NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. Pemimpin yang Tidak Diinginkan

Kabut malam yang tebal masih menyelimuti seluruh sudut pelataran barak pelatihan Barat ketika bel penanda latihan fajar berdentang keras tiga kali berturut-turut. Udara pagi ini terasa jauh lebih lembap, membawa bau tanah basah yang menyengat dari arah perbukitan luar Trowulan. Di dalam barak hunian nomor empat, lima pemuda yang kini telah resmi menyandang nama Regu Serigala bergerak dengan ritme yang berbeda-beda untuk mempersiapkan perlengkapan latihan mereka.

Ragajaya berdiri di dekat pintu, mengikatkan kain kelat bahu peraknya dengan sentakan tangan yang sangat keras, membiarkan rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang masih tersisa sejak sore kemarin. Di belakangnya, Jaka Wulung dan Lembu Sora sibuk memeriksa permukaan perisai bambu mereka, memastikan lapisan kulit lembu di bagian depan tidak mengalami keretakan setelah benturan keras simulasi palagan besar. Sementara itu, Wiranata duduk di tepi amben sambil meluruskan otot betis kirinya yang masih terasa sedikit kaku sisa dari sirkulasi udara fajar sebelumnya.

Mada sendiri memilih untuk tetap berada di posisinya yang biasa di sudut paling gelap ruangan. Ia memakai baju katun desa kasarnya yang sudah dipenuhi guratan garam kering, sengaja membiarkan poni rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah polosnya. Tangan jangkungnya memegang gagang tombak kayu tumpulnya dengan gerakan yang dibuat agak canggung, menampilkan sosok prajurit nomor nol empat puluh tujuh yang tidak memiliki gairah bertarung sama sekali.

"Ingat posisi kita pagi ini," ucap Ragajaya sambil membalikkan tubuhnya menatap keempat anggota regunya, suaranya terdengar sangat tajam dan dingin memecah keheningan barak. "Ujian fajar ini adalah pembentukan barisan taktis tingkat lanjut untuk setiap regu baru. Bintara kepala akan melihat bagaimana kemampuan pemimpin regu dalam mengarahkan formasi bertahan dan menyerang di bawah tekanan langsung. Aku tidak ingin melihat ada satu orang pun di antara kalian yang melangkah keluar dari garis komando tombak airku, terutama kamu, Mada!"

Mada segera menundukkan kepalanya, menampilkan senyum polosnya yang canggung sambil mengangguk patuh beberapa kali. "Siap, Tuan Ragajaya. Hamba akan selalu berdiri tepat di belakang perisai besar Trowulan milik Anda agar tidak salah melangkah."

Ragajaya mendengus remeh melihat sikap mengalah Mada yang dianggapnya sangat memuakkan tersebut, lalu melangkah keluar pintu barak dengan langkah kaki yang dihentakkan keras ke atas tanah liat. Lembu Sora dan Jaka Wulung segera menyusul di belakangnya dengan memikul senjata mereka, menyisakan Wiranata yang sempat menatap Mada sejenak dengan pandangan mata yang penuh selidik sebelum ikut berjalan keluar menuju lapangan utama.

Ketika kelima anggota Regu Serigala tiba di lapangan utama Barat, atmosfer di pelataran sudah sangat menekan. Dua ratus prajurit baru telah berkumpul membentuk lingkaran besar berdasarkan regu mereka masing-masing. Di tengah lapangan, sebaris balok kayu jati raksasa sepanjang tiga depa telah ditata membentuk labirin pertahanan tiruan yang rumit, dikelilingi oleh parit-parit kecil berisi lumpur hitam yang cukup dalam.

