"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sumpah di Balik Kelumpuhan
Jacob melangkah keluar dari kereta kuda kerajaan yang berhenti tepat di depan paviliun medis istana Helios. Jubah kebesarannya berkibar saat dia berjalan, memancarkan aura seorang jenderal yang baru saja menyelesaikan penaklukan besar di perbatasan Scolar.
Pintu kayu ek yang berat itu terbuka secara perlahan saat Jacob masuk untuk menemui kakaknya. Jacob berjalan mendekati ranjang dan melihat George yang kini terlihat lebih tirus dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
{Sistem, aktifkan analisa panca indra. Pastikan tidak ada orang lain selain penjaga resmi di sekitar kamar Kak George.}
[Analisa Panca Indra Diaktifkan. Area bersih. Terdeteksi satu tanda kehidupan dengan ritme napas rendah di dalam ruangan utama: Pangeran George.]
||||||||||||||
George terbaring dengan posisi kepala yang sedikit ditinggikan oleh tumpukan bantal medis. Kedua kakinya yang dulu sangat kuat kini tertutup oleh selimut tebal yang tak bergerak sedikit pun akibat kerusakan saraf permanen yang dideritanya sejak pengkhianatan di medan perang.
"Kau sudah kembali, Jacob? Aku mendengar suara terompet kemenangan dari arah gerbang kota tadi pagi," ucap George dengan suara yang terdengar sangat parau dan lemah.
Jacob duduk di kursi kayu yang tersedia di samping ranjang kakaknya. Dia menatap kaki George yang kaku dengan perasaan yang sangat terpukul namun tetap berusaha menjaga wibawanya.
"Kita sudah menaklukkan benteng perbatasan Scolar, Kak. Barkas sudah tidak bernapas lagi dan Barnaby sedang membusuk di sel bawah tanah karena pengkhianatannya," ucap Jacob dengan nada suara yang penuh dengan ketegasan.
George menoleh dengan susah payah dan menatap adiknya dengan tatapan yang sangat bangga.
"Aku bangga padamu. Kau telah melakukan apa yang bahkan aku sendiri tidak yakin bisa melakukannya dalam satu malam," bisik George sambil mencoba menggerakkan ujung jemarinya yang gemetar di atas seprai.
Jacob merasakan amarahnya kembali mendidih saat melihat ksatria terhebat Helios ini sekarang harus bernapas dengan bantuan ramuan tabib hanya untuk bertahan hidup.
{Seharusnya dia yang berada di sini merayakan kemenangan, bukan meratapi tubuh yang tidak bisa lagi digerakkan.}
"Aku akan menemukan tabib terbaik di seluruh benua ini untuk menyembuhkanmu, Kak. Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu berakhir di atas ranjang ini selamanya," tegas Jacob dengan penuh keyakinan.
||||||||||||||
George tersenyum pahit sambil menatap sayu ke arah pedang panjang milik adiknya yang tergeletak di meja samping.
"Duniaku sebagai ksatria sudah berakhir, Jacob. Sekarang giliranmu untuk menjadi pedang bagi kerajaan ini. Jangan biarkan pengorbananku menjadi sia-sia karena belas kasihanmu padaku," ucap George dengan napas yang tersengal.
Jacob menundukkan kepalanya agar George tidak melihat emosi yang mulai bergejolak di matanya. Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih karena menahan amarah terhadap musuh yang masih tersisa.
"Siapa pun yang merencanakan ini, aku akan memastikan mereka merasakan sakit yang jauh lebih mengerikan daripada yang kau rasakan, Kak," bisik Jacob dengan suara yang rendah dan sangat dingin.
George menghela napas panjang dan mencoba memberikan senyum tipis meskipun setiap gerakan kecil di tubuhnya terasa sangat berat bagi sarafnya yang rusak.
"Jadilah raja yang bijaksana, Jacob. Jangan biarkan amarahmu menghancurkan kerajaan yang baru saja kau selamatkan," pesan George dengan suara yang semakin mengecil.
Jacob berdiri dan membungkuk hormat kepada kakaknya dengan cara yang sangat formal. Dia memutar badannya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi demi menjaga ketegaran hatinya.
{Sistem, rekam kondisi fisik Kak George sekarang juga. Biarkan memori tentang kelumpuhannya menjadi pengingat atas setiap langkah kejam yang harus kuambil nanti.}
[Perintah Diterima. Citra visual disimpan dalam modul memori utama pengguna.]
||||||||||||||
Natali sudah menunggu di ujung koridor paviliun medis dengan posisi berdiri yang sangat tegak. Dia melihat perubahan aura pada tubuh Jacob yang kini terasa jauh lebih gelap daripada saat mereka melakukan penyerbuan di wilayah musuh.
"Siapkan pasukan bayanganmu, Natali. Kita akan melakukan pembersihan besar-besaran di ibu kota mulai malam ini," perintah Jacob sambil terus berjalan melewati Natali menuju aula utama istana.
