NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:152k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Hari Sebelum Keberangkatan

Boqin Changing kini duduk berhadapan dengan Patriark Wang Zhou di sebuah paviliun kecil yang berada di belakang kediaman patriark. Di atas meja batu di antara mereka, dua cangkir teh masih mengepulkan uap hangat. Angin pagi berembus pelan, menggoyangkan dedaunan bambu yang tumbuh di sekitar paviliun.

Patriark Wang Zhou mengangkat cangkir tehnya sebelum tersenyum.

"Kalau mengenai Senior Wu Xing... Tentu saja aku mengizinkannya mengajar di sekte ini."

Senyumnya semakin lebar.

"Bagiku, justru ini merupakan sebuah kehormatan. Siapa yang menyangka Sekte Dua Pedang Petir akan dihuni oleh seorang patriak sekte besar."

Boqin Changing menganggukkan kepala pelan.

"Itu memang salah satu alasannya."

Ia kemudian menyesap tehnya sebelum melanjutkan,

"Namun aku juga sengaja meninggalkannya di sini untuk menjaga sekte."

Wang Zhou tampak semakin puas mendengarnya.

"Itu justru membuatku semakin tenang."

Ia kembali mengangkat cangkir teh dan meminumnya perlahan.

Setelah beberapa teguk, rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi pikirannya akhirnya tidak mampu lagi ia tahan.

"Ngomong-ngomong... Sebenarnya Senior Wu Xing berada di ranah kultivasi apa?"

Boqin Changing meletakkan cangkir tehnya.

Wang Zhou melanjutkan,

"Aku pernah mendengar darimu sebelumnya. Kemampuan Senior Wu Xing tidak jauh berbeda dengan Senior Yan Luo."

"Sedangkan Yan Luo sendiri terkenal sebagai pendekar kuat sekaligus pelindung Kekaisaran Zhou."

Ia berpikir sejenak sebelum menebak,

"Apakah... ia juga seorang pendekar bumi?"

Ia menggeleng pelan.

"Eh, maksudku... Mungkin pendekar bumi puncak?"

Boqin Changing memandang Wang Zhou beberapa saat. Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Tidak."

Wang Zhou sedikit bingung.

"Bukan?"

Boqin Changing menjawab dengan nada datar, seolah sedang mengatakan sesuatu yang sangat biasa.

"Wu Xing berada di ranah pendekar langit."

"Pfffttt!!"

Semburan teh langsung menyembur keluar dari mulut Wang Zhou.

"Uhukkkk!"

Ia buru-buru meletakkan cangkirnya sambil terbatuk-batuk hebat. Sebagian teh bahkan membasahi meja batu di hadapannya.

Beberapa saat kemudian ia akhirnya berhasil mengatur napas. Matanya membelalak menatap Boqin Changing.

"Pendekar... langit katamu?"

Boqin Changing menganggukkan kepala santai.

"Benar."

Wang Zhou masih tampak seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Mustahil... Setahuku... belum pernah ada seorang pun di dunia ini yang berhasil menembus ranah pendekar langit."

"Itu adalah ranah setelah pendekar bumi."

Boqin Changing justru tertawa kecil melihat reaksi patriark tersebut.

"Dunia ternyata lebih luas dari yang kita kira. Lagipula itu belum semuanya."

Wang Zhou menatapnya dengan wajah kaku.

"Belum... semuanya?"

Boqin Changing tersenyum tipis.

"Wu Xing bukan hanya seorang pendekar langit. Ia adalah Pendekar Langit Puncak."

"..."

Wang Zhou benar-benar terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Beberapa saat kemudian...

"Uhuk...Uhuk....”

Ia kembali batuk pelan, kali ini bukan karena teh, melainkan karena masih berusaha mencerna kenyataan yang baru saja didengarnya.

Pendekar langit puncak... Keberadaan seperti itu bahkan tidak pernah muncul dalam catatan yang pernah ia baca. Ia bahkan tidak pernah mendengar ada seseorang bisa mencapainya saat ini. Jika berita ini tersebar keluar, kemungkinan besar seluruh dunia persilatan akan terguncang.

Melihat ekspresi Wang Zhou, Boqin Changing hanya tersenyum santai.

"Jadi... aku berharap kalian bisa bekerja sama dengan baik."

Wang Zhou masih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pahit.

"Chang’er... kurasa bukan aku mungkin akan belajar banyak darinya."

Boqin Changing mengangkat cangkir tehnya sekali lagi.

"Itulah yang kuharapkan."

