Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Demam di Hari Minggu
Hari Minggu pagi di mansion Samudra terasa sangat tenang. Cahaya matahari pagi menyinari taman belakang, menerangi bunga-bunga yang sedang mekar. Udara terasa segar, dan suara burung berkicau di pepohonan.
Sarah sudah bangun sejak pukul tujuh. Ia mengenakan dress panjang berwarna pastel, dengan rambut yang diikat kuncir kuda. Ia duduk di kursi taman belakang, menikmati secangkir teh hijau hangat sambil membaca buku yang ia bawa dari perpustakaannya yang tersisa.
Suasana sangat damai. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga dan tanah basah. Sarah merasa sangat nyaman. Hidup di mansion ini perlahan mulai terasa seperti rumah.
Namun, satu hal yang membuat Sarah sedikit bertanya-tanya: Samudra tidak terlihat sejak pagi. Biasanya, pada hari Minggu, Samudra akan duduk di ruang tamu dengan secangkir kopi, membaca koran atau tablet. Tapi pagi ini, kursi itu kosong.
Yola, asisten rumah tangga, sedang berjalan melewati taman dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.
Sarah memanggilnya. "Yola, pagi."
Yola berhenti dan tersenyum. "Selamat pagi, Sarah. Sudah sarapan?"
"Sudah, Yola. Aku hanya minum teh," jawab Sarah. "Yola, aku tidak melihat Pak Samudra sejak pagi. Dia belum bangun?"
Yola menghela napas. "Tuan Samudra semalam pulang sangat larut. Katanya ada urusan dengan klien dari Swiss. Dia baru tidur sekitar jam tiga pagi. Dan tadi pagi, saat saya mau membersihkan kamarnya, saya melihat dia masih tidur. Tapi... saya agak khawatir."
"Khawatir kenapa?" tanya Sarah.
"Wajahnya kelihatan pucat, dan keringatnya banyak. Saya pikir dia mungkin kelelahan. Jadi saya buatkan bubur ayam untuknya. Tapi saya tidak berani masuk ke kamarnya lagi," jawab Yola.
Sarah menatap nampan di tangan Yola. Matanya terlihat cemas. "Yola, biar aku yang mengantar buburnya. Kamu bisa melanjutkan pekerjaan yang lain."
Yola tersenyum lega. "Benarkah, Sarah? Tapi saya tidak mau merepotkan."
"Tidak repot. Aku memang ingin melihat keadaannya," jawab Sarah.
Yola menyerahkan nampan itu pada Sarah. Sarah mengambilnya dengan hati-hati, lalu berjalan menuju pintu belakang mansion, melewati ruang tamu, dan naik tangga menuju lantai dua.
Kamar tidur Samudra berada di ujung lorong. Sarah berjalan perlahan, jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Ia tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan aneh saat akan memasuki kamar Samudra.
Sarah mengetuk pintu dengan pelan. "Pak? Pak Samudra?"
Tidak ada jawaban. Hanya gumaman samar yang terdengar dari dalam.
Sarah mengetuk lagi. "Pak, saya Sarah. Yola membuat bubur ayam. Boleh saya masuk?"
Gumaman itu terdengar lagi, sedikit lebih keras. Sarah menganggap itu sebagai izin. Ia membuka pintu perlahan, dan masuk ke dalam kamar.
Kamar tidur Samudra sangat luas. Dindingnya berwarna abu-abu muda, dengan jendela besar yang menghadap ke taman. Di tengah ruangan, ada sebuah tempat tidur besar dengan seprai berwarna putih. Dan di atas tempat tidur itu, terbaring Samudra Grayson, dengan rambut yang sedikit berantakan, dan wajah yang terlihat pucat.
Samudra hanya mengenakan kaus putih tanpa lengan. Selimut tipis menutupi tubuhnya dari pinggang ke bawah. Keringat membasahi dahinya, dan napasnya terdengar sedikit berat.
Sarah mendekati tempat tidur. Ia meletakkan nampan di atas meja kecil di samping tempat tidur, lalu menatap Samudra dengan cemas.
"Pak?" panggil Sarah pelan.
Samudra tidak merespons. Napasnya masih teratur, tapi terdengar sedikit tersengal. Sarah mengulurkan tangannya, dan meletakkan telapak tangannya di atas dahi Samudra.
