NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WASIAT KI ABDA 2

"Jadi, Ki Abda mengorbankan dirinya?" desis Adipati Sengko lirih.

Prabu Laksa menunduk, segumpal rasa bersalah dan kekaguman pada sosok Ki Abda ada di dadanya. Ia menyesal kenapa tidak bergerak lebih cepat. Kagum dengan rasa pengabdian Ki Abda pada kerajaan.

"Andai Srikandi laki-laki ...," Prabu menghentikan ucapannya.

"Aku tak sepusing ini," lanjutnya lemah.

"Memang ada apa kalau perempuan, Prabu?" tanya Sengko.

Prabu Laksa terdiam, ia juga bingung, ada apa dengan perempuan.

"Aku tak tau ... Sengko. Padahal baik laki-laki ataupun perempuan. Srikandi adalah putri Ki Abda ...," jawab Prabu asal.

Keduanya pun terdiam cukup lama, lalu Prabu berdiri. Waktunya sudah cukup bagi mereka.

"Sengko!"

"Daulat Gusti Prabu!"

"Aku tugaskan kamu untuk melindungi Srikandi ...," Prabu nampak ragu memberi perintah.

"Ada apa Prabu ... Kenapa ragu?" tanya Sengko bingung.

"Hanya saja istrimu ... Aku takut dia berulah dan membuat Srikandi tambah beringas nantinya," jawab Prabu Laksa jujur.

Sengko terdiam, ia memang sedikit repot jika berurusan dengan istrinya itu.

"Kalau begitu, aku saja yang mengawasi Srikandi!" putus penguasa Kali Ireng itu.

"Gusti?"

"Itu sudah keputusanku, Sengko. Gusti Ratu masih toleran dengan urusanku walau masalah perempuan!" ujar Prabu membungkam Sengko.

Mereka pun keluar dari mulut gua. Sebelum benar-benar keluar. Prabu kembali mengusap pilar batu dan membaca mantra.

Tempat itu kembali bergetar, celah gua pun tertutup perlahan. Cahaya biru dan hijau yang terpancar dari dalam gua pun tertutup. Kini hanya ada semak-semak rimbun di kegelapan malam.

"Ayo kita pulang!' Prabu melesatkan tubuhnya cepat, Sengko pun menyusulnya. Keduanya pulang ke kediaman mereka masing-masing.

Malam semakin larut di Kerajaan Kali Ireng. Dua kelebat bayangan pria perkasa membelah kegelapan, melompati dahan-dahan pohon dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya berpisah di persimpangan jalan menuju kediaman masing-masing.

Adipati Sengko mendarat di halaman belakang rumahnya dengan helaan napas berat. Pikirannya bercabang antara rasa takjub atas pengorbanan Ki Abda, perintah rahasia sang Raja, dan... satu urusan domestik yang tak kalah mengerikan dari racun Gua Ijen: menghadapi Raden Ayu Windu. Istrinya.

Setelah kakinya menjejak tanah, hari masih gelap. Tapi kokokan ayam di pekarangan belakang begitu keras berbunyi, tanda hari akan pagi.

Sosok wanita berdiri dengan tangan terlipat di dada. Itu istrinya, Raden Ayu Windu. Menatapnya penuh selidik.

"Aku lelah ... dan pikiranku kusut. Jika kau ingin tenang ... Diam lah Rara!" sebuah peringatan tegas keluar dari mulut Sengko.

Bara api di kepala Raden Ayu Windu, mendadak padam seketika mendengar peringatan suaminya. Ia hanya bisa menghentak kakinya dan cemberut.

Tadinya, ingin ia tumpahi sang suami dengan rentetan kecurigaannya. Tapi melihat betapa murung wajah suaminya, ia takut untuk memulai keributan pagi hari.

"Tunggu sebentar lagi!" gumamnya pelan, ia memilih menunggu.

Suara burung berkicau riang di antara ranting-ranting pohon. Bunyi kepakan sayap dan kokokan ayam jago memenuhi udara di halaman kediaman Sengko.

Para prajurit penjaga pagi menggantikan prajurit malam. Sungguhan teh hangat dan singkong bakar jadi teman pembakar semangat.

Sengko duduk di teras, kepalanya berdenyut karena tak tidur semalaman. Ia memijitnya pelan, di meja. Abdi dalem telah memberinya secangkir teh dan rebusan singkong.

"Sugeng enjang, Daulat Gusti Adipati!" seorang penembahan datang dengan berjongkok menghadapnya.

"Sugeng enjang Panembahan Darto Singo!" sambut Sengko.

"Matur nuwun Gusti. Hamba hendak melapor, ada rombongan saudagar dari tanah Andalas datang membawa biji kopi hitam untuk ditukar dengan bibit teh melati milik Kerajaan Kali Ireng," ujar Panembahan Darto Singo sambil tetap berjongkok hormat.

Sengko yang tadinya memijit pelipis, perlahan mengangkat wajahnya.

"Biji kopi?" tanyanya pelan.

"Inggih Gusti. Mereka menyebutnya kopi. Biji hitam yang disangrai lalu diseduh menjadi minuman pengusir kantuk," jelas Panembahan Darto Singo.

"Baik, bawa mereka ke ruang kerja!" perintah Sengko lalu berdiri.

