Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena perubahan
Farhan adalah suami yang baik, namun terlalu banyak kebohongan yang ia simpan, termasuk tentang siapa yang ada di hatinya. Meskipun sulit dilupakan sikap demi sikap Farhan yang sudah membohonginya, namun Amira memaafkan karena ia berpikir kalau Farhan berada di posisi serba salah antara istrinya atau orang tuanya.
Semua seperti normal kembali, namun yang tenang seringkali menghasilkan badai yang dahsyat, entahlah. Amira berusaha bersikap seperti biasanya lagi, menyambut dan melayani suaminya. Farhan pun berusaha melakukan perannya sebagai suami. Hubungan ranjang mereka pun berjalan lancar, meskipun wajah Amira harus sembunyi dari terang. Ya, Farhan masih membayangkan wanita pujaannya saat melakukan hal itu.
“Besok lusa aku ada dinas ke luar kota selama 3 hari, tolong siapkan pakaian dan keperluan lainnya, ya,” ucap Farhan.
“Baik, Mas. Nanti aku siapkan. Tinjau proyek lagi, Mas?” tanya Amira penasaran.
“Bukan, survei tempat buat acara kantor,” sahut Farhan singkat.
“Oalah, aku pikir urusan proyek.” Farhan menggelengkan kepalanya.
**
Hari ini hari keberangkatan Farhan. Dia berpamitan pada Amira, “Aku pergi dulu, ya. Kasih tahu adik-adikmu, aku belum sempat berpamitan sama mereka.”
Amira mengangguk. “Iya, mereka juga seperti merindukan kamu. Kamu sudah jarang ngobrol sama mereka, tapi mereka maklum, pasti kamu sibuk kerjaan kantor.”
Ada perasaan bersalah pada kedua iparnya, namun Farhan kali ini benar-benar harus pergi karena urusan kantor.
“Nanti pulang dari urusan kantor, kita ajak mereka berdua pergi. Kemarin kan kalian pergi tanpa aku.”
“Baiklah, nanti aku sampaikan sama mereka.”
“Yasudah, aku berangkat ya. Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa, kabari aku.”
Amira mengangguk sambil meraih tangan Farhan untuk dicium. “Iya, Mas. Aku ingat semua pesan kamu. Kamu juga baik-baik di sana, jangan lupa makan dan istirahat yang cukup,” ucap Amira berpesan pada Farhan.
Di rumah benar-benar sepi karena Bi Sumi harus kembali ke rumah utama sebagai pekerja senior. Bu Ayumi tidak rela meminjamkan Bi Sumi lama-lama, dan itu bukan masalah besar untuk Amira.
Untuk mencari kesibukan, Amira merawat tanaman di halaman rumahnya. Dia bahkan sudah membeli berbagai jenis tanaman dalam pot; Amira begitu bahagia, bahkan tak berhenti tersenyum untuk bunga-bunga itu.
“Wah, tampaknya kamu tak kalah indah dengan bunga-bunga ini,” ucap Farhana tiba-tiba, membuat Amira sedikit terkejut.
“Mbak Hana ya? Adiknya Mas Farhan?” tanya Amira memastikan.
Perempuan itu mengangguk tanpa ragu. “Iya, Mbak. Aku Farhana, adik satu-satunya.”
“Mas Farhan nggak ngasih tahu kalau kamu mau ke sini, jadi aku belum nyiapin apapun.”
“Nggak perlu repot-repot, Mbak. Aku nggak ribet orangnya,” ucap Farhana sambil matanya melihat sekeliling.
“Mbak, ini terlalu rame buat Mas Farhan. Dia lebih menyukai hal-hal simpel dan pastinya sepi dan menenangkan.
“Aku sekarang ngerti kenapa Mamah selalu cerita kalau dia selalu pulang ke rumah Mamah setelah bekerja dan pulang saat larut,” ucap Farhana, membuat Amira terkejut.
“Maksud kamu apa, Hana?” Amira ingin memastikan kalau yang didengarnya itu salah, tapi setelah diulang, ternyata benar. Apa yang dia lakukan adalah sebuah awal dari rasa asing itu.
