"Tidak akan, aku menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
'Karena aku mirip ibu? Tuan, apakah kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu.'
Akhirnya aku bertemu orang yang sering disebut-sebut namanya di setiap pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Karunia , 19 tahun.
*
Dewi pelangi, 28 tahun.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tengah menonton televisi. Dewi bersandar di dada Johan, dagu Johan di pucuk kepala istrinya.
"Mas, bagaimana kalau kita cari seorang perempuan yang mau dihamili." suara Dewi tiba-tiba mendongak pada Johan.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Johan merasa aneh dengan perkataan istrinya, Dewi.
*
Kedua perempuan diatas adalah isteri Johan Alamsyah 37 tahun, Pria matang itu berniat poligami agar terhindar dari masksiat.
Apakah niatnya akan tercapai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Selesai membuat teh, Karunia ke lantai dua sengaja lewat tangga dari ruang tamu agar Dewi melihat nya sekalian dia nguping pembicaraan.
Tenyata Bu Dewi tidak jadi memakai rahimku sebagai gantinya si Shopie, ya sudahlah. Sebentar lagi mungkin aku akan dicerai, jadi tidak perlu takut lagi pada Tuan si kucing garong. Padahal aku mau balas dendam pada si mak lampir Mama Tuan Johan yang dulu ngusir ibu, ck.
Sampai di depan ruangan kerja, Karunia melihat ada sela ternyata pintu tidak ditutup rapat.
Tok tok tok. "Tuan." panggil Karunia.
Kenapa tidak ada jawaban.
"Tok tok tok, Tuan."
Panggil Karunia lagi sambil mendorong pintu melongo ke dalam.
Tidak ada orang, Alhamdulillah. Aku letakkan saja di meja lalu kabur.
Karunia masuk berjalan perlahan ke meja kerja Johan, saat meletakkan teh.
"Eh copot." Niah latah, ada yang memeluk pinggangnya dari belakang.
Deg, aroma maskulin menyegarkan menyeruak indra penciuman Karunia.
"Kenapa mengendap endap seperti pencuri." suara bariton berbisik di telinganya, tubuh Niah membeku tengkuknya sampai merinding.
Dasar kucing garong, aku masuk perangkap.
"Tuan lepasin saya, nanti Nyonya melihat saya bisa dipecat."
Mohon Niah suara gugup, jantungnya berdebar sangat kencang gak tahan dengan sensasi pijatan johan pada gundukan kecil di dadanya.
"Kenapa kamu takut, di sini aku bosnya." Johan masih berbisik suara berat di telinga Karunia.
Aroma seperti bau mawar yang samar, lengan kokoh Johan semakin erat memeluk Niah dengan satu tangan masih meremas dua benda kenyal yang pas di genggamannya itu.
Kenapa aku terangsang pada pria ini yang nyata nyata gak boleh terjadi, ibu maafkan Niah.
Batin Karunia, sekuat tenaga ditahan nya agar tubuhnya tidak menggeliat begitu juga mulutnya jangan sampai mendesah.
Kamu harus tegar, Niah.
"Janji tidak ada kontak fisik, Tuan telah melanggar kontrak." Niah suara serak.
"Kamu bilang saja berapa dendanya, saya akan bayar. Tapi biarkan aku memeluk kamu, aku ini suami mu. Halal bagi kita, bahkan berdosa jika istri menolak keinginan suaminya."
"Dasar munafik!" sergah Niah.
"Saat bersama Shopie kenapa Tuan tidak ingat dosa, sudahlah! Lepasin saya Tuan, entar saya jerit nih biar Nyonya melihat kita." Karunia mengancam.
Ehm, bagaimana dia tau aku ada hubungan dengan Shopie, siapa yang memberi tahunya? Dewi gak mungkin, tikus kecil ini pasti asal tebak, haha pasti itu.
"Menjerit lah, saya tidak takut. Ruangan ini kedap suara." Johan menantang Karunia, padahal pintu ruang kerjanya terbuka lebar karena hadap belakang dan terhalang tubuh Johan Karunia percaya aja.
Sialan, batin Niah.
"Tapi Nyonya akan curiga kalau saya kelamaan di sini."
"Memangnya kenapa, kalau dia keberatan boleh pergi dari rumah ini."
Ck, "Saya yang keberatan, kalau Tuan terus saja memperlakukan saya begini. Biarkan saya pergi dengan membawa nama baik, lagian Nyonya juga sudah ada Shopie. Dia yang akan mengandung anak Tuan."
"Apa kamu kecewa karena Shopie menggantikan kamu, kita bisa membuat anak kita sendiri kalau kamu mau." bisik Johan menyeringai.
Ih, amit amit. Ya Allah jangan sampai terjadi.