Jacob mulai memasuki area aula tengah istana yang dikelilingi oleh patung-patung pahlawan Helios. Dia merasakan sebuah getaran halus yang diterjemahkan dengan sangat akurat oleh sistem di kepalanya melalui sensor getaran lantai marmer.
{Ada yang tidak beres. Penjaga istana di koridor ini mendadak menghilang dan digantikan oleh kesunyian yang mencurigakan.}
[Analisa Panca Indra: Terdeteksi frekuensi napas yang disamarkan di balik pilar-pilar marmer tinggi. Jumlah target: dua belas orang. Posisi: Mengepung dari arah plafon aula.]
"Jadi, sisa-sisa pengikut Barnaby di istana ini benar-benar tidak sabar untuk menyusul tuan mereka ke penjara," bisik Jacob dengan senyum miring yang sangat dingin.
||||||||||||||
Jacob terus berjalan tepat ke titik tengah aula utama tanpa menunjukkan rasa curiga sedikit pun. Secara tiba-tiba, dua belas sosok berpakaian abu-abu gelap melompat turun dari langit-langit dengan gerakan yang sangat sinkron dan mematikan.
"Pangeran Jacob, salam perpisahan dari mereka yang kau khianati demi ambisi pribadimu," ucap salah satu pembunuh sambil mengayunkan rantai berduri yang berkilat tajam ke arah leher Jacob.
Jacob hanya berdiri diam di tengah kepungan maut tersebut tanpa menarik pedangnya dari sarungnya. Dia menatap sang pemimpin pasukan bayangan seolah sedang melihat sekumpulan serangga yang terjebak dalam jaring laba-laba.
"Kalian bicara tentang pengkhianatan di rumahku sendiri? Lucu sekali," ucap Jacob dengan nada suara yang penuh wibawa dan ketenangan.
[Kondisi Terdeteksi: Seluruh target berada dalam radius efektif jebakan mekanis aula. Mengaktifkan Fungsi Analisa Lingkungan: Protokol Keamanan Aula Utama.]
Jacob menjentikkan jarinya dengan pelan dan suara dentuman logam terdengar dari seluruh pintu masuk aula yang mendadak tertutup oleh jeruji besi raksasa yang jatuh dari langit-langit.
Para pembunuh bayaran itu tersentak dan segera melihat ke sekeliling dengan waspada karena mereka kini terkunci di dalam ruangan tertutup tanpa jalan keluar sama sekali.
"Kau pikir jeruji besi ini bisa menahan pembunuh elit seperti kami?" gertak si pemimpin pasukan sambil bersiap menerjang ke arah Jacob dengan seluruh senjatanya.
"Jeruji itu bukan untuk menahan kalian, tapi untuk memastikan tidak ada suara teriakan kalian yang keluar sampai ke telinga ayahku di ruang takhta," jawab Jacob dengan nada yang sangat dingin.
||||||||||||||
Jacob melangkah mundur satu langkah dan katup uap panas di bawah lantai marmer terbuka secara otomatis. Uap panas dari sistem pemanas bawah tanah menyembur keluar dengan tekanan tinggi, membuat pandangan musuh terganggu sambil membuat lantai menjadi sangat panas dan licin.
{Sistem, aktifkan fungsi Auto Pilot untuk sinkronisasi serangan busur tersembunyi istana.}
[Perintah Diterima. Mengambil alih koordinasi saraf otot. Mode: Pembantaian Terukur.]
Puluhan busur otomatis yang terhubung dengan sistem keamanan aula mulai menembakkan anak panah beracun secara beruntun dari celah di antara patung pahlawan.
"Aku sudah memetakan setiap kelemahan formasi lingkaran kalian melalui catatan Barnaby yang kutemukan di benteng. Di ruangan ini, akulah yang memegang kendali penuh atas hidup dan mati kalian," jelas Jacob sambil melihat para pembunuh itu jatuh satu per satu karena tak bisa menghindar.
Jacob mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sambil memancarkan aura kepemimpinan yang sangat menakutkan. Mata birunya yang bersinar transparan menatap dingin ke arah pemimpin pasukan yang kini merangkak kesakitan akibat uap panas dan racun panah.
"Kalian meremehkanku karena menganggapku hanya pangeran yang berlindung di balik punggung kakaknya. Sekarang, sampaikan pada majikanmu di neraka bahwa Helios sudah memiliki penguasa baru yang lebih kejam," tegas Jacob.
Jacob menurunkan tangannya dan suara desingan panah terakhir mengakhiri napas pasukan elit tersebut dalam sekejap. Natali muncul di samping Jacob dari balik kabut uap yang mulai menipis setelah mekanisme uap dimatikan kembali.
"Semua sesuai prediksimu, Tuanku. Pembersihan di dalam istana telah resmi dimulai dengan sangat sempurna," bisik Natali sambil menunduk hormat.
Jacob hanya diam sambil menatap dingin ke arah pintu ruang takhta untuk mencari target berikutnya dalam daftar pengkhianat yang harus segera disingkirkan.