"Apa lo takut?"
"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."
Kalimat itu membuat Agnesa membeku.
Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.
Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.
Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.
Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:
Tatapan Agnesa.
Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.
Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—
Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan merah
Lampu jalan di depan markas ZENTRIX berkedip-kedip, menciptakan ritme cahaya yang tidak stabil di atas aspal yang masih lembap.
Suara jangkrik dari semak-semak di seberang ruko terdengar nyaring, bersahutan dengan suara kipas angin di dalam ruangan yang berputar dengan bunyi mencicit halus
Ngiiiiing. Cetak.
Naren Aksara Gavindra duduk di lantai semen yang dingin, punggungnya bersandar pada sofa bedah tempat ia tidur tadi siang.
Di depannya, berserakan beberapa lembar kertas revisi yang dikirimkan Agnesa melalui kurir ojek online satu jam yang lalu.
Agnesa tidak mengirimkan file digital; ia mengirimkan kembali draf milik Naren yang sudah penuh dengan coretan tinta merah—sangat rapi, sangat mendetail, dan sangat cerewet.
Di samping kaki Naren, sebuah kotak susu cokelat yang sudah kosong tergeletak miring.
"Gila, itu cewek kalau ngerivisi udah kayak dosen penguji," gumam Abyan yang berbaring telentang di tengah ruangan, menatap langit-langit.
Abyan sedang berusaha memutar-mutar kunci motor di jarinya.
Cring. Cring. Plak. Kuncinya jatuh ke lantai.
"Ren, lo beneran mau baca itu semua malam ini? Ini udah hampir jam dua belas, besok hari Minggu. Waktunya manusia normal hibernasi."
Naren tidak menjawab. Ia memegang bolpoin hitam, mencentang salah satu poin yang ditulis Agnesa: 'Pastikan jumlah mi instan adalah 20 dus, bukan 19. Angka ganjil menyulitkan pembagian logistik.'
"Dia teliti," sahut Naren pendek.
Naren meraih kotak susu cokelat kosong di sampingnya. Ia mulai melipat kotak karton itu dengan sangat rapi, menekan setiap sudutnya hingga menjadi pipih sempurna.
Ia melakukannya berulang-ulang, menghaluskan setiap lipatan dengan kuku jempolnya, seolah-olah itu adalah tugas paling mendesak di dunia.
Pandangannya tidak lepas dari kotak tersebut, sementara lembaran revisi Agnesa masih terbuka di pangkuannya.
"Teliti sih teliti, tapi poin nomor empat belas itu keterlaluan," Arion menyahut dari pojok ruangan, ia sedang sibuk dengan stik PS yang kabelnya melilit.
"Masa kita disuruh pakai sarung tangan plastik pas bongkar kardus biar tangan nggak kotor? Kita kan mau baksos, bukan mau bedah jantung."
Venzo, yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu, duduk di kursi kayu.
"Agnesa cuma nggak mau ada celah buat dikritik pihak sekolah. Dia bawa nama OSIS. Kalau ZENTRIX bikin malu, dia yang kena semprot pertama kali."
"Tapi dia nggak perlu nyoret tulisan tangan Naren pake pulpen merah setebal itu kan?" Abyan bangkit, duduk bersila.
"Tuh, lihat. Kertasnya sampe kayak kena luka bacok gitu merah semua."
Naren mengangkat kertas itu, mendekatkannya ke arah lampu yang remang.
Di pojok bawah kertas, di samping tulisan 'Susu cokelat kotak - 1' yang ia tulis asal tadi siang, ada sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Agnesa yang sangat mungil: 'Kebutuhan pribadi tidak boleh masuk dalam anggaran organisasi. Beli sendiri.'
Naren menatap catatan kecil itu selama lebih dari sepuluh detik. Ujung bibirnya bergerak sedikit, entah sebuah tarikan napas atau awal dari sebuah senyum yang gagal terbentuk.
Ia kemudian mengambil bolpoinnya dan membuat lingkaran besar di sekitar catatan tersebut, lalu menuliskan huruf 'OK' dengan ukuran yang sangat besar.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri, Ren? Serem gue lihatnya," celetuk Abyan.
"Nggak," Naren kembali datar.
"Besok jam sepuluh, kita kumpul di sini lagi. Venzo, bawa mobil bokap lo yang bak terbuka. Kita mulai belanja sesuai revisi ini."
"Besok Minggu, Bos! Libur!" keluh Arion.
"Senin kita harus setor tanda terima ke Agnesa. Kalau telat, gue nggak mau tanggung jawab kalau dia beneran laporin motor lo pada," ancam Naren.
Mendengar nama Agnesa dan ancaman lapor, Arion dan Abyan langsung terdiam.
Suara klik dari stik PS Arion terdengar sangat jelas di kesunyian.
