NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Selama Ini Tersembunyi

Kafe yang tadinya hangat sekarang terasa seperti ruang pendingin.

Aku duduk di kursi—atau mungkin jatuh, aku tidak ingat. Yang aku tahu, Rasya ada di sampingku, tangannya menggenggam tanganku erat.

"Bunda, maksudnya apa?" Suaraku terdengar asing. Seperti suara orang lain.

Bunda mengusap air matanya. "Nayla... Bunda minta maaf. Bunda ingin cerita sejak kamu kecil, tapi Bunda takut. Takut kamu akan membenci Bunda. Takut kamu akan mencari ayah kandungmu, padahal dia..."

"Dia apa, Bun?"

Bunda menarik napas panjang—napas yang terasa seperti menarik beban seberat dunia.

"Ayah kandungmu adalah seorang polisi. Namanya Komisaris Aditya Pratama. Dia... dia ditembak mati saat bertugas 16 tahun lalu. Saat itu, Bunda sedang mengandung kamu empat bulan."

Air mataku jatuh.

"Bunda menikah dengan Budi Santoso—Ayahmu sekarang—saat kamu berusia satu tahun. Budi tahu semuanya. Dia rela menjadi ayah untukmu meskipun dia bukan darah dagingmu."

Dada sesak. Aku tidak tahu harus merasakan apa.

"Tapi, Bun... kenapa ini rahasia?"

Bunda menatap Kayla. Matanya berubah—tidak hanya sedih, tapi juga takut.

"Karena yang membunuh ayah kandungmu... masih bebas. Dan dia orang yang berpengaruh. Sangat berpengaruh."

Kayla tersenyum.

"Tante Dewi, kenapa tidak Tante ceritakan siapa pembunuhnya?"

Bunda menggigit bibir.

"Jenderal... Purnomo."

Nama Itu

Kayla tertawa kecil. "Akhirnya."

Aku menatap Kayla. "Kamu tahu dari awal?"

"Aku tahu semuanya, Nayla. Karena ayahku—ayah Rio dan aku—adalah tangan kanan Jenderal Purnomo." Kayla melipat tangannya. "Dan Jenderal Purnomo... adalah bos yang Rio maksud."

Dunia terasa berputar.

"Jadi... selama ini..."

"Bos di balik Rio adalah Jenderal Purnomo. Dan dia ingin membunuh Rasya karena Rasya tahu terlalu banyak. Dan dia ingin menghancurkan kamu karena kamu adalah anak dari polisi yang dulu hendak menjebloskannya ke penjara."

Rasya berdiri.

"Kita harus lapor polisi."

"Lapor polisi?" Kayla tertawa. "Polisi? Jenderal Purnomo adalah polisi. Dia punya jaringan luas. Laporan kalian tidak akan pernah sampai ke mana-mana."

"Kita akan buktikan."

"Buktinya apa?" Kayla mengeluarkan sebuah USB dari sakunya. "Ini? Ini berisi semua bukti kejahatan Jenderal Purnomo. Pembunuhan, korupsi, pencucian uang—semuanya. Tapi kalian tidak akan mendapatkannya."

"Apa yang kamu mau, Kayla?" tanyaku.

Kayla menatapku. Matanya berubah—menjadi lebih lembut. Lebih manusiawi.

"Aku tidak mau apa-apa, Nayla. Aku hanya... lelah."

"Lelah?"

"Lelah jadi budak. Lelah ikut perintah Jenderal Purnomo. Lelah lihat kakakku di penjara karena orang itu." Kayla menggenggam USB itu erat. "Aku ingin bebas. Tapi untuk bebas, aku butuh bantuan."

"Bantuan dari kami?"

"Bantuan dari seseorang yang tidak takut pada Jenderal Purnomo." Kayla menatapku. "Ayah kandungmu, Nayla, adalah satu-satunya polisi yang berani melawan Jenderal. Sayangnya, dia mati. Tapi mungkin... kamu bisa melanjutkan perjuangannya."

Aku terdiam.

Rasya menggenggam tanganku. "Ini gila."

"Aku tahu."

"Tapi mungkin... ini satu-satunya cara."

Aku menatap Kayla. "Kamu serius ingin membantu kami?"

Kayla mengangguk. "Aku punya semua bukti. Tapi aku tidak punya keberanian. Dan aku tidak punya koneksi ke orang yang tepat."

"Ayah kandungku sudah mati."

"Tapi ada orang lain. Teman-teman almarhum ayahmu yang masih setia. Mereka ada di kepolisian. Mereka menunggu—menunggu seseorang yang berani memulai."

---

Pulang — Di Rumah

Rumah terasa asing.

Ayah—Budi Santoso—duduk di ruang tamu, menatapku dengan mata yang tidak asing lagi. Dia tahu aku tahu.

"Nak..."

"Kenapa Ayah nggak pernah bilang?" Suaraku bergetar.

Budi Santoso menunduk. "Karena ayah takut kehilangan kamu."

"Ayah tidak akan kehilangan aku. Ayah tetaplah ayahku."

Dia mengangkat kepala. Matanya basah.

"Beneran?"

"Ayah membesarkan aku sejak usia satu tahun. Ayah yang mengantar jemput aku setiap hari. Ayah yang mengajarkan aku naik sepeda. Darah itu tidak penting—yang penting adalah siapa yang hadir."

Budi Santoso menangis.

Bunda juga menangis.

Aku duduk di antara mereka, meraih tangan mereka berdua.

"Aku marah. Aku kecewa. Tapi aku tidak akan membenci kalian."

"Maaf, Nak," Bunda terisak. "Maaf."

"Aku butuh waktu untuk memproses semuanya. Tapi... aku masih di sini. Aku tidak akan pergi."

---

Malam Itu — Chat Log

Rasya (21.00): "Kamu baik-baik aja?"

Nayla (21.01): "Jujur, aku nggak tahu."

Rasya (21.01): "Kamu kuat."

Nayla (21.02): "Aku merasa lemas."

Rasya (21.02): "Kamu boleh lemas. Aku yang akan kuat untuk kamu."

Aku tersenyum di depan layar.

Nayla (21.03): "Rasya, kamu percaya sama Kayla?"

Rasya (21.04): "Belum sepenuhnya. Tapi bukti yang dia punya... itu real."

Nayla (21.04): "Kita harus lakukan sesuatu."

Rasya (21.05): "Iya. Tapi tidak sendirian. Kita butuh bantuan orang dewasa yang bisa dipercaya."

Nayla (21.05): "Siapa?"

Rasya (21.06): "Pak Bambang."

Nayla (21.06): "Guru BK?"

Rasya (21.07): "Sebelum jadi guru, dia mantan polisi."

Aku terkejut.

Nayla (21.07): "Kamu tahu dari mana?"

Rasya (21.08): "Aku cek background-nya. Dia pensiun dini setelah temannya tewas dalam tugas. Temannya itu... ayah kandungmu."

Dunia terasa kecil sekali.

Nayla (21.09): "Besok kita temui Pak Bambang."

Rasya (21.09): "Besok."

Nayla (21.10): "Rasya."

Rasya (21.10): "Hm?"

Nayla (21.11): "Aku sayang kamu."

Rasya (21.11): "Aku sayang kamu juga, Nayla. Besok kita hadapi semuanya bersama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!