Bintara kepala yang memimpin latihan fajar ini melangkah maju ke tengah labirin kayu, memegang sebilah cambuk kulit lembu di tangan kanannya. "Hari ini, kalian tidak lagi berlatih formasi statis yang membosankan! Ujian fajar ini dinamakan Siasat Penyelamatan Panji Labirin! Setiap regu akan dimasukkan ke dalam jalur labirin kayu ini untuk merebut lima buah panji kecil yang dijaga oleh para instruktur senior! Peraturan utamanya adalah mutlak: seluruh pergerakan regu berada di bawah tanggung jawab komandan regu kalian masing-masing! Jika pemimpin kalian salah dalam mengambil keputusan arah atau terlambat memberikan perintah perisai, seluruh regu dinyatakan gagal dan jatah makan malam kalian akan ditiup angin fajar!"

Regu Serigala mendapatkan giliran pada putaran ketiga, dimasukkan ke dalam jalur labirin kayu bagian selatan yang jalurnya sangat sempit dan dipenuhi oleh sudut-sudut buta yang tajam. Ragajaya memimpin di barisan paling depan dengan tombak kayunya yang sudah mulai dialiri oleh hawa murni aliran air berwarna kebiruan tipis, sementara Jaka Wulung dan Lembu Sora menjaga sisi kanan dan kiri menggunakan perisai bambu mereka. Wiranata berada di tengah, dan Mada berjalan di posisi paling belakang dengan menyeret tombaknya di atas tanah liat.

"Maju! Jaga kerapatan perisai!" perintah Ragajaya dengan lantang saat mereka mulai melangkah memasuki celah balok kayu pertama.

Namun, ketidakkompetenan Ragajaya sebagai seorang pemimpin sejati mulai terlihat jelas begitu mereka melewati sudut labirin kedua. Sebagai seorang petarung pesisir yang terbiasa dengan ruang terbuka dan duel satu lawan satu, Ragajaya tidak memiliki wawasan yang cukup mengenai manajemen pergerakan regu di dalam ruang yang sempit dan berliku. Ia terlalu bernafsu untuk segera merebut panji pertama demi membuktikan kemampuannya kepada para perwira yang mengawasi dari atas menara tengah.

"Ragajaya, tunggu dulu!" seru Wiranata dengan nada khawatir dari barisan tengah. "Sudut di depan kita terlalu sunyi, ada kemungkinan para instruktur senior sedang menyiapkan jebakan sergapan atas!"

"Jangan banyak bicara, Wiranata!" balas Ragajaya dengan angkuh tanpa menghentikan langkah kakinya. "Hawa murni airku bisa merasakan pergerakan musuh di depan! Kita harus menembus jalur ini secepat mungkin sebelum Regu Rajawali merebut seluruh panji tengah!"

Ragajaya melompat melewati sudut balok kayu dengan sangat agresif. Namun, begitu tubuhnya melintasi celah tikungan, prediksi taktis Wiranata terbukti dengan sangat tepat. Dua orang instruktur senior bertubuh raksasa mendadak muncul dari balik bayangan balok kayu atas, menjatuhkan dua bilah gada kayu latihan yang sangat berat langsung ke arah dada Ragajaya.

Brak!

Meskipun Ragajaya berhasil menahan hantaman pertama menggunakan gagang tombaknya, dorongan tenaga fisik kasar para instruktur senior membuat sirkulasi hawa murni airnya mendadak pecah berantakan. Tubuh Ragajaya terdorong mundur dengan sangat keras, menabrak tubuh Lembu Sora yang berada di belakangnya hingga mereka berdua jatuh terlentang di atas parit lumpur hitam.

"Serang lambung mereka!" tergah salah seorang instruktur senior dari arah atas balok kayu.

Dua instruktur lainnya mendadak muncul dari arah celah buta sebelah kiri, melepaskan tebakan tombak kayu beruntun yang mengincar posisi Jaka Wulung yang kini kehilangan arah komando. Jaka Wulung mencoba bertahan menggunakan perisai bambunya, namun karena posisi berdirinya terlalu terbuka akibat tidak adanya aba-aba penyelarasan dari Ragajaya, perisainya mulai retak dan tubuh besarnya terdesak mundur hingga terpojok di dinding balok kayu.