"Eh, omong-omong," Abyan mendekatkan wajahnya ke arah Naren, suaranya mengecil menjadi bisikan gosip.
"Tadi pas lo ke rumahnya, lo ketemu nyokapnya nggak? Katanya nyokapnya itu galak banget, titisan penguasa jagat raya."
Naren meletakkan kertas revisi itu di lantai. Ada jeda panjang sebelum ia merespons. Ia mengambil ponselnya, menyalakan layarnya hanya untuk melihat jam, lalu mematikannya lagi. Ia berkedip perlahan sebanyak dua kali sebelum akhirnya menatap Abyan.
"Ketemu," jawab Naren singkat.
"Terus? Lo diapain? Diusir? Disemprot pake air selang?"
"Gue nggak masuk rumah. Cuma di gerbang."
"Di gerbang doang?" Abyan tampak kecewa.
"Nggak asik. Gue kira ada adegan dramatis lo dipayungin Agnesa pas hujan atau apa gitu."
"Hujannya udah berhenti pas gue sampe sana," Naren bangkit berdiri.
Ia berjalan menuju jendela ruko yang terbuka, menatap keluar ke arah jalanan yang sepi. "Rumah dia sepi banget."
"Ya iyalah, orang kaya. Isinya paling cuma AC sama suara vacuum cleaner," sahut Arion dari belakang.
Naren tidak membalas. Ia teringat bagaimana Agnesa berlari kecil ke arah gerbang dengan wajah yang panik sekaligus waspada.
Ia teringat bagaimana gadis itu berdiri di balik jeruji besi, seolah-olah gerbang itu bukan hanya pelindung rumah, tapi juga pelindung dirinya dari dunia luar.
Naren meraba saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam: tutup pentil ban motor.
Ia memutar-mutar benda itu di telapak tangannya. Itu bukan miliknya. Itu tutup pentil cadangan yang ia temukan di saku jaketnya, tapi ia sengaja menjatuhkannya di atas pilar gerbang rumah Agnesa tadi siang sebelum ia pergi.
Sebuah tindakan tanpa alasan logis, hanya sebuah impuls.
"Gue mau ke depan bentar," kata Naren sambil menyambar kunci motornya.
"Hah? Mau ke mana lagi jam segini?" tanya Venzo.
"Cari angin."
Brummm!
Naren menyalakan motornya. Suara mesin motor hitam itu membelah kesunyian malam di depan markas.
Ia tidak memacu motornya dengan cepat. Ia hanya berkendara pelan, melewati warung-warung kopi yang mulai tutup dan deretan ruko yang gelap.
Tanpa ia sadari, tangannya mengarahkan stang motor menuju wilayah perumahan elit di utara kota.
Jalanan di sana jauh lebih mulus, lampu jalannya berwarna kuning hangat, dan udara terasa lebih dingin karena banyak pepohonan.
Ia berhenti di seberang jalan, sekitar lima puluh meter dari gerbang rumah Agnesa. Mesin motornya ia matikan agar tidak menimbulkan kebisingan yang mencolok.
Rumah itu tampak tenang di bawah sinar bulan yang tertutup awan tipis. Lampu taman menyala, memberikan siluet panjang pada pilar-pilar rumah.
Di lantai dua, sebuah jendela masih menyala terang. Tirainya tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang memancarkan cahaya putih dari lampu belajar.
Naren duduk di atas motornya, menyilangkan tangan di depan dada. Ia menatap jendela itu.
"Masih belajar jam segini?" gumamnya pelan. Suaranya hilang ditelan angin malam.
Di seberang jalan, tirai di jendela lantai dua itu tiba-tiba bergerak. Seseorang tampak berdiri di sana, siluet seorang gadis yang sedang merapikan rambutnya.
Naren tidak bergerak, ia tetap berada di kegelapan bayangan pohon besar di seberang jalan.
Ia melihat siluet itu berhenti sejenak, seolah sedang menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang gelap.
Naren perlahan menurunkan kakinya dari pijakan motor, bersiap untuk menghidupkan mesin jika siluet itu menyadari kehadirannya.
Namun, sosok di jendela itu kemudian menutup tirai dengan rapat. Cahaya di kamar itu padam beberapa detik kemudian.
Naren tetap diam di sana selama beberapa menit lagi. Kegelapan di jendela itu seolah memberikan jawaban atas kehadirannya yang tidak diundang.
"Gila lo, Ren," ia mencemooh dirinya sendiri.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. Ia membuka kontak Agnesa. Jempolnya menggantung di atas tombol panggil, lalu berpindah ke kolom chat.
Naren: Revisi lo udah gue baca. Besok gue belanja.
Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Tidak ada balasan. Agnesa mungkin sudah tidur, atau mungkin ia sengaja mendiamkannya.
