NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 - Penasaran

Air dingin mengalir pelan dari keran wastafel.

Rachael menundukkan kepala sedikit, membiarkan ujung jarinya menyentuh air sebelum mengusap wajahnya perlahan.

Napasnya masih sedikit tidak stabil bukan karena takut justru sebaliknya. Ia terlalu senang dan itu membuat kepalanya terasa ramai.

Rachael menatap pantulan dirinya lagi di cermin besar toilet mansion itu. Pipinya masih agak merah. Matanya terlihat jauh lebih hidup dibanding biasanya.

“Itu gara-gara cake tadi...” gumamnya pelan mencoba menyalahkan dessert strawberry yang tadi ia makan terlalu banyak.

Padahal jauh di dalam pikirannya sendiri, ia tahu bukan cuma itu alasannya.

Rachael langsung memegang kepalanya sendiri pelan. “Duh Gusti...” Ia menutup mata sebentar.

Pikirannya mulai melompat ke mana-mana lagi dengan cepat, sesuatu yang sering terjadi kalau emosinya terlalu penuh.

Apalagi setelah makan terlalu banyak manis. Bukan stres yang membuatnya depresi seperti biasanya. Melainkan stres karena terlalu banyak perasaan menyenangkan sekaligus. Dan itu malah lebih sulit dikendalikan.

Karena otaknya jadi terus bergerak tanpa berhenti.

“Mau duduk di lantai lorong...”

“Mau lihat isi mansion...”

“Mau ganggu Axel...”

“Mau ketawa...”

“Mau pulang juga...”

Rachael langsung membuka mata cepat sendiri.

“Kenapa jadi random banget sih.” Ia memegang sisi wastafel sambil menghela napas panjang kecil.

Biasanya kalau pikirannya mulai seperti ini, Rachael akan menyembunyikannya sendirian sampai kembali normal.

Karena dulu, saat emosinya terlalu aktif atau terlalu senang, orang-orang justru mulai menjauh.

Menganggapnya aneh, terlalu banyak bicara, terlalu sulit ditebak. Itu sebabnya sekarang ia berusaha keras tetap terlihat tenang, tetap terlihat normal.

Walaupun isi kepalanya sedang ramai sekali.

Di luar toilet.

Leon masih berdiri bersandar santai dekat dinding lorong.

Lampu hangat mansion memantulkan bayangan samar di lantai marmer hitam mengilap.

Ia sebenarnya tidak benar-benar berniat menunggu selama ini. Namun entah kenapa, kakinya tidak bergerak pergi.

Beberapa pelayan yang lewat bahkan sempat melirik heran melihat Leon de Arther berdiri diam di depan toilet tamu cukup lama.

Tapi Leon tidak peduli. Tatapannya sesekali bergerak ke arah pintu toilet.

Lalu beberapa detik kemudian, pintu itu akhirnya terbuka pelan.

Rachael keluar sambil mengusap sisa air di tangannya menggunakan tisu.

Namun langkahnya langsung berhenti sepersekian detik saat melihat Leon masih ada di sana. “Kamu belum pergi?”

Leon menatapnya tenang. “Kamu lama.”

“Aku cuma cuci muka.”

“Hm.”

Rachael langsung menyipitkan mata kecil lagi. “Kenapa jawabnya hmm terus sih?”

“Karena kamu gampang ditebak.”

“Aku nggak gampang ditebak.”

Leon memperhatikan wajah Rachael beberapa detik lebih lama. Matanya terlihat lebih hidup. Bahkan gerakannya sedikit lebih cepat dari biasanya.

Seperti seseorang yang sedang berusaha menahan semangatnya sendiri agar tidak terlalu terlihat.

Leon akhirnya bertanya pelan, “Kebanyakan gula?”

Rachael langsung membeku.

Leon langsung tahu dirinya benar. “Kena lagi.”

Rachael buru-buru memalingkan wajah. “Nggak juga.”

“Tapi kamu dari tadi lebih ramai.”

“Itu karena...” Rachael langsung berhenti sendiri.

Karena ternyata ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Bahwa saat terlalu senang, kepalanya justru jadi semakin sulit diam.

Leon melihat Rachael mulai bingung sendiri lalu akhirnya menghela napas kecil samar. “Tenang aja.”

Rachael perlahan menoleh lagi.

Leon melanjutkan datar, “Kamu nggak terlihat aneh.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat Rachael diam.

Lorong mansion kembali sunyi beberapa detik.

Dan entah kenapa, ucapan itu terasa jauh lebih mengganggu jantungnya dibanding apa pun malam ini.

Rachael menatap Leon cukup lama.

Bukan karena tidak percaya.