Begitu tangannya menyentuh kulit Samudra, Sarah langsung menarik tangannya dengan kaget. Kulit Samudra sangat panas, seperti terbakar. Sarah memperkirakan suhu tubuhnya mungkin mencapai 39 derajat Celsius.
"Pak, Bapak demam tinggi," bisik Sarah.
Samudra perlahan membuka matanya. Matanya sayu, tampak sangat lelah. Ia menatap Sarah dengan pandangan yang buram. "Sarah... kamu di sini..."
"Ya, Pak. Saya di sini. Yola bilang Bapak pulang larut malam. Ternyata Bapak demam," ujar Sarah, suaranya penuh kekhawatiran.
Samudra mencoba tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. "Hanya... hanya demam biasa. Tidak perlu khawatir."
"Tapi Bapak panas sekali. Ini bukan demam biasa," jawab Sarah.
Samudra menutup matanya kembali. Badannya terasa sangat lemas, dan pusingnya semakin menjadi. Sarah menatap Samudra, dan rasa iba mulai memenuhi hatinya. Pria yang selalu terlihat tegar, kini terbaring lemah di tempat tidur. Dan untuk pertama kalinya, Sarah melihat sisi rapuh dari Samudra.
Sarah mengambil handuk kecil yang ada di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu kembali ke samping tempat tidur. Ia menempelkan handuk itu di dahi Samudra.
Samudra tersentak karena sensasi dingin, tapi perlahan ia mulai merasa lebih nyaman. "Terima kasih, Sarah."
"Tidak perlu berterima kasih, Pak. Bapak harus banyak istirahat," ujar Sarah. "Bapak sudah minum obat?"
"Belum," jawab Samudra.
Sarah melihat sekeliling, dan menemukan kotak obat demam di atas lemari. Ia mengambilnya, membaca dosisnya, lalu mengambil satu butir dan menyodorkannya pada Samudra.
"Pak, minum obat ini. Dan minum air putih yang banyak," ujar Sarah.
Samudra mengambil obat itu, menelannya dengan susah payah, lalu meminum air putih yang diberikan Sarah. Namun, saat ia mencoba duduk untuk meminum air, badannya terasa sangat lemas. Ia hampir jatuh kembali ke bantal.
Sarah segera menopang bahu Samudra, membantunya duduk dengan lebih nyaman. "Pak, pelan-pelan. Jangan dipaksa."
Samudra menatap Sarah yang sedang membantunya. Matanya menangkap raut khawatir di wajah wanita itu. "Kamu tidak perlu melakukan ini, Sarah. Kamu hamil, kamu tidak boleh terlalu lelah."
"Pak, saya hanya menempelkan handuk dan memberikan obat. Ini bukan pekerjaan berat," jawab Sarah. "Yang penting, Bapak cepat sembuh."
Samudra tersenyum tipis. "Kamu sangat baik, Sarah."
Sarah tersenyum, lalu melanjutkan menempelkan handuk dingin di dahi Samudra. Ia duduk di kursi di samping tempat tidur, menemani Samudra. Sesekali, ia mengganti handuk yang sudah mulai hangat, dan memberikannya lagi yang lebih dingin.
Waktu terus berjalan. Samudra akhirnya tertidur kembali, dengan handuk dingin menempel di dahinya. Sarah tetap di sana, menjaganya. Ia tidak ingin meninggalkan Samudra sendirian dalam kondisi demam tinggi.
Beberapa jam kemudian, Samudra terbangun. Demamnya sudah mulai turun, dan ia merasa sedikit lebih baik. Saat ia membuka mata, ia melihat Sarah masih duduk di kursi, dengan kepala sedikit terangguk-angguk, hampir tertidur.
"Sarah," panggil Samudra lembut.
Sarah membuka matanya. "Pak? Bapak sudah bangun? Bagaimana perasaannya?"
"Lebih baik. Demamnya sudah turun," jawab Samudra. "Kamu tidak tidur?"
"Tidak, Pak. Saya menjaganya," jawab Sarah.
Samudra menatap Sarah, dan ada sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Wanita di depannya ini, yang seharusnya hanya asisten kontrak, telah merawatnya dengan penuh kesungguhan.
"Terima kasih, Sarah. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu," ujar Samudra.
Sarah tersenyum. "Bapak tidak perlu membalas apa-apa. Bapak sudah baik padaku. Ini balasan kecil dariku."
Samudra menatap Sarah, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak yang menghubungkan mereka.