakkan kaki di teras kontrakan, dia sudah mendapatkan omelan di luar nalar ibunya.
Siapa yang menikah? Dan dimana suaminya?
"Alya belum nikah Bu."
"Jangan berusaha bohong sama ibu Al. Tetangga sudah pada cerita kalau kamu sudah punya suami. Ini suami kamu?" ibu Alya menunjuk Dipta tanpa segang, membuat pria yang tidak tahu apa-apa itu kikuk.
"Masuk dulu Bu," ajak Alya.
Ibunya dan Dipta ikut masuk.
Kebetulan ibu Alya baru tiba beberapa menit lalu setelah perjalanan dadakan ketika mendengar putrinya telah melahirkan. Dia tidak ingin melewatkan momen cucu pertamanya.
"Kamu ini sangat mudah membuka hati. Kamu nggak lupa sudah diselingkuhi dan ditelantarkan?" Omelan itu berlanjut dan Alya mulai menghela napas panjang.
"Bu, biar saya yang jelaskan. Alya butuh istirahat," ujar Dipta akhirnya.
Ibu Alya menatap tajam putrinya dan mengikuti langkah Dipta untuk bicara berdua.
Sedangkan Alya, dia menuju kamar dan membaringkan bayinya di box samping tempat tidur. Sena telah menyiapkan segalanya ketika dia dirumah sakit. Katanya agar pulang langsung dinikmati saja.
"Mas Dipta baik-baik saja kan?" gumam Alya.
Dia langsung meninggalkan kamar, hendak menemui ibunya yang temperamental terhadap laki-laki. Mungkin trauma ditinggal saat hamil masih menguasai hati dan pikiran ibunya.
"Ibuk salah paham terhadap Alya. Saya dan dia nggak menikah, hanya saja saya mengaku menjadi suaminya karena dulu Alya sering difitnah hamil di luar nikah oleh warga."
"Bukan bermaksud untuk mengajari, tetapi jangan terlalu menyalahkan Alya, apalagi sampai mengatakan terlalu mudan membuka hati Bu, soalnya sampai sekarang saya masih kesusahan untuk masuk ke hatinya." Di akhir kalimat, suara Dipta semakin pelan tetapi masih di dengar jelas oleh ibu dan Alya yang tidak jauh dari sana.
"Kamu suka dengan putri saya?"
"Iya Bu."
"Tapi dia itu seorang janda, diselingkuhi oleh suaminya. Sekarang memiliki anak. Memangnya kamu nggak beratan?"
"Saya tahu Bu, dan saya masih tetap menyukainya."
"Jangan menyukainya, kamu itu hanya penasaran!" Dan ibu Alya pun berbalik tanpa peduli pada Dipta yang baru saja mendapatkan penolakan.
Alya? Wanita itu mendengar segalanya dan dia tidak kaget. Dia sudah tahu dan merasakan bahwa sejak lama Dipta menyukainya.
Awal dia menyadari saat diberikan preserved rose dalam kubah kaca oleh Dipta. Namun, dia bersikap seolah-olah tidak tahu. Bukan karena ingin memanfaatkan Pradipta, tetapi dia memiliki pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri.
Apa kurangku sehingga suami yang begitu mencintaiku selingkuh sampai punya anak dan berhubungan sangat lama?
Pertanyaan yang tidak pernah ia temukan jawabannya. Dipta sangat baik, dia tulus. Tetapi Alya takut mencoba, dia takut menyakiti dan disakiti untuk kedua kalinya.
"Mas mau minum apa? Biar saya buatkan," ujar Alya menghampiri Pradipta dengan senyuman.
"Saya ada pekerjaan penting, mungkin lain kali suguhannya."
"Maaf Mas, jika perkataan ibu menyakitimu."
"Sama sekali nggak."
"Terimakasih," ucap Alya lagi.
"Sama-sama Alya, tapi nggak perlu berterimakasih, saya senang membantumu. Mungkin simulasi jika memiliki istri nanti."
"Jangan lupa undang saya ke pernikahan mas nantinya."
"Saya nggak bisa mengundangmu, karena kamu nggak boleh menjadi tamu dipernikahan saya nanti."
.
.
.
Peluk jauh untuk Dipta
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
klo cinta... tak akn km mnduakn alya