NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:605
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Gadis Kecil di Ujung Desa

Bab 2 — Gadis Kecil di Ujung Desa

Pagi datang perlahan di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara sinar matahari mulai menyentuh hamparan sawah yang membentang luas sejauh mata memandang. Suara ayam berkokok saling bersahutan, ditemani hembusan angin pagi yang sejuk. Suasana damai itu terasa begitu kontras dengan dunia gelap yang semalam dipenuhi darah dan kematian di kota Palermo.

Di ujung desa berdiri sebuah rumah kayu sederhana yang sudah tua dimakan usia. Beberapa bagian atapnya sering bocor ketika hujan deras turun, sementara dinding kayunya mulai rapuh dan memudar warnanya. Meski begitu, rumah kecil itu tetap terasa hangat. Di sanalah Amelia Santoso tinggal bersama satu-satunya keluarga yang masih ia miliki, yaitu neneknya.

“Amelia... kau sudah bangun?”

Suara lemah seorang wanita tua terdengar dari dalam kamar. Amelia yang sedang menyapu lantai segera menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah pintu kamar.

“Iya, Nek. Amelia sedang membuat sarapan,” jawabnya sambil tersenyum lembut.

Gadis berusia dua puluh empat tahun itu berjalan menuju dapur kecil mereka. Rambut hitam panjangnya diikat sederhana ke belakang, sementara pakaian yang dikenakannya tampak biasa dan jauh dari kata mewah. Namun kecantikan Amelia memiliki daya tarik tersendiri. Bukan kecantikan mencolok yang membuat orang terpana dalam sekali lihat, melainkan kecantikan yang menghadirkan rasa nyaman dan ketenangan bagi siapa saja yang memandangnya.

Ia membuka tutup panci yang berada di atas tungku. Di dalamnya hanya tersisa sedikit bubur dan dua butir telur. Amelia terdiam sesaat sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Persediaan makanan mereka hampir habis lagi. Uang yang tersimpan di dalam kaleng tabungannya bahkan mungkin tidak cukup untuk membeli obat neneknya minggu depan.

Meski begitu, Amelia memilih menyembunyikan kegelisahannya.

Ia tidak ingin neneknya ikut khawatir.

Dengan senyum yang dipaksakan, Amelia menuangkan bubur ke dalam mangkuk lalu membawanya ke kamar.

“Nenek harus makan banyak hari ini,” ucapnya ceria.

Di atas ranjang tua, Nenek Hana tersenyum lemah. Wajah wanita tua itu tampak pucat dan tubuhnya semakin kurus dari hari ke hari. Amelia bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Kondisi kesehatan neneknya terus memburuk, tetapi biaya rumah sakit terlalu mahal untuk mereka jangkau.

“Nenek tidak lapar,” ujar Nenek Hana pelan.

Amelia langsung menggeleng.

“Tidak boleh begitu. Amelia sudah memasaknya sejak pagi. Nenek harus makan supaya cepat sehat.”

Wanita tua itu menatap cucunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sejak kecil Amelia tidak pernah merasakan kehidupan yang mudah. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih bayi dan sejak saat itu hanya mereka berdua yang saling menjaga dan mengandalkan satu sama lain.

Kadang Nenek Hana merasa bersalah.

Sebagai seorang nenek, ia merasa gagal memberikan kehidupan yang layak untuk cucunya. Padahal Amelia adalah gadis yang baik hati, rajin bekerja, dan tidak pernah mengeluh meskipun hidup dalam keterbatasan.

“Kau harus lebih memikirkan dirimu sendiri,” gumamnya pelan.

Amelia tersenyum kecil sambil menggenggam tangan keriput neneknya.

“Selama Nenek sehat, Amelia sudah bahagia.”

Jawaban sederhana itu justru membuat hati wanita tua tersebut semakin sesak.

Setelah memastikan neneknya minum obat dan beristirahat, Amelia berjalan menuju pasar desa. Di tangannya terdapat keranjang berisi bunga dan roti buatan sendiri yang setiap hari ia jual untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Pagi, Amelia!”

Seorang ibu penjual sayur melambaikan tangan dengan ramah.

“Pagi, Bibi,” jawab Amelia sambil tersenyum.

Semua orang di desa mengenalnya sebagai gadis baik hati yang ringan tangan membantu siapa saja. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang kesulitan, Amelia masih sering menyisihkan waktu untuk membantu tetangga yang membutuhkan.

Namun tidak semua orang memperlakukannya dengan baik.

Saat Amelia sedang menata bunga di kios kecil miliknya, beberapa wanita desa mulai berbisik satu sama lain.

“Itu Amelia, kan?”

“Iya. Kasihan sekali hidupnya.”

“Aku dengar neneknya makin sakit.”

“Mana mungkin dia mampu membayar biaya rumah sakit?”

“Tch... hidup miskin memang menyedihkan.”

Bisikan-bisikan itu terdengar cukup jelas di telinganya. Namun Amelia memilih berpura-pura tidak mendengar. Ia sudah terlalu sering menerima perlakuan seperti itu sejak kecil.

Karena miskin.

Karena tidak memiliki keluarga besar.

Karena hanya tinggal di rumah tua bersama neneknya.

