Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transparant
"Tuan Ricko, saya harus pulang. Udah ditunggu sama Mama mau makan malam bersama. Nanti Mamaku jadi sumala kalau anaknya ini pulang kemalaman," bisik Callie pada Ricko yang duduk di sebelahnya.
Rose pun sedari tadi sudah memberi kode pada Callie agar mereka segera pulang. Rose sudah dihubungi oleh Kakaknya agar segera pulang. Walaupun pergi bersama Callie, tetap saja keluarga Rose khawatir. Keduanya cewek sehingga tidak baik jika pergi saat malam hari. Namun saat ini mereka ada di sebuah villa milik keluarga Ricko. Oma Sesil langsung menarik Callie dan Rose untuk ikut dengannya setelah kejadian di mall tadi. Satpam juga sudah mengembalikan dompet yang tadi hendak dicopet. Callie sudah menolak ajakan Oma Sesil dengan dalih ada acara keluarga. Namun Oma Sesil tak percaya padanya.
"Oma, biarkan Callie dan Rose pulang ke rumahnya. Kasihan ini sudah mal..."
"Diam dulu, Ricko. Oma lagi mau video call sama Opamu itu. Oma mau mengenalkan calon cucu menantu pada Opamu. Pokoknya Opa harus tahu kalau cucunya masih normal," sela Oma Sesil meminta Ricko untuk diam saat dirinya sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Cucu menantu siapa, Oma? Jangan mengada-ngada," seru Ricko dengan raut wajah paniknya.
"Itu Callie dan Rose. Callie mau Oma jodohkan sama kamu. Terus Rose nanti sama Ben," seru Oma Sesil dengan antusiasnya.
Apa?
Callie, Rose, Ricko, dan Ben tampak terkejut mendengar ucapan Oma Sesil. Terutama Callie dan Rose yang sama sekali belum memikirkan tentang jodoh. Sekolah SMA saja baru mulai, sudah mau dijodohkan. Callie mencuri pandang ke arah Ricko. Memang Ricko ini tampan dan mapan, tapi terlalu dewasa menurut Callie. Jarak usia mereka pun cukup lumayan jauh sehingga bagi Callie kurang cocok.
"Jangan bercanda, Oma. Callie masih sekolah kelas 1 SMA lho," seru Callie dengan mata memelotot.
"Nggak papa, Ricko masih sanggup menunggu sampai kamu lulus kok sambil mengasah pisaunya biar tajam." ceplos Oma Sesil sambil menaikturunkan alisnya.
"Pisau? Buat apa? Buat sembelih kambing?" tanya Callie dengan tatapan polosnya. Padahal wajah Ricko dan Ben sudah memerah karena ucapan Oma Sesil yang sangat ambigu itu.
"Oma nggak usah ya kotori pikiran anak kecil. Mending Oma tuh pul..."
"Opa sayangku cintaku honey sweetyku," seru Oma Sesil tiba-tiba sambil melambaikan tangannya ke arah layar ponsel membuat Callie dan Rose menganga tak percaya.
Oma mirip Opa Julian yang lebay,
Pfft...
Rose menahan tawanya mendengar ucapan Callie tentang Oma Sesil yang mirip dengan Julian. Jika dengan pasangannya, pasti heboh dan terkesan sangat lebay. Ricko menatap Ben untuk meminta bantuan agar Oma Sesil tak bicara macam-macam pada Opanya. Pasalnya Oma Sesil ini terlalu melebih-lebihkan tentang apa yang belum tentu terjadi. Namun Ben hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Dia tak berani karena tahu bagaimana Oma Sesil.
"Coba mana lihat calon cucu menantuku," seru Opa Brixy dalam layar video callnya dengan Oma Sesil.
"Ini," Kamera langsung mengarah pada Callie dengan raut wajah shocknya. Callie pun dengan sigap merapikan poni rambutnya dan tersenyum manis.
"Halo, Opa. Kenalkan aku Callie. Opa yang ada di maf..."
Dor... Dor...
Tempat ini sudah dikepung,
Tuan Ricko, gawat. Villa ini dikepung oleh organisasi ZERO SUN,
Mendengar ucapan salah satu pengawal, Ricko dan Ben langsung berdiri. Wajah keduanya tegang dan sedikit panik, pasalnya ada tiga orang perempuan yang harus mereka lindungi. Oma Sesil menatap cemas pada cucunya. Ricko dan Ben langsung menyiapkan pistolnya kemudian keluar. Sedangkan Oma Sesil malah mondar-mandir karena takut. Rose pun begitu, menutupi rasa takutnya dengan bermain ponsel. Padahal dia bingung harus menghubungi siapa agar mendapatkan bantuan.
