NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Selama Ini Tersembunyi

Suasana kafe yang tadinya terasa hangat kini berubah menjadi dingin. Aku duduk di kursi—atau mungkin hampir terjatuh, aku tidak ingat persisnya. Yang aku tahu, Rasya ada di sampingku, tangannya menggenggam tanganku erat untuk menenangkanku.

“Bunda, apa maksud semua ini?” tanyaku dengan suara yang terdengar asing, seolah bukan suaraku sendiri.

Bunda mengusap air matanya yang terus mengalir. “Nayla… Bunda minta maaf. Bunda sebenarnya ingin menceritakan semuanya sejak kamu masih kecil, tapi Bunda takut. Takut kamu akan membenciku. Takut kamu akan berusaha mencari ayah kandungmu, padahal dia…”

“Dia apa, Bun?” desakku pelan.

Bunda menarik napas panjang, seolah sedang mengangkat beban yang sangat berat selama bertahun-tahun.

“Ayah kandungmu adalah seorang perwira polisi. Namanya Komisaris Aditya Pratama. Dia… dia ditembak mati saat sedang bertugas 16 tahun yang lalu. Saat itu, Bunda sedang mengandungmu empat bulan.”

Air mataku akhirnya jatuh juga.

“Setelah itu, Bunda menikah dengan Budi Santoso—ayah yang kamu kenal sekarang—saat kamu berusia satu tahun. Budi tahu semuanya. Dia bersedia menjadi ayahmu meskipun tidak ada hubungan darah sama sekali.”

Dada terasa sesak. Aku bingung harus merasakan apa—marah, sedih, atau lega?

“Tapi, Bun… kenapa hal ini dirahasiakan begitu lama?”

Bunda menatap tajam ke arah Kayla. Matanya kini tidak hanya tampak sedih, tapi juga dipenuhi rasa takut.

“Karena orang yang membunuh ayah kandungmu… masih bebas sampai sekarang. Dan dia adalah orang yang sangat berpengaruh. Sangat berpengaruh.”

Kayla tersenyum tipis mendengarnya.

“Tante Dewi, kenapa tidak pernah menceritakan siapa pembunuhnya itu?” tanya Kayla dengan nada tenang.

Bunda menggigit bibirnya rapat-rapat, lalu menjawab dengan suara bergetar: “Jenderal… Purnomo.”

Nama itu terasa berat di udara.

Kayla tertawa kecil. “Akhirnya terungkap juga.”

Aku menatapnya tajam. “Kamu sudah tahu sejak awal, bukan?”

“Aku tahu semuanya, Nayla. Karena ayahku—ayah Rio dan ayahku—adalah tangan kanan Jenderal Purnomo.” Kayla melipat tangannya di depan dada. “Dan Jenderal Purnomo… adalah bos yang selama ini dimaksudkan oleh Rio.”

Dunia di sekitarku terasa berputar.

“Jadi… selama ini…”

“Bos di balik semua rencana jahat Rio adalah Jenderal Purnomo. Dia ingin membunuh Rasya karena Rasya mengetahui terlalu banyak rahasianya. Dan dia ingin menghancurkanmu karena kamu adalah anak dari polisi yang dulu berusaha menjebloskannya ke penjara.”

Rasya tiba-tiba berdiri tegak. “Kita harus melaporkan ini ke polisi.”

“Melaporkan ke polisi?” Kayla tertawa sinis. “Polisi? Jenderal Purnomo sendiri adalah pejabat tinggi kepolisian. Dia memiliki jaringan yang luas di mana-mana. Laporan kalian tidak akan pernah sampai ke meja yang berwenang.”

“Kami akan tetap membuktikannya.”

“Bukti apa yang kalian miliki?” Kayla mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya. “Di sini. Di dalamnya terdapat semua bukti kejahatan Jenderal Purnomo—pembunuhan, korupsi, pencucian uang, semuanya lengkap. Tapi kalian tidak akan pernah bisa mendapatkannya begitu saja.”

“Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Kayla?” tanyaku.

Kayla menatap mataku. Tatapannya berubah—tidak lagi dingin dan penuh kebencian, melainkan tampak lebih lembut dan manusiawi.