Panembahan Darto Singo menunduk dan mundur sambil berjongkok. Sementara Sengko menuju satu ruangan lain di rumahnya. Ia juga memberi perintah pada abdi dalem untuk membawakan satu teko teh dan beberapa cangkir dari kaleng.

Empat pria dengan postur tubuh tinggi besar. Wajah keras dan rahang kokoh, sorot mata tajam.

"Selamat pagi ... Adipati!" ujar salah satunya dengan logat daerah yang kental.

Suaranya cukup kuat, sangat berbeda dengan suara masyarakat yang Sengko kenali.

"Selamat pagi juga!" sambutnya lalu menyuruh tamunya duduk.

"Nama Saya Petir Sisingamangaraja, ini tiga ajudan saya, Ritonga, Butar-butar dan Pardede!" ujar pria bernama Petir memperkenalkan diri.

"Selamat datang saudaraku!" ujar Sengko hormat.

"Maaf Adipati, kami ini kurang bisa berbasa-basi. Jadi kami langsung saja!" ujar Petir nampak ingin urusan cepat selesai.

"Minum teh dulu, Kisanak. Kalian baru saja datang, tidak sudah terburu-buru," ujar Adipati Sengko.

Teh dituangkan, mereka minum yang dihidangkan. Tampak wajah-wajah keras itu melunak dan mengangguk puas.

"Minuman ini benar-benar nikmat. Perut pun langsung hangat dan harumnya menenangkan!" puji Petir pada teh yang disuguhkan.

"Kalau begitu, Ritonga. Tolong kau buatkan satu cangkir kopi. Biar Adipati rasa bagaimana air itu memiliki rasa lain!" suruhnya pada salah satu anak buahnya.

Pria bertubuh paling besar berdiri lalu mengambil satu bungkus kecil dari peti. Ia menyeduh kopi itu dan memberikannya pada Adipati Sengko.

Tanpa ragu, Sengko meminumnya ... Ia sedikit mengernyit dengan rasanya, terlebih panas air hampir saja melepuhkan lidahnya.

"Bukan begitu caranya, saudaraku!" kekeh Petir lalu menunjukkan bagaimana menikmati kopi.

Adipati meminum seperti yang dicontohkan. Kini ia bisa menikmati air yang berada pahit dan sedikit getir itu.

Ada perubahan besar dari tubuhnya. Tadinya kelopak matanya sedikit berat menahan kantuk. Kini mulai segar dan pusing di kepalanya sedikit berkurang lalu menghilang begitu saja.

"Ini?" ia takjub dengan apa yang ia rasakan.

"Itu zat kafein yang bekerja Adipati. Zat itu membantu menenangkan ketegangan syaraf ...," jelas Petir tenang.

Akhirnya pertukaran bibit terjadi. Bahkan Ritonga memberitahu bagaimana cara menanam kopi dengan baik.

Setelah utusan Andalas pergi, Sengko bersiap melapor pada raja. Tapi Raden Ayu, istrinya menatapnya tajam

"Ada apa Nyi Ayu?" tanyanya pasrah.

"Katakan ... Apa benar kini kau jadi pesuruh Sri Baginda Raja untuk mengantar makanan pada Srikandi?" tanya Raden Ayu Windu cepat.

"Pesuruh?" Sengko menatap istrinya.

"Itukan yang kamu lakukan kemarin!" teriak Windu marah.

"Untuk apa kau menemui gadis itu. Apa kau ingin menjadikannya selir atau gundik ..."

"Jaga bicaramu, Nyi Ayu!" potong Sengko tegas, tatapannya tajam pada istrinya.

"Tapi itu benar kan!" teriak Windu berani.

"Tidak!" jawab Sengko tegas.

"Aku bukan pesuruh. Tapi tugasku untuk melindungi putri dari seorang pahlawan ...."

"Halah ... Alasan saja!" potong Raden Ayu remeh.

"Windu ... cukup!' suara Sengko cukup kuat, sepertinya menggunakan tenaga dalam.

Windu terjatuh akibat sentakan suaminya. Airmata wanita itu langsung mengalir deras. Ada ketakutan dan kekesalan jadi satu di sana.

"Jangan berpikiran buruk terhadap Srikandi. Aku tidak tau kenapa kau membenci anak itu. Tapi jika kau ingin mengganggunya. Maka kau harus berhadapan denganku ..."

"Apa kurangnya aku Kangmas!" teriak Raden Ayu terisak.

"Aku putri bangsawan, bukan perempuan liar yang hidup di lereng bukit ...."

"Srikandi adalah gadis hebat. Jika disandingkan denganmu ...," Sengko menggeleng.

"Martabatnya jauh di atasmu, Windu!" lanjutnya tegas.

"Lalu kau mau dia jadi selir ..."

"Aku tidak pantas Windu ... walau dengan seluruh kepunyaanku ... Aku tidak pantas bahkan jadi suami sah-nya!" potong Sengko tajam.

Sengko pergi meninggalkan istrinya begitu saja. Windu menangis sejadi-jadinya, ia berteriak meluapkan segala kekesalannya.

"Kangmas Abda ...," bisiknya lirih penuh kerinduan dan kebencian.

bersambung.

Eh ... Kenapa Raden Ayu Windu menyebut nama ayah Srikandi?

next?

Bersambung.

Dududu.

1
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
Deyuni12
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!