Situasi Regu Serigala berada di ujung tanduk kekalahan mutlak dalam hitungan sepuluh pulsa nadi pertama. Ragajaya yang berada di dalam parit lumpur tampak panik dan berteriak-teriak memberikan perintah yang sangat simpang siur, membuat Jaka Wulung dan Lembu Sora menjadi semakin kebingungan dalam menjaga arah pertahanan perisai mereka.

Mada yang berada di barisan paling belakang tetap mempertahankan ekspresi wajah polosnya, namun di balik pelupuk matanya, mata sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya telah membaca seluruh peta kelemahan pergerakan para instruktur senior di depan mereka. Di bawah analisis taktis Mada, ia melihat bahwa para instruktur tersebut terlalu maju ke depan untuk menekan Jaka Wulung, membuat tumpuan kaki belakang mereka di atas balok kayu atas menjadi sangat longgar dan tidak seimbang.

(Ragajaya benar-benar buta dalam taktik ruang sempit. Perintahnya hanya didasarkan pada amarah dan kepanikan, yang justru akan menghancurkan keutuhan urat raga regu ini dalam lima hitungan napas ke depan. Aku harus mengambil alih kendali situasi ini secara tersembunyi, memberikan solusi taktis melalui mulut Wiranata agar kewibawaan pengikut intiku mulai terbentuk tanpa perlu memicu kecurigaan luar.)

Mada segera menggeser langkah kakinya yang jangkung, merendahkan tubuhnya mendekati telinga kanan Wiranata yang sedang bersiap untuk melompat maju membantu Jaka Wulung. Mada berbicara dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan tipis yang menyelinap di antara suara benturan kayu, namun mengandung ketukan tekanan yang begitu padat, mantap, dan dipenuhi oleh kejelasan komando seorang panglima sejati.

"Tuan Wiranata, jangan melompat ke arah depan tengah," bisik Mada dengan cepat, membuat Wiranata mendadak menoleh sedikit dengan mata melebar. "Perintahkan Jaka Wulung untuk menurunkan perisainya tiga jari ke bawah dan bergeser setengah langkah ke arah kanan untuk membiarkan tebasan instruktur meluncur bebas menghantam balok kosong. Pada detik yang sama, Anda dan Lembu Sora harus melesat masuk dari arah celah buta bawah bawah untuk mengetuk pergelangan kaki kiri instruktur sayap kanan yang tumpuannya sedang rapuh. Cepat katakan pada mereka sekarang sebelum perisai Jaka Wulung patah sepenuhnya!"

Wiranata merasakan sebuah getaran kewibawaan yang sangat magis merayap masuk ke dalam sanubarinya setelah mendengar bisikan Mada. Tanpa membuang waktu untuk berpikir lagi, ia langsung menggunakan seluruh sisa kekuatan suaranya untuk meneriakkan komando taktis yang baru saja diterimanya dari Mada.

"Jaka Wulung! Turunkan perisaimu tiga jari ke bawah sekarang dan geser langkahmu ke kanan!" teriak Wiranata dengan lantang, suaranya yang tegas mendadak memotong seluruh kepanikan teriakan Ragajaya. "Lembu Sora! Bangkit dan ikut aku! Kita tusuk celah bawah lambung kiri mereka sekarang juga!"

Mendengar komando Wiranata yang terdengar sangat jelas, terstruktur, dan penuh dengan kepastian arah tersebut, Jaka Wulung yang sudah hampir kehabisan tenaga seolah mendapatkan pasokan energi baru. Ia segera menarik kaki kirinya setengah langkah ke kanan dan menurunkan perisai bambunya sesuai aba-aba Wiranata.

Wus!

