Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Bagi Dira, kalimat itu terasa begitu menenangkan. Di dunia bisnis yang penuh persaingan dan kepentingan, ia tahu masih ada seseorang yang selalu berada di sisinya tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasan.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil. Beri yang menyetir, sementara Dira duduk di kursi penumpang sambil memandangi lampu-lampu kota yang mulai menyala. Suasana hening beberapa menit. Lalu Beri membuka pembicaraan. "Tapi, Dir..."
"Hm?"
"Kurasa sudah waktunya kamu membuka hati."
Dira menoleh. "Maksud Kakak?"
"Usiamu sudah pantas untuk menjalin hubungan dengan seseorang." Beri melirik sekilas ke arah Dira sebelum kembali fokus ke jalan. "Aku tidak bilang kamu harus buru-buru menikah. Tapi jangan sampai hidupmu hanya berisi pekerjaan. Kamu bekerja dari pagi sampai malam. Kalau tidak di kantor, ya di pabrik. Kalau tidak di pabrik, pasti sedang membaca laporan."
Dira tersenyum kecil. "Itu memang pekerjaanku."
"Aku tahu." Beri mengangguk. "Aku hanya takut kamu terlalu memforsir dirimu sendiri."
Dira memandang Beri beberapa saat. Lalu tiba-tiba wajahnya berubah seolah sedang merajuk. "Kenapa Kakak bilang begitu?"
"Hm?"
"Apa Kakak sudah lelah jadi sandaranku?"
Beri langsung tertawa. "Darimana kesimpulan itu?"
"Padahal barusan Kakak janji akan berusaha menjadi tameng yang baik." Dira menggeleng pelan sambil tersenyum jahil. "Isss..."
Beri terkekeh hingga geleng-geleng kepala. "Kamu ini memang suka membalikkan omonganku."
"Jadi benar, Kakak sudah bosan?"
"Bukan."
"Lalu?"
Beri tersenyum hangat. "Aku hanya takut kamu terlalu keras pada dirimu sendiri." Ia melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. "Kamu sudah melewati masa kecil yang berat. Setelah itu kamu mengejar pendidikan tanpa kenal lelah. Lalu membangun bisnis dari nol. Kamu terus berlari seolah takut terlambat." Dira terdiam. "Sesekali... istirahat juga tidak apa-apa."
Mobil kembali dipenuhi keheningan. Dira memandang keluar jendela. Ia tahu Beri benar. Namun ada satu alasan yang tidak pernah mampu ia ceritakan. Ia merasa tidak punya waktu untuk berjalan pelan. Karena di depan sana ada seseorang yang terus ingin ia kejar. Seseorang yang telah menjadi tujuan dari setiap langkahnya selama bertahun-tahun. Tanpa sadar, bibir Dira membentuk senyum tipis.
Melihat ekspresi itu, Beri hanya menggeleng kecil. Entah siapa yang ada di dalam hati gadis yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu. Namun ia berharap, ketika hari itu tiba, orang tersebut benar-benar mampu membahagiakan Dira.
Suasana di dalam mobil yang semula tenang berubah menjadi lebih hangat. Dira menoleh ke arah Beri sambil menyunggingkan senyum jahil. "Ngomong-ngomong soal usia yang pantas..."
Beri melirik sekilas. "Kenapa?"
"Aku rasa justru Kakak yang harus lebih dulu memikirkan pasangan."
Beri terkekeh. "Lho, kok jadi aku?"
"Iya." Dira menahan tawa. "Aku sudah sering mendengar Bu Monik mengeluh."
"Mengeluh apa?"
"'Anakku yang tampan ini kapan bawa calon?'"
Beri langsung menggeleng. "Ibu cerita begitu ke kamu?"
"Sering." Dira tertawa kecil. "Kasihan, lho. Bu Monik pasti sudah ingin menimang cucu."
Beri menghela napas panjang sambil tersenyum pasrah. "Rupanya sekarang kalian kompak mengerjaiku."
"Tentu saja." Dira mengangguk mantap. "Ini demi kebahagiaan Bu Monik."
Beri ikut tertawa. "Lagian, aku kan sudah janji mau jadi tameng kamu dulu."
Dira mengernyit. "Terus?"
"Berarti kamu duluan yang harus punya pasangan."
Dira spontan memonyongkan bibir. "Iiisss..." Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Pintar sekali mengelak."
"Bukan mengelak."
"Bohong."
"Beneran."
"Kalau begitu, besok aku lapor Bu Monik kalau Kak Beri sengaja mengalihkan pembicaraan."
