NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 5: Orang di Balik Meja 7*

Hari itu kafe tutup setengah hari.

Alasannya “perbaikan pipa”,

Padahal yang diperbaiki cuma kepala mereka berdua yang penuh tanda tanya.

Alya duduk di meja 7,

Amplop nomor 4 masih belum dibuka.

Revan berdiri di seberang, tangan masuk ke saku celemek, rahangnya tegang.

“Kamu yakin mau buka sekarang?” tanya Revan pelan.

Alya mengangguk. “Kalau nggak dibuka, dia menang.”

Ia sobek amplopnya pelan-pelan.

Di dalamnya ada satu lembar kertas. Nggak ada puisi, nggak ada nasihat.

Cuma satu foto polaroid lama.

Foto Alya umur 19 tahun, duduk di meja kafe di Jakarta, sambil pegang naskah tebal.

Di belakangnya, blur, ada tulisan tangan kecil:

_“Dia masih nulis, Mas. Jangan ditinggalin.”_

Tangan Alya lepas. Foto itu jatuh ke meja.

“Mas…?” gumamnya.

Ia ngangkat kepala, ngeliat Revan.

Revan diem. Terus ia tarik napas panjang, kayak orang yang akhirnya nyerah buat sembunyi.

“Mas Bayu.”

Pintu kafe terbuka pelan.

Mas Bayu masuk bawa dua kresek buku bekas, senyumnya lebar kayak biasa.

Tapi begitu lihat ekspresi mereka berdua, senyum itu hilang.

“Wah… ketahuan juga ya,” katanya pelan.

Alya berdiri. “Mas yang nulis surat nomor 3 dan 4?”

Mas Bayu ngangguk. “Iya, Nduk.”

Revan maju satu langkah. “Kenapa? Kenapa ikut campur?”

Mas Bayu narik kursi, duduk. Usianya mungkin 50-an, tapi matanya masih tajam kayak orang yang udah lihat banyak cerita.

“Karena aku kenal kakakmu, Alya.”

Dunia Alya berhenti 2 detik.

“Kakaku… meninggal waktu aku 17 tahun. Mas nggak mungkin kenal.”

Mas Bayu senyum tipis, sedih.

“Aku kenal dia waktu dia magang di toko buku aku di Jakarta, 8 tahun lalu. Namanya Dara. Dia yang ngasih aku foto ini, seminggu sebelum kecelakaan.”

Ia nunjuk foto di meja.

“Dia bilang, ‘Mas, kalau adik aku nyerah nulis, tolong cari dia. Bilangin, halamannya belum selesai.’”

Alya nggak bisa napas.

“Dara… dia selalu manggil aku ‘Alya kecil’. Dia bilang aku bakal jadi penulis yang lebih berani dari dia.”

Mas Bayu mengangguk.

“Setelah dia meninggal, aku cari kamu. Tapi kamu udah pindah-pindah. Baru 3 bulan lalu aku dengar ada barista baru di Kafe Senja yang namanya Alya Maharani, suka baca buku tua, nulis di notes HP jam 2 pagi.”

Ia ngeliat ke Revan.

“Terus aku lihat kamu juga, Revan. Anak itu mirip banget sama Rani. Aku pikir, mungkin kalau kalian berdua saling baca… kalian bisa selesaiin hal yang belum selesai.”

Revan diem lama. Terus ia duduk, pelan.

“Jadi surat-surat itu… bukan cuma buat Rani.”

“Bukan,” jawab Mas Bayu.

“Surat-surat itu buat kalian berdua. Buat nyembuhin. Buat ngingetin, kalian nggak sendirian.”

Alya ngusap mata yang tiba-tiba panas.

“Kenapa nggak bilang dari awal?”

“Karena Dara bilang, ‘Kalau langsung ketahuan, dia bakal kabur lagi. Biar dia percaya dulu sama kata-katanya sendiri.’”

Mas Bayu ketawa kecil. “Ternyata bener.”

---

Malam itu, setelah kafe tutup, meja 7 nggak kosong.

Ada tiga orang duduk di sana.

Alya buka laptop, buka file _Senja yang Tertunda_.

Revan buka buku catatan lusuh milik Rani yang udah 2 tahun nggak disentuh.

Mas Bayu buka kopi hitam, jadi pendengar.

Alya ngetik satu kalimat baru:

> _Untuk Dara dan Rani,

> Terima kasih sudah nulis jalan buat aku pulang._

Revan di sebelahnya nulis di buku Rani:

> _Untuk Rani,

> Aku ketemu seseorang yang baca suratku.

> Dia nggak marah. Dia tinggal._

Mas Bayu cuma senyum.

“Meja 7 udah nggak sepi lagi.”

---

*[Bersambung: Bab 6 – Halaman Baru]*

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!