Justru karena terlalu jarang ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya dengan nada sesantai tadi. Tanpa heran. Tanpa menghakimi. Tanpa tatapan aneh.

Seolah dirinya memang tidak perlu diperbaiki.

Rachael langsung memalingkan wajah lagi cepat-cepat. “...Kamu ngomongnya bahaya ya ternyata,” gumamnya pelan.

Leon sedikit mengernyit. “Bahaya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Rachael menggenggam tisu di tangannya pelan. “Nanti aku jadi kepikiran terus.”

Leon terdiam sebentar sebelum sudut bibirnya bergerak tipis hampir seperti senyum kecil. “Berarti gampang ditebak.”

Rachael langsung menoleh cepat. “Nah kan mulai lagi.”

Leon mendorong tubuhnya perlahan dari dinding lalu berdiri tegak. “Mau balik?”

Rachael sebenarnya ingin menjawab iya.

Namun otaknya yang masih terlalu aktif malah membuat matanya bergerak ke arah lorong mansion yang panjang di sisi kanan.

Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat ke seluruh area. Beberapa lukisan besar tergantung rapi di dinding hitam elegan. Mansion keluarga de Arther malam itu terasa terlalu besar dan terlalu sepi sekaligus. Dan tiba-tiba rasa penasarannya muncul lagi.

Rachael menatap lorong itu beberapa detik.

Leon memperhatikannya. “Mau keliling?”

Rachael langsung reflek menoleh. “Hah?”

“Kamu kelihatan penasaran.”

“Aku nggak sejelas itu kali.”

Leon diam beberapa detik. “Jelas.”

Rachael mendecih kecil kesal sendiri. Namun beberapa detik kemudian ia malah tertawa pelan karena sadar Leon memang benar.

“Aku cuma...” Rachael mengusap tengkuknya kecil. “Mansion kamu gede banget.”

“Itu bukan pujian.”

“Aku juga nggak muji.”

Leon berjalan pelan melewati Rachael. “Kalau mau lihat, ikut.”

Rachael berkedip beberapa kali. “Serius?”

Leon melirik singkat ke belakang. “Ayo jalan.”

Rachael langsung buru-buru menyusul. Langkah mereka menggema pelan di lorong marmer yang panjang.

Awalnya tidak ada yang bicara.

Karena suasana terlalu tenang, otak Rachael mulai aktif lagi. Matanya bergerak ke berbagai sisi mansion dengan rasa penasaran yang jelas sekali sekarang. “Itu lukisan siapa?”

“Kakek.”

“Yang itu?”

“Nenek.”

“Yang itu lagi?”

Leon melirik sekilas. “Aku nggak tahu.”

Rachael langsung tertawa kecil. “Itu rumah kamu sendiri loh.”

“Mereka sering ganti.”

“Hah... orang kaya serem juga ya.”

Leon mengabaikan komentar itu.

Rachael berjalan sedikit lebih cepat sekarang, sesekali melihat dekorasi di sekitar mereka dengan mata berbinar kecil tanpa sadar.

Dan Leon menyadari satu hal. Rachael ternyata bukan tipe orang yang ramai karena ingin diperhatikan.

Ia hanya... benar-benar mengekspresikan apa yang muncul di kepalanya saat merasa nyaman. Tanpa dibuat-buat. Dan anehnya, Leon tidak merasa terganggu sama sekali.

Mereka akhirnya sampai di area balkon dalam mansion lantai dua.

Udara malam langsung terasa lebih dingin saat pintu kaca dibuka.

Rachael spontan menarik napas kecil.

Pemandangan taman belakang mansion terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu taman menyala hangat di antara pepohonan besar dan kolam kecil yang memantulkan cahaya bulan samar.

“Wah...” gumam Rachael pelan. Ia berjalan mendekati pagar balkon perlahan.

Angin malam membuat beberapa helai rambutnya bergerak pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu, Rachael benar-benar diam.

Leon berdiri tidak jauh darinya sambil memasukkan tangan ke saku celana. “Capek mikir?” tanyanya datar.

Rachael tertawa kecil tanpa menoleh. “Sedikit.”

“Hm.”

“Tapi lebih enak sekarang.”

Leon memperhatikannya beberapa detik.

Lalu tanpa sadar, pandangannya turun ke ekspresi kecil di wajah Rachael yang terlihat jauh lebih ringan dibanding biasanya. Tidak sedingin saat berusaha menjaga jarak dari semua orang.

Malam ini, Rachael terlihat lebih hidup. Leon baru sadar... Ia mulai terbiasa menunggu gadis itu bicara lagi setiap suasana menjadi hening.

...----------------...

Disisi lain mansion.

Ruang makan mansion masih dipenuhi cahaya hangat lampu gantung besar di atas meja panjang.