Amelia menarik napas panjang lalu kembali tersenyum kepada pelanggan yang datang membeli bunga. Ia tidak ingin menyimpan kebencian kepada siapa pun.

Menjelang siang, matahari mulai terasa terik. Amelia menghitung hasil penjualannya dengan perlahan. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar.

Tidak cukup.

Lagi-lagi tidak cukup.

Bahkan uang itu masih belum mampu membeli obat yang dibutuhkan neneknya.

Amelia menatap langit sesaat. Dadanya terasa sesak. Belakangan ini kondisi Nenek Hana semakin memburuk. Batuknya semakin sering kambuh, tubuhnya kerap gemetar di malam hari, dan hal itu membuat Amelia dihantui ketakutan yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

Ia takut kehilangan.

Takut kehilangan satu-satunya keluarga yang masih ia miliki di dunia ini.

“Amelia.”

Suara seorang pria membuat lamunannya buyar.

Ia menoleh dan melihat Raka Pradipta berjalan mendekat sambil membawa sebuah kantong makanan.

“Ini untukmu dan Nenek Hana,” katanya sambil menyerahkan kantong tersebut.

Amelia langsung menggeleng cepat.

“Aku tidak bisa terus menerima bantuanmu.”

Raka menghela napas panjang.

“Kenapa kau selalu keras kepala?”

“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu.”

“Amelia,” suara Raka melembut, “aku membantu karena aku peduli.”

Tatapan pria itu begitu hangat. Sudah sejak lama Raka menyimpan perasaan terhadap Amelia. Bahkan hampir seluruh warga desa mengetahui hal tersebut. Hanya Amelia yang selalu menganggap perhatian Raka sebagai bentuk persahabatan biasa.

“Aku akan mencari pekerjaan tambahan,” gumam Amelia pelan.

Wajah Raka langsung berubah khawatir.

“Di mana?”

“Aku belum tahu.”

“Aku tidak suka ide itu.”

Amelia tertawa kecil.

“Aku tidak akan pergi jauh.”

Namun entah mengapa, hati Raka justru semakin tidak tenang mendengarnya. Seolah ada firasat buruk yang sedang menunggu di depan mereka.

Sore hari, Amelia berjalan pulang sambil membawa beberapa bunga yang belum terjual. Langit mulai berubah jingga dan angin sore berembus lembut menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Namun langkahnya mendadak terhenti.

Beberapa pria asing berdiri di depan rumahnya.

Jantung Amelia langsung berdegup kencang.

“Nenek?”

Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu yang sempit, Nenek Hana sedang duduk sambil batuk hebat. Sementara itu, dua pria berpakaian rapi terlihat duduk dengan tenang seolah mereka adalah tamu penting.

“Siapa kalian?” tanya Amelia waspada.

Salah satu pria tersenyum tipis.

“Kami datang membawa tawaran pekerjaan.”

“Pekerjaan?” Amelia mengernyit.

Pria itu mengangguk.

“Kami sedang mencari wanita muda untuk bekerja di kota.”

“Kami juga mendengar kau sedang membutuhkan uang,” sambung pria lainnya.

Amelia mulai merasa ragu.

“Aku tidak punya pengalaman kerja.”

“Itu tidak masalah,” jawab pria tersebut cepat. “Gajinya sangat besar.”

Jumlah yang mereka sebutkan membuat Amelia terdiam cukup lama. Uang sebanyak itu bahkan cukup untuk membayar biaya pengobatan neneknya dan memenuhi kebutuhan mereka selama berbulan-bulan.

Namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa janggal.

Tatapan kedua pria itu terlalu tajam.

Dan senyum mereka terasa tidak tulus.

“Aku harus memikirkannya terlebih dahulu,” jawab Amelia hati-hati.

“Tentu saja.”

Pria itu berdiri lalu menyerahkan sebuah kartu nama kepadanya.

“Kalau berubah pikiran, datanglah besok malam.”

Setelah kedua pria tersebut pergi, rumah kecil itu kembali sunyi. Namun kali ini suasananya terasa berbeda.

Nenek Hana tampak sangat gelisah.

“Jangan pergi,” ucap wanita tua itu pelan.

Amelia menoleh kaget.

“Nek?”

“Orang-orang itu bukan orang baik.”

Suara Nenek Hana bergetar saat mengatakannya. Entah mengapa, wanita tua itu memiliki firasat buruk yang sulit dijelaskan.

Amelia menggenggam tangan neneknya dengan lembut.

“Aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya.”

Namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Amelia benar-benar mempertimbangkan untuk meninggalkan desa demi menyelamatkan nenek yang sangat ia cintai.

Ia tidak menyadari bahwa keputusan tersebut akan mengubah seluruh hidupnya.

Membawanya jauh dari kehidupan sederhana yang selama ini ia kenal.

Dan tanpa disadari, langkah itu perlahan akan menyeretnya menuju dunia gelap yang dipenuhi kekuasaan, pengkhianatan, darah, dan kejahatan.

Pilihan itu memang terasa menakutkan.

Tetapi ketika seseorang berada di titik terendah dalam hidupnya, terkadang harapan sekecil apa pun akan terlihat seperti jalan keluar. Demi masa depan dan demi menyelamatkan neneknya, Amelia mulai mempertimbangkan tawaran yang seharusnya ia hindari sejak awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!