NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

senyum di ambang gelap

BAB 8: SENYUM DI AMBANG GELAP

Tiba-tiba, dari kegelapan di samping rumah Simbah yang tadinya sepi, muncullah sesosok wanita. Kegelapan seolah terbelah saat ia melangkah maju. Wanita itu mengenakan kebaya berwarna merah menyala, tampak begitu kontras dengan malam yang kelam. Senyumnya tipis, datar, namun matanya terasa begitu dingin menatap ke arah Agus. Di tangannya, ia membawa nampan kayu yang berisikan secangkir air teh yang masih mengepulkan uap, bersebelahan dengan beberapa potong singkong rebus yang tampaknya baru saja matang.

Agus yang sedari tadi menunduk dalam lamunannya, sama sekali tidak menyadari kehadiran wanita itu.

"Bang... ini minumnya, mumpung masih panas," suara perempuan itu memecah keheningan.

Agus tersentak hingga hampir terjungkal dari duduknya. "Astaghfirullah! Neng, ngagetin saja!" serunya dengan jantung berdegup kencang. Tubuhnya sedikit gemetar, bukan hanya karena kaget, tapi juga karena hawa dingin yang tiba-tiba menusuk tulang.

Wanita itu tidak menyahut. Dengan gerakan yang sangat halus, hampir tanpa suara, ia meletakkan nampan kayu itu di atas meja bambu. Aroma uap teh dan singkong rebus yang mengepul seketika menggoda indra penciuman Agus yang memang tengah didera haus dan lapar.

"Diminum, Bang. Biar badannya hangat," bisik wanita itu lagi. Suaranya lembut, namun datar tanpa intonasi.

Agus mencoba mengatur napasnya. Ia mengusap wajah sebentar, lalu memberanikan diri menatap wanita di hadapannya. "Iya, Neng. Makasih ya... Tapi, Neng ini siapa? Saudara Simbah? Kok saya baru lihat?"

Wanita itu tetap diam, berdiri mematung di ambang batas antara cahaya lampu teras dan pekatnya kegelapan halaman. Senyum tipisnya masih menetap di sana, namun kini sudut bibirnya perlahan melebar—sedikit terlalu lebar untuk ukuran manusia normal.

"Saya anak Simbah, Bang. Disuruh Simbah mengantarkan minuman ini buat Abang," jawabnya pelan. Tatapannya terkunci pada mata Agus, tanpa berkedip sedikit pun. "Makanya Bang, kalau ada tamu yang mau ketemu Simbah jangan dihalang-halangi. Jadi kena marah Simbah, 'kan?"

Agus terdiam. Di satu sisi, ia merasa lega karena akhirnya punya teman bicara. Namun, ada yang ganjil. Di bawah temaram lampu teras, Agus merasakan getaran aneh di hatinya—sebuah ketertarikan misterius yang muncul begitu tiba-tiba. Rasa cemasnya pada Indra seolah memudar, tergeser oleh pesona ganjil wanita berkebaya merah itu.

Ia tidak menyadari bahwa sepasang mata di hadapannya itu sesekali berkilat merah, memendam sesuatu yang buas di balik sikap santunnya.

"Saya minum ya, Neng," ucap Agus dengan senyum canggung, mencoba menutupi kegugupannya saat meraih gelas teh tersebut.

Tepat saat bibir Agus hendak menyentuh pinggiran gelas, sebuah aroma amis yang tipis menusuk hidungnya. Ia mengernyit, gerakannya terhenti.

“Kok bau amis, ya?” batin Agus ragu. Ia segera menepis pikiran itu. “Ah, mungkin cuma halusinasiku saja karena terlalu tegang.”

Ia melirik ke arah wanita itu lagi. Kali ini, si wanita memberikan senyuman yang begitu manis, membuat Agus salah tingkah seketika. Tanpa pikir panjang, ia meneguk teh itu hingga separuh gelas. Rasa hangatnya merayap ke dada, namun cairan itu terasa sepat dan sedikit kental. Meski lidahnya menolak, tatapan wanita itu seolah menghipnotisnya.

Agus meletakkan kembali gelasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Enak, Neng... Segar," bohongnya, meski pangkal tenggorokannya terasa kelu.

Wanita itu melangkah lebih dekat. Kini, aroma wangi melati yang kuat menusuk hidung Agus, berbaur dengan sisa aroma amis yang tadi sempat ia hirup.

"Kenapa, Bang? Kok gemetar begitu? Takut ya sama saya?" tanyanya sambil mendaratkan jemarinya di dada Agus.

Sentuhan itu terasa luar biasa dingin, seolah-olah sepotong es baru saja ditempelkan ke balik kausnya. Namun, dalam kondisi terpesona, rasa dingin itu justru terasa menenangkan bagi jantung Agus yang sedang berpacu liar.

"Ti... tidak. Aku tidak takut. Malah... aku senang ditemani kamu," jawab Agus dengan suara bergetar.

"Sudah ya, aku masuk dulu. Takut Simbah marah. Jangan lupa dimakan singkongnya," ucap wanita itu sebelum berbalik, melangkah menuju kegelapan di samping rumah.

"Iya Neng, nanti Abang makan," sahut Agus, menatap punggung wanita itu yang hilang ditelan kegelapan malam.

Agus menghela napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih tak beraturan. Pandangannya beralih ke nampan kayu di atas meja.

"Hahaha... lumayan, singkong rebus buat ganjal perut yang sudah demo dari tadi," gumamnya pelan. Ia menyambar sepotong singkong, mengunyahnya dengan lahap meski ada rasa ganjil yang terus membayangi lidahnya. "Sisanya bisa buat bekal pulang nanti."

Namun, di tengah kunyahannya, keheningan malam kembali terasa menekan. Agus menatap jam di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap pintu rumah Simbah yang tetap tertutup rapat.

"Tapi ngomong-ngomong, Indra kok lama sekali ya? Sudah dua jam aku menunggu di sini, tapi anak itu belum keluar juga. Ngapain saja dia di dalam?" gumam Agus mulai gelisah. Rasa dingin yang tadi sempat terlupakan kini perlahan merayap kembali ke tengkuknya.

mencoba mengalihkan pikirannya. Bayangan wanita berkebaya merah tadi kembali melintas di benaknya, memberikan sedikit kehangatan semu di tengah suasana yang mencekam itu.

"Kalau saja aku tahu dari awal Simbah punya anak secantik itu, mungkin aku bakal lebih semangat diajak ke sini," bisik Agus dalam hati, tersenyum kecil sambil terus menghabiskan sisa singkongnya, tak menyadari bahwa malam di rumah Simbah baru saja dimulai.

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!