Naren memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Naren menghirup udara malam dalam-dalam. Bau tanah basah dan sisa hujan tadi siang tercium sangat kuat.
Ia merasa dadanya sedikit sesak, bukan karena sakit, tapi karena sebuah tekanan yang tidak bisa ia jelaskan secara mekanis.
Ia memegang stang motornya, merasakan dinginnya besi di telapak tangannya yang mulai lembap.
Ia menghidupkan mesin motornya, kali ini dengan suara yang sengaja ia buat sehalus mungkin. Ia memutar arah, meninggalkan kawasan sunyi itu menuju kebisingan markas yang lebih ia kenal.
Setibanya di markas, ia menemukan Abyan sudah mendengkur di sofa, sementara Venzo masih membaca majalah di bawah lampu remang.
"Udah cari anginnya?" tanya Venzo tanpa mengalihkan pandangan.
"Udah."
"Angin utara atau angin selatan?"
Naren tidak menjawab pertanyaan retoris itu. Ia kembali duduk di lantai, mengambil lembar revisi Agnesa yang tadi ia abaikan. Ia melihat kembali poin tentang sarung tangan plastik.
"Zo, lo punya sarung tangan plastik?" tanya Naren.
Venzo menurunkan majalahnya, menatap Naren dengan ekspresi tidak percaya. "Buat apa?"
"Buat besok. Biar tangan nggak kotor."
Venzo tertawa kecil, suara tawa yang jarang terdengar dari mulutnya yang biasanya dingin. "Oke. Besok gue cari di minimarket."
Naren merebahkan tubuhnya di lantai, menggunakan lengannya sebagai bantal. Ia menatap langit-langit ruko yang kotor.
Pikirannya melayang pada tulisan tangan Agnesa yang kecil dan tajam. 'Beli sendiri.'
"Emang gue bakal beli sendiri," bisiknya pada kegelapan.
Ia membayangkan wajah Agnesa saat ia memberikan susu cokelat itu hari Senin nanti. Apakah gadis itu akan marah? Atau dia akan mengabaikannya lagi seperti yang biasa dia lakukan?
Naren memejamkan mata.
Di dalam kepalanya, ia tidak lagi melihat mesin motor yang rusak atau aspal yang basah. Ia melihat sebuah gerbang besi hitam dan seorang gadis yang berdiri di baliknya, mencoba menahan dunia agar tidak masuk, sementara Naren hanya ingin memastikan bahwa dunia di dalam sana tidak terlalu sepi.
Tik. Tak. Tik. Tak.
Suara jam dinding di markas terdengar sangat lambat. Hari Sabtu sudah resmi berganti menjadi Minggu.
"Agnesa," gumamnya dalam kantuk yang mulai menyerang.
Ia teringat satu hal yang tidak relevan dengan plot hidupnya saat ini.
Ia teringat saat ia berumur lima tahun, ibunya pernah membelikannya es krim cokelat dan mengatakan bahwa hal-hal manis bisa menyembuhkan luka. Naren saat itu tidak percaya, karena es krimnya cair dan mengotori bajunya, membuat ibunya marah.
Kini, ia merasa sedang memegang sesuatu yang manis tapi mudah cair. Sesuatu yang bisa mengotori hidupnya yang selama ini sudah cukup berantakan, tapi entah mengapa, ia tidak ingin melepaskannya.
Dalam tidurnya, Naren meringkuk sedikit ke samping, menjauh dari tumpukan kertas revisi di lantai.
Namun, tangannya tetap menyentuh sudut lembaran kertas itu, seolah-olah ia takut angin malam akan menerbangkan satu-satunya komunikasi yang ia miliki dengan dunia di seberang sana.
Minggu pagi akan datang dengan tuntutan belanja logistik dan omelan Abyan yang tidak ada habisnya.
Namun bagi Naren, Minggu hanyalah sebuah hambatan waktu menuju hari Senin, hari di mana ia bisa kembali melihat 'Sang Ratu' dengan pulpen merahnya di ruang OSIS yang dingin.
Asap tipis dari obat nyamuk bakar meliuk-liuk di udara, menciptakan pola-pola aneh sebelum akhirnya hilang ditelan kegelapan.
Markas ZENTRIX kembali sunyi, menyimpan rahasia para penghuninya yang masing-masing sedang berjuang melawan hantu di masa lalu dan harapan di masa depan.
Naren akhirnya terlelap, napasnya teratur, meninggalkan semua urusan karburator dan revisi dalam jeda waktu yang tenang.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Pak Jaka," panggil Agnesa.
"Iya, Non?"
Agnesa Mau Nanya Apa? Yuk Ikuti Keseruannya di Bab 5: Rasa yang Tertinggal