Boqin Changing dan Patriark Wang Zhou kembali mengobrol beberapa saat mengenai perkembangan Sekte Dua Pedang Petir. Setelah semua hal yang ingin disampaikannya selesai, Boqin Changing perlahan berdiri.

"Aku permisi dulu."

Wang Zhou ikut bangkit dan membalas hormat.

"Hati-hati di jalan, Chang'er."

Boqin Changing menganggukkan kepala tipis sebelum meninggalkan kediaman patriark.

...*******...

Hari itu ia tidak langsung kembali ke rumah. Ia terlebih dahulu mendatangi kediaman Guru Tian untuk berpamitan dan berbincang sebentar. Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkah menuju rumah Tabib Yi Min. Dari sana, ia juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa kenalan lainnya di dalam Sekte Dua Pedang Petir.

Tanpa terasa, matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan. Langit berubah menjadi jingga, kemudian perlahan menghitam. Barulah ketika malam benar-benar tiba, Boqin Changing kembali melangkahkan kaki menuju rumahnya.

Krekk...

Pintu halaman didorong perlahan. Begitu memasuki halaman, suara tawa langsung terdengar dari ruang depan.

Boqin Changing sedikit mengangkat alis. Saat memasuki ruangan, ia melihat Boqin Feng sedang duduk bersama Long Aotian, Wu Xing, dan Yan Luo.

Keempatnya tampak mengobrol dengan santai sambil sesekali tertawa. Melihat Boqin Changing datang, Boqin Feng langsung melambaikan tangan.

"Chang'er! Cepat sini! Duduk bersama kami."

Boqin Changing tersenyum tipis sebelum menghampiri mereka. Ia duduk di samping ayahnya.

"Bagaimana hasil memancing hari ini?"

Boqin Feng langsung tertawa puas.

"Hahaha... tentu saja luar biasa. Hari ini kami mendapatkan banyak ikan."

"Ibumu sekarang sedang memasaknya di dapur."

Selesai mengatakan itu, Boqin Feng tampak sangat bangga.

"Sudah kubilang, selama ada Tuan Luo, hasil memancing pasti tidak mengecewakan."

Yan Luo hanya tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.

Boqin Changing kemudian melirik ketiga pengikutnya. Entah mengapa begitu tatapan itu jatuh kepada mereka, Long Aotian, Wu Xing, dan Yan Luo langsung merasakan firasat yang sangat buruk.

Boqin Changing bertanya dengan tenang,

"Lalu... apa yang kalian lakukan di sini?"

"..."

Ketiganya saling berpandangan.

"Eh..."

Long Aotian membuka mulut, tetapi tidak tahu harus menjawab apa. Wu Xing ikut terdiam. Yan Luo bahkan memilih menundukkan kepala.

Melihat reaksi mereka, Boqin Changing tersenyum tipis.

"Kalau begitu... tolong bantu ibuku di dapur."

Kalimat itu baru saja selesai diucapkan.

"Baik, Tuan Besar!"

Ketiganya langsung berdiri hampir bersamaan. Mereka bahkan tidak menunggu satu detik pun sebelum bergegas menuju dapur.

Melihat tingkah mereka, Boqin Feng hanya mengedipkan mata dengan bingung.

"Aneh sekali..."

Di dapur Long Aotian langsung mengambil ikan dan mulai membersihkannya. Wu Xing sibuk menyalakan tungku sekaligus memanggang beberapa ikan. Sementara Yan Luo membantu memotong bumbu dan menyiapkan berbagai bahan masakan lainnya.

Ehuang Baiye yang melihat pemandangan itu langsung panik.

"Aduh... tidak usah, tidak usah. Kalian ini tamu."

"Lagipula kalian semua pendekar besar. Mana mungkin ibu membiarkan kalian bekerja di dapur."

Namun ketiga orang itu justru menggeleng keras.

"Tidak apa-apa, Nyonya."

"Kami senang membantu."

Ehuang Baiye masih berusaha menolak.

"Tapi..."

Sebelum ia sempat melanjutkan ucapannya, Yan Luo tiba-tiba menggenggam kedua tangannya sendiri sambil berkata dengan wajah memohon.

"Nyonya... tolong kami."

Ehuang Baiye berkedip bingung.

"Tolong?"

Yan Luo mengangguk cepat.

"Izinkan kami membantu di dapur. Kalau kami kembali ke ruang depan... kami yakin Tuan Besar akan menghajar kami."

Sesaat dapur menjadi sunyi. Lalu...

"Hahaha..."

Ehuang Baiye tak mampu lagi menahan tawanya. Ia tertawa cukup lama hingga bahunya ikut berguncang.

"Kalian bertiga ini..."