“Mbak tau nggak, kenapa sejak awal masuk kuliah dia memutuskan untuk pisah rumah? Ya, karena dia ingin mendesain rumah impiannya sendiri yang tenang dan tidak mencolok. Dia nggak suka sama pilihan warna di rumah yang full color dan terang. Bahkan, rumahnya dulu adalah kebebasannya, dan sekarang aku melihat apa yang dia atur sudah berubah. Pasti dia sangat kecewa.”
Amira terdiam
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Amira, namun ia berusaha menahannya. Rasa sedih bercampur rasa bersalah yang begitu besar menyelimuti hatinya. Selama ini ia memaafkan segala kebohongan dan sikap dingin Farhan karena mengira suaminya terjepit di antara dirinya dan orang tuanya, padahal ada alasan lain yang jauh lebih mendasar dan menyakitkan ia telah mengubah rumah impian suaminya menjadi tempat yang bertentangan dengan jiwanya.
"Ma... maksud kamu... selama ini Mas Farhan dingin, menjauh, dan sering pulang larut... semua karena aku mengubah rumah ini?" tanyanya dengan suara bergetar, nyaris berbisik, tenggorokannya terasa tercekat.
Amira menunduk, menatap bunga-bunga yang baru saja ia rawat dengan gembira tadi. Kini, bunga-bunga itu terasa seperti tuduhan bisu atas ketidaktahuannya. Ia diam kembali, terhanyut dalam rasa kaget dan penyesalan yang mendalam, menyadari bahwa alasan di balik kedinginan Farhan bukan sekadar masalah kesibukan atau kewajiban pada orang tua, melainkan ketidakcocokan yang ia ciptakan sendiri di bawah atap rumah mereka sendiri.
"Itu bukan alasan utama," ucap Hana dalam hati.
Padahal Amira tidak tau kalau ada alasan lebih kompleks lagi dari semua yang ia duga hari ini yaitu perasaan.
"Mbak nggak tahu, wajar saja. Cuma sayangnya, Mas Farhan bukan tipe orang yang mau bilang apa yang dia suka dan tidak suka. Dia lebih memilih diam dan menjauh daripada bicara."
Farhana melihat penyesalan itu, namun yang ia sesalkan bukan perubahan rumah ini tapi Farhan tidak pernah membuka hatinya untuk Amira. Dari awal rumah dibeli itu semua adalah karakter utama Clarisa yang hampir sama dengan Farhan. Anak yang mencintai sunyi.
Rumah ini sebenarnya disediakan Farhan sejak awal untuk Clarisa bukan Amira. dan saat Amira merubahnya karena status istri Farhan maka dia tidak bisa menolak selain menerima.
"Aku berharap mbak pura-pura tidak tau saja, takutnya nanti mas Farhan marah sama aku. Aku cuma ingin memberi tahu ini saja, siapa tau dugaanku benar dan dia bisa seperti dulu," ucap Farhana yang merasa takut kalau Farhan akan marah.
Lalu saat masuk ke dalam rumah, lihatlah dinding rumah dipenuhi dengan foto-foto kebersamaan Farhan dan Amira. Dari awal melahirkan sampai foto keluarga yang mereka buat setelah beberapa bulan menikah dan itu dipasang memenuhi dinding, ini terlalu mencolok dan Farhana hanya menggelengkan kepalanya, hal itu disadari oleh Amira.
"Apakah Mas Farhan juga tidak suka hal ini?" tanya amira menebak sambil menunjuk ke arah Foto.
Farhana hanya menghela nafas "kepribadian Mbak sama dengan Mamah sepertinya tidak jauh berbeda, lebih suka menunjukkan perasaan, dan orang yang jujur tentang apa yang ingi diutarakan. Sangat bertolak belakang dengan sifat Mas farhan, tapi dengan dia menerima selama ini berarti dia sangat menyayangi Mbak Amira, kalau tidak mana mungkin dia mengizinkan, "
Kalau saja Farhana tahu, semua izin yang Farhan berikan adalah rasa bersalah karena insiden malam pertama yang membuat Amira dilarikan ke rumah sakit. Tapi Amira pun tidak tau kalau malam pengantin itu adalah alasan kenapa farhan setuju dengan semua perubahan hari ini.