Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : Perubahan yang Nyata
Sementara Bagus sedang digembleng habis-habisan menembus batas kekuatannya di kesunyian perbukitan Desa Pagedongan, roda kehidupan di sudut kota metropolitan Jakarta juga terus berputar membawa takdir yang baru. Di bawah langit kota yang selalu sibuk, kondisi kehidupan Sri telah mengalami transformasi batin yang sangat luar biasa pasca-pembersihan spiritual secara total yang dilakukan oleh Kyai Ahmad di pesantren beberapa bulan lalu.
Pengaruh energi hitam dari pelet Jaran Goyang yang sempat merusak jaringan logikanya benar-benar telah sirna tak berbekas dari sukmanya. Berkat kemurahan Tuhan yang sengaja menghapus seluruh ingatan kelamnya selama terikat mantra gaib, Sri menjalani hari-harinya saat ini dengan hati yang sangat plong, bersih, dan tanpa beban trauma masa lalu. Baginya, masa-masa dua bulan menghilang itu hanyalah sebuah fase di mana tubuh fisiknya sempat ambruk akibat kelelahan bekerja lembur di kantor, sehingga ia harus mengambil cuti panjang untuk memulihkan diri.
Namun, efek dari pembersihan spiritual jalur putih itu ternyata tidak hanya mengembalikan kesehatan fisiknya menjadi bugar dan merona kembali. Aliran doa suci dari Kyai Ahmad rupanya ikut membuka simpul-simpul kebaikan yang selama ini tersembunyi di dalam palung hati Sri. Sosok Sri yang dulunya dikenal sangat angkuh, sombong, selalu memandang rendah orang lain berdasarkan materi, dan sangat memuja status sosial tingkat tinggi, kini telah berubah total seratus delapan puluh derajat menjadi pribadi yang baru.
Sri kini telah kembali aktif bekerja sebagai seorang wanita karir di kawasan elite Sudirman. Namun, penampilannya di kantor saat ini tampak jauh lebih bersahaja dan ramah. Tidak ada lagi tatapan mata merendahkan atau senyum sinis yang dulu sering ia lemparkan kepada para staf bawahannya, petugas kebersihan, ataupun para kurir pengantar barang yang datang ke meja administrasinya. Sri menjelma menjadi sosok wanita yang sangat rendah hati, tutur katanya lembut menyejukkan hati, dan selalu menghargai siapapun tanpa pernah lagi melihat apa pekerjaan atau berapa kasta sosial orang tersebut.
"Sri, kamu bener-bener berubah banyak ya sejak masuk kerja lagi setelah cuti sakit kemarin," ujar Siska pada suatu siang saat mereka sedang menikmati istirahat makan siang bersama di kubikel kantor. Siska menatap temannya itu dengan pandangan heran sekaligus kagum. "Dulu kamu kalau melihat kurir atau bapak ojol bawa barang bawaan ke sini mukanya ketus banget. Sekarang, jangankan ketus, kamu malah sering kasih mereka tips uang jajan dan senyuman ramah. Ada keajaiban apa, sih?"
Sri menghentikan suapannya sejenak, lalu mengulas seulas senyuman tulus yang sangat manis sebuah senyuman alami yang memancarkan binar kehidupan murni dari dalam jiwanya, sangat berbeda dengan senyum mati robot manekinnya saat terpengaruh pelet dulu.
"Aku cuma sadar satu hal, Sis," jawab Sri dengan nada suara yang sangat lembut dan tenang. "Pekerjaan atau harta di dunia ini kan cuma titipan sementara dari Allah. Kita tidak punya hak sama sekali untuk menyombongkan diri atau merendahkan derajat hidup sesama manusia hanya karena urusan materi. Di mata Allah, level kita semua itu sama, yang membedakan cuma ketulusan hati kita dalam berbuat baik kepada sesama."
Siska sempat terpaku mendengar untaian kalimat bijak tersebut, tidak menyangka bahwa kata-kata seindah itu bisa keluar dari mulut seorang Sri yang dulunya sangat materialistis. Ia hanya bisa mengangguk-angguk setuju dengan rasa takjub yang mendalam.
Perubahan nyata pada diri Sri tidak hanya berhenti di lingkungan dalam kantor. Di luar jam kerjanya, Sri menjelma menjadi sosok yang sangat gemar berbuat baik dan menolong sesama yang sedang kesusahan. Hampir setiap akhir pekan, ia menyisihkan sebagian besar gaji bulannya bukan lagi untuk berbelanja tas mewah atau nongkrong di kafe estetik Senopati, melainkan untuk disumbangkan ke panti asuhan, memberi makan kucing jalanan, hingga ikut serta dalam aksi sosial membagikan paket sembako gratis bagi para pekerja jalanan dan kurir ojek online di pinggir jalan raya.
Setiap kali melihat jaket hijau khas ojol melintas di depannya, ada sebuah getaran aneh yang sangat halus mampir di ulu hati Sri. Getaran itu bukan lagi rasa risih atau jijik seperti dulu, melainkan sebuah rasa empati dan rasa hormat yang teramat mendalam bagi perjuangan hidup mereka. Jauh di dalam bawah sadarnya yang terdalam, nama 'Bagus' memang telah terhapus dari memorinya, namun sisa-sisa doa pertobatan yang tulus dari pemuda itu rupanya telah menjelma menjadi energi berkah yang terus menuntun langkah hidup Sri agar selalu berjalan di atas koridor kebaikan dan keridhoan Allah Sang Pemilik Hati.
“Ketika belenggu kegelapan telah sirna disapu oleh kesucian doa, jiwa yang dulunya angkuh terbungkus materi akan meleleh menjadi telaga kebaikan yang meneduhkan. Harta dan tahta duniawi tak lagi menjadi ukuran, karena kemuliaan sejati hanya milik mereka yang memilih jalan kerendahan hati.”
— Sang Alifas Yang Merumput