Tebasan gada kayu instruktur senior meluncur bebas menghantam permukaan balok kayu jati kosong dengan suara prak yang keras, menimbulkan getaran yang membuat tangan sang instruktur menjadi sedikit bergetar kaku. Pada detik yang sama, Wiranata dan Lembu Sora yang sudah melesat masuk dari arah bawah lambung kiri segera mengayunkan pangkal tombak kayu mereka secara bersamaan, mengetuk tepat pada titik simpul saraf pergelangan kaki kiri instruktur tersebut.

"Aduh!" jerit instruktur senior tersebut ketika keseimbangan tubuh raksasanya runtuh seketika akibat ketukan presisi Wiranata. Tubuhnya terpelanting jatuh ke atas tanah liat, membuat formasi pengepungan para instruktur di dalam labirin mendadak renggang dan pecah berantakan.

Mada tidak tinggal diam di barisan belakang. Sembari berpura-pura terhuyung karena ketakutan melihat jatuhnya instruktur, tubuh jangkungnya bergerak maju dengan sangat natural. Ujung tombak kayunya yang tumpul secara tidak sengaja terdorong ke depan, mengenai bagian belakang lutut instruktur kedua yang sedang bersiap untuk menyerang Wiranata. Sentuhan Mada dilakukan tanpa hawa murni sedikit pun, namun karena kepadatan otot alaminya yang luar biasa, instruktur tersebut langsung kehilangan pijakan dan jatuh terduduk di atas lumpur parit bersama Ragajaya.

"Maju! Ambil panjinya!" teriak Wiranata yang melihat celah kemenangan telah terbuka lebar di depan mata mereka.

Jaka Wulung dengan cepat melompat melewati tubuh instruktur yang terjatuh, menyambar sebilah panji kecil berwarna merah yang tertancap di ujung sudut balok kayu jati dalam hitungan dua puluh pulsa nadi sebelum batas waktu peluit berakhir.

Regu Serigala berhasil menyelesaikan simulasi labirin tersebut dengan status lolos, meskipun pemimpin resmi mereka, Ragajaya, harus keluar dari parit labirin dengan sekujur tubuh yang dipenuhi oleh lumpur hitam yang bau dan wajah yang memerah padam karena rasa malu yang luar biasa mendalam.

Ketika mereka kembali ke tepi lapangan luar untuk mengembalikan perlengkapan latihan, seluruh penghuni barak nomor empat tampak berkumpul mengelilingi Wiranata, memberikan pujian atas ketepatan komando taktis yang ditunjukkannya di tengah kekacauan labirin tadi fajar.

"Wiranata! Komandomu tadi benar-benar luar biasa!" puji Lembu Sora sambil menepuk pundak Wiranata dengan bangga. "Jika kamu tidak mengambil alih perintah dari Ragajaya yang sedang sibuk mandi lumpur tadi, regu kita pasti sudah diusir dari pelataran ini sekarang!"

Ragajaya berdiri terpisah di dekat pagar pancang jati, mengesat lumpur hitam di wajahnya menggunakan sisa kain latihannya dengan gerakan yang sangat kasar. Sepasang matanya menatap ke arah Wiranata dan Mada dengan kilatan kemarahan dan kecurigaan yang kian menebal di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa meskipun ia memegang jabatan resmi sebagai pemimpin regu, di dalam situasi kritis yang nyata, arah pergerakan Regu Serigala mulai bergeser mengikuti ketukan suara yang bukan berasal dari tombak air miliknya.

Mada sendiri tetap duduk bersila di sudutnya yang paling gelap di bawah naungan pohon mangga tua, memegang kendi tanah liatnya sambil memasang senyum polos keluguannya yang tidak bersalah. (Tahap awal pembentukan kepemimpinan bayangan di dalam Regu Serigala telah resmi dimulai, Ragajaya. Teruslah memegang jabatan kosongmu itu sebagai pelindung luarku; karena seiring berjalannya fajar di Trowulan, seluruh urat raga regu ini akan belajar untuk hanya patuh pada satu komando tersembunyi yang akan membawa mereka melangkah menuju puncak kejayaan tertinggi di tanah Nusantara.)

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!