“Aku tidak menginginkan apa-apa darimu, Nayla. Aku hanya… lelah.”

“Lelah?”

“Lelah diperlakukan seperti budak. Lelah harus menuruti setiap perintah Jenderal Purnomo. Lelah melihat kakakku harus mendekam di penjara karena ulah orang itu.” Kayla menggenggam flashdisk itu erat-erat. “Aku ingin bebas. Tapi untuk bisa bebas, aku butuh bantuan.”

“Bantuan dari kami?”

“Bantuan dari orang yang tidak takut pada Jenderal Purnomo.” Kayla menatapku lekat-lekat. “Ayah kandungmu, Nayla, adalah satu-satunya polisi yang berani melawan Jenderal Purnomo secara terang-terangan. Sayangnya, dia gugur. Tapi mungkin… kamu bisa melanjutkan perjuangannya.”

Aku terdiam sejenak, memproses semua informasi yang baru saja kudengar.

---

Sesampainya di rumah, suasana terasa asing. Ayah—Budi Santoso—duduk di ruang tamu, menatapku dengan pandangan yang penuh pengertian. Dia tahu bahwa aku sudah mengetahui semuanya.

“Kenapa Ayah tidak pernah menceritakan semuanya sejak awal?” tanyaku dengan suara bergetar.

Budi Santoso menunduk dalam. “Karena Ayah takut kehilanganmu.”

“Ayah tidak akan pernah kehilanganku. Ayah tetaplah ayahku, tidak peduli apa pun yang terjadi.”

Dia mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. “Benarkah begitu?”

“Ayah yang membesarkanku sejak aku berusia satu tahun. Ayah yang selalu mengantar dan menjemputku sekolah setiap hari. Ayah yang mengajariku cara mengendarai sepeda. Darah tidak menentukan segalanya—yang terpenting adalah kehadiran dan kasih sayang yang Ayah berikan selama ini.”

Budi Santoso akhirnya menangis. Bunda juga menangis terisak. Aku duduk di antara mereka, lalu menggenggam tangan mereka berdua.

“Aku marah. Aku kecewa karena kalian merahasiakan hal ini dariku. Tapi aku tidak akan pernah membenci kalian.”

“Maafkan kami, Nak,” ucap Bunda dengan suara lemah.

“Aku butuh waktu untuk memahami semuanya. Tapi… aku masih ada di sini. Aku tidak akan pergi ke mana pun.”

---

Pukul 21.00

Rasya: “Kamu baik-baik saja?”

Nayla: “Jujur, aku tidak tahu harus menjawab apa.”

Rasya: “Kamu orang yang kuat.”

Nayla: “Aku merasa sangat lemas.”

Rasya: “Tidak apa-apa jika kamu merasa lemas. Aku akan menjadi orang yang kuat untukmu.”

Aku tersenyum tipis melihat pesan itu di layar ponselku.

Nayla: “Rasya, apakah kamu percaya pada Kayla?”

Rasya: “Belum sepenuhnya. Tapi bukti yang dia miliki… sepertinya asli.”

Nayla: “Kita harus melakukan sesuatu.”

Rasya: “Iya. Tapi kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh bantuan orang dewasa yang bisa dipercaya.”

Nayla: “Siapa?”

Rasya: “Pak Bambang.”

Nayla: “Guru BK kita?”

Rasya: “Sebelum menjadi guru, dia dulunya adalah seorang polisi.”

Aku terkejut mendengarnya.

Nayla: “Dari mana kamu mengetahui hal itu?”

Rasya: “Aku sudah meneliti latar belakangnya. Dia pensiun dini setelah rekan kerjanya gugur saat bertugas. Rekan itu… adalah ayah kandungmu.”

Dunia ini terasa sangat kecil.

Nayla: “Besok kita temui Pak Bambang.”

Rasya: “Baiklah.”

Nayla: “Rasya.”

Rasya: “Ya?”

Nayla: “Aku sayang kamu.”

Rasya: “Aku juga sayang kamu, Nayla. Besok kita hadapi semuanya bersama-sama.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!