"Baiklah. Kalau memang begitu, bantu ibu saja di sini."

Ketiga orang itu langsung menghela napas lega.

"Terima kasih, Nyonya!"

Tak lama kemudian makan malam akhirnya siap. Semua orang berkumpul mengelilingi meja makan. Berbagai hidangan ikan hasil tangkapan siang tadi memenuhi meja.

Suasana makan malam berlangsung sangat hangat. Boqin Feng beberapa kali menceritakan bagaimana dirinya hampir tercebur ke sungai ketika menarik ikan besar. Mendengar itu, semua orang langsung tertawa.  Wu Xing dan Yan Luo justru menambahkan berbagai cerita lain yang membuat suasana semakin ramai.

Tawa memenuhi seluruh rumah sederhana itu. Malam terasa berjalan begitu damai.

Setelah makan malam usai, Yan Luo akhirnya berpamitan untuk kembali ke kediamannya. Long Aotian dan Wu Xing juga masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Rumah perlahan kembali sunyi. Namun Boqin Changing tidak menuju kamarnya. Ia justru berjalan menuju teras rumah. Di sana terdapat sebuah kursi kayu sederhana yang menghadap ke halaman.

Ia duduk perlahan. Tatapannya terangkat menuju langit malam yang dipenuhi bintang.

Dua hari lagi, ia akan kembali meninggalkan rumah ini. Kembali meninggalkan kedua orang tuanya. Kembali meninggalkan Sekte Dua Pedang Petir.

Perjalanan panjang lain telah menantinya. Karena itu, ia ingin menikmati dua hari terakhirnya dengan tenang.

Angin malam berembus pelan membawa hawa dingin pegunungan. Beberapa saat kemudian, ia merasakan sesuatu disampirkan perlahan di atas kedua bahunya. Sebuah jubah luar hangat.

Boqin Changing tersenyum kecil tanpa perlu menoleh.

"Ibu..."

Ehuang Baiye berdiri di belakang putranya sambil merapikan jubah itu agar menutupi bahunya dengan baik.

"Di luar dingin. Pakailah ini. Nanti kau sakit.”

Boqin Changing hanya tersenyum tipis.

"Terima kasih, Ibu."

Ehuang Baiye tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di samping putranya, ikut memandang langit malam yang luas.

Untuk sesaat tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Namun keheningan itu justru terasa jauh lebih hangat daripada ribuan kata.

1
Raju
yeeeeeei.........
asri_hamdani
Cerita cucu tabib Yi Min tidak di ceritakan min, bukannya itu salah satu pengikutnya di masa depan
Boqin Changing: Dia lagi pergi sama bibi gurunya ke sekte gunung tombak...🤭
total 1 replies
Andi Heryadi
semoga jantung patriack kuat klo mendengar boqin,long Aotian dan Yan luo juga pendekar langit sm kyk wu xing🤣🤣
asri_hamdani
Karya yang bagus
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍😍
Nanik S
Pendekar langit Puncak . uhuk uhuk😄😄😄
Nanik S
Pffff pendekar Langit ..🤣
Indra P.
KASIH IBU.....tetap nomor 1
A 170 RI
kok shang bukannya zhou🤭
tariii: iya kata aku juga Zhou, kalau Shang kan bang Boqin sendiri.. 🤭🙏
total 1 replies
udenk
sehebat2nya manusia, rumah memang selalu menjadi tempat yang terbaik untuk kembali, rehat dan mencari kanyamanan. mantab thor
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow 🌽🔥
Raden Mamad
bagi penggemar fantasi pria ada referensi novel bagus nih JALAN MENUJU KEILAHIAN',
Raden Mamad
kalo mau membaca novelnya bagus ini saya asa rekomendasi novel.terjemah tapi bagus sekali dari mulai cerita sampai ejaannya judul 'JALAN MENUJU KEILAHIAN' karya scadres
Jeffie Firmansyah
ketua patriak Wang Zhou, kaget mendengar sudah di ranah pendekar langit puncak.. 😄😄😄
pasti dalam hati nya , bisa menilai Chang'er sudah di ranah apa ? melihat teman 2 nya sdh di ranah pendekar langit 🤣🤭😍
tdk kebayang melihat mimik muka nya 💪💪💪
tariii
pelindung kekaisaran Zhou atau Shang ya, thor? agak lupa dah. 🤭😂🙏
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Smile/
Akhmad Baihaki
asal jagan memancing keributan kan?🤣🤣🤣
Boqin Changing
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍... makasih up nya thor
Boqin Changing
kali diingat lagi😭🤣🤣🤣🤣, Wi Cing😭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!