"Callie mau bantu Tuan Ricko dan Ben dulu," pamit Callie membuat Oma Sesil dan Rose memelototkan matanya.
"Nggak boleh. Jangan main-main, Callie. Nanti kalau kena tembak, Mama Rachel dan Papa Lucky sedih lho." seru Rose melarang Callie untuk pergi.
"Kasihan juga itu Tuan Rickodok," ucap Callie sambil mengedikkan bahunya acuh. Callie menyiapkan alat-alat yang dibawanya.
"Ricko itu mafia, Callie. Beginian mah urusan gampang. Kamu nggak usah bantu," Walaupun Oma Sesil khawatir tapi dia ingat kalau cucunya itu salah satu pemimpin mafia.
"Callie mau lihat aja kalau begitu," ucap Callie yang langsung menyelonong pergi. Padahal Oma Sesil dan Rose sudah melarangnya.
Callie...
Astaga...
***
"Wah... Ternyata ketua mafia yang dikabarkan tidak suka dekat dengan cewek itu punya adik perempuan toh. Atau ini malah kekasih rahasianya?" seru ketua mafia ZERO SUN, Calvin Marest.
Ricko dan Ben langsung mengalihkan pandangannya ke arah belakang mereka. Ternyata Callie keluar dari pintu villa dengan santainya. Calvin tampak tersenyum mempunyai seseorang yang bisa dijadikan kelemahan Ricko dan Ben. Tinggal jatuhkan saja itu kelemahannya maka Ricko dan Ben tidak akan berkutik. Berbagai rencana sudah tersusun dalam otak Calvin. Seakan dia yakin kalau dengan menggunakan Callie pasti akan menang.
"Masuk, Callie." teriak Ricko yang sekarang tak lagi menggunakan panggilan "Nona" pada Callie. Pasalnya ini bukan lagi sedang dalam mengurus pekerjaan.
"Nggak mau. Ikutan tembak dor dor dor kayanya seru. Udah lama ini nggak tembak-tembakan," ucap Callie dengan santainya kemudian mendekati Ricko dan Ben.
"Jangan main-main," pekik Ricko yang khawatir kalau terjadi sesuatu pada Callie.
Aman. Mereka tidak akan bisa mendekati kita,
Ssssssssss...
Ayo maju,
Callie menahan badan Ricko dan Ben dengan posisinya berada di depan mereka. Callie meniupkan sesuatu hingga keluar sebuah bulatan seperti balon kemudian hilang. Semua orang yang melihatnya hanya bisa menganga tak percaya. Mereka sekaan tengah melihat seorang anak kecil yang sedang bermain balon sabun.
Serang...
"Diam aja," larang Callie pada Ricko, Ben, dan pengawal lainnya agar tidak maju. Membiarkan semua anggota organisasi ZERO SUN untuk menyerang mereka terlebih dahulu.
Dugh...
Eh...
"Kok ada dindingnya ini?" seru Calvin saat hendak maju menyerang Ricko dan Ben tapi menabrak sebuah pembatas dinding. Namun dinding tersebut sama sekali tak terlihat sehingga mereka kebingungan.
Tuk... Tuk...
Woy...
Apaan nih?
"Perasaan nggak ada apa-apanya deh?" gumam Ben yang juga penasaran. Apalagi melihat Calvin dan lainnya seperti mengetuk angin tapi ada suaranya. Mereka tak bisa mendekati area pintu villa karena terhalang tembok transparant.
Tuk... Tuk...
Dugh...
Eh...
Ben pun dengan ragu-ragu maju ke depan kemudian meraba area depannya. Rasanya seperti ada tembok atau dinding kaca. Saat diketuk dan ditendang pun, kaki tangannya sedikit sakit. Ini sangat aneh sekaligus menakjubkan. Ben menatap Callie yang terlihat menahan tawanya. Begitu pun dengan Ricko yang melihat Callie dari samping. Dia tak menyangka seorang gadis SMA bisa mempunyai senjata atau alat seperti ini. Ricko yakin ini berasal dari bulatan balon tadi.
Ctakkk...
Brakkk...
Pyarrrr...
Argh....
Kaca...
Jadi balon?