"Haha, kenapa saya kecewa. Asalkan Nyonya bisa memiliki bayi, siapa pun itu orangnya gak ada masalah sama saya." Niah tertawa sumbang.
"Ei, dari suaramu kelihatan sekali kamu kecewa. Jangan sedih, kamu mau anak katakan saja jangan malu malu." goda Johan.
Astaga, dasar gak tau malu.
"Jangan sok tau, sudahlah Tuan lepaskan saya ngap, gak bisa nafas." Niah menggeliat antara geli dan ingin dilepas.
Hehe, "Kamu sudah terangsang jangan ditahan, nanti sakit kepala. Kamu sangat menggemaskan Niah, aku ingin mencium mu lagi."
"Tidak mau!" ketus Niah, wajahnya merah padam.
"Lepas Kataku!" jerit nya suara serak, hampir menangis
Johan melepaskan pelukannya, memutar Niah menghadap nya. Niah hendak mengambil jarak namun Johan menahan nya, mengusap wajah Niah. "Baiklah aku akan menunggu kamu membuka hatimu, istriku." ujar Johan sumringah.
"Saya tidak akan membuka hati untuk Tuan, permisi." Niah mendorong Johan.
Johan menangkap tangan Niah. "Jangan begitu, aku akan membuat mu bahagia Niah."
"Saya bahagia, cukup Tuan jangan melecehkan saya. Karena sudah ada Shopie, bukankah Tuan seharusnya menceraikan saya."
"Tidak akan, saya menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
Cup. Johan mengecup jemari Karunia.
Karena aku mirip, ibu. Tuan Johan, apa kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu. Akhirnya aku bertemu orang yang selalu jadi pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Desah dalam hati Karunia melihat sosok di depannya.
Saat ayah dan ibunya masih ada dari Karunia masih kecil, dirinya selalu diungkit di dalam setiap pertengkaran mereka.
Masih ingat, saat ayahnya selalu menyebut ibunya jalang. "Kalau aku jalang, kenapa kamu masih memakai ku. Kenapa kamu tidak menceraikan aku." teriak ibu Niah saat itu.
"Itu karena aku telah berjanji pada Nyonya Ambar ( Mama Johan) untuk menjaga mu agar jangan sampai muncul di hadapan Tuan Johan." jawab ayah Niah saat itu.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan itu. Ayo kita bercerai saja, sudah cukup uang tutup mulut yang diberikan Nyonya Ambar jangan kamu terima lagi."
"Kenapa tidak, Niah anak Johan. Cucu Tuan dan Nyonya besar Alamsyah. Seharusnya Niah yang mewarisi harta mereka karena Johan sampai sekarang belum punya anak."
"Hah, sudahlah. Bosan kamu bahas itu itu saja kalau kamu sudah gak ada duit."
Itu Kata kata ayah dan ibunya 4 tahun yang lalu sebelum tragedi naas menimpa mereka.
Waktu pulang sekolah saat lulus lulusan SMP, ayah dan ibunya menjemput Niah, di jalan mereka bertengkar hebat gegara Ayah ingin membawa Karunia entah kemana.
Sampai di tikungan mesra, Niah tidak tau bagaimana tubuhnya tiba tiba melayang, seolah ada tangan yang melemparnya dari atas motor.
Niah sempat hilang ingatan namun tidak lama, cuma saat kejadian tabrakan itu saja yang masih samar di ingatannya. Karunia tidak ingat ada truk dalam perjalanan saat itu, dia mendengar dari cerita orang orang bahwa ayah dan ibunya meninggal karena dilindas truk air galon.
"Hei, kenapa melamun?" suara Johan mengembalikan Niah ke masa sekarang.
"Tuan sangat tampan, ijinkan saya keluar sekarang." mohon Karunia suara pelan.
Cis, "Baiklah istriku, terima kasih tehnya." ucap Johan.
*
Keluar dari ruangan Johan, Niah bernafas lega.
Turun di ruang tamu sudah tidak ada Shopie maupun Nyonya Dewi. Niah ke dapur menyimpan nampan nya, hah!
"Apa bibi sudah tidur, kenapa sepi sekali."
Gumam Karunia kembali ke kamarnya melihat jam dinding 23.30wib.
Berapa lama aku di ruangan Johan, benarkah dia ayahku. Bukankah sekarang sudah canggih, aku bisa melakukan tes DNA untuk memastikan nya, berapa kira kira biaya nya.
Niah, mengambil ponselnya, mau melihat harga tes DNA dan juga alamat rumah sakitnya
*****♥️
Hi, jangan lupa like nya ya. Satu jempol kalian sangat berarti bagi othor. Karena othor ngetik nya juga pakai jempol, bayangkan berapa ribu hentakan jempol itu, hehe.
Jumpa lagi, 👍
kemana sofinya Thor