Beberapa dessert sudah mulai dibersihkan pelayan satu per satu. Gelas-gelas kristal dipindahkan perlahan hingga menyisakan suara dentingan kecil yang samar.

Axel bersandar di kursinya sambil melihat jam di ponsel sebentar. “Lama amat,” gumamnya.

Di seberang meja, Evelyn mengangkat alis kecil. “Kamu baru sadar?”

“Maksudku... mereka cuma ke toilet.”

Axel akhirnya berdiri sambil memasukkan ponselnya ke saku. “Aku cek bentar.”

Namun baru beberapa langkah berjalan, Evelyn ikut berdiri juga.

Axel langsung menoleh. “Kok ikut?”

Evelyn tersenyum tipis santai. “Penasaran.”

“Nenek gosip banget ternyata.”

“Aku neneknya, wajar kalau penasaran.”

Axel langsung tidak bisa membalas.

Beberapa detik kemudian mereka berjalan keluar ruang makan bersama.

Lorong mansion malam itu terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Hanya suara langkah mereka yang terdengar pelan di lantai marmer.

Axel melirik sekitar sebentar. “Tadi mereka ke arah sini kan?”

Evelyn mengangguk kecil.

Namun saat mereka mulai mendekati area lorong balkon lantai dua. Suara tawa kecil samar terdengar lebih dulu.

Axel langsung berhenti refleks. Evelyn juga ikut diam.

Karena suara itu jelas milik Rachael.

Dan itu cukup mengejutkan, bukan karena Rachael tidak pernah tertawa. Namun karena tawanya sekarang terdengar jauh lebih lepas dibanding biasanya.

Axel perlahan mengintip sedikit dari ujung lorong. Lalu ia langsung membeku beberapa detik.

Di balkon sana—

Rachael sedang duduk di lantai. Benar-benar duduk santai di lantai marmer balkon sambil memeluk lutut sendiri.

Sementara Leon berdiri di dekat pagar balkon dengan ekspresi datar seperti biasa.

“...”

Axel menoleh pelan ke Evelyn dengan wajah tidak percaya. Evelyn justru terlihat menahan senyum.

“Dia beneran duduk di lantai...” bisik Axel pelan.

Di sisi balkon.

Rachael sedang menunjuk salah satu lampu taman di bawah sambil bicara cepat.

“Kalau aku tinggal di sini tiap malam aku pasti nyasar sendiri.”

Leon bersandar santai di pagar balkon. “Mansion ini nggak sebesar itu.”

Rachael langsung menatapnya tidak percaya. “Kamu kehilangan konsep normal ya?”

Leon diam sebentar. “Mungkin.”

Rachael tertawa lagi. Itu membuat Leon tanpa sadar melirik ke arahnya beberapa detik lebih lama.

Rambut Rachael sedikit berantakan karena angin malam. Pipinya masih samar merah. Namun ekspresinya sekarang jauh lebih ringan dibanding pertama datang tadi. Tidak seperti seseorang yang sedang siap kabur kapan saja.

Leon baru membuka mulut ingin bicara lagi saat—

“Pantes lama.” Suara Axel tiba-tiba muncul dari arah belakang.

Rachael langsung kaget sampai hampir refleks berdiri terlalu cepat. “WOI—” Karena terkejut, keseimbangannya goyah sedikit di lantai licin balkon.

Sebelum sempat jatuh Leon refleks menangkap pergelangan tangannya. Gerakan itu terjadi terlalu cepat.

Rachael langsung diam.

Axel juga diam. Bahkan Evelyn ikut berhenti melangkah sebentar.

Tangan Leon masih menggenggam pergelangan tangan Rachael secara refleks.

Sementara Rachael menatap tangannya sendiri beberapa detik seperti otaknya telat memproses situasi.

Leon baru sadar beberapa detik kemudian lalu melepaskannya pelan.

“Hati-hati,” katanya datar seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal suasananya langsung terasa aneh.

Axel perlahan menyipitkan mata kecil. “Ohhh...”

“Diam,” jawab Leon cepat tanpa ekspresi.

“Itu refleks yang cepet banget.”

“Kamu berisik.”

Rachael langsung memalingkan wajah cepat sambil memegang pergelangan tangannya sendiri pelan.

Dan sialnya— Jantungnya malah makin tidak normal sekarang.

Evelyn yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tertawa kecil pelan. “Kayaknya aku ganggu momen ya.”

“MOMEN APANYA?!” Rachael langsung menoleh cepat dengan wajah merah.

Axel malah makin curiga sekarang.

Leon menghela napas kecil samar sambil memijat pelipisnya sendiri.

Malam itu tiba-tiba terasa jauh lebih ramai dibanding beberapa menit lalu.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!