Beri tertawa lepas. "Wah, ancamannya serius juga."
"Tentu." Dira menyilangkan kedua tangan di dada sambil berpura-pura kesal. "Jangan-jangan selama ini Kakak juga diam-diam belum siap ditagih soal pasangan."
"Rahasia."
"Nah, kan! Ketahuan." Mobil dipenuhi tawa keduanya. Untuk beberapa saat, mereka melupakan rapat, investasi, dan segala kesibukan yang biasanya memenuhi hari-hari mereka. Di momen-momen sederhana seperti itulah, hubungan Dira dan Beri terasa seperti kakak dan adik yang saling menggoda, saling mendukung, dan saling menjaga tanpa pamrih.
Mobil Beri akhirnya berhenti di depan apartemen Dira. "Sudah sampai, Bos Dira."
Dira tersenyum sambil mengambil tasnya. "Terima kasih, sopir pribadi."
"Bayarnya nanti ditransfer."
"Maunya es krim lagi, ya?"
"Kalau bisa, sekalian dua." Keduanya tertawa.
Dira kemudian menoleh ke arah minimarket yang masih buka di sebelah apartemen. "Aku mau beli makanan dulu."
"Masih lapar?"
"Buat bekal nanti malam."
Beri langsung menghela napas panjang, seolah sudah menebak jawabannya. "Begadang lagi?"
Dira hanya nyengir. "Sedikit."
"Dira..." Beri menatapnya dengan wajah seorang kakak yang sedang menasihati adiknya. "Ingat, jangan lupa istirahat."
"Iya."
"Jangan begadang terus."
"Iya..."
"Nanti cepat tua."
Mendengar itu, Dira langsung tertawa. "Ih, tenang saja. Aku ini pemilik skincare terbaik di kota ini."
Beri mengangkat sebelah alis. "Oh ya?"
"Iya." Dira menunjuk wajahnya sendiri dengan penuh percaya diri. "Aku punya produk anti-aging. Jadi nggak bakal cepat tua."
Beri langsung tertawa terbahak-bahak. "Produkmu itu bukan buat mengalahkan kurang tidur."
"Siapa bilang?"
"Dokter juga kalah sama logikamu."
Dira ikut tertawa. "Kalau begitu nanti aku bikin produk baru."
"Namanya?"
"'Krim Anti Begadang.'"
Beri menggeleng sambil menahan tawa. "Itu namanya bukan skincare, tapi keajaiban."
Dira kembali tertawa hingga matanya menyipit. "Sudah sana pulang."
"Iya." Beri membuka pintu mobilnya. "Jangan lupa makan."
"Siap."
"Dan..." Beri menunjuk Dira dengan telunjuknya. "Tidur sebelum tengah malam."
Dira mengacungkan jempol. "Siap, Bos."
Beri kemudian masuk ke mobil dan melambaikan tangan sebelum perlahan meninggalkan area apartemen. Sementara Dira berjalan menuju minimarket dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya. Di tengah kerasnya dunia bisnis, candaan sederhana bersama Beri selalu menjadi jeda yang membuat hari-harinya terasa sedikit lebih ringan.
Usai membeli beberapa kotak makanan dan segelas kopi, Dira berjalan menuju arah pintu masuk apartemennya. Malam semakin larut. Suasana di sekitar lobi mulai lengang. Dira melangkah cepat, berniat segera naik ke unitnya untuk kembali bekerja. Namun, Langkahnya mendadak terhenti.
Seseorang telah berdiri tepat di hadapannya. Pakaian lusuh. Tatapan yang begitu dikenalnya. Senyum yang justru membuat tubuh Dira membeku. "Halo... putri cantikku."
Suara itu seketika mengembalikan Dira pada mimpi buruk yang selama ini berusaha ia lupakan. "Ayah..." Plastik belanjaan di tangannya hampir terlepas. Napasnya mulai memburu. Jari-jarinya gemetar hebat. Seluruh tubuhnya terasa dingin.
Pria itu tersenyum lebar. "Wah... sekarang anak Ayah sudah cantik sekali dan sepertinya sudah jadi orang kaya. Pasti uangmu banyak, kan?" ia menyeringai.
Dira tanpa sadar melangkah mundur. "Jangan..."
"Ayah cuma ingin bertemu."
"Jangan mendekat." Dadanya naik turun. Tubuhnya mulai bergetar hebat hingga kopi yang dibawanya tumpah membasahi lantai. Ia menatap lelaki itu dengan mata yang mulai dipenuhi air mata. "Tolong..." Suaranya bergetar. "Pergilah."